Pulpen Kompasiana

Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas yang Berbobot (Ulasan Cerpen oleh Mbah Ukik)

Sejak meninggalkan bacaan karya Agatha Christie sekitar tahun 78, saya langsung banting haluan membaca cerpen-cerpen Kompas Minggu. Kebetulan, seingat saya pertengahan tahun 78 Kompas Minggu baru terbit.

Gaya bahasa yang ringan dengan alur cerita mudah dipahami membuat semakin tertarik. Ditambah lagi kisah-kisah yang tersaji sesuai dengan kehidupan masyarakat negeri kita ini. Bukan kisah yang ada di atas kepala yang sulit dipahami karena budaya yang jauh berbeda.

Ada dua cerpen yang sangat terkesan hingga hari ini, yakni “D’n Gun Zentation” (mungkin tulisannya keliru) dan “Bibir Merah, Basah, dan Setengah Terbuka”. Judul “D’n Gun Zentation” terinspirasi oleh sebuah iklan mobil sedan kelas atas saat yang berusaha memikat kaum jetzet muda glamor pada masa itu.

Cerpen ini mengisahkan perjuangan sebuah kelompok kesenian tradisional Ketoprak yang berusaha tetap bertahan di Jakarta yang sedang kelimpungan menghadapi serbuan budaya barat. Dengan penonton yang sedikit dan itu-itu saja, sang pemilik kelompok Ketoprak ini berusaha mati-matian mempertahankan penggemarnya dengan layanan prima. 

Sungguh tak disangka, seorang eksekutif muda yang menjadi salah satu penggemarnya memesan salah satu penari wanita untuk diajak tidur bersama. Sang pemilik kelompok kesenian ini tak dapat menolak karena butuh duit. Tertarik akan layanan prima memenuhi nafsunya, si eksekutif muda ini malam selanjutnya datang lagi. Betapa hancurnya perasaan si eksekutif muda ini, ternyata kelompok kesenian telah meninggalkan Jakarta. Termasuk si pemilik dan penari wanita yang telah ditidurinya. Dan wanita tersebut adalah istri si pemilik kelompok kesenian tersebut.

Mempertahankan kesenian tradisional di tengah derasnya masuknya budaya barat bukanlah hal mudah. Seperti kisah dalam cerpen di atas, saya pun mengalami hal demikian saat masih menjadi penari yang berusaha mencari duit dari hotel ke hotel. Tentang kisah ini pernah saya tulis di Kompasiana dengan judul “Pengalaman Menjadi Pengamen”.

Cerpen kedua berjudul “Bibir Merah, Basah, dan Setengah Terbuka” adalah karya Seno Gumira Ajidarma. Sama seperti “D’n Gun Zentation”, cerpen ini mengisahkan kehidupan kaum urban yang hidup keras penuh perjuangan, tetapi juga kemunafikan di balik wajah lembut dan alim. Kisah-kisah kaum urban, kaum pinggiran yang tersisih, seniman dan budayawan dan setidaknya pernah saya lihat pada masa-masa kelam setelah peristiwa Gestok, membuat saya lebih tertarik mengabadikan kehidupan mereka lewat foto dan tulisan yang kuposting di Kompasiana.

Cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas Minggu kini menjadi koleksi, tapi berupa Cerpen Pilihan Kompas yang diterbitkan KOMPAS – Penerbit Buku Kompas. (*)

Sumber gambar: Mbah Ukik.

Catatan: artikel ini juga tayang di Kompasiana.

Kreator Konten:
Mbah Ukik
Orang desa pemerhati dan pengamat seni dan budaya, pertanian dan lingkungan hidup.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *