Pulpen Kompasiana

Ulasan Cerpen “Renjana” Karya Dwicipta (Ulasan Cerpen oleh Mbah Ukik)

Pernahkah pembaca menjadi demonstran melawan tirani penguasa? Lalu, di akhir perjuangan, justru dikhianati oleh teman-teman seperjuangan yang menjadi bagian dari penguasa?

Tragisnya juga, kemudian ditinggal kekasih hati yang juga teman seperjuangan melawan tirani. Bukan karena sang kekasih kecantol pria lain, tetapi akibat ayahanda kekasih hati menganggapnya sebagai pemuda tolol yang menjadi perusuh.

Ah, semoga tidak ada yang mengalami seperti itu. 

Kisah di atas tampaknya hanya sebuah khayalan belaka seperti pada cerpen “Renjana” karya Dwicipta yang termuat pada Cerpen Pilihan Kompas 2012.

Cerita pendek seperti karya sastra lainnya memang sebuah fiksi. Namun, bagaimanapun juga, penulisnya selalu dipengaruhi oleh keadaan masa dan budaya di mana ia hidup dan berada.

Cerpen “Renjana” ditulis pada tahun 2012, tapi menggambarkan kisah lima belas tahun sebelumnya. Tahun 1997, di mana terjadi demonstrasi mahasiswa seluruh Indonesia untuk menggulingkan tirani yang berkuasa dengan dukungan militer selama lebih dari tiga puluh tahun.

Tragis, tokoh yang tidak disebut namanya dalam cerpen ini harus hidup tanpa harapan masa depan. Teman-temannya mendapat kedudukan karena menjadi bagian dari penguasa. Dan kekasihnya dipaksa ayahnya meninggalkannya. 

Dikhianati teman seperjuangan memang menyesakkan. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu pilihan mereka.

Tahun 1965-1967, sebagai anak ingusan, saya hanya menonton demonstrasi menentang PKI dan Sukarno di sepanjang Jalan Pemuda, Surabaya. Tahun 1977-1978, 1982, 1992, dan 1997-1998, barulah menjadi demonstran sungguhan. Sudah kutulis dan posted di Kompasiana dengan judul “Pengalaman Menjadi Demonstran”.

Menjadi orang bebas dan konsisten mempertahankan prinsip memang pilihan penuh tantangan. Beda pilihan politik membuat putusan meninggalkan sebagai abdi masyarakat dan negara (pemerintah).

Bersuara lantang dan keras memaksa berpindah-pindah pekerjaan. Dan… ditinggal kekasih hati seperti yang kutulis di Kompasiana: Dream of Me, seperti sebuah lagu yang dilantunkan Mac & Katty Kissoon.

Tetap konsisten mempertahankan prinsip seperti para demonstran Angkatan 66 yang menentang penguasa tirani orde baru. Lalu, dianggap sebagai pengacau. Atau, menjadi bagian dari orde baru namun berjuang dari dalam, bukan ikut menjadi bagian hitamnya.

Hidup adalah pilihan. (*)

Konten ini telah tayang di Kompasiana.


Kreator Konten:
Mbah Ukik.
Orang desa pemerhati dan pengamat seni dan budaya, pertanian dan lingkungan hidup.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *