Pulpen Kompasiana

Fragmen Ruang Darah (Cerpen Tia Sulaksono)

Ada amis menjalar melalui hidung. Amis ini amis darah. Aku masih bisa mengenalinya di antara bau lap basah dari kain penutup kepalaku. Dan benar saja, ketika lelaki yang membawaku akhirnya mengangkat kain penutup itu, pemandangan mengerikan seketika terpampang di depan mata, menyusup di sela cahaya redup.
***
Jejak-jejak kaki manusia berwarna merah menggelap, coklat kehitaman, bercampur-campur dengan debu tipis, memenuhi ruangan — menempel di lantai dan di dinding serupa keropeng. Menggantikan cat yang mungkin dulu berwarna abu-abu. Apa yang terjadi sebenarnya dalam ruangan ini? Manusia memanjat dinding?

“Masuk!” perintah salah seorang pria berseragam sembari mendorong dengan moncong senjata.

Di dalam ruangan sudah ada delapan orang yang diperlakukan sama sepertiku. Mereka duduk bertinggung dan menundukkan kepala. Moncong senjata menempel di kepala masing-masing. Seharusnya, tanpa senjata, aku pun akan patuh.

Kakiku melangkah semakin ke dalam. Bau anyir dan busuk menyerang lubang penciuman. Bau anyir dan busuk yang tak lebih baik dari pesing yang selama setahun ini mengakrabi hidung, menyempil di sela tulang rangu. Seperti seonggok daging yang dibiarkan di sudut gelap dapur hingga berminggu-minggu. Bau anyir ini kemungkinan berasal dari darah orang mati kemarin. Atau kemarin lusa. Mungkin setahun lalu. Mengumpul jadi satu tumpuk-menumpuk dengan ingatan kejadian. Memuakkan. Kupastikan nyamuk pun enggan masuk kemari.

Kuedarkan pandang menyapu seluruh ruangan. Tak ada jendela yang menghubungkan dengan dunia luar kecuali kaca satu arah, kira-kira seukuran setengah meter persegi, yang aku yakin untuk memantau segala aktivitas kami. Satu ventilasi kecil berada di atas kaca tadi. Ruangan ini sungguh pengap dan panas, meski lumayan luas untuk kami bersembilan.

Orang-orang berseragam itu kemudian pergi. Roti-roti ditinggalkannya dalam karung beserta air dalam galon teronggok di sebelahnya, dekat pintu. Aku memandang akses keluar masuk yang sekarang terkunci rapat itu dengan nanar.

“Kalian bisa bebas setelah mau bekerja sama.” Kalimat dingin itu menggaung dari pengeras suara yang terletak jauh tinggi di langit-langit, di sebelah angin-angin tadi.

Hari kedua, kami bersembilan masih menikmati roti dengan obrolan ringan. Tak ada lagi diskusi tentang revolusi. Atau bagaimana para jendral mati. Ya, hanya obrolan seringan kerupuk untuk membunuh jenuh. Tidur pun aku tak bisa. Mataku masih sulit terpejam. Sepertinya mereka yang berada di ruangan ini sama. Mungkin jiwa kami memang sudah tak ada di sini.

Aku ingat rumah, ingat bayi satu tahun yang baru saja dilahirkan istriku. Bayi yang nyaris saja menjadi tumbal atas nyawa bapaknya. Bisa jadi pikiran itu yang memerangkap rasa kantukku.

“Keting, coba kau pertimbangkan lagi. Apakah kau tega menukar kebebasanmu dengan nyawa bayi kecil dari perut istrimu?”

Seseorang mengunjungiku di sel kala itu dan menawarkan kebebasan dengan paksaan. Aku bisa keluar dari kurungan ini jika ikut menjadi relawan sebuah penelitian. Tak ada pilihan yang ditawarkan selain kalau aku tak mau, keluargaku yang akan menjadi korban. Ah, permainan lama elit negeri.

Namaku Keting. Tapi di sini nama itu tak berlaku sama sekali. Para pria berseragam itu melucuti identitasku. Tinggallah sederet nomor sederhana yang tertempel di dada. Kini panggilanku adalah 562.
***
Hari ketiga, satu karung roti tak lagi mampu memenuhi lambung kerontang kami. Pandangan mata beberapa di antara kami sudah terlihat kosong, termasuk aku. Suara yang entah dari mana datangnya, mulai berjejal-jejal masuk telinga. Aku merasa mendengar dosa-dosaku berteriak dari neraka. Baru kusadari, saat perut kosong, ada dua nyanyian merdu. lambung bernyanyi otak pun bernyanyi. Kurasa otakku sudah terganggu.

Seorang lelaki dengan nomor dada 537 memandangku lekat. Entah apa yang ia pikirkan. Satu orang di sudut lain tak berhenti bergerak. Nomor dada 380 mengusap kaca dan seperti membisikkan sesuatu pada kaca itu.

Kian hari, keadaan dalam ruangan ini makin kacau. Namun, tak ada tanda-tanda pintu itu terbuka. Aku mulai meragukan perkiraanku bahwa kaca kotak itu adalah sarana pengintai. Mereka, pria berseragam yang dulunya kuanggap teman dan rekan seperjuangan, tega meninggalkanku di sini. 

Apa itu penelitian? Apa itu kebebasan? Yang aku tahu sekarang adalah pengkhianatan, aku merasa ditumbalkan. Apa karma sedang mengunjungiku?

Sudut mataku menangkap bayangan hitam seolah sedang mengintai. Instingku menyuarakan alarm waspada. Aku merasa berdiri di tanah penuh ledakan. Biasanya mengintai adalah pekerjaanku, mengintai dari balik senapan. Kini aku yang diintai dan dijadikan sasaran. Kurasa ini salah. Kakiku mulai gemetar bukan saja karena lapar. Aku mencoba menghindar tapi bayangan itu terus saja mengikuti. Aku berlari mengelilingi ruangan, tak peduli menabrak teman senasib yang makin aneh tingkahnya.

Pada akhirnya aku terjatuh tersandung kaki 380. Ancaman bertambah, 380 menatapku lapar. Aku kembali berlari dan kini menabrak sesuatu yang lebih mengerikan lagi. 537 teronggok di satu sudut. Dalam keremangan, aku masih bisa melihat jelas darah membanjiri lantai bercampur kotoran kami. Di depannya, teman lain sedang duduk menikmati sesuatu. Seketika perutku terasa diaduk. Aku sangat akrab dengan darah, tapi bukan yang seperti ini.

Di seantero ruangan, teriakan bersahut-sahut. Suaranya serak seperti habis meneriakkan seluruh mimpinya. Telingaku berdenging. Aku tak ingin mendengar suara lagi.

“Berhenti!” Aku pun turut berteriak untuk menghentikan kegaduhan ini.

Kudatangi satu orang yang berteriak di depan kaca. Kucengkeram bahunya lalu kulayangkan tamparan. Entah mengenai wajah atau bagian tubuh mana — mataku sudah mengabur.

“Kamu diampun, takkan ada yang menganggapmu bisu,” raungku.

Tapi aku salah, mereka tetap berteriak seolah ada yang mengendalikan dari sudut gelap terdalam tubuh. Mereka berteriak hingga tak bisa mengeluarkan suara lagi. Satu orang terjatuh memegang leher. Dari mulutnya keluar darah segar. Darah yang dipaksa keluar dari nadi itu mengalir seperti bendungan.

Aku menjauh dari kekacauan ke arah berlawanan. Mereka tak mengejar, mungkin saraf mereka sudah mati. Dua orang sedang duduk bertekuk lutut membelakangiku. Kudatangi mereka. Kukira itulah tempat aman. Tak ada tempat bersembunyi di sini selain dengan orang yang masih tampak waras.

Kupeluk lutut di sebelah dua orang itu. Di belakang, suara terus menggaung. Di atas, asap tipis terus menyembur dari lubang angin-angin. Aku sedikit mengenali aroma dari asap ini. Bagaimanapun aku pernah menggunakannya untuk menunjang keahlianku, ketika pertama kali aku memegang winchester 70(1) dan ditugaskan membidik pasukan Fretilin. Ssst, ini rahasia.

Tiba-tiba, satu tangan jatuh di depanku. Aku menoleh ke area kekacauan tadi. Seseorang tampak tergeletak sambil mengeluarkan lenguhan serupa kerbau disembelih. Rupanya terlempar dari sana. Kualihkan pandangan kembali ke potongan tangan di depanku.

“Tuhan sudah berbaik hati pada kita. Kita akhirnya mendapatkan daging panggang. 562, 378, kita pesta,” sorak orang di sebelahku dengan sesenggukan. Air mata membasahi baju lusuhnya.

Kutatap mereka berdua dengan perasaan kacau. Kutundukkan pandanganku, aku mulai melihat daging panggang. Tidak. Aku harus tetap waras. Tapi di depanku ada daging panggang yang tampak lezat yang kemudian berubah menjadi tangan, berubah ke daging panggang lagi. Begitu seterusnya, tumpang tindih bayangan oleh kelaparan. Selama ini aku mengalah pada lidah. Saat ini persetan dengan rasa. Aku akan mengalah pada perut.

Di sela ketakutan, kulahap makanan di depanku. Serundeng daging ibuku dan empal goreng buatan istriku menari-nari di kepala. Tawa komandanku menggema di telinga. Dan wajah ketakutan sang jendral yang berhasil kubidik dadanya, memenuhi bola mataku.

Lalu bayangan hitam turun dari atap. Aku menyeret tubuhku mundur. Tapi dia terus terbang mengitariku sambil menyebutkan dosa-dosaku di masa lalu. Kepanikan melanda, mengalir di setiap pembuluh darahku.

Aku berlari tak tentu arah. Menabrak seseorang yang berjalan terseok dengan pandangan kosong, menginjak tubuh tergeletak di lantai, dan hampir terpeleset genangan darah. Kugedor satu-satunya pintu keluar. Kucakar kotak kaca yang awalnya kukira lubang pemantauan. Kukuku rusak, jariku luka. Amis darah terus saja menguar. Darahku, darah teman-teman di sini, ataukah darah orang-orang yang kutembak mati.

“Tuhan, negara, keluarga.” Kata-kata Chris Kyle(2) menggema di otakku sebelum ketidaksadaran merenggut.(*)
Ruang sunyi, 7 Oktober 2025

Catatan kaki:
(1) winchester 70: senjata yang memiliki keakuratan sasaran hingga 900 meter.
(2) Chris Kyle: penembak jitu legendaris, veteran perang Amerika.

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXVIII.

Tentang Cerpenis
Tia Sulaksono


Buku solo: Petualangan Warna-Warni (kumpulan cerpen anak), Belajar Menjadi Orang Mati (novelet), JERAT KELAM (antologi cerpen horor), dan 17 buku antologi puisi dan cerpen. Cerpen ‘Tledhek Desa Kedungmati’ juara 1 sayembara pulpen Kompasiana XVII. Cerpen ‘Oetari’ juara 1 lomba cerpen Arkaiscreative Publishing. Cerpen ‘6174’ dan ‘Boneka’ juara harapan 2 Geladerikata. ‘Multikultur Budaya Leluhur’ juara 2 lomba menulis bersama Golagong. Cerpen ‘Dunia Belum Kiamat’ juara harapan 2 lomba Epilog Geladerikata. Buku kumcer Jerat Kelam meraih juara 2 Arkaiscreative. Penulis terfavorit versi Ellunar Publisher tahun 2022 dan 2023. Perempuan biasa dari bahan organik tanpa pemanis buatan. Introvert yang hanya ingin dikenal melalui karyanya. Betina misterius dan keras kepala. Jangan panggil bu, karena bukan buibu. Antimainstream yang muak dengan hal template. IG: @tia_sulaksono

Testimoni Tia Sulaksono

Menulis cerita thriller seperti ini adalah impian lama bagi saya. Namun, sebelumnya terhalang perasaan takut akan ketidaknyamanan pembaca. Ketika kali ini mendapat kesempatan (terima kasih kesempatannya, Bang Syahrul Chelsky), saya gali ide lama tentang veteran Tatang Koswara, Chris Kyle, dan rekan seprofesi mereka lainnya. Yang ingin saya angkat adalah sudut pandang dari isi hati seorang penembak jitu.

Ide ini kemudian saya kemas dalam thriller psikologi dengan sentuhan ide gothic dari Abigail project yang pernah saya baca dulu. Untuk penamaan tokohnya, saya terinspirasi dari film Squid Game. Dengan menulis horor semacam ini, saya hanya berharap cerita horor bukan sekadar untuk menakuti tapi juga berisi.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *