Kopaja71

Perlombaan 17 Agustus di Kantor, Pemersatu Divisi yang Kerap Bergesekan (Cerita Ajeng Leodita Anggarani)

Apa artinya perayaan kemerdekaan tanpa ada lomba? Yup! Di Indonesia pada umumnya, lomba identik dengan perayaan-perayaan heroik dengan maksud untuk mengenang proses perjuangan para pahlawan kala itu.
…

Dengan diadakannya lomba, diharapkan bisa terus memupuk semangat kaum muda untuk menghargai perjuangan agar terus memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.

Dunia pendidikan, instansi pemerintahan, lingkungan kerja dan tempat tinggal, sampai pusat perbelanjaan, semua ikut berpartisipasi dalam mengadakan lomba. Hadiah yang disiapkan bervariasi bentuk dan nilainya.

Seiring berjalannya waktu, agar tidak bosan, pihak penyelenggara lomba pun terus memutar otak untuk memodifikasi lomba agar tidak monoton, namun banyak peminatnya.

Tanggal 17 Agustus 2024 lalu di kantor tempat saya bekerja, diselenggarakan sejumlah perlombaan jelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-79 tahun. Panitianya adalah tim dari General Affair (GA). Lomba tersebut dibuat untuk semua karyawan tanpa terkecuali.

Lomba yang diadakan tidak jauh berbeda dengan yang ada di tempat lain seperti: makan kerupuk, balap karung estafet, memasukkan sedotan dalam botol dengan hidung, menuang air estafet, dan masih banyak lagi. Tak hanya itu, diberikan pula doorprize untuk mereka yang beruntung.

Setelah 3 tahun menjadi member di sana, baru tahun ini saya mau ikut berpartisipasi. Apa sebab? Dua tahun sebelumnya, saya tidak punya partner kerja di kantor pusat karena memang lokasi kerja project kami berada di area Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Balinusra. Yang ada di kantor pusat hanya ada, 1 orang supervisor, 1 orang manajer dan 1 orang kepala project.

Mengingat kami hanya 3 personil, semangat untuk mengikuti lomba tidak berapi-api seperti tim dari project lain. Bayangan tentang kekalahan seketika muncul lebih dini. Namun, di tahun ini,, project kami kedatangan beberapa personil baru sehingga saya punya partner kerja di kantor pusat. Hal itu yang memacu saya untuk mau ikut bergabung dalam perayaan ini.

Sumber: dokpri.

Sekadar cerita, perusahaan tempat saya bekerja ini bergerak di bidang telekomunikasi yang menaungi hampir seribu karyawan yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Kami terbagi menjadi beberapa project. Dalam dunia kerja, gap dan gesekan yang terjadi dalam keseharian itu lumrah adanya, termasuk di kantor ini.

Saya yang masuk dalam tim commercial paling sering bergesekan dengan divisi Finance & Accounting. Bahkan sampai ada istilah, kami hanya kenal cukup di lingkungan pekerjaan saja. Ya, sampai se-ekstrem itu.

Beban pekerjaan juga jam kerja yang lebih dari 8 jam per hari membuat kami memang menjadi lebih sensitif. Kesalahan sedikit bisa menjadi besar hanya karena kami sudah terlalu ruwet dengan pekerjaan masing-masing. Maunya semua selesai cepat dan tepat.

Awalnya saya mengira acara lomba ini mirip dengan persaingan kami ketika bekerja, mengingat dalam tiap lomba, kami bukan hanya membawa nama perorangan, melainkan juga membawa nama project atau pun divisi masing-masing. Ditambah lagi ini adalah keikutsertaan saya yang perdana sehingga saya belum kenal bagaimana karakteristik lawan saya.

Lomba pertama yang saya ikuti adalah lomba makan kerupuk. Lomba makan kerupuk memang menjadi ikon tiap perayaan HUT Kemerdekaan RI. Lomba ini melambangkan perjuangan bangsa Indonesia yang kala itu dalam kondisi kesulitan ekonomi dan menjadikan kerupuk sebagai makanan pokok.

Sumber: dokpri.
Sumber: dokpri.

Sebenarnya ini adalah lomba yang paling saya hindari, mengingat saya kurang suka dengan kerupuk. Alasan lain karena saya gampang haus. Akan jadi berbeda jika ketika lomba makan kerupuk peserta diperbolehkan membawa bakso semangkok atau mi instant berkuah. Orang Indonesia macam apa yang suka kerupuk? Ya, saya adalah contoh terdekatnya, hahaha.

Lomba selanjutnya adalah balap karung estafet. Ini salah satu lomba beregu. Cara mainnya adalah pemain pertama memakai karung goni sambil membawa balon.

Dari titik start, kami berjalan jongkok dan sesekali melompat untuk sampai ke titik finish, kemudian balonnya diserahkan pada panitia yang menunggu di garis finish. Selanjutnya, pemain 1 berlari kembali ke garis start dan memberikan karung pada pemain kedua, dan begitu seterusnya. Sebagai orang yang jarang berolahraga, lomba ini memang agak membuat napas hampir putus dan otot-otot di paha terasa tersiksa.

Sumber: dokpri.

Dibandingkan dengan project lain, memang tim saya paling sedikit personilnya. Hal itu dikarenakan ada beberapa orang tidak bisa ikut hadir karena ada pekerjaan luar kantor yang tidak bisa ditunda. Jadilah saya hanya punya tim 4 orang.

Walaupun dalam lomba ini lawan kami memiliki personil rata-rata lebih dari 5 orang, kami berempat tetap semangat dan yakin menang. Modalnya apa? Nekad! Alhamdulillah kami bisa mendapatkan juara dua. Horeeeee!!!!

Menang, sumber: dokpri.

Lomba beregu selanjutnya adalah menuang air dalam gelas secara estafet. Dalam lomba ini, kecepatan dan ketepatan menjadi poin penting. Cara mainnya adalah 1 team duduk berbaris, masing-masing memegang gelas.

Di awal permainan, hanya gelas pemain 1 yang terisi air penuh, kemudian pemain 1 nanti harus menuang air dalam gelasnya ke gelas pemain kedua atau yang duduk di belakangnya melalui kepala, jadi baik pemain 1 dan pemain kedua saling tidak melihat gelasnya.

Masalahnya adalah lomba ini membutuhkan 15 orang peserta dalam 1 regu. Saya dan teman-teman satu project sudah hopeless karena kami hanya berempat yang sudah jelas tidak memenuhi persyaratan. Namun, ternyata beberapa project lain kekurangan personil untuk lomba ini, akhirnya kami berempat menyebar untuk jadi tim support kelompok lain. Tak perlu aba-aba, kami langsung berbaur dan gap di antara kami yang kerap ada kala bekerja seketika lebur begitu saja.

Di sini, tak ada rasa canggung di antara semua peserta walau berbeda project atau pun divisi. Kami benar-benar menikmati kerja sama ini. Tak ada lagi wajah-wajah tegang kala mata kami berpapasan, yang ada senyum tulus ala persahabatan. Pembagian hadiah diberikan di hari yang sama, setelah itu kami boleh berkaraoke ria sambil menunggu waktu pulang. Entah, rasanya energi kami belum habis, kami tetap ceria sampai acaranya selesai.

Pulang dari kantor, kami tak langsung menuju rumah. Beberapa di antara kami memutuskan untuk menikmati bakso dekat kantor sambil ngobrol tentang perayaan lomba tadi. Salah satu orang yang ikut makan bakso adalah supervisor GA yang notabene adalah salah satu panitia acara. Dia membocorkan rahasia bahwa lomba terakhir tadi itu adalah trik mereka untuk mempersatukan kami yang kerap bersitegang saat bekerja.

Memang sengaja dibuat syarat 1 tim harus 15 orang, karena mereka tahu, tidak ada tim dengan personil sebanyak itu. Makanya perwakilan dari project saya diminta menyebar untuk support kelompok lainnya.

Sumber: dokpri.

Nggak terpikirkan oleh saya ide itu, rasanya campur aduk bahwa tim GA sampai seperti itu memperhatikan kondisi hubungan antar karyawannya. Tapi, benar-benar ide itu bekerja, loh. Walau tanpa kata maaf yang resmi, di antara kami yang kerap bergesekan menjadi plong saja tanpa beban.

Tak hanya itu, ternyata untuk orang dengan tingkat beban pekerjaan yang tinggi, lomba ini bisa meredakan kepenatan. Kami bisa meluapkan emosi, kesal, capek, semua rasa yang nggak enak, tuangkan dalam lomba itu

Bahkan saat ini saya sudah tidak sabar ketemu hari Senin buat ketemu lagi sama mereka. Tentunya dengan mood yang baik dan semangat kerja yang sudah kembali full lagi.

Sumber: dokpri.

Lomba kemarin bisa diibaratkan seperti kemarau setahun dihapus hujan sehari, cieeehhhh. Bagaimana dengan pengalaman kalian mengikuti lomba 17-an, teman-teman?

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79. Merdeka!!!(*)

Ajeng Leodita Anggarani
Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Pengalaman Ikut Lomba Agustusan
Artikel telah tayang pula di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

This Post Has One Comment

  1. Alhamdulillah bisa menjadi salah satu orang beruntung yg berkesempatan dimuat tulisannya di sini. Bangga sekali. Terima kasih banyak. Makin jaya Cerpen Sastra Group.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *