Pulpen Kompasiana

Bau Neraka (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

TARMAN mencari parfum. Semenjak orang-orang dusun mengeluhkan adanya bau bangkai yang berseliweran dari dalam rumahnya. Mereka melakukan protes. Tarman bolak-balik menjelajahi sudut kampung untuk mencari parfum yang mampu menghilangkan bau anyir tersebut.
…

“Bener, Buk. Saya sampai mual-mual kalau lewat di jalanan itu,” ia menunjuk persimpangan yang tertancap pohon beringin. Sebelahnya adalah rumah Tarman.

“Percuma kalau tutup hidung, apalagi pakai masker. Mending, gak usah lewat sekalian!”
“Ya ampun saya juga. Bahkan, meski naik motor baunya ngikutin kita sampai rumah. Demi Tuhan, saya muntah-muntah seharian,” timpal yang lain. Agaknya bau itu sudah seperti racun gas yang bisa menewaskan satu dusun.

Hingga malam berikutnya, ibu-ibu itu mencuri toa masjid. Dan mereka naik ke lantai atas rumah Syamsuddin – yang sekarang telah berpindah ke gang sebelah, lantaran bau rumah Tarman mulai membungkus deretan rumah di samping-sampingnya. Lelaki dengan sarung hijau kotak-kotak itu keluar, wajahnya semasam lemon busuk yang baru diperas. Menatap demo besar-besaran yang tengah mengepung depan rumahnya.

“Atas nama rakyat dusun, kami menghimbau agar pemilik rumah ini. Tarman! Segera pergi dari dusun demi kenyamanan dan kesejahteraan warga!”

“Ya! Betul!” teriak yang lain menyahuti.
“Kalau tidak. Maka maaf, kami terpaksa mengusir Anda!”

“Ya! Usir saja dia! Usir!”
“Kami beri waktu semalam ini saja untuk segera mengemas barang-barang Anda, dan secepatnya melangkahkan kaki dari tanah ini!”
“Ya! Cepat-cepat! Pergi!”
Tarman menggaruk rambutnya yang macam sarang lalat. Ia melongo. Seberkas air liur masih tergurat di tepi bibirnya. Matanya sayu. Bibir itu terbuka, dan warga ada yang muntah di tempat.

“Jangan usir saya,” balasnya singkat.

Para warga bersitatap. Memang sepertinya orang ini sudah setengah waras. Ada yang mengangkat telunjuknya, memiringkannya di dahi memberi tanda.

“Saya janji, saya akan mencari parfum untuk penciuman Kalian yang buruk sebab perihal rumah saya. Maaf, saya sangat minta maaf.” Kedua telapak tangannya menyatu, punggungnya sedikit membungkuk.

Warga bersitatap. Bingung. Toa itu ditekan kembali sakelarnya, mengeluarkan suara sumbang memberi keputusan.
“Baik, kami beri waktu lima hari,” nadanya melunak. Setelah Pak RT berbisik-bisik pada ibu itu yang berlagak bak seorang pemimpin. Ia mengangguk pelan.

“Toh, lagipula saya rada kasihan. Pemulung itu sudah lama berbaur dengan sampah. Tapi, sama sekali tak ada yang mau membantunya,” ucap Pak RT di tengah perjalanan pulang. Berbincang-bincang dengan satpam dusun.

“Tapi saya juga masih bingung. Perasaan baunya dulu enggak pernah sebusuk ini.”

“Entahlah,” Pak RT mendongakkan kepala.
“Tarman satu-satunya orang yang tidak pernah bahagia di kampung kita. Saya selalu memikirkan, kadang saya telah gagal menjadi seorang pemimpin.”

Dalam benaknya terlintas bayangan ibu-ibu tadi yang berkoar-koar menghina Tarman. Satpam dusun ikut mendongak. Mereka berdua melihat malam yang seharusnya waktu tidur untuk mata yang penat. Tak terkecuali Tarman, ia menaiki sepeda bututnya. Mencari toko parfum di tengah gelapnya dosa manusia.
…

Bunyi kreot-kreot yang berdengung di kelopak matanya tergenang air. Derit gerbang ruko yang baru dibuka tepat saat ayam Babe Murti berkokok. Sepeda itu tertanggal di sebuah tiang, dan matanya tertuju pada seonggok tubuh yang tergeletak di lantai persis babi guling.

“Oi, ngapain lu disini?” Tarman terperanjat. Tubuhnya bangkit sempoyongan, wajahnya sumringah ketika melihat tulisan cina yang ia tunggu sedari malam akhirnya terbuka. Toko parfum Koh Nayawi yang ia sering dengar sebagai toko parfum terbaik dan bisa meracik ramuan parfum khusus. Tarman gugup.

“I-ini Koh …. mau beli parfum.”
“O, lu mau beli parfum?”
Koh Nayawi melepas tirai yang menutup etalasenya. Di sana berjejer botol-botol parfum yang mengkilat. Macam berlian berisi air bening. Tarman menelan ludah.

“Mau parfum jenis apa? Ada yang Eau Fraiche juga ada yang Extrait de Parfum. Kalo lu mau bau yang sedikit maskulin, nah,” ia mengangkat salah satu botol berwarna hitam elegan. “Pakai ini, Leather Fragrance aromanya sedikit smoky. Tapi, mirip pegunungan Alps. Lu tau itu gunung ada di mana?”

Tarman menggeleng.

“Hayya, jaman gini ada yang gak tau ma? Ya sudah, ini saya sarankan Calvin Klein One dijamin bikin wanita tergila-gila o.”

“Berapa harganya, Koh?”

“Cuman satu juta tujuh ratus saja a.”
Tarman merogoh sakunya, yang padahal ia hanya melakukan gimik. Tak ada sepeser uang pun yang ia bawa semenjak ditekan oleh warga.

“Ck-ck-ck,” Koh Nayawi sudah tidak kaget lagi.
“Ini ada parfum isi ulang, sisa cuci gudang kemarin. Ambil saja, nah.”
Tarman sedikit ragu untuk mengambilnya.
“Ini bisa buat ngilangin bau, Koh?”

“Bau apa pun boleh. Bau tahi, amis, jengat, semuanya pun boleh. Nah,” sodornya lagi.
Tarman terdiam. Matanya melirik ke kanan dan kiri tidak beraturan.

“Emang lu nyari parfum buat apa?”
“B-buat ini Koh …. anu, e-em …. rumah saya bau bangkai, Koh.”

“Alamak!” Koh Nayawi tepuk jidat. “Ini semua parfum yang oe jual buat badan sajalah. Kalo elu mau beli parfum buat rumah lu yang bau bangke, beli pewangi ruangan!”

“Tapi, Koh. Saya butuh parfum sekarang. Kalau tidak, saya bakal diusir,” rengek Tarman tersedu-sedu. Koh Nayawi yang tadinya membalikkan badan meninggalkan Tarman. Dirinya tercegat. Ia menoleh, dan bergumam – berpikir sesuatu. Lantas, menarik lengan Tarman untuk membisikkan sesuatu itu.

“Itu coba lu liat,” Koh Nayawi melempar pandangan ke rumah besar di sebelah tokohnya. Rumah milik orang terkaya di tempat ini: Babe Murti.

“Orang itu sedang buat proyek besar-besaran di belakang rumahnya. Kita satu dusun tak boleh liat, hanya Pak RT dan orang-orang penting saja yang tahu proyek itu. Nah. yang pasti itu proyek, bukan buat kepentingan Babe Murti sendiri lho.”

Tarman menaikkan alis, “Lalu?”
“Katanya, di sana ada bunga yang tumbuh. Bunga dengan seribu wewangian. Namanya, Kosok.”

“Kosok?” potong Tarman terheran-heran.
“Hish! Diam dulu! Emang namanya aneh, tapi itu bunga dapat menghilangkan segala jenis bau. Dan wanginya bertahan lama seumur hidup! Wanginya pula bisa menyebar ke segala penjuru dunia. Nah, kalau lu bisa dapet itu bunga di belakang rumah Babe Murti, oe buatkan parfum Base Note buat ngilangin bau di rumah lu. Dijamin ampuh!”

Tarman tidak merespon. Ia kurang tertarik.
“Gratis!”
…

Mengapa rumah orang kaya selalu memiliki gerbang? Sebab yang di dalam, tak ingin diambil oleh yang di luar. Tarman kesusahan memanjat gerbang rumah Babe Murti yang di atasnya terdapat runcingan besi yang bisa membuatnya mati seperti sate tusuk. Tarman merayap dengan sangat berhati-hati. Dirinya mengendap-endap ke halaman belakang, tapi entah kenapa penjaga yang biasanya ada di sudut gerbang kini keberadaannya nihil. Tarman menyelinap beberapa tiang dan fondasi bangunan yang setengah jadi, di bawahnya ia kelojotan karena kerikil-kerikil yang bertebaran setajam jarum. Serta batu yang bercampur pasir tidak rata. Di antara terpal yang mengatup depan gundukan adonan semen. Tarman menemukan sekuncup bunga tumbuh yang mengakar di sela-sela puing kayu.

Bunga itu berdetak. Seperti jantung yang apabila bernafas. Ia menyemburatkan cahaya yang berkedat-kedut macam kunang-kunang. Tarman mengambil sekantung plastik yang isinya muat untuk benih tumbuhan ajaib ini. Tangannya mulai memegang kelopak Bunga Kosok, namun sambaran parang memutuskannya dari pundak Tarman.

“Sial!” darahnya mengucur bagai keran mengalir air kamar mandi deras. Parang itu lalu disambarnya lagi ke kepala Tarman. Membelahnya menjadi dua. Lelaki itu terkapar di atas batu bata. Beberapa lelaki tinggi berjas hitam datang, membopongnya ke sebuah ruangan. Dari kejauhan, Koh Nayawi menggigit jari. Bergemetar.
…

Para warga kemudian mengibarkan bendera kuning. Mereka seketika menemukan sesuatu yang aneh di rumah Tarman setelah ia ditemukan meninggal. Sumber bau bangkai itu, yang tak lain dan tak bukan merupakan jasad istrinya yang mendingin di ruang tamu. Namun, saat para warga memindahkannya ke mobil ambulan. Bau bangkai itu tidak tercium sekalipun.

“Aneh,” ujar Haji Sarmidi. “Bau mayat ini malah wangi, kau bisa menciumnya bukan?”

“Betul, Pak. Wanginya seperti bunga Mawar.”
“Apa jangan-jangan sumber bau busuk rumah Tarman bukan dari jasad istrinya? Apakah Kau tahu kenapa ia bisa meninggal?”

“Seingat saya Buk Narimah sakit keras. Orang-orang tak ada yang membantunya. Tarman juga tak mempunyai uang. Jadilah ia meninggal, dan suaminya masih memikirkan biaya untuk pemakaman nanti.”

Haji Sarmidi mengelus dada, “Astagfirullah.”
“Jadi, menurut Bapak sumber bau itu dari mana?”

“Dari mana lagi? Sudah jelas itu bau dari neraka hati yang enggan membantu satu sama lain!” teriak Haji Sarmidi sengaja.

Orang-orang di halaman rumah Tarman yang sedang asyik bergibah menoleh, mereka mencium-cium badannya sendiri. Dan segera berhambur ke toko parfum Koh Nayawi. Wajah mereka merah padam. Malu. (*)

Cerpen merupakan Juara I Sayembara Cerpen Pulpen X.
Cerpen telah tayang di Kompasiana.

Cerpenis

Gagah Pranaja Sirat
Telah memenangkan beberapa lomba cerpen pada masa perdana SMA-nya. Hobinya menulis serta membaca buku. IG: @gahpraja

Testimoni Gagah Pranaja Sirat

Mengikuti sayembara Pulpen adalah list di antara beberapa catatan lomba lain yang saya ikuti. Lomba ini selalu saya prioritaskan di bagian atas list. Mengapa begitu? Sebagai penulis pemula, saya beranggapan bahwa kemampuan menulis akan bertingkat jika ada bukti bahwa cerpen dipinang atau memenangkan sayembara cerpen Pulpen. Saya telah mengikuti lomba ini lebih dari 3 kali, bahkan semua cerpen tidak masuk nominasi. Namun, saya tidak menyerah, saya yakin suatu hari cerpen saya bakal memenangkan lomba yang saya idamkan ini.

Seleksi yang begitu ketat dan sangat matang oleh Juri, membuat saya semakin tertantang, walau banyak jatuh bangunnya, saya tetap semangat! Alhamdulilah, cerpen saya menang kali ini, setelah menunggu penantian lamanya cerpen saya bisa tayang di IG. Akhirnya, saya bisa membuktikan bahwa kemampuan menulis saya berkembang dengan sangat baik. Terimakasih, Pulpen Kompasiana.

Related Posts

Besok, Kita Akan Menjadi Orang Lain (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Kembali terjadi. Kali ini, para warga tidak terlalu panik. Alim Musyakir—meski bernama ‘alim’ yang memiliki konotasi baik—ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan di pinggir rawa. Dua malam lalu, dengan…

Rahasia Cap Jempol Pak Bakri (Cerpen Kaekaha)

Pagi itu, matahari masih mengintip malu-malu di balik pohon rambai saat sebuah perahu klotok terlihat membelah kabut tipis yang masih menggantung di atas permukaan rawa-rawa Desa Sungai Buluh, Hulu…

Katup Udara di Ujung Telepon (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Aroma minyak kayu putih menguar tajam, memenuhi ruang kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sempit. ***Aku duduk di tepi kasur, memandangi dada anak bungsuku yang naik…

Tanah pun Mengerti (Cerpen Gema Surya Hendrawan)

Lima belas tahun Sena bertahan di bekas rumahnya bertepi gunungan sampah, di mana air hujan hanya mengalirkan genangan lindi beracun. Jari rentanya selalu mengusap kerak putih di atas…

Perempuan yang Membawa Pergi Tubuhnya (Cerpen Yuli Inersia)

Seolah-olah kiamat datang pada siang itu. Orang-orang berkumpul dan saling berhimpit. Jalanan dipagari berbagai macam betis. Tunggang-langgang ibu-ibu meninggalkan bayinya. Lalat-lalat dibiarkan kawin di atas potongan lontong. Orang-orang…

Bagaimana Kucing Melukis Menggunakan Kukunya? (Cerpen Syavira Dwi Putri Septiani)

Bau terpentin yang menguar di udara pun gagal menyamarkan aroma anyir darah. Ruang studio lantai dua itu berantakan. Pergumulan fatal terjadi di sana. Pada tengah ruangan, garis kapur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *