Kopaja71

Merindu Langit Biru di Jakartaku (Opini Erry Yulia Siahaan)

Sebuah “hadiah” dari alam untuk Jakarta pada hari ulang tahunnya yang ke-496. Kualitas udara siang ini, Kamis (22/6/2023), berada pada titik sangat buruk untuk dihirup. Langit buram, berkabut. Sinar matahari terhalang oleh begitu tebalnya agen pencemar. Menurut situs IQAir, konsentrasi rata-rata PM2.5 di ibu kota menembus angka 153 AQI US, atau 12 kali dari nilai ambang dalam pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
…

Angka itu menunjukkan, tingkat polusi udara tidak sehat bagi siapa saja. Ini lebih buruk daripada sebelumnya, yang masih tergolong “tidak sehat untuk kelompok sensitif“. PM2.5 adalah materi partikel berukuran halus, kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer, salah satu parameter mutu udara. Sejak 2011, WHO menetapkan pedoman kualitas udara, yang memuat nilai ambang untuk agen-agen pencemar (termasuk PM2.5) sebagai titik  yang masih bisa ditoleransi bagi kesehatan.

PM2.5 termasuk salah satu polutan utama di Jakarta. Pencemar lainnya adalah PM10, nitrogen dioksida    (NO2), sulfur dioksida (SO2), karbon, dan aerosol. Angka-angka pada situs IQAir didasarkan pada data dari 23 kontributor, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta dan Polusi   Udara di Indonesia IQAir
  (Sumber: https://www.iqair.com/id/)

Penelitian menunjukkan, angka di bawah atau sama dengan 12 (dalam mikrogram per meter kubik) untuk PM2.5 tergolong aman. Artinya, tanpa atau dengan sedikit risiko terhadap kesehatan. Jika di atas 35, udara kotor yang kita hirup terus-menerus bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, bahkan kematian.

Udara tercemar bisa memicu infeksi saluran pernapasan akut berupa radang tenggorokan dan bronkitis, serta memperburuk penyakit kronis (misalnya asma dan penyakit paru obstruktif kronik). Tingginya pencemaran udara membuat langit biru menjadi barang langka dan super mewah. Ketika kadar PM2.5 naik, jarak pandang berkurang dan udara tampak berkabut.

Amat kontras dengan yang masih bisa penulis saksikan di timur Indonesia. Di Larantuka, misalnya, langit biru membentang luas sepanjang mata memandang, sesuai dengan syair lagu dan puisi pada masa sekolah. Malam hari, bintang-bintang terlihat jelas. Kontras pula dengan langit di atas Jakarta pada masa kecil penulis. Pada akhir tahun 1960-an, berkendaraan pribadi dan berhenti di atas jembatan Semanggi merupakan piknik malam hari yang mengasyikkan.

Keluarga bisa menikmati malam sambil makan sekoteng panas dari penjual pikul yang melintas, dilindungi langit bersih dengan bintang-bintang yang terlihat jelas. Atau, pada akhir 1970-an di mana udara masih bersahabat dengan penulis dan teman-teman seperguruan, ketika berlari tanpa alas kaki di jalan beraspal sepanjang beberapa kilometer, sebagai syarat ujian kenaikan tingkat pencak silat. Nostalgia yang kini masih menjadi tanda tanya, (masih) bisakah itu juga menjadi bagian dari hidup anak-anak dan cucu-cucu penulis?

(Sumber: https://www.iqair.com/id/)

Materi Partikulat

Materi partikulat bukanlah polutan tunggal. Ia campuran dari berbagai macam materi kimia yang berbeda-beda ukuran, bentuk, dan komposisinya. Ia mungkin saja mengandung ion anorganik, unsur organik, dan logam. Termasuk timbal, yang ditengarai bisa memicu penurunan tingkat kecerdasan, gangguan kesehatan, bahkan kematian.

PM2.5 bisa berasal dari emisi pembakaran bensin, minyak, solar, dan kayu. PM10 bisa dari debu konstruksi; limbah industri, pembuangan sampah, dan pertanian; pembakaran; debu yang tertiup angin; dan bahan kecil lain yang mungkin bergabung. Menarik, bahwa sore hari, angka PM2.5 di Jakarta menurun drastis menjadi sekitar 60. Kesimpulan kasar bisa ditarik segera, kemungkinan besar kendaraanlah yang berkontribusi besar atas indeks kualitas udara buruk tadi. Ini merujuk pada sumber emisi PM2.5 dan kecenderungan padatnya lalu-lintas di Jakarta pada pagi sampai siang hari, di mana kendaraan berbahan bakar fosil masih mendominasi.

Polusi udara merupakan fakta yang tidak hanya melanda Jakarta, tapi juga banyak kota di dunia. Udara tidak mengenal batas-batas negara. Tapi, hal itu tidak boleh menjadi pembenaran untuk membiarkan tindakan kita terhadap Jakarta terus-menerus seperti sekarang, atau malah menjadi lebih buruk. Misalnya, boros bahan-bakar dengan bepergian satu orang satu kendaraan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah melahirkan temuan-temuan, sebagai jalan keluar buat menyelamatkan lingkungan dan kehidupan.

Terkait kendaraan, Pemerintah sudah berupaya mengurangi jumlah kendaraan setiap hari, termasuk pengaturan nomor plat ganjil-genap di Jakarta. Cara ini bahkan mulai merembet ke sekitar ibu kota, contohnya Bogor. Pemerintah dan mitra menyediakan angkutan yang lebih nyaman, berkapasitas massal, dan lebih ramah lingkungan, seperti kereta bertenaga gerak listrik – komuter, Mass Rapid Transit (MRT), dan Light Rail Transit (LRT) – bis Trans Jakarta, dan angkutan khusus ke bandara.

Kendaraan listrik sudah mulai masuk ke pasaran. Yang tak kalah penting adalah warisan sejarah yaitu sepeda, moda yang jauh lebih hemat, lebih sehat, dan bersahabat dengan alam. 

Bertindaklah Sekarang

Karena bernapas diperlukan untuk hidup dan kita ingin udara yang kita hirup itu minim risikonya bagi kesehatan, kita perlu melindungi diri dari paparan pencemar. Secara teknis, kita bisa mengenakan masker di luar rumah, menutup jendela untuk menghindari udara kotor masuk ke dalam rumah, menyalakan alat penyaring udara (jika ada), dan sedapat mungkin menghindari kegiatan di luar bila polusi udara cukup parah. Contohnya, tidak ke jalan-jalan di mana sedang dilanda kemacetan.

Sembari melindungi diri, kita memulai dari diri sendiri, untuk rajin memperhitungkan konsekuensi dari setiap tindakan kita terhadap lingkungan, khususnya udara.

Bukan propaganda bahwa angka-angka bombastis tentang jumlah kesakitan atau kematian akibat polusi sering kali dilontarkan ke ruang publik oleh badan-badan resmi terkait. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), misalnya, menyebutkan polusi udara bertanggung jawab atas sekitar 7 juta kematian dini setiap tahun, atau sekitar 10 persen dari semua kematian.

Di Jakarta, kata IQAir, polusi udara diperkirakan telah menyebabkan 5.300 kematian pada 2023, dengan nilai kerugian sekitar 1,4 juta dolar Amerika. Dana Anak PBB (Unicef) 2022 menyebutkan, lebih dari 8 juta anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 mikrogram per desiliter, kadar yang sangat rawan untuk kesehatan.

Selain bisa menurunkan kecerdasan, keracunan timbal bisa berpengaruh pada perilaku dan menyebabkan ensefalopati, anemia, pertumbuhan yang terhambat, tertundanya kematangan seksual, penyakit kardiovaskular dan ginjal, kejang, koma, serta kematian. Angka-angka itu merupakan peringatan agar semua lebih peduli dan bertanggungjawab atas setiap tindakan yang dilakukan.

Planet ini adalah pinjaman dari generasi di depan kita. Kita harus merawat Bumi sebaik-baiknya, agar anak-cucu kita bisa nyaman hidup di planet ini, bukannya malah menjadi repot memberesi bencana akibat ulah bapak-ibu-nenek-buyut mereka.

Kita hidup hari ini, bertindak hari ini, tetapi berpikir juga untuk nanti. Mari bertindak bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk hari-hari depan banyak generasi setelah kita. (*)

Opini merupakan Juara I Lomba Opini dan Harapan untuk Jakarta.
Opini telah tayang di Kompasiana.

Tentang Penulis

Erry Yulia Siahaan
Mengajar, menulis, menikmati musik dan sastra. Ibu dua anak; kelahiran Jakarta, sejak 2004 tinggal di Bogor. Pembelajar dalam menikmati dan mengagumi karya-karya Allah.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *