Dalam perjalanan hidup yang serba cepat dan penuh ketidakpastian ini, kita sering mencari definisi dari keberanian sejati. Apakah ia lahir dari latihan militer yang ketat, ataukah ia murni getaran nurani yang muncul dalam sekejap? Bagi saya, jawabannya terwujud jelas pada pagi yang sakral di Surabaya, 13 Mei 2018, di hari Minggu saat umat Kristiani sedang beribadat.
***
Pagi itu pukul 08.30 WIB, saya sedang mengelap jendela depan rumah. Sebuah rutinitas mingguan bebersih rumah, karena saya biasanya ke Gereja pada Minggu sore. Saya cukup kaget melihat salah satu keluarga yang kerap mengunjungi rumah setelah Misa Minggu Pagi di Paroki Redemptor Mundi, Paroki saya, bisa sampai ke rumah di jam sebelum Misa selesai. Wajahnya tampak pucat, menceritakan pesan Romo yang mengakhiri misa lebih cepat dari biasanya. “Ada tiga bom baru saja meledak di Surabaya. Semua targetnya adalah Gereja. Dan, salah satu Gereja yang terdampak adalah Paroki Santa Maria Tak Bercela.”
Detak jantung saya berhenti. Saya pun segera membuka handphone dan menyalakan televisi, terperangah dengan insiden yang memilukan hati, tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga seluruh warga Surabaya.
Di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), seperti di banyak gereja Katolik lain, Misa pertama sedang berlangsung. Sebuah adegan khidmat yang rutin terjadi setiap pekan. Namun, kekhusyukan itu terkoyak oleh sebuah ledakan di gerbang masuk yang mengubah kontras antara cahaya lilin dan api neraka dalam sekejap. Di tengah kekacauan itu, kita menemukan nama Aloysius Bayu Rendra Wardhana. Ia bukan perwira tinggi, bukan anggota Densus 88, atau pasukan elite. Bayu adalah seorang Katolik biasa, seorang relawan pengamanan gereja, yang pada dasarnya hanya seorang pemuda yang menjalankan tugas imannya.
Di gerbang gereja itu, Bayu yang merupakan Alumnus Fakultas Hukum Universitas Katolik Darma Cendika berdiri sebagai pos pertahanan terakhir kemanusiaan. Wajah almarhum Bayu sepintas ada di memori saya, sepertinya pernah berjumpa di satu atau dua kali event kepemudaan Keuskupan Surabaya. Dan ternyata benar, salah satu teman saya yang kenal dengan Bayu, siang hari itu mengonfirmasi bahwa beliau pernah satu acara dengan kami.
Peristiwa heroik yang kini menjadi legenda adalah keputusan sepersekian detik yang diambilnya, menghadang sepeda motor dua pelaku bom bunuh diri. Keputusan itu merenggut nyawanya, tetapi secara bersamaan, menyelamatkan puluhan, bahkan ratusan nyawa jemaat yang berada di dalam gereja. Bayu memilih menjadi perisai hidup. Tak hanya Bayu, tragedi pagi itu juga merenggut nyawa jemaat lain yang tak bersalah, yang juga tengah menjalankan ibadahnya. Kita mengenang dan mendoakan para martir kemanusiaan itu, termasuk Mayawati, Liem Gwat Nie, Ciska Eddy Handoko, serta kakak beradik Vincentius Evan Hudojo dan Nathanael Ethan Hudojo .
Dikutip dari kumparan.com, total ada 3 bom yang meledak di Surabaya pada 13 Mei 2018. Tiga lokasi itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan. Nama-nama di atas adalah saksi abadi dari kekejian yang berhadapan langsung dengan kebaikan tanpa syarat. Aksi Bayu adalah manifestasi nyata dari teologi pengorbanan, sebuah kepahlawanan sipil nan abadi.
Di era lampau atau bahkan modern ini, kita sering mendefinisikan pahlawan sebagai figur yang bersenjata atau memiliki kekuatan super. Namun, Bayu memberi kita definisi baru, yakni Pahlawan Sipil.
Bayu adalah dinding kaca, sesosok manusia biasa yang rapuh dan tanpa kevlar pelindung badan, tetapi ia memilih untuk berdiri tegak di jalur hantaman teror. Ia tahu risiko, ia tahu konsekuensinya, tetapi panggilan hati dan tugas mingguan yang selama ini ia jalankan sebagai pengurus keamanan Paroki dan relawan pengamanan lebih kuat daripada naluri untuk melarikan diri. Mindset yang mendorong Bayu bukan berasal dari doktrin militer, melainkan dari kedalaman spiritual: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Dalam setiap krisis akibat terorisme, selalu ada dua narasi yang beradu. Pertama adalah narasi terorisme yang ingin menghancurkan kebersamaan, dan narasi kedua adalah keberanian individu atau kelompok yang ingin membangun kembali fondasi kemanusiaan. Tindakan Bayu bukan hanya heroik, tetapi juga strategis. Dengan menghadang motor pembawa bom, ia memaksa ledakan terjadi di luar gerbang gereja. Ia menciptakan jarak, yang dalam ilmu fisika ledakan, berarti perbedaan antara luka ringan dan kematian massal.
Ini bukan sekadar refleks, ini adalah pilihan sadar. Pahlawan sipil seperti Bayu mengajarkan kita bahwa keberanian sejati sering kali adalah hasil dari disiplin moral yang sudah tertanam lama. Ia tidak perlu seragam, sebab keberanian adalah seragam spiritualnya. Tindakannya menanggapi teror dengan pengorbanan menunjukkan sebuah ironi yang mendalam: terorisme bertujuan memecah belah, tetapi justru tindakan pahlawan sipil ini yang menyatukan seluruh bangsa, tanpa memandang latar belakang.
Ketika ia memutuskan untuk maju, ia tidak sempat menanyakan siapa saja yang ada di dalam gereja. Ia tidak peduli apakah mereka kaya atau miskin, etnis apa, atau bahkan apakah ada umat beragama lain yang kebetulan berada di dekat sana. Yang Bayu lihat hanyalah manusia yang terancam bahaya, yang mungkin adalah keluarganya sendiri sebagi layar terdepannya.
Tindakan heroik ini memberikan inspirasi bagi kita semua, terlepas dari latar belakang agama. Terorisme selalu berusaha menciptakan kasta melalui kebencian. Ia memisahkan kita berdasarkan identitas, iman, atau ideologi. Bayu, dengan pengorbanannya, menghancurkan kasta tersebut. Ia menunjukkan bahwa di hadapan ancaman teror, yang paling penting adalah kemanusiaan di atas kasta. Dampak tindakannya terasa meluas. Bagi komunitas Katolik, ia adalah simbol iman yang teguh. Bagi komunitas Surabaya, ia adalah putra terbaik yang menjaga kotanya. Dan bagi Indonesia, ia adalah monumen hidup tentang betapa berharganya setiap nyawa, dan betapa kuatnya seorang individu biasa dalam melawan kekuatan kegelapan.
Kisah seperti ini wajib terus dikumandangkan, bukan sebagai tragedi semata, melainkan sebagai pelajaran tentang bagaimana kita harus bertindak dalam menghadapi ekstremisme. Kisah Aloysius Bayu Rendra Wardhana, saya angkat di artikel ini dan artikel-artikel di masa mendatang untuk mengumandangkan cerita kepahlawanannya.(*)
Artikel merupakan Juara III Lomba Menulis Artikel (Ceritakan Sosok dengan Semangat Pahlawan di Sekitarmu)
Tentang Penulis
Greg Satria
IG: @satriagreg
