Lupi, seekor bajing kecil menangis di kamarnya. Ia terkejut karena saat bangun tidur, mendapati bulunya rontok. Bulu-bulu tipis itu penuh berserakan di atas tempat tidur, di antara alas rumput kering dan remahan biji pinus. Keadaan itu membuat Lupi tak mau keluar kamar seharian.
***
Mama Lupi sangat khawatir. Ia berusaha mengetuk ranting penutup drey(1). Namun, Lupi tidak menjawabnya.
“Permisi, Bibi Belinda. Bolehkah kami mengajak Lupi jalan-jalan?”
Terdengar suara kecil dari bawah pohon. Rupanya Piko si anak beruang, Mody si anak kelinci, Tuti si rubah, dan Rora si rusa kutub sedang berkumpul di bawah pohon pinus tempat Lupi dan Mama Belinda. Mereka hendak mengajak Lupi untuk mengumpulkan makanan.
“Hai, anak-anak,” sapa Belinda saat ia menuruni pohon.
“Bibi, bolehkah kami mengajak Lupi jalan-jalan untuk mengumpulkan makanan?” ulang Piko.
“Tentu saja boleh. Tapi Lupi sedang di kamar dan belum keluar dari pagi.”
“Apa Lupi baik-baik saja, Bi?” tanya Rora sambil menegakkan telinganya tanda ia cemas.
“Entahlah, anak-anak. Bibi belum bisa bertemu dengan Lupi.” Belinda mengusap matanya yang mulai basah.
“Baik, Bi. Kami akan mencari makanan dulu. Nanti kubawakan sedikit biji cemara kesukaan Lupi.”
“Terima kasih, Tuti dan anak-anak baik. Bibi akan coba bujuk Lupi.“
Tanpa mereka sadari, Lupi mengintip dari sela ranting sarangnya. Ia sangat sedih tak bisa bergabung mencari makanan.
“Pasti seru sekali kalau ikut,” gerutunya sedih.
Sementara, dari kejauhan tampak teman-teman Lupi berlarian di pinggir sungai membantu Piko mengejar ikan sambil bercanda. Tawa mereka pecah ketika Rora hampir terpeleset batu. Suaranya terdengar hingga ke atas, ke puncak pohon pinus tempat Lupi tinggal. Hal itu semakin membuat Lupi berkecil hati.
Tawa kembali terdengar ketika Piko memunguti lumut untuk makanan Mody dan Rora. Piko yang penasaran karena seumur hidup belum pernah makan lumut, kali ini ia mencoba sedikit. Namun memuntahkannya kembali. Melihat raut wajah Piko yang mengernyit, ketiga temannya seketika tertawa kencang.
Keseruan masih berlanjut saat mengejar tikus untuk Tuti. Tikus itu berlari kencang di sela akar pohon cemara membuat Rora tersandung kemudian tersungkur. Mody yang berlari di belakang Rora tak sempat berhenti hingga menabrak tubuh Rora, disusul Piko yang ambruk di atas keduanya.
“Aduhh … Piko, tolong singkirkan tubuh besarmu. Dadaku sesak,” rintih Mody yang bertubuh paling kecil.
Piko berguling ke samping dan terjerembab di tumpukan daun cemara kering yang mulai berguguran. Akhirnya, Mody bisa bernapas lega dan sekuat tenaga berdiri dibantu oleh Tuti. Namun, tentu saja Tuti mengulurkan tangan sembari tertawa terpingkal. Tak lama kemudian, keempatnya tertawa bersama.
Hari mulai sore, tapi Tuti belum mendapatkan makanan untuk dibawa pulang. Untung saja ibu beruang lewat membawa sisa buruan. Tikus mati itu yang diserahkan ke Tuti. Tentu saja Tuti dengan senang hati menerima.
Mereka pun pulang sambil bernyanyi riang. Tugas dari orang tua, sudah selesai dilaksanakan. Kedua tangan mereka penuh tumpukan makanan. Piko si beruang mendekap puluhan ikan, Mody si kelinci menggenggam ranting dan lumut. Rora rusa juga membawa makanan yang sama dengan Mody. Tuti si Rubah kecil menggotong tikus mati, sisa mangsa ibu beruang.
Tak lupa, mereka mampir ke pohon pinus tempat Lupi tinggal. Namun, tetap saja tak menjumpai Lupi. Keempat anak itu menyerahkan sekantong biji-bijian ke Mama Belinda.
“Teman-teman, apakah Lupi marah dengan kita?” tanya Tuti.
“Entahlah. Atau mungkin dia mulai hibernasi.” Piko menggaruk-garukkan kukunya ke kepala tanda ia berpikir keras.
“Kurasa bajing tidak hibernasi seperti kamu, Piko,” sahut Rora.
“Sudahlah, ayo kita pulang. Orang tua kita pasti sudah cemas menanti.” Mody menyeret tangan Tuti untuk mengajak pulang.
***
Angin dingin di salah satu hutan konifer yang cukup luas, mulai bertiup membuat binatang-binatang sedikit menggigil. Ketenangan itu pecah oleh tangisan histeris Lupi. Burung-burung yang hendak bermigrasi dan kebetulan tengah melintas di atas pinus, seketika melompat kaget.
“Mama! Kenapa bulu Lupi tercabut semua?”
Mama datang dan tersenyum tenang.
“Lupi tenang saja. Lihat mama. Bulu mama juga tercabut. Bulu kita rontok untuk berganti yang lebih tebal. Agar hangat saat musim dingin tiba.”
Lupi mengangguk-angguk paham. Dia melirik kantung makanan di tangan mamanya.
“Itu apa, Ma?” tanya Lupi sambil mengusap air mata.
Mama menceritakan keempat kawannya yang sudah dua kali datang mencarinya. Tak lupa juga memberi tahu bahwa sekantong biji cemara dan pinus ini adalah oleh-oleh dari mereka. Lupi membelalakkan mata. Kemudian, secepat kilat meluncur ke bawah hendak mencari keempat sahabat karibnya.
Di bawah pepohonan ternyata sepi. Lupi tak melihat teman-temannya itu.
“Piko, Tuti, Rora, Mody, di mana kalian?” Lupi berteriak melompati akar, dahan, dedaunan, mencari mereka. Hingga beberapa lama, tak satu pun menyahut. Hingga seekor serigala datang dan tertawa mengejeknya.
“Anak bajing yang malang. Mungkin kawan-kawanmu tak mau berteman denganmu karena bulumu belang-belang.”
Lupi mengamati badannya sendiri dengan sedih. Warna bulunya memudar. Pangkal ekornya mulai memutih. Ia kembali pulang sambil menangis. Ia naik ke tumpukan rumput yang hangat, dan menutup sarangnya dengan rapat. Di bawah, serigala masih tertawa kencang.
Tiba-tiba Lupi mendengar sekawanan burung lewat. Kembali, Lupi mengamati bulu putih di ekornya yang entah sejak kapan sudah sampai ke perut. Melihat itu, tanpa sadar Lupi berteriak ke salah satu burung tersebut.
“Kawan, kalian hendak ke mana?”
“Hai, Lupi. Sebentar lagi musim salju. Kami hendak bermigrasi mencari tempat hangat dan penuh makanan.”
“Apa kalian akan kembali kemari setelahnya?”
“Tentu saja, Lupi. Kami pergi kurang lebih tiga bulan. Setelahnya tentu saja kembali kemari. Rumah kami di sini.”
Lupi tersenyum penuh arti.
“Tunggu!” Lupi bergegas membongkar tumpukan rumput untuk mengumpulkan biji-bijian, persediaan makannya.
“Burung-burung yang baik, ajak aku bermigrasi bersama kalian,” harap Lupi.
Burung-burung saling melihat, ragu.
“Ayolah. Bukankah kita tetangga.” Lupi memaksa.
Satu burung yang lebih besar mengiyakan. Ia mendekat ke arah Lupi dan membentangkan sayapnya lebar agar Lupi naik ke atas punggungnya. Burung itu terbang meninggi. Lupi berpegang erat pada bulu di punggungnya. Namun, angin kencang membuatnya terjatuh.
“Lupi!” Burung yang mengangkut Lupi berteriak kaget. Karena tak ada waktu lagi, ia pun tak sempat menolong.
“Semoga Lupi baik-baik saja,” gumamnya.
Lupi merintih kesakitan. Tak lama, datanglah seekor anak rusa dan kelinci yang berbulu putih.
“Teman, tolong aku. Kakiku tersangkut ranting.”
“Apakah kamu Lupi?” tanya anak kelinci itu.
“Kalian kenal aku?” Lupi bertanya balik.
“Kami Rora dan Mody. Bulu kami berubah putih sepertimu saat musim dingin tiba. Kata mama, agar bisa menyesuaikan diri dengan warna salju.”
Lupi terbelalak bahagia. Ternyata dia bukan binatang aneh atau berpenyakit. Ia akhirnya menyadari bahwa perubahan itu adalah normal.
“Ke mana Piko?” tanya Lupi menyadari satu temannya tak tampak.
“Piko sudah tidur panjang. Nanti kita akan ketemu dia lagi setelah tiga bulan.“(*)
(1) Drey: sarang bajing berbentuk bola dari ranting, lumut, dan daun yang dibangun di cabang pohon.
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXVI.
Tentang Cerpenis
Tia Sulaksono
Cerpenis Terbaik Pulpen Kompasiana 2025
IG: @tia_sulaksono
Testimoni Tia Sulaksono
Saya berterima kasih sebesar-besarnya atas apresiasi ini. Tak mengira ingatan saya tentang tupai-tupai yang sering main di teras belakang dan menemani saya menulis, membawa saya memenangkan juara 2 sayembara ini.
Bagaimanapun, saya tetap melakukan riset tentang hutan konifer. Dan melambungkan imajinasi saya seolah saya berada di hutan tersebut. Selain ini hanya sekadar fiksi, saya ingin menyelipkan pengetahuan-pengetahuan kecil di sela konflik yang saya buat. Sekali lagi, terima kasih kepada Pulpen dan Bu Jora sebagai juri. Tetap semangat berkarya untuk keluarga Pulpen.
