Pulpen Kompasiana

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu Sungai Utara. 
***
Di atas geladak kayu yang basah oleh embun itu, tampak Pak Bakri memegang kemudi perahu bermesin tempel itu dengan gerak jemari yang begitu tenang. Pria paruh baya itu tampak bersahaja dengan setelan sederhana, baju sasirangan dan celana kain berwarna senada yang bagian bawahnya sengaja digulung agar tidak basah, plus sepatu casual tahan air yang warnanya juga senada. Siapa pun yang baru mengenalnya pasti mengira beliau seorang motoris kelotok. Padahal, pria gempal hasil tempaan kerasnya kehidupan itu adalah pemilik tunggal dari jaringan usaha Bakso & Mie Ayam “Rawa Gemilang”, imperium kuliner lokal yang cabang-cabangnya usahanya sudah merambah ke semua ibu kota kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan.

Di samping Pak Bakri, ada Purnomo. Penampilannya sangat kontras, kemeja katun rapi, jam tangan kulit, dan kacamata berbingkai tipis. Purnomo adalah lulusan magister Manajemen Bisnis dari universitas tertua di Jogjakarta. Baru sebulan ia direkrut menjadi Manajer Operasional di Holding Company berbasis usaha Bakso dan Mie Ayam milik Pak Bakri.

Purnomo menatap bingung ke arah depan. Di antara asap tipis rawa-rawa, berdiri deretan tiang kayu ulin tua yang menyangga sebuah bangunan kayu di tengah genangan air rawa, itulah SDN Sungai Buluh, sekolah terapung yang dulu menjadi tempat Bakri kecil menimba ilmu. Sayang, riwayat pendidikan Bakri di sana terhenti amat cepat. Ia terpaksa drop-out saat naik kelas tiga, karena terhimpit kemiskinan dan harus membantu orang tuanya mencari ikan. 

Suara gemericik air yang terbelah baling-baling perahu menemani keheningan di antara keduanya. Sebenarnya, Purnomo memendam pertanyaan besar yang sudah bergolak sejak hari pertama bekerja dan sekarang ia tak tahan lagi untuk menyuarakan isi kepalanya.

“Pak haji,” ujar Purnomo pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. 

“Jujur, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya selama empat pekan ini.”

Pak Bakri melirik sebentar, mengumbar senyum tipis tanpa melepaskan pandangannya dari jalur rawa diantara kumpai dan tanaman air lainnya itu.

“Bicara saja, Pur. Jangan ragu. Di perahu ini cuma ada kita berdua.” Jawab Pak Bakri tenang.

“Saya bingung, Pak! Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun di bangku kuliah, membaca ratusan literatur manajemen, belajar teori efisiensi, analisis pasar, hingga formulasinya yang rumit.” 

“Saya juga berdarah-darah mengejar gelar sarjana hingga magister. Tapi pada kenyataannya, saya dan puluhan karyawan berpendidikan tinggi lainnya justru bekerja sama Pak Haji yang tidak tamat SD?”

Purnomo menarik napas panjang, sambil menatap bayangan pohon rambai di kejauhan. “Saya merasa ada paradoks yang tidak adil. Untuk apa kita sekolah tingi-tinggi kalau akhirnya keberanian, intuisi, dan keberuntungan juragan lapangan seperti Pak Haji yang selalu menjadi pemenang?”

Pak Bakri tidak langsung menjawab. Beliau mengurangi tarikan tuas perahu kelotoknya dan membiarkan perahu meluncur lambat mendekati dermaga sekolah.

“Pur, kamu lihat air rawa yang berwarna cokelat pekat ini?” tanya Pak Bakri lembut. 

“Bagi orang kota yang cuma melihat dari kejauhan, air ini pasti dianggap kotor, keruh, dan tak berguna. Tapi bagi masyarakat di sini, inilah sumber kehidupan! Di bawah keruhnya air ini ada ikan, ada kehidupan, ada rezeki!”

Pak Bakri berpaling menatap mata Purnomo. “Ilmu yang kamu pelajari di kampus itu ibarat kacamata berteknologi tinggi. Kamu bisa melihat kedalaman air dengan jernih, mengukur kadar asamnya, dan memetakan arusnya secara akurat.”

“Saya? Saya tidak punya kacamata itu! Tapi saya paham betul bagaimana rasa air ini, karena saya sudah pernah kecebur, hingga menceburkan diri sampai hampir tenggelam sejak masih kecil.”

Perahu akhirnya menepi dan terikat sempurna di tiang dermaga sekolah. Kedatangan Pak Bakri pagi itu disambut oleh puluhan anak-anak berseragam merah-putih dengan wajah berbinar-binar. Kedatangan Pak Bakri bukan sekadar kunjungan nostalgia, melainkan sebuah misi sosial. Di bagian belakang kelotok, tertumpuk berdus-dus buku bacaan baru, peralatan sekolah, bantuan sanitasi air bersih dan kebutuhan sekolah lainnya. Sambil memperhatikan anak-anak yang bersorak gembira membongkar muatan buku bersama para guru, Pak Bakri dan Purnomo berjalan pelan mengitari teras kayu sekolah.

“Orang Minang punya pepatah bijak yang sangat saya kagumi, Pur,” kata Pak Bakri melanjutkan percakapan.

“Alam takambang jadi guru, alam terkembang dijadikan guru. Saya memang tidak pernah membaca buku-buku manajemen tebal seperti kamu. Guru saya adalah kerasnya jalanan, penolakan orang, kegagalan berjualan yang tak terhitung jumlahnya, dan intuisi yang diasah oleh keadaan yang menekan yang disebut orang sebagai The power of kepepet!“

Pak Bakri berhenti melangkah lalu menatap Purnomo dengan wibawa yang tenang. “Tapi jangan salah sangka, Pur. Jangan pernah berpikir bahwa pendidikan itu sia-sia hanya karena melihat orang seperti saya!”

“Maksud Pak Haji?” tanya Purnomo.

“Tanpa orang-orang terdidik seperti kamu dan tim di belakangmu, bisnis mie ayam dan bakso saya cuma akan berhenti di lima warung pinggir jalan saja!” tegas Pak Bakri. 

“Keberanian dan naluri lapangan memang bisa membuka pintu usaha. Tapi hanya pengetahuan, sistem, dan sains manajemen yang bisa menjaga usaha itu bisa bertahan dan berkembang. Saya memang beruntung bisa survive dan tumbuh sampai di titik ini. Tapi hidup tidak bisa selamanya bersandar pada keberuntungan!”

Pak Bakri menepuk bahu Purnomo dengan mantap. “Pendidikan formal yang kamu tempuh itu ibarat jalan tol. Kamu harus membayar tolnya dengan biaya, waktu, dan pikiran. Tapi begitu kamu masuk ke sana, jalannya lurus, aman, dan membawa mobilmu melaju cepat.” 

“Sementara orang seperti saya? Kami harus memotong semak belukar dulu, membabat hutan perawan, merayap di rawa berlumpur dan bernyamuk untuk bisa sampai di titik start yang sama dengan kamu. Jadi, jangan pernah sekali-kali kamu menyesali pendidikanmu atau menganggapnya tak berguna.” Tambah Pak Bakri lagi sambil tersenyum penuh arti. 

Selepas waktu Dhuhur, Kepala Sekolah mengajak mereka masuk ke ruangan  beliau. Di atas meja kayu tua, telah disiapkan seberkas dokumen penting, laporan pertanggungjawaban hibah dan berkas pendirian sebuah lembaga nirlaba baru yang diinisiasi Pak Bakri.

“Pak haji, ini berkas pendirian ‘Foundation Rawa Pintar’ yang Bapak minta bulan lalu,” ucap Kepala Sekolah dengan nada haru. “Seluruh klausul penjaminan beasiswa dari jenjang SD sampai S1 untuk anak-anak rawa Sungai Buluh sudah disusun dengan sangat rapi dan lengkap oleh tim hukum kami.” ucap Kepala Sekolah menambahkan. 

Pak Bakri mengangguk puas. Beliau kemudian mengambil pulpen berujung emas dari saku kemeja Purnomo, lalu menyodorkan pulpen beserta tumpukan berkas legal tersebut ke hadapan manajer mudanya itu.

“Tolong kamu tanda tangani di lembar utama ini sebagai Ketua Yayasan sekaligus Verifikator Utama, Pur,” kata Pak Bakri tenang.

Tentu saja Purnomo terperanjat, kaget!  “Lho? Pak Haji… Kok saya? Bukannya Pak Haji pendiri tunggal sekaligus penyokong seluruh dananya? Kenapa bukan Pak Haji sendiri yang menandatangani kolom Pendiri Utama?”

Pak Bakri terkekeh kecil. Senyumnya terkembang tulus, namun ada guratan kesedihan sekaligus keteguhan di mata tuanya saat ia menatap lurus ke arah jendela, memandang cakrawala rawa yang terbentang luas.

“Memang saya  yang mendanai seluruh kegiatan yayasan ini, Pur. Tapi seluruh akta pendirian, dokumen legalitas, dan aturan main organisasi ini harus atas nama kamu dan orang-orang terdidik di timmu,” ucap Pak Bakri lirih. Beliau lalu perlahan mengangkat ibu jari kanannya, memperlihatkan bekas tinta stempel yang melekat di sana.

“Karena sejujurnya, Pur! Saya bahkan tidak bisa membaca satu kata pun yang tertulis di dalam dokumen tebal itu. Saya tidak pernah bisa membaca dan menulis. Dari dulu sampai hari ini, saya cuma bisa membubuhkan cap jempol ini saja.”

Purnomo membeku seketika. Lidahnya kelu. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mengetahui kenyataan di depannya, sebuah rahasia dari seorang pria genius di hadapannya, seorang maestro bisnis yang memimpin ratusan karyawan, mengelola rantai pasok rumit, dan mencetak omset miliaran rupiah per-bulan yang ternyata bukan sekadar tidak tamat sekolah dasar, tapi juga buta huruf! Di tengah keheningan ruang guru yang mendadak mencekam, Pak Bakri menyentuh lengan Purnomo dengan lembut.

“Mungkin saya memang bisa membangun ratusan warung bakso dengan intuisi dan kerja keras,” bisik Pak Bakri dengan suara yang bergetar namun menggelegar di relung jiwa Purnomo. 

“Tapi hanya manusia terdidik dan berilmu seperti kamu yang bisa membaca masa depan, mengelola dunia, dan memastikan anak-anak di rawa ini punya pendidikan yang layak… Agar mereka bisa mengejar mimpinya masing-masing! Setinggi-tingginya! Setinggi langit sekalipun!” (BDJ14926) 

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXVIII.

Testimoni Kaekaha

Alhamdulillah, cerpen “Rahasia Cap Jempol Pak Bakri” akhirnya menemui takdir terbaiknya di ajang Sayembara Cerpen Pulpen XXXVIII, setelah juri memberi apresiasi sebagai pemenang ke-2. Saya sangat bersyukur, bisa menuliskan kisah Pak Bakri beserta dinamika kehidupannya yang sarat anomalis itu dengan angle terbaik (setidaknya menurut saya!) yang enak dibaca dan mudah-mudahan menginspirasi.

Ide dan bahan kasar cerita ini sebenarnya sudah sangat lama mengendap di kepala! Gara-gara hobi saya ngobrol sama sembarang orang yang salah satunya “Pak Bakri”, nggak bisa baca, nggak lulus SD, tapi puluhan dari ratusan anak buahnya malah sarjana dan beberapa di antaranya bergelar master! Jadi, teruslah berprasangka baik, berdoa, dan berusaha!

Terima kasih Pulpen dan semua yang telah menjadikan event ini berjalan dengan baik!

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Kodel (Cerpen Syifa Dwi Maharani)

“Kodel! Pergi kau!” usir wanita paruh baya itu dengan tubuh yang menahan gerak pintu.***Bibirnya yang pecah-pecah meluncurkan makian tanpa rem. Seolah ia sengaja meninggalkan otaknya di suatu laci…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *