Di langit malam tanpa awan, gemerlap bintang tak terhitung memancarkan sinarnya. Angin dingin berhembus menembus ventilasi observatorium, merayap menuju kursi tempat Profesor Ranu duduk mematung. Matanya menatap lensa okuler teleskop tapi untuk pertama kali dalam enam puluh tahun usianya, ia menyadari apa yang sebenarnya ia cari.
***
Qais masuk tanpa mengetuk. Bocah sembilan tahun itu menarik bangku plastik merah ke samping Ranu. Rambutnya berantakan seperti baru bangun tidur meski jam menunjukkan pukul satu malam. Qais mengarahkan wajah ke langit-langit kaca observatorium sambil mengamati bintang-bintang lalu bertanya pada sang profesor.
“Buya, bintang yang paling terang itu, rumahnya di mana, ya?” Qais menunjuk bintang Sirius yang berkelip biru di ufuk timur. “Apa dia punya keluarga? Apa dia punya anak bintang yang lagi belajar nyala?”
Ranu meneguk kopi hangatnya. Selama empat puluh tahun mempelajari astrofisika, ia tak pernah memikirkan pertanyaan itu. Sang profesor hanya mengamati spektrum, jarak tahun cahaya, dan siklus hidup mati bintang.
“Bintang tidak punya rumah, Nak. Bintang cuma bola gas raksasa yang menyala karena reaksi nuklir,” jawabnya serak. Qais terdiam, matanya terus memandang Sirius dengan cara yang membuat Ranu gelisah.
Malam-malam berikutnya Qais rutin berkunjung, selalu membawa pertanyaan yang perlahan mengikis logika ilmiah Ranu. Saat menatap bulan purnama, Qais bertanya, “Buya, bulan itu kok setia banget sama bumi? Dia ngikutin terus, tidak pernah diam, tidak pernah liburan, dan cuma dapet sinar dari matahari.” Ranu tersenyum getir. Ia menatap bulan, lalu menunduk melihat cincin kawin perak kusam di jari manis kanannya. Cincin itu tak pernah lepas meski istrinya telah berpulang lima belas tahun lalu.
“Gravitasi, Qais. Bumi dan bulan saling tarik-menarik. Hukum fisika.”
“Tapi gravitasi itu dibuat dengan apa?”
“Alam.” Ranu menjawab cepat, enggan memberikan penjelasan ilmiah rumit kepada bocah itu.
Di sudut ruangan, terdapat kursi rotan kosong sejak Lastri tiada. Dulu istrinya sering duduk di situ, tapi Ranu terlalu sibuk menghitung jarak bintang jutaan tahun cahaya hingga lupa melihat ‘bintang hatinya’ yang hanya berjarak tiga meter.
“Buya, aku tadi baca buku kisah para nabi. Ada nabi yang lihat bintang, bilang ‘ini Tuhanku’. Tapi pas bintangnya tenggelam, dia bilang tidak suka yang tenggelam. Trus lihat bulan, bilang begitu lagi. Trus lihat matahari, begitu lagi. Kenapa?” Qais memecah keheningan.
Ranu tertegun. Ia ingat abahnya pernah bercerita tentang itu.
“Ayah Buya dulu suka cerita itu,” gumam Ranu.
Qais menganga. “Buya punya ayah?”
Ranu tertawa kecil. “Semua orang punya ayah, Qais.”
Ia membuka lemari tua yang tak pernah disentuh bertahun-tahun. Di dalamnya, di bawah buku diari Lastri, ia menemukan buku catatan bersampul cokelat milik ayahnya. Ia membuka halaman demi halaman dengan hati-hati. Di salah satu halaman, ia menemukan cerita yang dikatakan Qais. Kisah Nabi Ibrahim yang melihat bintang tenggelam, lalu berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam’. Di pinggir halaman, tulisan ayahnya dengan tinta biru memudar, ‘Anakku, yang kekal pasti takkan pernah tenggelam. Carilah itu.’ Ranu menutup buku dengan tangan gemetar.
Saat mentari pagi menyusup menembus celah tirai, Qais datang lebih awal. Ranu yang belum tidur semalaman masih duduk dengan buku ayahnya di pangkuan. Qais langsung duduk di lantai dekat jendela, membiarkan cahaya pagi membasuh wajahnya.
“Buya, matahari itu sumber energi, kan?” Qais menutup matanya karena silau cahaya dari timur. “Tapi dia nyala buat siapa, sih? Buat apa, sih? Apa dia senang nyala terus setiap hari, setiap tahun, setiap abad, nggak pernah padam-padam?”
Pertanyaan Qais seperti sambaran petir di siang bolong. Ranu terpaku. Selama ini ia hanya mengukur energi matahari dalam joule, menulis puluhan jurnal tentang radiasinya, tapi tak pernah bertanya untuk siapa atau untuk apa. Ia menatap Qais yang duduk dengan mata terpejam, wajahnya bersinar. Di hatinya, sesuatu yang selama ini mati mulai bergerak. “Untuk kita, Qais. Untuk semua yang hidup,” bisiknya. Qais membuka mata, tersenyum lebar. “Berarti matahari itu baik, ya? Dia nyala buat kita, padahal kita tidak pernah minta.”
Ranu tak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
Malam gerhana bulan total, Qais ikut ke observatorium. Matanya melekat pada bulan yang mulai dimakan bayangan. Tiba-tiba ia bertanya, “Buya, aku jadi putra Buya itu sejak aku lahir, ya?”
Ranu berhenti menuang kopi. “Kenapa tanya begitu?” “Teman-teman sekolah punya ayah tapi tidak setua Buya,” jawabnya sambil tersenyum.
Ranu meletakkan termos. Ia duduk di samping Qais, jantungnya berdebar. “Qais, Buya mau cerita sesuatu. Kamu sebenarnya itu cucu Buya. Bukan anakku.”
Qais diam, matanya membesar.
“Ibumu adalah putriku, dia meninggal waktu lahiran kamu. Ayahmu mengalami kecelakaan maut dalam perjalanan ke rumah sakit menjenguk ibumu.” Ranu menarik napas panjang. Bulan semakin gelap, nyaris hitam. Qais menatap bulan, air matanya jatuh setetes demi setetes. Ranu ingin memeluk, tapi tubuhnya kaku. Ia hanya tahu cara memegang teleskop.
“Aku punya orang tua, aku rupanya pernah punya ayah dan ibu kandung,” bisik sesegukan Qais.
Malam itu setelah Qais tidur, Ranu membaca kembali buku catatan abahnya. Ia membaca kisah Nabi Ibrahim hingga selesai dan untuk pertama kalinya ia memahami. Nabi Ibrahim mencari eksistensi Tuhan melalui bintang, bulan, matahari, dan apa yang ada di langit dan di bumi tapi Ibrahim tak puas karena semuanya selalu mengulang siklus terbit lalu tenggelam. Sang nabi mencari Tuhan yang tak pernah tenggelam, yang tak pernah pergi, dan yang tak pernah berubah.
Ranu menatap Qais yang tidur pulas. Pipinya masih basah oleh air mata yang mengering. Ia tersadar bahwa selama ini ia menyangka sedang mencari kebenaran di bintang-bintang. Tapi kebenaran itu ternyata pernah ada di dalam observatorium, di kursi rotan atau di tubuh mungil Qais yang bernapas pelan. Kebenaran itu adalah cinta yang tak pernah tenggelam meski ia sibuk memunggungi.
Ranu membuka halaman terakhir buku ayahnya. Ada surat bertanggal empat puluh tahun lalu.
‘Untuk Ranu, anakku yang sibuk dengan bintang. Aku tahu kau mengira sains segalanya. Tapi suatu hari, ketika bintang yang kau pelajari padam satu per satu, kau akan bertanya: apa yang tersisa? Jawabannya ada di hatimu yang paling dalam. Carilah Tuhan sebelum terlalu tua. Karena Dia tak pernah tenggelam, tak pernah pergi, tak pernah berubah. Dia menanti kita. Selalu.’
Air mata yang tak pernah jatuh sejak pemakaman Lastri kini mengalir deras. Ranu menengadahkan wajah ke langit-langit kaca. “Maafkan aku, Abah. Aku baru mengerti setelah kau pergi.”
Tiga bulan kemudian, sebuah buku tipis terbit dengan sampul biru gelap bergambar bulan sabit. Judulnya ‘Bintang yang Tenggelam’, karangan Prof. Ranu Wicaksono, Ph.D. Bukan jurnal ilmiah, tapi renungan tentang sains, spiritualitas, dan pertanyaan seorang bocah. Di halaman dedikasi tertulis, ‘Untuk Qais,
bintang hatiku yang tak pernah tenggelam. Dan untuk ayahku, yang mengajarkan bahwa yang kekal takkan pernah sirna.’
Qais membaca buku itu dengan alis berkerut, sesekali bertanya arti kata-kata sulit. Ranu menjawab dengan sabar, tanpa rumus ataupun logika ilmiah. Ia bercerita tentang bintang yang punya rumah, bulan yang setia, matahari yang baik hati. Tentang Nabi Ibrahim yang mencari eksistensi Tuhan dan tentang dirinya yang akhirnya menemukan makna untuk hidup.
Saat matahari tenggelam di ufuk barat, Qais bertanya, “Kakek, matahari kan tenggelam. Tapi besok muncul lagi. Itu artinya dia tidak benar-benar tenggelam, ya?” Ranu tersenyum, mengusap rambut Qais.
“Betul, Qais. Matahari hanya pindah tempat, menerangi bumi yang lain. Begitu juga orang yang kita cintai. Mereka tidak benar-benar hilang, hanya pindah ke tempat yang cahayanya tak bisa kita lihat dengan mata telanjang.”
“Tapi bisa lihat pakai teleskop?” tanya Qais dengan polosnya. Ranu tertawa. “Pakai hati, Qais.”
Di langit barat, ‘bintang’ pertama mulai muncul. Venus, bintang kejora. Ranu menarik napas dalam-dalam.
“Dulu Nabi Ibrahim melihat bintang itu dan berkata, ‘Ini Tuhanku.’
Tapi ketika bintang itu tenggelam, ia sadar Tuhannya bukan bintang, melainkan yang menciptakan bintang, bulan, matahari, kamu dan aku.” Qais menatap Venus lama. “Tuhan itu sayang kita nggak, Kakek?”
Ranu memeluk Qais erat. Untuk pertama kali, ia merasa tahu cara memeluk. “Dia lebih sayang dari bintang-bintang, Qais. Kasih sayang-Nya tak pernah sirna.”
Malam muncul perlahan. Suara adzan Maghrib bergema dari masjid di ujung jalan. Ranu membimbing Qais mengambil air wudhu. Untuk pertama kali dalam enam puluh tahun, ia shalat bukan karena kebiasaan, tapi karena rindu. Dan di sujud terpanjang dalam hidupnya, ia berbisik, “Terima kasih Tuhan, karena Engkau tak pernah pergi meski aku selalu berpaling.”(*)
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXXII.
Tentang Cerpenis
Gema Surya HendrawanSeorang fana di panggung cerita. IG: @gemasurya7
Testimoni Gema Surya Hendrawan
Jujur, terpilih jadi salah satu pemenang di Sayembara Cerpen Pulpen XXXII ini kejutan yang luar biasa buat saya. Terima kasih banyak buat dewan juri dan tim redaksi Pulpen atas apresiasinya. Saya salut banget sama penyelenggaraan sayembara ini; prosesnya rapi, profesional, dan benar-benar ngasih ruang buat penulis dari berbagai latar belakang untuk terus bertumbuh dan berkarya.
Proses kreatif ‘Melampaui Mintakulburuj’ sebenarnya lahir dari perenungan personal tentang batas akal budi manusia. Lewat interaksi Profesor Ranu dan Qais, saya mencoba membenturkan arogansi sains dengan kepolosan spiritual. Sering kali kita terlalu sibuk menatap ke angkasa, namun abai pada hal-hal esensial yang berjarak sejengkal dari dada kita seperti keluarga, cinta, atau Tuhan. Cerita ini adalah pengingat (terutama bagi saya pribadi) bahwa kebenaran sejati tidak selalu berada di ujung tata surya, melainkan di kedalaman hati.
Buat teman-teman yang sedang berproses, terus saja menulis dan tuangkan keresahan kalian ke dalam cerita. Sekali lagi, terima kasih banyak buat Pulpen yang terus konsisten jadi wadah literasi kita semua. Semoga sayembara ke depannya makin sukses dan melahirkan lebih banyak karya yang menggugah hati! Terima kasih banyak atas ruang dan kesempatannya.
