Kopaja71

Kejahatan Hadir karena Ada Kesempatan (Cerita Nina Sulistiati)

Suasana terminal Kampung Rambutan sangat ramai oleh calon penumpang maupun para penumpang yang baru turun dari bus antarkota. Siang itu cuaca cukup panas karena musim kemarau baru saja tiba. Aku melangkah masuk dan mencari bus dengan tujuan Sukabumi. Saat itu saya baru saja pulang dari rumah paman dan berencana kembali ke Sukabumi.
…

“Sukabumi! Sukabumi!” teriak para calo di terminal rambutan saat itu.

Saya segera menaiki salah satu bus yang menuju ke Sukabumi. Seperti biasa saya paling suka duduk di dekat jendela. Alasannya saya dapat melihat pemandangan langsung tanpa terganggu oleh penumpang lain. Saya memilih duduk di bangku yang berada di baris bagian tengah.

Saat saya tengah asyik memandang suasana terminal, datang penumpang lain dan duduk di samping saya. Selintas saya mengamati penumpang tersebut. Dia seorang perempuan berusia sekitar 35 tahun dengan wajah yang manis. Penampilan wanita tersebut mampu mengundang perhatian orang khususnya kaum laki- laki.

Mengapa? Dia berpakaian ketat dan berbalut celana jean yang ketat pula. Lekuk- lekuk tubuhnya terlihat jelas. Rambutnya dicat blonde. Dan yang paling mengundang mata juga adalah dia menggunakan perhiasan yang sangat mencolok di jari- jari, pergelangan tangan, dan lehernya.

Tak lama kemudian bus mulai berjalan dan meninggalkan terminal dengan penumpang yang cukup padat. Beberapa orang terpaksa berdiri karena kursi penumpang sudah terisi semua. Biasanya mereka penumpang dengan tujuan yang tak terlalu jauh. Tepat di baris kursi yang saya dan wanita itu tempati, berdiri seorang laki- laki dengan menggunakan jaket hitam, dia berdiri bersama seorang temannya.

Saat bus mulai memasuki jalan tol Jagorawi, salah seorang dari mereka mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan terus mepet ke arah bahu wanita di sebelah saya itu. Wanita itu tampak tegang. Dia mencolek tangan saya seolah meminta bantuan. Saya kurang paham saat itu.

“Ada apa, Mbak? Ada yang bisa saya tolong?” tanya saya saat itu sambil memandang wajahnya. Wanita itu memberikan kode dengan kerlingan matanya yang mengarah kepada lelaki yang berdiri di sampingnya.

Serta merta saya melihat lelaki itu sambil memandang tajam ke arah saya. Selintas saya melihat ke arah tangannya yang sedang menodongkan sebilah pisau ke rah bahu wanita itu.

“Serahkan semua perhiasan yang kamu pakai jika kamu ingin selamat,” bisik lelaki itu sambil menekankan pisau itu lebih dalam.

Saat itu saya takut dan bingung harus berbuat apa. Begitu juga wanita itu yang berwajah pucat. Para penjahat itu cukup pintar dan berani. Mereka pintar karena menodongkan pisau ini di area yang tertutup. Badan kedua orang itu menutupi pisau sehingga tidak bisa terlihat orang lain.

Saya melihat wanita itu mulai melepas gelangnya. Saya mencoba melarangnya dengan menggelengkan kepala agar tak terlihat kedua penjahat itu.

“Lepaskan pisau di tangan kamu!”
Tiba- tiba sebuah suara terdengar  cukup keras, “Kalau tidak, saya akan menembak kepala kamu!”

Penjahat itu menyerahkan pisau itu dan menyerahkannya kepada  laki- laki itu. Beberapa penumpang melihat ke arah laki- laki itu. Saya melihat laki- laki yang berpakaian preman sedang menodongkan pistol ke salah seorang penjahat yang membawa pisau.

Penjahat itu menyerahkan pisau yang ternyata hanya sebuah pisau mainan. Saat itu sopir menghentikan bus di pinggir jalan tol. Beberapa penumpang berusaha untuk bertindak main hakim sendiri, tetapi segera ditepis oleh laki- laki berpistol. Laki- laki itu ternyata seorang polisi yang berpakaian preman dan berniat akan pulang ke rumahnya di Ciawi.

Saya tidak tahu bagaimana caranya tahu jika ada tindak penodongan di bus itu. Mungkin feeling kuat dan melihat gerak gerik kedua penjahat itu.

Saya bersyukur karena peristiwa itu dapat ditangani. Pengalaman itu cukup membuat saya ketakutan. Seperti bermain dalam sebuah film aksi yang sering saya saksikan. Polisi itu membawa kedua penjahat itu turun. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan.

“Mbak, maaf lebih baik perhiasan yang dipakai itu dilepas saja dan disimpan di tas agar tidak mengundang orang lain berniat jahat.”

Saya menasihati perempuan itu dengan hati- hati. Akhirnya wanita itu menuruti saran saya. Pengalaman tersebut, ada beberapa pembelajaran yang dapat kita petik saat pergi dengan menggunakan kendaraan umum, yaitu:
1. hendaknya menggunakan kendaraan umum yang tidak terlalu padat;
2. tetap waspada saat berada di perjalanan dan pahami kondisi sekitar;
3. memakai pakaian yang sopan dan tidak mengundang perhatian orang banyak; dan
4. jangan menggunakan perhiasan yang berlebihan agar tidak mengundang orang lain berbuat kejahatan.

Semoga pengalaman ini dapat memberikan manfaat dan pembelajaran bagi kita saat menggunakan kendaraan umum. (*)

Cerita merupakan Juara III Lomba Berkisah Pengalaman Berkendaraan Umum di Jakarta.
Cerita telah tayang di Kompasiana.

Penulis
Nina Sulistiati
Lahir pada akhir Januari di kota udang Cirebon. Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung tahun 1991 dan Universitas Terbuka FKIP Jurusan Bahasa Indonesia pada tahun 2010. Karya buku solo: Asa Di balik Duka Wanodya, 2022. Penulis 24 antologi dengan berbagai genre, antara lain: Unforgeteble Legend, Antologi Cerpen Pena Citra Dewani, 2021. PT. MGG, Bandung. Pelangi di Langit Sukabumi: Antologi Puisi. 2021. CV. Jejak Publisher. Pelangi Budaya dan Insan Nusantara. Bunga Rampai Inspirasiana. 2021. Sebait Warita Pada Samudera Masa. 2021. Bulan Dikekang Malam, Antologi Cerita Pendek, 2023, Dandelion Publisher. Fb: Nina Sulistiati, IG: @nlistiati, tiktok @n.listiati

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *