Pulpen Kompasiana

Surjan Merah (Cerpen Daniel Mashudi)

Entah sudah berapa lama aku terkurung di laci ini. Barangkali delapan bulan. Atau sembilan. Jika benar, maka masih ada tiga atau empat bulan lagi aku bisa keluar dari sini. Lalu menghirup udara segar.
…

Laci kayu ini cukup nyaman. Bersih dan wangi. Di dalam laci ini hanya ada aku, dan si kipas kayu berwarna putih itu. Sebenarnya, kipas itulah yang membuat laci ini menjadi wangi.
…

Hari masih pagi di Kampung Semampir. Matahari masih bersembunyi di balik pohon-pohon pisang. Bayang-bayang rumpun pisang itu masih panjang, menutupi hampir seluruh bagian rumah berdinding anyaman bambu. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah sumur berdinding buis beton, dilengkapi dengan kayu gawang dan kerekan untuk menimba air. Seorang bocah belasan tahun ada di samping buis, duduk di atas dingklik kayu. Darman, nama bocah itu, tengah mencuci singkong yang baru saja dicabutnya dari kebun.

“Mbok ya yang cekatan kalo kerja, Man,” suara Sinom hampir saja membuat Darman melompat kaget. “Kalo sudah bersih, singkongnya direbus sampe matang. Nanti siang bawakan ke bapakmu di sawah. Sekalian sama kopinya, jangan sampe lupa!”

Darman hanya mengangguk, tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk menjawab kalimat ibunya itu. Ia kemudian bangkit dari dingkliknya dan membawa beberapa potong singkong yang telah dicucinya ke dalam rumah.
…

“Pakne, sudah dapat orang buat jadi rewang di rumah kita?”
“Tunggu saja, Bune. Kemarin aku ketemu orang dari Semampir. Dia lagi cari kerjaan buat anaknya yang baru lulus. Ya, aku langsung tawarkan buat jadi rewang, biar bisa bantu Bune bersih-bersih rumah.“

“Lalu, kapan anaknya bisa datang ke sini?” 
“Kalo ndak besok, ya lusa. Tapi anaknya itu baru lulus SD. Ndak apa-apa, ya?“

“Ndak apa-apa. Yang penting anaknya rajin. Daripada aku capek bersih-bersih rumah sendirian.”
“Yo wis. Aku mau nengok pabrik dulu.“

Perbincangan Suroto dan istrinya pagi itu berakhir. Suami-istri ini adalah juragan kerupuk yang cukup kaya di Kampung Dosoman di Kota Pati.
…

Terakhir kalinya dikeluarkan oleh tuanku dari laci ini, aku diserahkannya kepada seorang laki-laki bertubuh tinggi. Rambutnya panjang sebahu. Gondrong. Laki-laki itu sangat senang menerimaku.

“Bagus banget ini. Dan wanginya cendana. Benarkah surjan ini buat saya?” 
“Iya. Itu buat kamu, Warno.”

Lelaki bernama Warno itu membawaku ke dalam kamarnya. Aku diciumnya, lalu ditaruhnya hati-hati di atas kasur.
…

Wiji baru saja selesai mencangkul. Ia menghela nafas panjang, lalu berjalan menuju gubuk. Tak lama kemudian, Darman datang ke gubuk.

“Ini singkong rebus dan kopinya, Pak’e. Monggo,” kata Darman.
Wiji pun mengambil sepotong singkong rebus, lalu menikmatinya.

“Bener kamu ndak mau jadi tani kayak bapakmu ini, Man?” 
“Nggih, Pak’e. Aku ingin cari kerja yang lainnya saja. Tapi belum tahu mau kerja apa.”

Wiji mengambil gelas. Lalu menyeruput kopi hitam di dalamnya.
“Kamu tahu Pak Suroto juragan kerupuk, kan? Kemarin aku ketemu, dia lagi cari rewang untuk di rumahnya. Kamu mau kerja di sana?”

“Nggih, mau, Pak’e.” 
“Tapi kamu harus tinggal di sana. Baru bisa pulang sekali sebulan saja.” 
…

Suroto masih duduk-duduk di teras rumahnya pagi itu. Biasanya, jam 7 ia sudah meninggalkan rumah untuk menengok pabrik kerupuknya. Tak lama, di depan pagar terlihat seorang bapak dan anak laki-laki.

“Kulo nuwun,” ucap Wiji.
“Monggo. Eh, kamu, Ji. Sini masuk!” jawab Suroto.

“Matur nuwun, Pak. O iya, ini Darman, anak saya, yang saya ceritakan kemarin,” kata Wiji.
“O iya, iya. Sebentar, aku panggil istriku dulu,” ucap Suroto.
“Buneee, keluar sebentar sini!“
…

Aku masih ingat kejadian malam itu. Aku masih terlipat rapi di atas kasur. Di sebelahku ada Warno. Ia terbaring dan terlihat memejamkan mata. Namun, aku yakin dia belum tidur. Benar saja, ia kemudian membuka mata. Lalu bangkit dan duduk di tempat tidur. Ia menengok ke arahku. Dirabanya aku dengan lembut. Lalu ia mengenakan aku di badannya. Kulihat Warno tersenyum senang. Ia kemudian berbaring. Dan tertidur.

Tak seperti biasanya, malam itu lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Angin dari luar menerobos masuk melalui jendela kamar, yang sepertinya lupa ditutup oleh Warno. Hawa begitu dingin. Aku peluk tubuh Warno dengan erat. Semakin lama, semakin erat.

Warno terkejut. Ia merasa kesesakan. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha melepaskanku dari tubuhnya. Entah kenapa, Warno tak berhasil melepaskanku. Bahkan, aku malah semakin erat di tubuhnya. Kulihat Warno semakin kesesakan. Matanya sampai merah terbelalak. Ia meronta dengan kuat. Hingga akhirnya, ia berhenti. Tubuhnya tak bergerak lagi. Tak kan pernah kulupakan peristiwa malam itu.
…

Sudah tiga minggu Darman menjadi rewang di rumah keluarga Suroto. Tiap hari ia bangun jam 5. Lalu dikerjakannya kewajibannya. Dimulai dari menimba air dan mengisi bak mandi, lalu menyapu lantai rumah dan halaman. Menjelang siang setelah Pak Suroto berangkat ke pabrik, Darman mengantar Bu Suroto berbelanja ke Pasar Gowangsan. Sepulang dari pasar, Bu Suroto sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Menjelang tengah hari, Pak Suroto pulang untuk makan siang. Lalu balik lagi ke pabrik kerupuk hingga sore hari.

Darman cukup betah tinggal di rumah keluarga Suroto. Tugas-tugasnya tak terlalu berat, sehingga Darman punya waktu luang untuk bersantai. Saat bersantai, Darman kadang diminta oleh Bu Suroto untuk menemani Yudha, anak semata wayang keluarga Suroto yang baru berusia 5 tahun.

Darman dan Yudha terlihat akrab, seperti kakak beradik saja. Saking akrabnya, Yudha kadang masuk dan bermain di kamar Darman. Bu Suroto tak terlalu keberatan dengan hal itu.
…

“Gimana keadaan pabrik, Pakne?”
“Agak sepi, Bune. Persaingan usaha kerupuk makin berat saja. Apalagi sebentar lagi ada pabrik baru di kecamatan sebelah. Tambah berat saingannya.“

“Terus mau gimana? Apa perlu kita keluarkan surjan merah dari lemari?“
“Wah, iya. Aku baru ingat. Kayaknya sudah cukup lama ndak diberi makan.” 
…

Sejak peristiwa aneh yang menimpa Warno malam itu, aku dibawa lagi ke lemari. Aku dimasukkan ke dalam laci yang wangi itu. Aku harus bersabar. Menunggu untuk dikeluarkan lagi dari tempat sempit ini.
…

Darman baru saja terlelap. Namun, suara petir membuatnya kaget dan terbangun. Darman bangkit dari tempat tidurnya. Ia keluar kamarnya dan memeriksa rumah keluarga Suroto. Mulai dari dapur, ruang makan, hingga ruang tamu. Dipastikannya tidak ada atap yang bocor. Setelah dirasa aman, Darman kembali masuk ke kamarnya.
…

Bapak dan Ibu Suroto ada di kamarnya. Mereka duduk bersila di atas tikar, sambil memejamkan mata. Mulut mereka bergerak-gerak, seperti mengucapkan sesuatu tapi tidak terdengar suara. Entah karena suara mereka terlalu pelan, atau karena suara hujan yang deras.

Pagi tadi Pak Suroto mengeluarkan surjan merah dari lemari, dan memberikannya kepada Darman. Kamu harus pakai malam ini, kata Pak Suroto memaksa. Malam ini pasangan suami istri itu melakukan apa yang harus mereka lakukan. Demi larisnya usaha kerupuk mereka. Meski harus ada yang menjadi korbannya.
…

Akhirnya hariku tiba. Aku diserahkan oleh tuanku kepada seorang anak laki-laki muda, baru belasan tahun saja. Aku baru melihatnya pertama kali.

Di luar hujan begitu deras. Anak itu baru masuk ke kamarnya. Dinyalakannya senthir, dan diletakkannya di sudut ruang. Lalu kulihat seorang anak lelaki lain masuk. Usianya jauh lebih muda.
…

“Yudha!”
Darman berteriak kaget ketika tiba-tiba anak majikannya masuk ke kamar.

“Kok belum tidur?”
“Ndak bisa tidur, Mas.”
“Kenapa?”

“Aku mau tidur sini. Bareng Mas.”
“Ya, sudah. Sini!”

Yudha meloncat ke kasur, lalu merebahkan tubuhnya. Darman mengambil surjan merah yang baru saja diberikan Pak Suroto.
“Pakai ini, biar ndak dingin!”
…

Pak Suroto dan Bu Suroto masih melaksanakan tugasnya. Mulut mereka bergerak semakin cepat mengucapkan sesuatu. Wajah mereka terlihat tegang. Bahkan, keringat mulai membasahi dahi. Padahal hujan sedang deras-derasnya.
…

Aku mulai memeluk tubuh anak yang lebih muda. Ia telah tertidur. Pun anak lain di sampingnya. Hawa dingin membuatku semakin mengencangkan pelukan. Anak muda itu mulai kesesakan. Ia berusaha melonggarkan pelukanku. Namun, tenaganya tidak cukup kuat. Kemudian matanya terbelalak. Ia meronta sekuatnya. Hingga akhirnya, ia berhenti dan tak bergerak.
…

Kota Pati digemparkan oleh musibah yang menimpa juragan kerupuk. Anak semata wayang mereka ditemukan tak bernyawa di kamar pembantu. Sang pembantu terlihat shock. Dalam kesaksiannya, ia mengaku tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Polisi memeriksa orang tua korban. Barang-barang bukti dikumpulkan. Di antaranya, pakaian yang dikenakan korban: sebuah surjan merah. (*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen IV.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.

Cerpenis

Daniel Mashudi.
Penikmat cerpen. IG: @daniel.mashudi

Testimoni Daniel Mashudi

Saya mendapatkan banyak informasi dan ilmu yang dibagikan oleh anggotanya yang notabene adalah para cerpenis hebat. Saya belajar banyak dari diskusi-diskusi di dalam grup ini, meski saya lebih sering menjadi silent reader mengingat sudah cukup lama saya vakum menulis cerpen.

Bulan Juli lalu, Komunitas Pulpen membuka Sayembara Cerpen Pulpen IV. Saya berniat mengikuti sayembara ini. Tak ada target, selain untuk membangkitkan kembali gairah menulis. Namun, saya sempat kesulitan untuk menemukan ide ceritanya. Menjelang penutupan sayembara, barulah saya mendapatkan ide.

Sayembara semacam ini merupakan langkah positif dan efektif untuk membangkitkan semangat para penulis untuk aktif berkarya. Saya bersyukur bisa terpilih menjadi pemenang. Semoga apresiasi yang saya dapatkan menjadi motivasi bagi saya untuk terus menulis. Terima kasih, Pulpen!

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *