Kopaja71

Delman Betawi dalam Pusaran Jaman (Foto Kartika E.H.)

Salah satu (jejak) budaya Betawi yang sampai sekarang masih eksis, lumayan masih sering terlihat wira-wiri di jalanan ibu kota adalah sejenis kereta kuda tradisional khas Betawi yang lebih dikenal masyarakat sebagai delman.
…

Memang sih, wira-wirinya delman di jalanan Jakarta sekarang ini, seperti di seputaran Monas atau Kota Tua tidak lagi sebagai alat transportasi umum seperti di era keemasannya di tahun-tahun 50-an, tapi sebatas melayani para wisatawan yang ingin menikmati eksotisme dua destinasi kebanggaan Jakarta tersebut dengan cara berbeda, mengelilinginya sekaligus bernostalgia dengan naik delman. Asyik yak?

Khusus di seputaran Kota Tua Jakarta, setidaknya ada 2 model delman yang bisa kita temukan, yaitu delman dengan roda besar berbahan utama kayu mirip dengan rodanya dokar dan yang kedua, delman dengan roda mobil mirip dengan cidomo kereta kuda khas dari Pulau Lombok dan sekitarnya.

Sayangnya, keberadaan sarana transportasi tradisional legendaris yang namanya diambil dari perancangnya, Ir Charles Theodore Deeleman ini, nasibnya tetap saja tidak lebih baik dari semua produk jaman berlabel “tradisional” yang sebagian besar memang dalam situasi “hidup segan mati tak mau”. Begitu juga dengan delman khas Betawi ini.

Mirisnya lagi, keberadaan delman dan kereta-kereta tradisional sejenis lainnya yang masih mengandalkan tenaga kuda sebagai penariknya, seperti andong, bendi, sado, dokar dan lain-lainnya di berbagai kota di Indonesia, banyak di antaranya yang justru melahirkan polemik di masyarakat dan juga pemerintah.

Ini yang unik! Selain masalah kebersihan yang sering menjadi alasan penolakan delman, akses jalan di perkotaan juga banyak yang tidak bisa mengakomodir keberadaan mereka.

Jadi jujur saja, ketika secara tidak sengaja bertemu dengan delman khas Betawi tengah sendirian dengan berbagai pernak-pernik kelengkapannya yang khas berada di antara barisan bajaj, saat menyusuri kawasan wisata Kota Tua, Jakarta pada 2018 silam dalam rangkaian even Writingthon Asian Games, benar-benar berasa surprise!

Bagaimana tidak, ketika di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas kota tempat tinggal saya saat ini begitu sulit menemukan kereta kuda, karena memang tidak ada tradisi itu. Begitu juga dengan nasib Dokar, kereta kuda khas kampung halaman saya di kaki Gunung Lawu yang juga semakin sulit ditemukan, di Ibu Kota Jakarta justru ketemu sama delman. Woooow!

Mudahan ini bukan delman-delman terakhir yang mengaspal di Jakarta.
Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas! (*)

Foto merupakan Juara II Lomba Foto Jakartamu dan Ceritakanlah.
Foto telah tayang di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *