Kopaja71

Lomba Tujuh Belasan Memberikan Ruang Para Siswa Berkreasi dan Berkolaborasi (Cerita Nina Sulistiati)

Peringatan hari Kemerdekaan RI ke-79 pada tanggal 17 Agustus 2024, cukup meriah. Euforia peringatan hari proklamasi pasti diadakan di berbagai tempat, pasti dengan beragam acara, mulai dari upacara pengibaran bendera, penurunan bendera, serta aneka lomba khas tujuh belasan.
…

Sama halnya dengan sekolah saya, SMP N 2 Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Sejak seminggu sebelumnya, saya~Wakasek Humas, pembina OSIS, dan Wakasek Kurikulum merancang acara bersama para pengurus OSIS.

Kegiatan sengaja dilaksanakan dengan sederhana, tapi meriah. Berdasarkan diskusi dengan mereka, akhirnya dipilihlah kegiatan lomba menyanyi lagu-lagu perjuangan, membuat desain poster dengan menggunakan aplikasi Canva, lomba bakiak, lomba tari ulat, lomba pecah balon, dan lomba estafet karet. Lomba tersebut diikuti oleh perwakilan kelas.

Saya bersama tim menyiapkan berbagai keperluan, termasuk meminta beberapa orang guru yang kompeten untuk menjadi juri lomba menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan membuat desain poster.

Setelah pelaksanaan upacara peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus di lapangan Sekarwangi, kami menyiapkan berbagai keperluan tersebut termasuk mendekor lapangan sekolah yang akan dipakai untuk lomba.

Lomba dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 19 Agustus 2024, diawali dengan upacara bendera. Inspektur upacara memaparkan tentang makna kemerdekaan kepada para siswa. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan lomba-lomba yang sudah disiapkan.

O, ya, untuk lomba menyanyikan lagu-lagu nasional, panitia memberikan empat pilihan lagu, yaitu: Kebyar-Kebyar, Bendera, Indonesia Pusaka, dan Tanah Airku.

Tujuan kegiatan ini tentu saja mengenalkan kepada para siswa, kepada lagu-lagu nasional yang kini sudah mulai tenggelam dan menumbuhkan semangat nasionalisme mereka.

Saya sendiri yang memandu acara lomba menyanyikan lagu-lagu nasional. Tampak antusias dari para peserta saat menyanyikan lagu itu. Ternyata saya melihat potensi anak-anak dalam menyanyi.

Input sumber gambar lomba estafet karet. Dokpri.

Kegiatan lomba lainnya adalah membuat desain poster dengan menggunakan Canva. Kegiatan ini dilakukan di kelas. Saya memberikan tema poster menumbuhkan persatuan dan kesatuan remaja Indonesia. Saya memberikan kesempatan selama 60 menit bagi siswa untuk membuat poster tersebut.

Tujuan mengadakan lomba ini adalah mengembangkan kreativitas peserta melalui media digital. Lomba ini memberikan kesempatan kepada siswa menunjukkan potensi mereka di bidang desain. Saya merasa senang karena para peserta menyelesaikan poster tersebut sebelum waktu yang ditentukan berakhir.

Lomba yang tak kalah menariknya adalah lomba khas tujuh belasan, yakni lomba balap bakiak, lomba tari ulat, lomba estafet karet, dan lomba injak balon. Setiap kelas mengirimkan wakilnya. Panitia sengaja memilihkan lomba yang bersifat kelompok agar memberikan kebiasaan dan pendidikan dalam membangun kekompakan dan kolaborasi.

Input sumber gambar dok. pri.

Makna Lomba Peringatan Tujuh Belasan di Sekolah
Menumbuhkan semangat juang kepada para peserta.

Dalam sebuah perlombaan, semua peserta akan berjuang untuk meraih kemenangan. Mereka akan mendapat kepuasan jika tim mereka menang. Semangat juang ini yang akan membentuk para siswa menjadi anak yang tangguh dan pantang menyerah.

Menumbuhkan sifat kerja sama dan kolaborasi.

Permainan yang dilakukan secara tim tentu saja membutuhkan kerja sama dan kekompakan. Siswa akan tumbuh sikap saling menghargai dan menghormati setiap keputusan yang diambil bersama.

Menumbuhkan semangat nasionalisme kepada seluruh peserta.

Lomba-lomba yang dilakukan di sekolah dapat menumbuhkan semangat nasionalisme para siswa khususnya lagu-lagu nasional yang dilombakan atau diperdengarkan kepada para siswa. Mereka diajak untuk memaknai setiap larik-larik lagu nasional.

Mengembangkan kreativitas siswa.

Lomba-lomba yang menuntut kemampuan siswa dalam mendesain atau berkreasi tentu saja memberikan dampak yang positif bagi mereka. Para siswa diasah kreativitasnya.

Memberikan kebahagiaan dan mental health kepada siswa.

Suasana lomba yang seru dan menyenangkan dapat membantu siswa untuk melepaskan kepenatan dan kejenuhan belajar. Mereka dapat mengekspresikan setiap perasaan dalam ajang lomba yang mereka ikuti.

Demikian pengalaman saya saat menjadi ketua panitia. Semoga bermanfaat.(*)

Artikel merupakan Juara III Lomba Menulis Pengalaman Ikut Lomba Agustusan.
Artikel telah tayang pula di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *