Kopaja71

Kisah Inspiratif di Balik Ketoprak Lezat Mas Medi (Opini Diah Woro Susanti)

Setiap pagi deretan gerobak kulineran berjajar rapi di sepanjang jalan Ciheuleut. Namun, terlihat kerumunan mencolok di seberang SMA 3 Bogor. Beberapa meter dari es durian Ali yang tengah viral. Di sanalah, di bawah rindangnya pohon, sebuah gerobak ketoprak sederhana milik Mas Medi menjadi saksi bisu dari begitu banyak cerita dan kenangan.
…
Bagi banyak orang, ketoprak hanyalah sekadar hidangan. Namun, bagi saya, selain rasanya yang lezat karena bumbunya yang medok, ketoprak Mas Medi adalah lambang dari kerja keras, ketekunan, dan kehangatan seorang penjual makanan yang tidak pernah kehilangan senyumnya.

Rahasia Menjalani Hidup
Sebagai warga Bogor beberapa tahun terakhir, saya adalah pelanggan Ketoprak Mas Medi karena lokasinya berjualan tidak jauh dari rumah. Mas Medi berasal dari Palimanan Cirebon yang telah berjualan ketoprak sejak tahun 2014. Ia melanjutkan profesi ayahnya sebagai penjual ketoprak. Namun, ada yang berbeda dari kisah Mas Medi—ia memilih jalan ini atas keinginannya sendiri, dan dengan ketulusan serta dedikasi.

Ketoprak yang ramah di kantong dan memanjakan lidah penggemar kuliner lokal, sumber: dokumentasi Woro.

Setiap hari, dia dengan setia menyiapkan bahan-bahan seperti toge, bihun, ketupat, dan tahu yang kemudian disiram dengan bumbu kacang yang khas. Bumbu kacangnya, yang diracik dengan sempurna, selalu meninggalkan rasa ingin kembali bagi siapa saja yang mencicipinya. Dengan harga hanya Rp10.000,00, ketoprak Mas Medi tidak hanya ramah di kantong, tetapi juga memanjakan lidah.

Mas Medi memulai usahanya dari nol. Dari hasil tabungannya, ia membeli sebuah gerobak dan mulai menawarkan ketoprak lezatnya kepada masyarakat sekitar. Tak disangka, ketoprak buatannya mendapatkan sambutan hangat, bahkan ada pelanggan yang rela datang dari Tangerang hanya untuk menikmati seporsi ketoprak buatannya.

Sambil mengulek bumbu, Mas Medi tetap sigap menyambut pelanggan yang datang. “Mau nunggu nggak, masih 8 porsi lagi,” begitu katanya.

Setiap hari Mas Medi mampu membuat 100 porsi ketoprak (dok. Woro).

Untuk menikmati kelezatannya, orang harus sabar menunggu karena antrean yang panjang. Kenapa tak pakai asisten, tanya saya. Jawabannya cukup membuat hati saya terpotek. “Rezeki sudah ada yang ngatur, Bu. Ga papa pergi satu nanti ada gantinya seribu.”

Mas Medi bukanlah tipe orang yang serakah dalam mencari rezeki. Setiap harinya, Mas Medi mampu menjual hingga 100 porsi dengan omzet mencapai 800 ribu rupiah. Namun, ia membatasi diri hanya melayani maksimal 100 porsi setiap hari.

Menurutnya, untuk mengulek bumbu kacang yang lezat, dia sanggup membuat hingga 150 porsi. Namun, berdiri dari jam 7 pagi hingga siang sudah cukup melelahkan. Ia memilih untuk menjaga kesehatannya dan mengutamakan kualitas daripada kuantitas.

Rahasia Kelezatan Ketoprak Mas Medi

Harus rela antre untuk menikmati kelezatan Ketoprak Mas Medi (dok. pribadi).

Resep ketoprak Mas Medi sebenarnya sederhana. Tidak ada rahasia khusus. “Untuk pake kacang jenis apa, ya biasa aja. Saya belinya malah di warung dekat rumah. Ya, hitung-hitung bagi-bagi rezeki ke orang dekat,” ucapnya.

Semua bahan diracik dengan telaten di rumahnya. Kacang tanah digiling di rumah dengan mesin penggilingan sendiri, dan ketupat pun bukan beli jadi di pasar, tapi dibuat dengan tangannya. Semua orang pasti gampang menemukan bahan untuk membuat ketoprak di pasar, mulai dari cabe, bawang putih, kacang tanah, tahu, bihun, toge, dan ketupat atau lontong.

“Semua orang bisa membuat ketoprak. Tapi yang tidak semua orang bisa adalah meracik komposisinya,” kata Mas Medi mengungkapkan rahasia kelezatan ketoprak buatannya.

Setuju sih. Makanya ada pepatah “The Man Behind The Gun“. Ya inilah the real definisinya.

Ketoprak Mas Medi hanya 10.000 (dok. pribadi).

Rahasia Bertahan di Masa Pandemi

Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya mendengar kisah perjuangan Mas Medi selama pandemi. Seperti banyak pedagang lainnya, pendapatan Mas Medi mengalami penurunan tajam. Namun, semangatnya untuk terus berjualan tak pernah surut. Meski omzetnya menurun, ia tetap berjualan setiap hari.

Mas Medi adalah orang yang hemat, dan tabungan yang telah ia kumpulkan digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Tabungan itu yang menyelamatkan saya dan keluarga selama masa sulit,” kata Mas Medi dengan senyuman.

Ketika masa-masa sulit itu, Mas Medi menemukan cara lain untuk tetap bertahan. Keahlian Mas Medi dalam membuat ketupatlah yang menjadi penyelamat.

Menjelang Idul Fitri, banyak orang yang memesan ketupat darinya, memberikan tambahan pemasukan yang sangat berarti. Ini adalah salah satu kiat bertahan yang diterapkan Mas Medi, mencari peluang dari kebutuhan musiman masyarakat.

Cerita Mas Medi adalah kisah tentang semangat, ketekunan, keikhlasan, dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Di tengah pandemi, ia mengajarkan kita bahwa dengan sikap hemat dan tetap berusaha, kita bisa melalui masa-masa sulit. Ketopraknya bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang semangat dan cinta yang ia tuangkan ke dalam setiap porsi.

Jadi, jika suatu pagi kamu berada di sekitar SMA 3 Bogor, jangan lupa untuk mampir ke gerobak ketoprak Mas Medi. Rasakan sendiri kelezatan ketopraknya dan dengarkan kisah inspiratifnya. Karena di balik setiap gigitan ketoprak itu, ada semangat dan cerita hidup yang luar biasa. (*)

Opini merupakan Juara II Lomba Cerita Kuliner UMKM Jakarta & Bogor.
Opini telah tayang juga di Kompasiana.

Related Posts

Memaknai Kemerdekaan sebagai Guru yang Sederhana (Artikel Hamdali Anton)

Saat saya memulai menulis artikel ini, waktu menunjukkan pukul 13.56 WITA. Di Samarinda. Hari Senin, 17 Agustus 2026.***Hari kemerdekaan Indonesia ke-81. Pertanyaan yang paling mendasar: Apa yang sudah…

Di Balik Merah Putih, Ada Perjuangan (Artikel Kiki Wahyuni)

Kemerdekaan bukan hanya ikut upacara 17 Agustus. Kemerdekaan juga berarti bersyukur karena masih ada kesempatan belajar, punya cita‑cita, mengasah diri, berkarya, dan melakukan hal-hal positif bagi Indonesia. Pemahaman…

Merdeka dengan Karya-Karya Kreatif yang Menginspirasi (Artikel Kaekaha)

Setiap memperingati hari kemerdekaan Indonesia, termasuk 17 Agustus tahun ini yang telah menginjak usia ke-81, sering kali kita terjebak sebatas dalam seremonial untuk membingkai narasi-narasi besar sejarah perjuangan…

Menua di Jalanan, Saya (Pernah) Memilih “Tereliminasi” (Artikel Kaekaha)

Setiap sudut Jakarta adalah ruang sidang terbuka bagi memori. Bagi jutaan manusia yang menggantungkan hidup atau sekadar melintasinya, kota ini bukan sekadar hamparan beton, melainkan sebuah organisme hidup…

Dari Bantar Gebang, Aku Belajar Mencintai Jakarta (Artikel Ditta Atmawijaya)

Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah…

Jakarta, Antara Kenangan yang Menetap dan Kota yang Terus Tumbuh (Artikel Sharfina)

Bagi jutaan perantau dan warga lokal, Jakarta bukan sekadar koordinat di peta, melainkan kumpulan memori yang tertinggal di sudut-sudut jalannya. Wajah Jakarta boleh terus bersolek dengan gedung modern…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *