Pulpen Kompasiana

Pelangi (Cerpen Varaziza)

Ada pelangi dalam mulutnya. Terjun bebas seperti air muntah. Muntahannya merambat, menyelusup dalam rongga dada, menjelma jingga. Dibelainya ruang navigasi bocah laki-laki berusia 12 tahun itu, mengecup pelan menara pengawasnya, dan mengendap selamanya dalam lambung kapal. Kapal mulai menari. Setiap detik terasa seperti tawar-menawar yang tidak selesai. Antara terus bergerak atau berhenti dan tenggelam. Tapi pelangi itu terus menetes. Menyerupai hujan asam yang tidak bisa ditampik. Menyelinap lewat pori-pori kulit besi. Menumbuhkan karat dalam sunyi. Tali-tali pengikat longgar. Jangkar tak menyentuh dasar. Kapal manusia itu kini seperti perahu plastik yang hanyut di selokan kota. Dan pelangi itu masih terus memuncrat. Manusia itu masih terus bicara. Dengan lidah lihainya. Dengan gigi-gigi yang tidak pernah menggigit. Dengan suara yang tampak seperti pelukan tapi menghisap habis suhu tubuh perlahan.
***
“Kau mendengarkan tidak?”

Zien tersentak dari lamunannya. Garis keriput di wajah ayahnya tampak menjijikkan, terutama saat dipaksakan tersenyum. Ia mengangguk pelan, berharap suara itu segera berakhir.

“Jadi kalau nanti Ibu bertanya siapa yang bermalam kemarin, kau sudah tahu harus bilang apa, kan?” 

“Tentu.” Zien tersenyum, lembut seperti yang diajarkan. “Teman Ayah, bukan?”

Ayahnya tertawa ringan, lalu menyalakan kembali rokok yang belum habis. Ia berdiri, menyeka abu dari jarinya ke celana, lalu menepuk kepala Zien seolah berhasil melatih seekor anjing.
“Anak pintar.”

Malamnya, rumah terasa menyempit. Waktu meliuk. Jam-jam piciknya menjulur bengis—menyesak raga bocah yang tengah mencakar sandaran kursi dengan kuku yang nyaris habis. Kulit sintetis itu terkoyak dengan suara berderit basah. Ia terus mencakar. Tidak berhenti. Ujung jarinya melepuh, merah, berlendir. Darah menetes, menempel di busa yang kotor. Suara decakan lidahnya makin kencang. Air liur menggenang di lidahnya, lengket dan berbuih. Ia menunggu. Ibu belum pulang. Dan cemasnya telah
menjelma cangkang.

Suara langkah dari balik pintu menyeretnya dalam spektrum warna. Memabukkan dalam bayang ungu memar. Ibu pulang dengan tubuh gemetar, napas berat, dan mata bengkak. Kulitnya pucat. Bibirnya kering. Rambutnya kusut. Tubuhnya dingin. Ia masuk seperti bangkai terbungkus bau basi. Zien berdiri menyambut sembari memaksakan senyum. 

“Selamat datang, Bu.”

Ibu hanya melirik. “Tidur sana.”
Datar. Lebih menakutkan. Biasanya Ibu akan mengubah rumah menjadi medan perang, namun malam ini berbeda. Dan itu membuat Zien semakin cemas. Ketakutan datang dalam bentuk ketidakpastian.

Zien menurut, masuk kamar. Tidak mengganti baju. Tidak menyikat gigi. Ia hanya memeluk lututnya di atas kasur. Pandangannya membulat, menggelembung seperti dilihat dari balik mata ikan. Dinding kamar melarut. Cahaya lampu melenting, memanjang seperti gula panas yang ditarik. Ruangan itu berdenyut, gaungnya menjalar di langit-langit. Ia mendengar denting waktu dari dalam dadanya, bukan dari jam dinding. Dan semuanya terasa waswas untuk sekadar bergeming.

Pagi datang seperti luka terbuka. Cahaya masuk lewat tirai yang penuh cabik. Zien membuka pintu kamar. Hidungnya langsung disergap bau tajam. Ia berjalan perlahan ke halaman belakang. Langkahnya berat. Udara seakan tercemar. Dan di sana, tubuh kucing kesayangannya tergeletak. Pika. Atau yang tersisa darinya. Tubuh kucing itu bukan lagi tubuh. Dagingnya tercerai. Kepalanya terlempar ke sisi ember. Ususnya keluar dan mengering. Darahnya menggenang, bercampur alkohol dan tanah. Bulu-bulunya menempel di dinding dan lantai.

Zien membeku. Matanya membelalak. Ia mencoba membuka mulut tapi tidak ada suara. Perutnya terasa seperti dicekik dari dalam. Kakinya lunglai. Dunia berputar. Jantungnya berdetak tak beraturan. Ada sesuatu yang mendesis dalam telinganya.

Ia mundur, langkahnya terseret, tertuju ke ruang tengah. Dan di sana, Ibunya telentang. Muntah mengering di sisi pipinya. Botol kosong bergeletak di lantai, pecahannya tersebar. Bibirnya membiru. Zien hanya berdiri. Tidak bertanya. Ia sudah tahu. Ibunya pun tahu dia tahu. Kedua tubuh beradu dingin. Unjuk jari mana yang paling apatis. Zien hanya menatap, dan dunia dengan kejam kembali mencekat.

“Zien,” suara itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan, “mengapa belakangan ini wangimu seperti parfum perempuan?”

Zien menatap ubin yang kusam, Semua tahu. Jawaban apa pun tidak ada mutu. Ibunya hanya butuh seseorang untuk disalahkan. “Mungkin … kemarin aku menggunakan sabun mandi milik Ibu.”

Ibunya tak langsung menimpali. Ia duduk lurus. Matanya bergerak memindai wajah anaknya, mengintainya bagai seekor lalat. “Yang dibawa Ayah kemarin ke rumah,” ucapnya setelah jeda panjang, “itu memang hanya temannya, kan?”

Zien mengangguk satu kali. Ia berusaha menampilkan wajah datar, “Temannya.”

Tangan ibunya bergerak cepat. Telapak itu menghantam pipi kirinya dengan bunyi yang keras. Wajah Zien terpental sedikit, matanya memanas. Ibunya berdiri. Nada suaranya meninggi. “Dasar monster. Kau persis seperti ayahmu.” Ia menggeram, nadanya berubah menjadi parau. “Kenapa kalian tak pernah puas mempermainkanku?”

Tangan ibunya masih tergantung di udara beberapa detik setelah tamparan itu. Napasnya memburu. Bahunya terangkat naik turun. Lalu tubuhnya jatuh. Lututnya menghantam lantai. Tangannya menutup wajah. Suara tangisnya serak, terputus, seperti tengah cegukan.

“Ibu sayang kamu,” bisiknya. “Kau tahu betapa aku sangat menyayangimu, kan?”

Ia menarik napas panjang, “Soal Pika … kucing itu … dia bukan teman yang baik untukmu,” katanya, “Dia … jelmaan iblis. Aku hanya menjauhkannya sedikit darimu. Agar kau tetap jadi anak baik. Agar tak ada yang mencuri dirimu dariku. Kau percaya ibu, ‘kan?”

Zien tak menjawab.

“Kau milikku. Hanya milikku.” Ibunya menatap lurus ke matanya. Tatapan yang terlalu dekat, terlalu dalam, seperti sedang mencoba masuk ke dalam tengkoraknya.

“Beristirahatlah, Bu.” Zien mengatur napas, lalu mengangkat suaranya pelan. “Aku akan menguburkan bangkainya sebelum dihinggapi banyak lalat.” Zien meraup sisa tubuh Pika ke dalam kain bekas seragam sekolah. Cairan merah yang sudah menghitam menodai lengan bajunya.

Taman itu sepi. Penuh semak berduri dan rumput yang tumbuh terlalu tinggi. Ia menggali tanah dengan batu. Jemarinya penuh tanah, kukunya semakin koyak. Ia mengubur Pika dalam diam, enggan menyisih sedikit waktu bahkan untuk sekadar perpisahan. Saat ia berdiri, debu tanah masih menempel di lututnya. Dan di ujung taman, seorang anak perempuan mematung. Kurus, diam, wajahnya tak kalah berwarna dari punyanya. Zien berjalan mendekat.

“Kau aneh,” serunya dengan suara ringan yang dibuat-buat. “Tapi tidak apa-apa. Aku juga.”

Anak perempuan itu menatapnya ragu.

“Mari kubawa kau ke tempat yang lebih nyaman,” lanjut Zien. Ia tidak menunggu persetujuan. Ia menarik tangan anak itu, dan untuk sesaat, dunia seolah menyusut menjadi hanya dua pasang kaki yang melangkah di antara bayangan semak dan pohon tua. Nafas mereka membaur, langkah mereka berirama. Mereka duduk di balik semak lebat. Sunyi. Cahaya matahari menembus celah-celah daun, merusak penglihatan. 

“Kau sangat menjijikkan,” ucap Zien.

Anak perempuan itu menunduk. Jemari kurusnya mencengkeram lebih erat gaun tidurnya yang lusuh.

“Di luar sana tidak akan ada yang ingin berteman denganmu. Tapi aku berbeda,” lanjut Zien, mempertahankan nada tenangnya, “Aku tidak seperti orang-orang kebanyakan. Mereka akan menghindarimu. Menertawakan bau tubuhmu. Dan mencaci rupamu.”

Ia menggeser, duduknya mendekat. Menyisakan sedikit udara untuk mereka berdua.

“Tapi aku tidak. Aku bahkan sudi untuk menghiburmu. Kau tahu kenapa?” Ia mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya. “Karena aku sudah cukup belajar dari orang-orang dewasa di sekelilingku. Kau harus bersyukur karena kita bertemu. Tidak banyak yang bisa membuatmu merasa diinginkan. Tapi aku bisa. Aku bisa jadi satu-satunya tempatmu pulang.”

Zien menyentuh lengan gadis itu. Sentuhannya lembut.

“Kau harus percaya padaku. Karena tidak semua orang peduli padamu seperti aku.”

Zien mengangguk, seolah sedang menyatakan sesuatu yang luhur. Zien tersenyum. Senyum yang ia pelajari dari wajah-wajah palsu orang dewasa.

“Aku tahu cara membuatmu bahagia,” ucap Zien.

Ada pelangi dalam mulutnya. Terjun bebas seperti air muntah. Muntahannya merambat, menyelusup dalam rongga dada, menjelma jingga. Dibelainya ruang navigasi bocah perempuan berusia 10 tahun itu, mengecup pelan menara pengawasnya, dan mengendap selamanya dalam lambung kapal. Kapal mulai menari. Setiap detik terasa seperti tawar-menawar yang tidak selesai. Antara terus bergerak atau berhenti dan tenggelam. Tapi pelangi itu terus menetes. Menyerupai hujan asam yang tidak bisa ditampik. Menyelinap lewat pori-pori kulit besi. Menumbuhkan karat dalam sunyi. Tali-tali pengikat longgar. Jangkar tak menyentuh dasar. Kapal manusia itu kini seperti perahu plastik yang hanyut di selokan kota. Dan pelangi itu masih terus memuncrat. Manusia itu masih terus bicara. Dengan lidah lihainya. Dengan gigi-gigi yang tidak pernah menggigit. Dengan suara yang tampak seperti pelukan tapi menghisap habis suhu tubuh perlahan. 

“Bagaimana? Bukankah nikmat rasanya ketika aku berada di dalammu?”(*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen XXVI.

Tentang Cerpenis
Varaziza
Hanya bersenang-senang. IG: @vaznotfound

Testimoni Varaziza

“Bahkan kucing liar pun, pada akhirnya, punya satu tempat yang ia sebut rumah.” Begitulah tujuan saya ketika menulis. Saya tidak menulis untuk memberikan pesan moral atau membentuk teladan. Tulisan ini hadir untuk mempertanyakan, menggugat, dan mengajak pembaca melihat apa yang sukar dibahas dan sering diabaikan. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana cerita ini dapat beresonansi dengan mereka yang mengerti bahkan mungkin mengalaminya—sehingga mereka merasa terhubung, bukan diajari.

Saya hidup dengan mengonsumsi seni dan akan sangat berbahagia bila dapat pula menghidupkan seni. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi sekaligus berterima kasih kepada Bapak Edward Horas yang telah memberi ruang bagi para pencinta cerpen melalui komunitas ini. Semoga kehidupan memberikan saya kesempatan untuk melakukan hal serupa.

Saya juga berterima kasih kepada panitia dan semua pihak yang terlibat dalam Sayembara Cerpen Pulpen XXVI. Ucapan terima kasih khusus saya sampaikan kepada Bapak Andi Samsu Rijal yang telah memilih saya sebagai pemenang di antara penulis hebat lainnya. Terakhir, terima kasih kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *