Geraham gemeletuk. Wajah kakek mengeras. Memerah. Pandangannya menembus langit-langit muram. Ruang kusam terasa beku. Bibir keriput bergetar, “Jangan dekati mereka. Kau akan jadi tumbal proyek.”
***
Aku membenamkan diri pada tubuh kekar. Mata memejam, dua kupingku siap menerima setiap ucapan. Kakek mendekap kepalaku, “Makanya, janganlah mendekati lokasi proyek. Kalau main, jangan jauh. Pulang sebelum terlampau petang.”
Pikiranku melayang. Dulu aku mendengar gunjingan, bapakku jadi tumbal proyek saat aku masih kandungan. Mendengar kesungguhan cerita kakek, pupus sudah keinginan menyaksikan kegiatan pembangunan di tanah lapang pinggir desa. Aku tak mau lagi main dekat proyek.
***
Bersama teman aku kerap menembus tegalan, meniti pematang sawah, dan mendekati pagar seng. Di dalamnya terdengar kesibukan dan ingar-bingar mesin. Dari tanah tinggi kami menyaksikan makhluk-makhluk raksasa warna kuning dan biru kehijauan, bergerak lincah ke sana kemari. Pemandangan menakjubkan.
Roda-roda besi menderu mengembuskan asap hitam. Lengan-lengan baja menggaruk, mencungkil punggung tanah lalu memindahkan ke gerobak besi. Besi kotak penuh tanah merah pergi meninggalkan lapangan yang kini berlubang-lubang, bersudut-sudut membentuk bidang-bidang beraturan dalam kedalaman terukur.
Pemandangan pada hari-hari berikutnya makin menarik. Aku lupa waktu, demikian juga dengan teman-teman. Ada saja kegiatan baru yang memaku mata. Diawasi pria-pria berkepala biru, merah, dan putih, maka sekumpulan pekerja berhelm kuning berkaos lengan panjang merakit kerangka besar, dari batang-batang besi panjang.
Rangka-rangka dirangkai pada lubang-lubang tanah menjadi semacam landasan juga tiang-tiang. Mereka melintang dan berdiri tegak membentuk persegi sempurna. Kerangka ditutup dengan papan-papan membentuk serupa cetakan kue, yang selanjutnya diisi dengan lelehan abu-abu dari perut gendut kendaraan besar berkepala merah. Setelah sekian pekan, seluruh papan kayu dikuliti. Menyembul benda kelabu padat, yang semula berupa adonan encer. Tiang berdiri dan melintang di atas tampak kekar bagai batu.
“Itu disebut proyek,” kataku memutus keheranan teman-teman, “bapakku mati jadi tumbal proyek.”
***
Sejak mendengar cerita kakek tentang tumbal proyek, aku enggan ke sana lagi. Aku takut. Teman-teman juga takut setelah mengetahui keenggananku. Tak ada lagi keinginan menyaksikan keseruan kegiatan proyek. Digantikan kegiatan berkebun. Sepulang sekolah, aku menyusul kakek di tegalan. Sore setelahnya mendengarkan segudang cerita dari kakek.
Aku anak rumahan, yang bertekad meraih cita-cita tinggi terinspirasi cerita-cerita kakek. Kehendak membangun kehidupan lebih baik mendorongku makin rajin belajar, sungguh-sungguh mendengar guru, dan mengikuti petuah kakek nenek. Aku bersemangat melanjutkan sekolah menengah di kecamatan, meski berjalan kaki lebih jauh keluar desa. Lalu melanjutkan ke sekolah lebih tinggi di kota berbeda.
Demi membiayai pendidikanku, kakek bekerja lebih keras di usia tak muda. Kapan ya sekolah di negeri gemah ripah loh jinawi ini bebas biaya? Menunggu sampai turun hujan berkelirkah?
Dari bangku kuliah, pikiran tentang tumbal proyek perlahan terkikis. Ternyata mitos ini tumbuh sejak zaman kolonial. Perintah insinyur Belanda pada pembangunan jembatan disalahartikan oleh para pekerja lokal. Perintah “pakai kepala” alias menggunakan akal ditafsirkan sebagai “menggunakan kepala” secara harfiah.
Ditambah, kepercayaan masyarakat waktu itu yang meyakini, kegiatan konstruksi berjalan lancar bila didahului dengan persembahan kepada ruh penjaga tanah. Maka beredar rumor, orang-orang dari proyek besar mencari kepala hewan atau manusia untuk ditanam pada fondasi. Tumbal proyek menyasar anak-anak yang relatif mudah diculik. Tidak mengherankan, orang tua melarang anak-anaknya bermain jauh atau pulang terlampau petang.
Kuliah membuatku lebih mengerti, gunjingan “culik untuk tumbal proyek” yang diceritakan kakek melampaui makna. Ia merupakan wujud kemarahan, bahwa putranya –bapakku— telah mati dalam proyek di tanah lapang pinggir desa.
Cerita tumbal proyek merupakan pengungkapan ketidakberdayaan kakek menghadapi rasa kehilangan sangat mendalam. Kakek tak mampu menelusuri kasus kematian putranya di proyek, apalagi menggugatnya. Aku merasakan kekhawatiran seorang kakek yang tidak ingin melihat cucu satu-satunya celaka. Jangan sampai keturunannya bersinggungan dengan proyek. Jangan sampai jadi tumbal proyek.
Aku semakin mengerti. Kegiatan konstruksi tidak memerlukan tumbal proyek, tetapi perhitungan cermat demi menjamin keamanan demi keamanan struktur bangunan. Bila perlu memanfaatkan teknologi. Mengoperasikan alat-alat berat seperti ekskavator, crane, alat pemancang tiang, dan sebagainya. Proses pembangunannya juga melibatkan standar keselamatan kerja, disebut K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) konstruksi.
Aku mempelajari ilmu pengetahuan membangun konstruksi yang terukur, terjamin kekuatan dan keamanannya, tahan lama, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak perlu penanaman kepala manusia pada fondasi, karena aku tidak lagi percaya mitos tumbal proyek.
Aku selesai kuliah dengan pujian. Namun, predikat kehormatan dari perguruan tinggi ternyata tidak lantas memudahkan dalam mencari pekerjaan. Ratusan surat lamaran fisik pun elektronik tidak mendapat tanggapan. Lama-lama aku mengerti, terlalu banyak pencari kerja memasuki pipa lowongan kerja yang terlalu sempit. Ternyata cari pekerjaan tidak semudah cocote (omongannya) para pejabat.
***
Tidak seperti kubayangkan sebelumnya. Aku ingin bekerja di perusahaan kontraktor terkemuka dengan penghasilan memadai. Berangkat ke proyek dari kantor di kawasan segitiga emas. Pertemuan dengan teman masa kecilku mengubah segalanya.
“Aku perlu ijazah insinyur teknik sipil. Bisa pinjam punyamu? Untuk disertifikasi.”
“Tapi …!”
“Jangan khawatir. Biaya Sertifikat Tenaga Ahli menjadi tanggunganku.”
“Tapi ….”
“Ada imbalan lumayan.”
“Bukan begitu. Aku butuh pekerjaan. Butuh penghasilan rutin.”
Aku dikenalkan pada bos-nya, yang memiliki beberapa perusahaan kecil dan ukuran menengah. Ia pemilik modal utama, tetapi namanya tidak tercantum di dalam akta usaha mana pun. Pengurus perusahaan diangkat dari orang-orang kepercayaan, termasuk teman masa kecilku yang menjadi direktur salah satu badan usaha.
Berkat rekomendasinya, aku bekerja di grup usaha konstruksi. Tentu saja, aku bakal menerapkan ilmu dari bangku kuliah pada perusahaan rekanan instansi pemerintah itu. Penghasilannya lumayan. Memang gajinya di bawah UMR, tapi –kata temanku– akan ada semacam komisi bila terlibat di satu proyek. Tak mengapa. Yang penting aku mendapat pekerjaan setelah mengganggur sekian lama. Pada sebuah tender pekerjaan, namaku tercantum sebagai tenaga ahli kostruksi. Pada daftar personil jabatanku keren: tenaga Ahli Teknik Bangunan Gedung.
Kini aku menikmati keseruan pelaksanaan proyek dengan sukacita, sebagaimana kegembiraan menyaksikan kegiatan pembangunan di tanah lapang pinggir desa. Aku bekerja penuh semangat. Membaca gambar-gambar. Rapat dengan pihak pemberi kerja, pengawas, hingga kepala-kepala pekerja. Orang-orang mengagumi pengetahuanku tentang ilmu sipil.
Kebanggaan yang tak lama bertahan. Kenyataan lapangan menggugah kesadaran bahwa teori bangku kuliah amat berbeda dengan praktiknya. Teman masa kecilku menyuruh agar tidak memenuhi kuantitas dan kualitas yang ditentukan, mengganti dengan bahan di bawah standar dan mengurangi jumlahnya.
“Jangan khawatir. Bakal tetap kokoh. Para pengawas sudah dikasih penutup mulut.”
“Tapi …?”
“Ada lho orang yang mengincar pekerjaanmu.”
Hatiku bergejolak, tidak terima dengan pengurangan spesifikasi di semua subbidang pekerjaan. Itu tidak lagi sesuai teori. Namun, aku hanya diam tanpa membantah. Pupus sudah semangat. Aku bekerja sesuai instruksi, dengan target: yang penting pekerjaan selesai apa pun hasilnya tanpa menimbang idealisme.
Selesai pemeriksaan proyek dan serah terima, aku minta istirahat. Waktu luang yang tidak benar-benar dipakai mengaso, tapi mengirim lamaran-lamaran. Tak jadi soal andai mendapat pekerjaan di luar bidang. Terpenting, aku tidak terjerumus dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan nurani.
***
Kening berkerut, ketika menerima amplop cokelat berkop lembaga negara yang beralamat di kawasan segitiga emas. Aku tidak ingat telah mengirim lamaran ke mereka, saking banyaknya. Sejenak aku merasa itu bukan tempat bekerja seperti yang kuinginkan. Namun, segera kutepikan ragu. Menaikkan harap, mungkin aku dipanggil untuk mengisi posisi Kepala Bagian Pemeliharaan gedung lembaga anti rasuah itu.
Merobek amplop, sontak napas berhenti. Jantung berdegup kencang. Aku tidak membaca uraian lebih lanjut dari kata “PERTIMBANGAN” maupun “DASAR HUKUM”. Mata melewati tulisan: “M E M A N G G I L”. Langsung membaca keterangan di bawahnya yang sama persis dengan identitas kusandang!
Rasa dingin menjalari mukaku. Pucat. Pandangan menembus langit-langit muram. Ruang kusam terasa beku. Mengiang pesan mendiang kakek, “Jangan dekati mereka. Kau akan jadi tumbal proyek.”(*)
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXIX.
Tentang Cerpenis
Budi Susilo
Nulis yang ringan-ringan saja: tentang kabut, daun gugur, hingga debu dan deru di tepi jalan. IG: @budisusilomb
Testimoni Budi Susilo
Saya tak menyangka menjadi juara II pada Sayembara Cerpen Pulpen XXIX. Sudah lama tak bikin cerpen, maka saat mengikuti lomba saya merasa gamang.
Baiklah. Saya membongkar ingatan saat masih jadi pemborong. Dunia ini penuh dengan muslihat. Sarat upaya suap-menyuap, yang merupakan salah satu bentuk korupsi. Bagusnya, saya tidak terjerembab dalam urusan hukum. Bisa saja saya terjebak menjadi tumbal proyek. Bukan dalam arti sesungguhnya, melainkan dijebak oleh pelaku bermodal banyak dan tertangkap aparat. Pengandaian itu menjadi napas cerpen ini.

Terima kasih.