Pulpen Kompasiana

Tamsil Nisbah (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Arya menahan napas sejenak saat ujung pinsetnya menempatkan miniatur mobil sport tepat di tengah persimpangan diorama pesanan dari klien istimewanya. Di dalam studio yang terletak di lantai tiga gedung coworking, aroma tajam lem berbaur dengan uap seduhan jahe merah yang perlahan kehilangan hangatnya. Di balik ketelitian yang ia curahkan, debar jantungnya justru bergemuruh oleh kegelisahan yang tak biasa. Ia bertanya-tanya mengapa tengkuknya mendadak merinding, seolah ada ribuan pasang mata yang mengintai dari balik jendela rumah-rumah berskala 1:64 itu.
***
“Enggak mau istirahat dulu, kamunya?” sapa Kiara lembut, seketika membuyarkan konsentrasi Arya yang tengah terpaku pada pekerjaannya. Mengenakan gaun sutra merah yang anggun, kliennya itu meletakkan secangkir kopi di tepi meja kerja. Selama tiga bulan terakhir, Kiara memang selalu hadir dalam setiap tahap krusial perakitan diorama ‘Kawasan Merpati’.

“Tanggung, Ra,” bisik Arya seraya menyesuaikan letak miniatur lampu jalan menggunakan ujung pinset secara perlahan. Ia tengah memastikan posisi mobil tersebut tepat berada di titik golden ratio, karena baginya meleset seujung kuku saja dapat meruntuhkan seluruh harmoni visual. Arya memang sangat obsesif terhadap detail realistis, terutama dalam menciptakan pantulan cahaya pada kaca mobil agar terlihat persis seperti di dunia nyata. Ketelitian itu bahkan membuatnya me-render panduan visual digital dalam resolusi ekstrem 12.040 x 19.480 piksel sebelum akhirnya mewujudkan diorama fisik.

Kiara menunduk, menyusuri tepi meja dengan ujung kukunya yang lentik seraya bergumam, “Sempurna. Kamu mengikuti semua permintaanku dengan baik.” Wanita itu memang dikenal sangat kaku perihal urusan estetika. Ia meminta tepat enam belas miniatur papan reklame, empat belas miniatur mobil, dan tiga belas miniatur tiang lampu. Bagi Arya yang memuja presisi, kombinasi angka tersebut terasa seperti duri yang mengoyak simetri estetikanya, tetapi ia segera menepis kegelisahan itu demi melihat binar kepuasan di mata Kiara.

Arya tertawa kecil. “Tentu saja semuanya harus sempurna, Ra. Biar bisa mewujudkan mahakaryaku yang benar-benar merepresentasikan dunia nyata.”

Kawasan Merpati merupakan permukiman kumuh nyata yang terancam penggusuran, tetapi kini versi mininya berdiri kokoh di atas meja kerja Arya. Mulai dari guratan karat pada atap seng hingga lumut di selokan, segalanya ditiru sempurna. Ia telah mencurahkan segenap pikiran dan keterampilannya demi melihat senyum Kiara, sang aktivis lingkungan sekaligus gadis yang telah ia sukai sejak kecil. Diam-diam, Arya mengukir inisial nama mereka pada sebuah miniatur reklame yang tersembunyi di sudut diorama. Bagi pria itu, torehan kecil tersebut merupakan caranya mengungkapkan perasaan tanpa harus merangkai kata-kata puitis yang terasa asing baginya. Tepat pada malam ini, ia berencana menunjukkan rahasia kecil itu kepada Kiara.

Kiara melangkah ke rak sudut, mengambil sebotol anggur merah. Dengan gerakan anggun, ia menuangkannya ke dua gelas mewah. “Untuk Kawasan Merpati yang luar biasa,” ucapnya sambil menyodorkan satu gelas. Denting kaca memecah keheningan studio. Arya menerimanya; dinginnya gelas meresap ke telapak tangan yang kebas akibat terlalu lama mencengkeram pinset.

Di hadapannya, pendar cahaya dari miniatur lampu diorama menyepuh wajah Kiara laksana dewi bulan. Ia menelan ludah, mengumpulkan keberanian. “Ra, selama mengerjakan proyek ini, aku merasa…”

Kalimat Arya terhenti ketika ia melihat senyum aneh di bibir Kiara, sebuah lengkungan asing yang belum pernah ia saksikan. Mata itu tak lagi hangat, tetapi dingin dan mengerikan. Perlahan, Kiara meletakkan gelasnya. Tanpa peringatan, ia mengangkat setinggi-tingginya botol anggur yang masih berisi itu, lalu menghantamkan dasarnya berkali-kali ke miniatur mobil di persimpangan diorama. Dentuman botol tebal membelah keheningan studio; serpihan diorama seketika berhamburan mengotori lantai. Arya terlonjak kaget, gelas di tangannya terlepas dan jatuh berderai, sementara jemarinya secara refleks mencengkeram erat pergelangan tangan Kiara.

“Kamu kenapa, Ra?!” bentak Arya, suaranya pecah oleh kepanikan yang menyesakkan dada. Kebingungan seketika merayap naik ke kuduknya saat ia mematung menatap kehancuran diorama di hadapannya.

Ia sempat menduga Kiara tengah dilanda serangan panik, atau mungkin ini adalah cara terburuk wanita itu untuk menolak pernyataan cintanya. Seluruh jerih payah dan dedikasi yang ia bangun dengan tangan kosong selama tiga bulan terakhir kini hancur lebur hanya dalam hitungan detik.

Kiara menepis tangan Arya dengan sentakan keras. Sebelum Arya sempat menuntut penjelasan, lantai studio bergetar hebat akibat gelombang kejut dari kejauhan. Ponsel di sakunya menjeritkan nada peringatan darurat; Arya merogohnya dengan tangan gemetar. Layar menampilkan deretan notifikasi berita darurat. Jantungnya seolah berhenti saat membaca tajuk utama, ‘Ledakan dan Gempa Dahsyat Guncang Kawasan Merpati.’ ‘…Ratusan rumah dan kendaraan hancur dalam sekejap. Jumlah korban jiwa tak lagi terhitung’. Napas Arya memburu. Pandangannya berpindah dari layar ponsel ke diorama yang hancur, lalu ke wajah Kiara yang tersenyum puas. Ia menyadari kemiripan mengerikan antara titik hantaman botol di persimpangan diorama dengan nama simpang jalan dalam berita. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Siapa kau sebenarnya?” bisik Arya gemetar.

Di hadapannya, Kiara melangkah mundur dengan tenang sembari menyeka sisa sidik jari dari leher botol yang retak. Ia kemudian membersihkan serpihan diorama yang menempel pada gaun sutranya dengan gerakan yang sangat teratur. Setelah itu, wanita itu merapikan rambutnya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. “Menjadi aktivis tanpa pemasukan tidaklah menyenangkan,” jawab Kiara datar. Ia lantas menjelaskan bahwa membebaskan lahan dari pertahanan warga yang keras kepala di sana membutuhkan metode yang jauh lebih ‘halus’ daripada sekadar negosiasi langsung yang melelahkan. Fakta tersebut menghantam kesadaran Arya seketika, mengoyak akal sehatnya dengan kekuatan yang jauh lebih meremukkan daripada hantaman dasar botol anggur yang baru saja melumatkan dioramanya.

Rupanya, Kiara bukanlah pelindung kaum marjinal. Di balik topeng kepeduliannya, ia adalah pimpinan sindikat pengembang raksasa yang melancarkan megaproyek kondominium untuk kaum elite. Mahakarya presisi yang Arya bangun telah dimanfaatkan sebagai medium gaib untuk melancarkan pembantaian massal.

“Energi murni dari orang sepertimu adalah katalis terbaik untuk menciptakan peledak tak kasatmata,” ujar Kiara sambil mengitari meja. “Angka dalam skala satu banding enam puluh empat, jika dijumlahkan, menghasilkan angka sebelas—sebuah angka Master pembuka portal kegelapan. Enam belas papan reklame adalah simbol Menara Runtuh. Empat belas miniatur mobil perlambang kehancuran. Tiga belas tiang lampu adalah pertanda kematian.”

Arya terdiam. Segala spesifikasi teknis yang selama ini ia agungkan sebagai tuntutan presisi ternyata hanyalah bagian dari sebuah ritual tingkat tinggi yang mematikan. Tanpa disadari Arya, Kiara telah menyusupkan tiga dari empat Angka Utang Karma ke dalam peledak mistis yang dibangun oleh jemarinya sendiri. Ini adalah wujud voodoo berskala kota yang telah direncanakan dengan sangat sempurna, mengubah karya seninya menjadi instrumen mengerikan.

“Pembuatannya membutuhkan kemurnianmu, sedangkan pemicunya memerlukan tanganku,” ucapnya dengan nada mengerikan.

Arya akhirnya menyadari mengapa Kiara tidak bisa merakit ‘bom gaib’ itu sendirian; wanita itu memerlukan jiwa yang bersih, murni, serta tulus seperti miliknya untuk menyempurnakan ritual mematikan tersebut. Seluruh romansa yang mereka jalani selama ini ternyata hanyalah sandiwara keji sang kapitalis demi mensterilkan Kawasan Merpati.

“Kau memanfaatkanku untuk membunuh ribuan nyawa?!” teriak Arya seraya jatuh berlutut di atas serpihan diorama. Kepingan tajam menembus kain celananya, mengiris kulit lututnya hingga darah mulai merembes keluar. Namun, perih fisik itu tak sebanding dengan runtuhnya kewarasan. Sepasang tangan yang biasa ia gunakan untuk mencari nafkah dan menciptakan keindahan seni, kini tanpa sadar telah menjelma menjadi pemicu kematian yang tak terelakkan.

“Jangan naif, Arya. Bukankah seni juga bisa menjadi media untuk menyelesaikan masalah?” sahut Kiara tanpa penyesalan. Di luar, raungan sirene ambulans dan pemadam kebakaran mulai membelah kesunyian malam. Langit di balik jendela bersimbah pendar merah dari kobaran api.

Kiara melangkah ke pintu keluar. Ia menoleh sekilas. “Koper uangmu sudah kutitipkan di resepsionis. Anggap saja royalti untukmu atas pertunjukan kembang api terbesar abad ini. Jangan lupa mencuci tanganmu; bau lem itu mulai tercium seperti bau daging terbakar.”

Pintu tertutup rapat dan Arya meringkuk sendirian di tengah puing-puing mahakaryanya. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, kotor oleh sisa lem dan cat kering. Titik persimpangan yang ia atur dengan golden ratio kini menjelma menjadi titik awal kehancuran; ketelitiannya telah dimanipulasi menjadi senjata pemusnah demi keserakahan oligarki. Arya mengais serakan material di lantai, jemarinya yang gemetar tanpa sengaja menyentuh sepotong miniatur papan reklame berkarat yang dulu ia ukir dengan penuh kasih, kini patah menjadi dua. Inisial yang ia torehkan di sana tampak seperti nisan kecil di atas kuburan massal yang tanpa disadari telah diciptakannya sendiri.(*)

Cerpen merupakan Juara III Sayembara Cerpen Pulpen XXXIII.

Tentang Cerpenis
Gema Surya Hendrawan

Seorang fana di panggung cerita. IG: @gemasurya7

Testimoni Gema Surya Hendrawan

Halo Sahabat Pulpen! Saya Gema, bersyukur dan bangga sekali bisa meraih Juara 3 pada Sayembara Cerpen Pulpen ke-33. Ajang kali ini sungguh menantang, apalagi dengan hadirnya Pakar Numerologi Acek Rudy sebagai sponsor. Terima kasih kepada tim panitia yang selalu luar biasa menjaga kualitas wadah menulis ini!

Proses kreatif “Tamsil Nisbah” sebenarnya sangat dekat dengan hobi saya yang gemar mengoleksi miniatur diecast dan diorama skala 1:64. Saya tertantang untuk menggabungkan harmoni dari dunia diorama dengan misteri numerologi, meramunya menjadi sebuah plot twist psikologis.

Pesan saya untuk teman-teman untuk jangan ragu menggali ide dari passion atau bidang yang paling kalian kuasai. Kadang, karya yang paling berkesan justru lahir dari detail-detail kecil di sekitar kita yang sering luput dari pandangan. Terus semangat berkarya, dan sampai jumpa pada sayembara cerpen Pulpen berikutnya!

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *