Pulpen Kompasiana

Dialog Dimas dan Hantu 1113 yang Tak Usai (Ulasan Cerpen oleh Andi Samsu Rijal)

Sebuah dialog antara tokoh dengan penghuni kamar hotel yang tak usai. Pembuka kalimat ini saya gunakan sebagai tanggapan atas cerpen karya Kusworo di laman Kompasiana.

Cerpen “Penghuni Kamar 1113” merupakan salah satu cerpen yang sangat menarik untuk dibaca. Olehnya, itu perlu dikembangkan dan dikemas dengan berbagai unsur pengembangan cerpen. Penulis telah berupaya memberikan kabar atas sebuah hal ganjil yang ditemui. Tulisan tersebut pun telah dikemas dengan runut dan terstruktur dari awal hingga akhir cerita.

Sebagai pembaca, rasanya ingin menunggu hasil dialog tokoh yang mestinya berujung damai dengan penghuni kamar hotel 1113. Di mana tokoh menyinggung soal penghuni kamar yang dianggapnya mengusik pengunjung. Mungkin sebuah amanat baik yang ingin disampaikan Pak Kusworo kepada pembaca budiman.

Dalam cerpen tersebut, sedianya penulis menyampaikan amanat lain bahwa pelayan yang ramah dan sebagainya. Selanjutnya, ada beberapa hal yang juga sebaiknya dimunculkan yakni unsur psikologis dan sosiologis tokoh hantu sehingga ia bertengger di kamar tertentu. Misalnya, ada hal yang belum tuntas atas sengketa hotel atau ada kasus besar yang terjadi dengan pengunjung sebelumnya seperti pernah pesta narkoba atau jadi ruang prostitusi.

Saya sangat mengapresiasi sebuah tulisan yang lahir atas rekaman perjalanan seseorang penulis. Sebab tidak semua orang dapat melakukannya bahkan penulis merekamnya dengan alot, tergambar saat angka-angka kamar yang ditulis.

Namun, terlepas dari itu, bahwa sebagai pembaca sedianya memberikan masukan kepada penulis yang bersangkutan. Bahwa dalam cerpen tersebut masih terdapat beberapa kesalahan teknis penulisan tanda baca, kata, frasa, maupun kalimat. Antara lain penulisan kata dan di awal kalimat sebanyak lima kali. Penggunaan kata dan frasa dalam bahasa asing yang seharusnya dimiringkan (Italic). Pembaca juga menemukan ada satu kalimat yang menggunakan kata menyala hingga tiga kali, sebaiknya dihindari.

“Ia menyalakan power untuk menyalakan semua lampu di kamar. Tapi ternyata hanya satu lampu yang menyala.” 

“Ia menekan tombol merah untuk menyalakan semua lampu kamar, tapi ternyata hanya satu yang berfungsi.”

Demikian ada ketidakkonsistensi penulis dalam menggunakan sudut pandang orang pertama antara kata aku dan saya. Meski hanya sekali melakukan kesalahan, namun terasa ganjil dalam membacanya. Hal lain juga yang mesti diperhatikan bahwa sebaiknya penulis menyamarkan nama tokoh, latar tempat, dan latar suasana hotel untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan pengelola.

Demikian pembaca akan merekam apa yang telah ditulis sehingga dapat memengaruhi psikologisnya. Sehingga ke depan, jika penulis berniat membukukan, sebaiknya dilakukan peninjauan kembali dan pengeditan agar dapat lebih menarik lagi dibaca. Sebab cerpen seperti ini sangat dinanti pembaca dan tentu sedikit menguji adrenalin pembaca.

Terima kasih,
Andi Samsu Rijal

Dosen Sastra Inggris Universitas Islam Makassar. Mahasiswa S3 Ilmu-Ilmu Humaniora FIB UGM. Seorang pegiat literasi.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *