Aku hidup di sebuah desa kecil, tepatnya desa Niniari di Maluku. Meskipun desa kami masih terisolasi dan jauh dari kota, namun di desa terpencil ini kami mempunyai perpustakaan, aku senang sekali membaca buku-buku di sana, aku merasa hangat dan nyaman berada di tengah-tengah tumpukan halaman yang menghampar di hadapanku, perpustakaan adalah tempat di mana aku menemukan keajaiban tanpa batas, di sana aku berimajinasi melintasi dunia-dunia fantasi, aku menjelajahi dunia dan melintasi waktu, pikiranku terbang bebas melampaui batas-batas kenyataan. Suatu hari aku menemukan sebuah buku tua yang tersimpan di perpustakaan desa itu.
…
Sebuah buku berdebu yang tersembunyi di rak paling atas di antara buku-buku yang tersusun rapi di perpustakaan itu. Ketika kubuka, ternyata buku itu berisi catatan harian seorang pejuang kemerdekaan yang menyaksikan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu.
Aku membaca halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang sangat dalam, di buku itu tertulis tentang perjuangan heroik seorang laki-laki untuk meraih kemerdekaan, ia sangat gagah berani menghadapi para penjajah. Ia bergerilya di hutan, bersembunyi di gua, dan menggalang kekuatan dari berbagai daerah untuk satu kata yaitu merdeka.
Laberi Tuhilatu, buku itu miliknya, seorang pria yang memiliki semangat juang yang tak pernah padam, ia percaya bahwa musik adalah bahasa universal yang bisa menyentuh hati dan menyatukan orang-orang. Ia yakin bahwa melalui musik, pesan tentang perjuangan kemerdekaan bisa sampai ke setiap sudut tanah air.
Laberi adalah seorang pemain biola yang sangat berbakat sejak kecil, ayahnya yang mengajarinya bermain biola, semangat patriotiknya mulai berkobar ketika ia dan keluarganya menghadapi penderitaan akibat penjajahan. Desanya dikepung oleh pasukan penjajah. Mereka datang dengan kekuatan besar dan mencoba menguasai wilayah tersebut.
Ketika itu, Laberi dan keluarganya merasakan penderitaan yang sangat berat. Mereka dipaksa bekerja oleh penjajah, mengangkut barang-barang berat, dan hidup dalam ketakutan setiap hari. Rumah-rumah warga dan ternak-ternak dirampas oleh penjajah tanpa kenal ampun.
Laberi bertubuh kecil dan lemah, namun ia tidak menyerah, ia bertekad untuk ikut berjuang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Meskipun ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ikut bertempur di garis depan dengan tentara Indonesia yang tangguh, ia percaya bahwa setiap orang memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Dengan semangat patriotik yang menggelora, Laberi merasa bahwa musik adalah senjata terbaik yang bisa ia gunakan untuk menyuarakan semangat kemerdekaan. Ia berpikir, bahwa musik dan lagu bisa menyentuh hati orang, ia dapat menyampaikan pesan tentang perjuangan dan kebebasan melalui melodi yang ia ciptakan.
Perjuangannya tidak selalu berjalan mulus, Laberi terus berusaha untuk menyebarkan pesan tentang perjuangan kemerdekaan melalui lantunan gesekan biolanya. Ia sering kali bermain musik di pasar, tempat pertemuan masyarakat, dan bahkan di depan para penjajah, meskipun itu berarti risiko besar baginya, ia tidak pernah takut.
Ia selalu diawasi bahkan diusir oleh penjajah, hal itu tidak membuatnya patah arang, meskipun ia harus bersembunyi di hutan dan gua, Laberi tidak menyerah, ia yakin lantunan biola dan lirik-liriknya tentang perjuangan dan kemerdekaan bisa menggapai jiwa dan hati banyak orang.
“Reva,” ibu menepuk pundakku.
“Baca apa, Nak,” tanya ibuku.
Aku menutup buku itu, semangat juangku bergelora di dalam jiwa meskipun aku belum selesai membacanya, aku ingin berbagi kisah perjuangan ini dengan ibu, bagiku ibu juga seorang pahlawan, ibu selalu memberikanku semangat untuk terus berjuang tanpa mengenal lelah.
“Buku yang bagus,” aku berkomunikasi dengan ibu menggunakan bahasa BISINDO, bahasa untuk teman-teman Tuna Rungu dan Tuna Wicara, bahasa yang aku gunakan untuk berkomunikasi dengan ibu sejak aku kecil.
“Tentang apa?” balas ibu.
“Perjuangan seorang pemain biola,” aku menggerakkan tanganku, memberikan bahasa isyarat visual.
“Kamu juga seorang pejuang, Nak,” ibu membalasnya dengan gestur gerakan tangannya yang selalu aku rindu, ibu selalu mengatakan itu melalui gestur gerakan tangan dengan bahasa isyarat.
“Bu, aku mau bermain biola di hari kemerdekaan,” pintaku.
“Iya, Nak, nanti ibu bilang bu Julia,” balasnya, “kenapa?” ibu bertanya dengan mimik ekspresi yang lucu tiap kali ibu memberikan bahasa isyarat untuk kata itu.
Aku tidak membalasnya, aku hanya diam, saat itu aku menolak ketika Bu Julia memintaku bermain biola untuk mengiringi pengibaran bendera saat upacara hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia di sekolahku, sebenarnya bukannya aku tidak mau tapi aku malu, seharusnya aku sekolah di sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus, di desa tidak ada sekolah yang dapat mengakomodasi kebutuhanku, hanya ada sekolah inklusi, aku harus berbaur dan belajar bersama dengan anak-anak reguler.
“Kenapa?”
Ibu mengulang mimik wajah itu lagi, ibu sangat mengerti perasaanku, sepertinya ia membaca raut wajahku yang tiba-tiba menjadi suram.
“Buku bagus ini,” aku berusaha untuk berbicara semampuku.
Ibu tidak lagi bertanya, sepertinya ibu bisa membaca isi hatiku, saat ini semangat juangku sedang membara, ibu memberikan jempolnya dengan gestur bibir berkata, “Kamu hebat.”
Kami pulang, di sepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku terbang melayang, terbayang tentang kisah Laberi di buku itu, ia bertubuh kecil, ia lemah dan ia juga tuna wicara, ayahnya mengajarkannya bermain biola agar ia dapat mengekspresikan imajinasinya yang cerdas, ia tidak bisa bersekolah, tidak ada sekolah yang mau menerimanya saat itu, ia dikucilkan, ayahnya mengajarkannya menulis dengan sabar, hingga ia pandai merangkai kata-kata, Laberi memberikanku percikan semangat dalam mengisi kemerdekaan meski dalam keterbatasan.
Hari itu, 17 Agustus aku sudah siap dengan biola kesayanganku, aku sudah berlatih puluhan kali untuk mengiringi Merah Putih yang siap berkibar di langit Niniari, aku ingin seperti Laberi yang tidak menyerah dengan keterbatasannya, aku akan menorehkan jejak Merah Putih yang berkibar di antara gesekan senar-senar biolaku.
“Kamu hebat.“
Ibu mengatakan itu dari kejauhan, kulihat air mata menetes di pipinya, aku bahagia karena Merah Putih itu kini telah berkibar di langit Niniari. (*)
Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen V.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.
Cerpenis
Iqbal Muchtar
Testimoni Iqbal Muchtar
Menulis adalah perjalanan panjang menuju pertumbuhan dan perkembangan; kata ditempa dengan imajinasi dan kreativitas, mengajak pembaca menjelajahi dunia tak terbatas. Sayembara menulis cerpen anak bertema perjuangan yang diadakan Pulpen menjadi kebutuhan bagi generasi penerus bangsa. Bacaan yang meningkatkan semangat juang, cinta tanah air, dan rasa kebangsaan dapat ditanamkan secara menarik dan bermakna. Semoga Pulpen menjadi inspirasi bagi penulis cerpen, di mana kreativitas berkembang dan tumbuh.
Dengan semangat penuh, Pulpen membuka pintu bagi penulis untuk mengeksplorasi imajinasi, menciptakan kisah tak terlupakan, dan mengembangkan literasi anak. Sebagai penulis cerpen yang mengasah keterampilan, hasrat saya menggali pengetahuan menulis seperti api yang terus membara. Beruntung saya bergabung bersama Pulpen sehingga banyak belajar untuk terus berkarya. Semoga Pulpen meraih kesuksesan gemilang, menjalarkan semangat dengan cemerlang dan mengilhami banyak orang.
