Cerpen Sastra

Tiga Kali Mati (Cerpen FAW Nugroho)

“Ki Warso tiga kali mati(1). Dua kali ia mati dan hidup kembali. Tapi pada kematiannya yang ketiga, ia tak pernah bangkit lagi. Ia memilih untuk tetap mati.”
***
“Apakah tidak ada cerita yang lain, Ma?” kata Mila sembari berdecak kesal.

Mila lantas memiringkan kepalanya, memandang ke luar jendela yang terbuka. Rembulan tampak bulat penuh, seperti kepala boneka Doraemon yang berada di pelukannya. Angin sepoi-sepoi menimpa wajahnya. Suasana yang begitu menenangkan dan sangat mendukung untuk segera tidur. Namun, bagaimana pun ia berusaha, matanya masih kerlap-kerlip, seperti bintang-bintang di atas sana.

Pikiran Mila berlarian tak tentu arah. Besok adalah hari pertamanya di kelas baru, kelas 4 SD. Dan ia tahu, pada hari pertama di kelas baru, murid-murid akan diminta untuk bercerita. Tentang apa pun itu. Mila berharap mendapatkan sebuah cerita baru dari Mamanya. Sehingga ia akan memiliki ide untuk cerita yang akan disampaikan kepada teman-temannya besok. Namun, ia sangat kesal karena harus mendengar cerita itu lagi. Ia memiringkan kepalanya kembali ke posisi semula, menatap serius wajah Mamanya. 

“Ma, satu minggu lalu aku mendengar percakapan Mama dan Papa di dapur. Papa sendiri bilang, Ki Warso itu sebenarnya bukan siapa-siapa. Tidak juga ia tiga kali mati. Ceritakan tentang itu saja Ma, tentang siapa Ki Warso sebenarnya.”

“Oh, i – itu …,” kata Mama sedikit tergugup.
“Biar nanti Papa saja yang bercerita, ya?”

Mila kembali kesal. Ia berpikir bahwa Papanya tidak mungkin mau bercerita. Selain itu, pekerjaan Papa sebagai juru kunci Makam Ki Warso membuatnya lebih betah bercerita kepada orang-orang yang berziarah di sana. Mustahil Papanya pulang lebih awal, termasuk untuk malam ini.

Sebagai anak juru kunci, Mila hafal di luar kepala mengenai cerita Ki Warso. Mama yang tahu cerita Ki Warso dari Papa, telah berulang kali menceritakannya pada Mila, hampir setiap malam sebagai pengantar tidur. Mila tidak tahu bagaimana mulanya, karena Mamanya tidak pernah menjelaskan mengenai hal ini. Yang jelas warga di desa tempat tinggalnya, Desa Anom, percaya bahwa Ki Warso tiga kali mati. Orang-orang percaya bahwa Ki Warso memiliki keramat untuk bisa memilih kapan ia akan mati. Orang-orang juga percaya bahwa keramat itu didapat Ki Warso karena selama hidupnya tekun berdoa dan beribadah dengan benar.

Konon, jauh di masa lalu, pada suatu hari selepas subuh, berita kematian mengenai Ki Warso tersiar melalui pengeras suara masjid. Warga berbondong-bondong menyiapkan prosesi pemakaman. Namun, ketika sedang prosesi pemandian jenazah, Ki Warso tiba-tiba membuka matanya, disertai mulutnya yang menguap. Warga yang membentangkan kain untuk menutupi prosesi pemandian jenazah seketika lari tunggang-langgang. Sementara warga yang memangku jenazah menjerit-jerit dan nyaris melemparkan tubuh Ki Warso.

Sejak kejadian itu, warga mulai membuat beberapa spekulasi. Beberapa setuju dengan spekulasi yang menganggap Ki Warso memiliki keramat untuk menentukan kapan kematiannya sebagai buah dari ketekunan ibadahnya. Sementara beberapa yang lain menyangkal dan lebih setuju bahwa saat itu mungkin Ki Warso mati suri. Beberapa spekulasi itu masih terus-menerus menjadi pembicaraan. Tak jarang pula memicu perdebatan. Hingga tiga bulan kemudian, kabar kematian Ki Warso terdengar lagi.

Kematian kedua konon lebih keramat lagi. Pada saat itu, warga yakin bahwa Ki Warso telah benar-benar mati. Namun, begitu jenazahnya diletakkan di liang lahat, Ki Warso bangkit kembali. Seolah baru bangun dari mimpi indah, Ki Warso cengar-cengir dan malah bertanya-tanya mengapa dirinya dibuntal kain kafan.

Sejak itulah, spekulasi bahwa Ki Warso memiliki keramat untuk menentukan kematian semakin kuat. Hingga pada kematian yang ketiga tidak lagi memunculkan perdebatan. Warga yakin bahwa Ki Warso memang sudah memilih untuk mati, memilih untuk meninggalkan dunia fana ini. Sehingga ia tidak bangkit kembali.

Entah bagaimana, cerita mengenai keramat yang dimiliki Ki Warso itu dapat menyebar hingga ke luar desa, bahkan ke luar pulau. Sehingga kini, Makam Ki Warso nyaris tidak pernah sepi dari para peziarah. Karena itu pula, mayoritas warga desa bekerja di sekitar Makam Ki Warso. Entah menjadi pengelola makam, penjual buku dan kitab, cendera mata seperti gelang dan tasbih, hingga aneka jajanan. 

“Mudah saja bagi Tuhan untuk memberikan keramat semacam itu kepada orang-orang dengan tingkatan ibadah seperti Ki Warso,” ucap salah seorang warga desa yang bekerja sebagai penjual buku kepada beberapa peziarah.

“Jika bapak ibu sekalian mau tahu lebih lengkap mengenai riwayat dan sepak terjangnya, ada di buku ini,” sambungnya sembari menunjukkan buku Riwayat Lengkap Ki Warso yang dijualnya.

Lengkap apanya, pikir Mila. Lantas ia kembali berusaha membujuk Mamanya untuk menceritakan siapa Ki Warso sebenarnya.

“Ceritakan dong Maaa,” rengek Mila kepada Mamanya. “Papa mana mungkin mau cerita.”

Mama menghela napas. Dipandanginya anak perempuannya itu. Waktu selalu menarik garisnya. Anak perempuannya yang dulu masih ia timang-timang, ternyata kini sudah semakin besar.

“Baiklah,” kata Mama kemudian. Meskipun, di dalam batinnya bertanya-tanya, apakah anak perempuannya akan memahami apa yang diceritakannya.

Maka terceritalah, bahwa Desa Anom dulunya hanyalah sebuah desa kecil dan miskin di lereng gunung. Masyarakat dan pemimpinnya bodoh sehingga tidak tahu bagaimana mengelola desa supaya lebih maju. Sampai suatu ketika, terjadi  pergantian Kepala Desa.

Kepala Desa yang baru memiliki beberapa gagasan kebijakan untuk memajukan desa. Hanya saja, terdapat satu kebijakan yang cukup nyeleneh bagi warga. Ia memiliki gagasan untuk mendirikan Badan Pelestari Sejarah yang fungsinya mencari tempat bersejarah dan keramat di desa tersebut untuk dijadikan objek wisata sejarah dan religi. Memang dasar gagasan tersebut tidak dipertimbangkan secara matang, pencarian tempat bersejarah dan keramat berakhir sia-sia. Tidak ada tempat bersejarah dan keramat apa pun di desa kecil itu.

Namun, Kepala Desa tidak kehabisan akal. Kepala Desa memerintahkan Badan Pelestari Sejarah untuk mengadakan program pencarian makam tua. Makam tua itulah yang nantinya akan diganti nama dan dikeramatkan melalui cerita-cerita yang dibuat. Pada akhirnya, dengan melibatkan beberapa warga, pencarian makam tua mulai dilakukan. Sementara warga yang lain diminta untuk membantu menyebarkan cerita keramat yang dibuat.

“Salah satu yang ikut mencari makam tua adalah Papamu,” kata Mama menghentikan ceritanya.

“Lalu? Apa yang terjadi?” Mila menimpali dengan penuh antusias.

“Hanya ditemukan satu makam tua. Itulah makam Ki Warso yang pada akhirnya membuat desa ini tidak pernah sepi dari para peziarah seperti sekarang. Dan karena itu pula, semakin banyak tersedia pekerjaan untuk warga. Seperti yang bisa kamu lihat, warga bisa berdagang di sekitar makam. Termasuk pula Papa,
yang menjadi juru kunci makam.”

“Mengapa harus Papa yang jadi juru kunci makam?” tanya Mila sedikit kesal karena itu membuat waktu untuk bersama Papanya serasa direbut. Mama membisu sejenak.

Ia kembali menghela napas dan kembali bertanya-tanya di dalam batinnya, apakah anak perempuannya itu akan memahami semua ceritanya.

“Karena Papa yang ditunjuk untuk mengganti nama makam dan membuat cerita-cerita keramat yang ada,” jawab Mama kemudian.

“Hah?” timpal Mila dengan terheran-heran. “Jadi, Ki Warso itu bukan nama asli untuk makam itu? Dan, semua cerita keramat mengenai Ki Warso itu bikinan Papa?”

“Benar, seperti itu,” jawab Mama sembari mengusap-usap kepala Mila.
“Tapi, mengapa pula harus Papa yang bikin ceritanya?”

“Hanya Papa yang sangat mengenal siapa Ki Warso sebenarnya.”

“Memangnya, siapa Ki Warso sebenarnya?”

“Nama aslinya Munandir. Ia adalah kakeknya Papa. Artinya, ia adalah kakek buyutmu.”

Mila terdiam sejenak. Kerutan di dahinya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi, Mama, karena cerita bikinan Papa itulah warga desa sekarang bisa bekerja dan menghasilkan uang lebih banyak?” tanya Mila.

“Hebat sekali Papa!” tambahnya kemudian sembari menepukkan kedua telapak tangannya, menimbulkan bunyi yang memecahkan keheningan malam. Mama tersenyum. Dalam batinnya, ia bangga karena anak perempuannya itu dapat memahami ceritanya, meski tidak sepenuhnya benar.

“Iya, Papamu adalah Papa yang hebat,” jawab Mama sembari mengacungkan kedua jempol tangannya.  “Sekarang, Mila tidur ya. Jangan lupa, mulai besok Mila sudah kelas 4, sudah tambah besar. Sehingga harus bangun lebih pagi.”

Mama kemudian beranjak untuk menutup jendela dan gorden. Ia lalu mengecup kening Mila dan mengucapkan selamat tidur. Ia hendak melangkah keluar kamar, tetapi langkahnya terhenti karena Mila memegangi ujung bajunya. “Mama, aku juga ingin bikin cerita untuk teman-temanku besok, bahwa Papa tiga kali mati.”(*)

(1) Terinspirasi dari pembukaan cerita pada novel Rafilus, karya Budi Darma (1988). Pembukaan tersebut sebagai berikut: Rafilus telah mati dua kali.

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 13 April 2025.

Tentang Cerpenis
FAW Nugroho
Tulisan-tulisannya telah dimuat di sejumlah media massa digital dan cetak. Lahir dan tinggal di Pati,
Jawa Tengah. IG: @femasn

Testimoni FAW Nugroho

Saya harus mengakui, saya merasa bahagia ketika cerpen “Tiga Kali Mati” dinyatakan lolos sebagai pemenang. Sebab beberapa kali saya mencoba mengirim cerpen, tetapi hanya bertengger di nominasi. Oleh karenanya, saya sangat berterima kasih kepada Cerpen Sastra.

Cerpen Sastra, bagi saya pribadi cukup unik. Apabila membaca cerpen-cerpen yang lolos, terlihat bahwa Cerpen Sastra memberi ruang yang luas untuk beragam tema, aliran, maupun gaya penulisan cerpen. Oleh karena itulah, saya berharap Cerpen Sastra semakin maju sehingga semakin luas pula ruang yang terbuka bagi para penulis. Dan untuk rekan-rekan, teruslah menulis layaknya kita bernapas.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *