Kopaja71

Merawat Makna Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan (Opini Arif Rohman Saleh)

Memperingati dan merayakan 78 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) berlangsung dinamis. Mengikuti perkembangan zaman dan tren yang ada.
…

Salah satu bukti, ramai di media sosial perbedaan unjuk karnaval. Kalau dulu banyak tampilan peserta karnaval yang menggambarkan kekejaman zaman penjajahan, sekarang bergeser ke musik DJ dengan joget aduhai. Sila lihat sendiri di Tik Tok dan lainnya.

Barisan karnaval berjoget diiringi musik DJ FYP (For Your Page) bahkan semakin marak. Musik DJ jedag-jedug menggeser lagu-lagu perjuangan yang terbiasa mengiringi barisan karnaval.

Apakah dinamika memperingati dan memeriahkan HUT Kemerdekaan di bulan Agustus salah dalam memaknai? Entahlah. Perbedaan sudut pandang pasti melahirkan pro dan kontra dengan pembenaran yang subjektif.

Memperingati dan memaknai 78 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Kecamatan Sukapura-Kabupaten Probolinggo konsisten mengadakan Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI. Bertempat di lapangan Kecamatan Sukapura, Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-78 diikuti murid jenjang SD hingga SMA/SMK Sederajat, pegawai, dan juga ormas yang ada di lingkup Kecamatan Sukapura.

Untuk pertama kalinya, penulis mengikuti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan di Kecamatan Sukapura. Ini terkait dengan pindah tugas penulis yang semula di SMPN 1 Wonomerto-Kecamatan Wonomerto bergeser ke SMPN 1 Sukapura-Kecamatan Sukapura.

Sebagai guru, keharusan hadir sebelum acara dimulai menjadi prioritas. Wujud teladan bagi murid, pembiasaan karakter disiplin dan cinta tanah air. Pukul 08.00 WIB, saat tiba di lapangan Kecamatan Sukapura, suasana cukup ramai tetapi semua peserta upacara dan undangan belum membentuk dan memposisikan barisan. Berbeda dengan tempat lainnya yang cenderung memulai upacara lebih awal sekitar pukul 08.00 WIB.

Usut punya usut, Kecamatan Sukapura telah membiasakan diri memulai upacara mendekati pukul 10.00 WIB. Bertepatan dengan detik-detik pembacaan naskah proklamasi di tahun 1945. Sedangkan tempat lain lebih awal melaksanakan dengan mempertimbangkan sinar matahari yang cukup terik jika dipaksakan mendekati pukul 10.00 WIB.

Waktu yang cukup panjang menanti Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan, penulis manfaatkan untuk mencari sudut pandang terbaik (menurut penulis) untuk memotret jalannya upacara. Juga lebih dekat dengan pasukan drum band dari sekolah penulis bertugas dan panggung kehormatan.

Pukul 09.55 WIB, pelaksanaan upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan di Kecamatan Sukapura dimulai. Diawali persiapan barisan, inspektur upacara menempati mimbar, dan laporan pelaksanaan upacara siap dilaksanakan oleh pemimpin upacara.

Tepat pukul 10.00 WIB, di terik sinar matahari yang cukup menyengat, Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan. Raungan sirine yang disiapkan panitia, dari mobil ambulans dan mobil patroli Polsek Sukapura menggema.

Seiring gema suara sirine, peserta upacara menundukkan kepala. Khusyuk (bersungguh-sungguh, penuh kerendahan hati) mengenang dan mensyukuri Kemerdekaan Republik Indonesia tepat pukul 10.00 WIB.

Peristiwa bersejarah di hari Jumat 78 tahun yang lalu seakan kembali hadir dan selalu kami kenang. Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang menjadi Jalan Proklamasi) menjadi saksi pembacaan naskah proklamasi. Sukarno didampingi Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Kami membayangkan, lewat Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan, betapa kemerdekaan adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ikhtiar dari satu bangsa yang begitu lama merindukan lepas dari penjajahan. Berdaualat dalam bingkai negara nasional (nation state) sebagai satu bangsa dan negara besar, yaitu Republik Indonesia.

Kami juga membayangkan betapa gigih dan berani semua golongan nasionalis di 78 tahun yang lalu menyatakan merdeka. Berlanjut dalam tempo sesingkat-singkatnya membentuk pemerintahan yang berdaulat.

Penyerahan Jepang kepada Sekutu di Tanggal 15 Agustus 1945 hingga Sidang PPKI I (18 Agustus 1945) telah membulatkan tekad menjadi bangsa merdeka dan berdaulat.

Terbayang ketegangan antara golongan pemuda dengan sukarno di Lapangan Kemayoran, Peristiwa Rengasdengklok, Penyusunan Naskah Proklamasi di Rumah Laksamana Maeda, dan Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan di rumah Ir. Sukarno.

Terbayang juga bagaimana bangsa Indonesia yang baru lahir berusaha mempertahankan kemerdekaan. Mengenang kembali peristiwa Lapangan Ikada, Perebutan Senjata Jepang, Insiden di Hotel Yamato. Betapa Kota Bandung, Malang, dan Bekasi menjadi lautan api.

Belum lagi pertempuran di berbagai daerah. Peristiwa Medan Area, Pertempuran Ambarawa, Pertempuran Surabaya, Puputan Margarana, dan daerah lainnya menjadi bukti nyata betapa kemerdekaan yang kita raih perlu dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Betul kami hanya mengenang, hanya membayangkan lewat Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan. Tetapi, lewat Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan, kami menyadari betapa pentingnya kemerdekaan yang kita raih untuk dipertahankan dan diisi dengan pembangunan.

Sebagai bangsa yang besar dengan penduduk lebih dari 270 juta jiwa, harus tetap kokoh memupuk persatuan dan kesatuan. Momentum Detik-Detik Proklamasi harus menjadi pijakan tekad kuat kukuh menghadapi ancaman, tantangan, dan gangguan dari gempuran budaya luar maupun berbagai aspek kepentingan dari berbagai penjuru dunia.

Mewujudkan dan mempertahankan kemerdekaan sudah dibuktikan oleh para pendahulu bangsa. Merawat kemerdekaan dengan memaknai Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan adalah tugas generasi sekarang dan selanjutnya. Ini yang selalu guru tekankan dan ingatkan ke murid di hampir setiap upacara bendera.

Tugas yang tidak mudah tetapi perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat dan golongan. Mengikat diri dalam bingkai negara kesatuan yang berbhineka tunggal ika. Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Semoga.

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-78.
Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!. (*)

Arif Rohman Saleh

Opini merupakan Juara III Lomba Opini Pengalaman dan Makna Upacara Bendera.
Opini telah tayang di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *