“Aku punya sebuah rumah. Rumah ini memang sederhana. Beberapa ingin bertamu, tapi selalu tak kuizinkan. Sebab di rumahku yang sederhana, tidak menyediakan apa-apa.”
…
Berulang kali Mira menolak tegas jika ada orang yang datang ke rumahnya. Dia tak pernah mengizinkan siapa pun untuk sekadar memasuki rumah. Padahal …. Padahal rumah miliknya begitu nyaman untuk didatangi oleh para tamu.
Seperti tampak di teras depan, beberapa tanaman hias berjejer di pinggir. Ada pula bunga mawar merah yang tumbuh indah. Seringkali Mira merawat dengan penuh perhatian. Setiap menjelang senja, tanaman dan bunga yang dirawat selalu menyebarkan aroma yang menyejukkan perasaan. Karena hal itulah, orang-orang suka melewati rumah Mira. Mereka tak jarang mengamati bagaimana Mira merawat tanamannya. Bahkan ada yang sempat bertanya tentang Mira yang hanya keluar rumah sesekali.
“Hai, Mira. Boleh saya mampir sejenak untuk bertanya sesuatu padamu?” Pemuda berkulit cokelat dengan mengenakan topi hitam berdiri di depan pagar rumah Mira.
Mira yang enggan berbasa-basi justru mengabaikan, tak berusaha menggubris. Ia masih memotong tangkai bunga mawar untuk merapikannya.
“Mira! Kau mendengarkannya, bukan?” Pemuda itu mengulang percakapan, diliriknya Mira yang masih merapikan tangkai bunga mawar. “Baiklah, kau sepertinya kurang jelas mendengar suaraku.” Ia pun membuka pintu pagar kayu dan memasuki halaman rumah Mira. Mengamati sekeliling halaman yang ditumbuhi tanaman hias.
Menyadari seseorang masuk, Mira justru tersentak.
“Siapa yang menyuruhmu untuk masuk?“
Pemuda itu tertawa, ia lalu menghela napas. “Habisnya kau tidak mendengarku, Mira!” Ia semakin berjalan mendekat hingga jarak dengan Mira hanya berkisar 1 meter. “Saya ingin bertanya, mengapa kau hanya keluar rumah sesekali? Dan kau tak pernah mengizinkan seseorang untuk sejenak menikmati keindahan rumahmu ini.“
“Ini bukan urusanmu!” Mira menjawab ketus. “Pergilah! Pemilik rumah ini tidak mengizinkanmu untuk masuk!”
Segera Mira mengusir pemuda yang memiliki tekad untuk berteman baik dengan Mira. Penolakan dari Mira tentunya membuat pemuda ini tertawa, tanpa bertanya lagi ia justru meninggalkan halaman rumah Mira. Dengan segera Mira masuk dan menutup rapat pintu rumah.
Hal tersebut rupanya berlanjut seterusnya. Dan Mira masih sama. Tak menggubris. Pemuda itu selalu pulang dengan tangan kosong. Keesokannya, pemuda itu mengajak temannya. Namun, perlakuan sama tetap diterimanya. Orang-orang sekitar rumah Mira memperingatkan pemuda tersebut untuk tidak mendekati Mira. Sebab kata mereka, sesuatu buruk akan terjadi.
Mendengar rumor orang-orang tentang rumah Mira di seberang, pemuda itu menjadi enggan untuk mendekat. Ia melupakan rasa penasaran akan Mira yang sempat mencuri perhatiannya. Tidak hanya pemuda itu, beberapa pemuda sempat melakukan hal serupa. Namun, Mira selalu enggan menerima siapa pun untuk menghampirinya. Memasang wajah ketus selalu ia tampakkan.
“Akhirnya … akhirnya tidak ada seseorang pun yang berhasil memasuki rumah ini.” Mira tersenyum di balik jendela kamar. Kemudian, Mira merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat nyaman.
Di luar hujan sedang turun deras, baru hendak memejamkan kedua mata, seseorang tiba-tiba ambruk di teras depan rumah Mira. Suara yang terdengar membuat Mira dengan segera bangkit dan mengecek melalui jendela.
“Siapa itu?” Mira begitu penasaran. Di luar, seorang pemuda basah kuyup. Dalam hati kecilnya Mira sadar bahwa pemuda tersebut membutuhkan pertolongan. Namun, ia takut untuk keluar.
Tanpa sadar pemuda itu menatapnya penuh belas kasihan. Hingga Mira segera membuka pintu dan menghampiri pemuda tersebut penuh hati-hati.
“Kau siapa? Dan untuk apa di sini!” Bukannya menanyakan keadaan pemuda di hadapannya, Mira justru tampak ketus bertanya.
Dalam kondisi yang terluka, pemuda itu tidak terlalu menanggapi pertanyaan Mira. Ia perlahan bangkit dan bersandar di dinding. “Maaf sebelumnya, saya hanya ingin berteduh,” ucap pemuda itu. “Izinkanlah untuk saya berteduh di sini!” pinta pemuda itu yang tengah meringis kesakitan.
Dengan berbagai pertimbangan, kali ini Mira mengizinkan seseorang untuk sejenak berteduh di rumahnya. “Baiklah, jika kau hanya berteduh saja, silakan!”
Mira segera menjauh dan hendak menutup pintu. Tiba-tiba, pemuda itu meminta sesuatu.
“Tunggu, bolehkah saya meminta segelas air putih?”
Mira kembali menghampiri pemuda di hadapannya.
“Aku tidak menyediakan apa pun di rumah ini.“
“Hanya air putih.”
Mira masih menimbang padahal ia tahu bahwa pemuda di hadapannya dalam kondisi yang butuh pertolongan. Sejenak Mira terdiam, ia lalu masuk ke dalam rumah dan kembali lagi membawa segelas air.
“Ini!” Mira meletakkan segelas air putih di samping pemuda itu. Namun, pemuda itu kesulitan untuk memegang gelas karena tangannya sedang terluka. Dengan pertimbangan, Mira akhirnya membantu meminumkan segelas air. Dalam hati ia menyeletuk bahwa untuk kali ini ia mau menolong orang asing.
“Setelah ini kau harus segera pergi. Hujan juga akan reda.” Mira mengatakan dengan wajah yang ketus. “Dan kau hanya boleh berteduh di area sini.” Mira segera bangkit dan meninggalkan pemuda tersebut.
Sikap Mira rupanya membuat pemuda itu keheranan. Dan setelah berjam-jam berteduh, hujan pun reda, ia mulai meninggalkan area rumah Mira. Di mana Mira melihat dari balik jendela, pemuda tersebut pergi dengan tertatih-tatih.
…
Hari-hari berjalan sebagaimana mestinya, Mira pikir pemuda yang pernah berteduh di teras depan rumahnya tidak akan Mira temui lagi. Ternyata, pemuda itu datang kembali dan beberapa kali bersikap sama ketika pertama kali berteduh dengan tubuhnya yang selalu dipenuhi luka lebam. Dan pemuda itu selalu meminta segelas air putih. Tentu, berulang kali pula Mira justru mengabaikan agar pemuda itu tidak menjadikan teras depannya sebagai tempat berteduh.
Sikap Mira yang tidak bersahabat tidak membuat pemuda itu memusingkannya. Ia berpikir yang penting ia bisa berteduh meskipun hanya di teras depan rumah Mira. Bahkan tanpa Mira mencoba berempati untuk sekadar memberikan segelas air putih padanya.
“Mengapa kau masih berteduh di sini!” Suatu kali Mira begitu marah pada pemuda di hadapannya. “Sudah kubilang aku takkan mau membantu meskipun kau sedang terluka!“
“Biarlah, saya hanya ingin berteduh di sini!”
“Mengapa?” Mira tampak semakin kesal. Ia menyilangkan kedua tangan di dada.
Dengan menghela napas dan tatapan yang dalam, pemuda ini mengatakan, “Karena di sini, saya menemukan kehangatan.”
Mendengar jawaban pemuda di hadapannya, Mira terdiam. Mira pun menyamaratakan posisi dengan pemuda itu. Ia menjelaskan suatu hal agar pemuda itu berhenti untuk datang lagi. “Tidak ada orang yang benar-benar betah untuk di sini dan kau justru mengatakan menemukan kehangatan di sini. Kau ini sedang bercanda atau bagaimana?”
“Saya sedang mengatakan yang sesungguhnya. Mungkin bagi orang lain rumah ini tampak dingin, tapi bagi saya tidak demikian. Meskipun saya hanya sekadar berteduh di teras depan,” ungkap pemuda ini dengan sorot mata yang tulus.
Entah bagaimana, setiap kali pemuda itu datang untuk berteduh menunggu hujan reda, Mira tidak bersikap ketus yang seperti biasa ia tampakkan. Lambat laun, Mira terbiasa akan kehadirannya.
Sayangnya, pemuda ini hanya akan datang ketika hujan sedang turun. Sedangkan di hari biasa, ia tidak pernah memunculkan diri. Karena tanpa hujan, ia tidak mungkin bisa berteduh di rumah Mira.
Meskipun Mira tidak menyediakan apa-apa untuk pemuda ini, tidak pernah sekalipun ia meminta bahkan untuk segelas air yang dulu seringkali ia minta. Karena bagi pemuda ini, diizinkan untuk berteduh dan bercakap dengan Mira sudah membuat dirinya merasa cukup.
Hingga di satu waktu, pemuda ini berhasil memasuki bagian ruang tamu meskipun tidak ada hidangan yang tersedia. Awalnya memang biasa, namun pemuda ini merasa bosan dan kehausan. Beberapa kali pemuda ini mulai menunjukkan kebosanan. Bukan karena percakapan, tapi karena Mira sama sekali tidak menghidangkan makanan atau minuman untuk pemuda di hadapannya. Mira menyadari bahwa ada perubahan dengan pemuda yang sudah ia kenal saat ini, Mira bahkan telah berulang kali menyudahi percakapan dan menyuruh pemuda ini untuk pergi karena Mira mengungkapkan bahwa di rumahnya tidak menyediakan apa-apa.
Namun, sepertinya pemuda ini begitu kuat pendirian dan tidak mempermasalahkan. Sampai …. Sampai pemuda ini akhirnya menyerah dan menunjukkan gelagat yang sudah disadari oleh Mira sejak beberapa hari terakhir.
Di waktu inilah Mira akhirnya mengungkapkan, “Aku tahu kau akan segera pergi. Sebab aku tak bisa menyediakan apa pun untuk kau,” ungkap Mira sembari mempersilakan pemuda di hadapannya untuk keluar dari ruang tamu.
“Bergegaslah dan jangan pernah kembali-“
Merasa terusir, pemuda ini beranjak dari kursi. Ia menatap lekat wajah Mira yang kembali dingin. “Ya, Mira … aku akan pergi, tapi kupastikan aku akan kembali.“
“Katakanlah! Kau tidak berjanji!” Dalam hati Mira bergumam.
Mereka saling beradu pandang. Sebelum benar-benar pergi, pemuda ini memetik bunga mawar merah meskipun ia tahu tangannya harus terluka.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 8 Desember 2024.
Tentang Cerpenis
Nurmumtaz Sekar
Penulis perempuan yang memiliki nama pena tazskara. IG @_tazwriter
Testimoni Nurmumtaz Sekar
Saya tidak menduga bahwa cerpen saya dengan judul “Tentang Rumah di Seberang” akhirnya terpilih menjadi pemenang Sayembara Cerpen Minggu. Yang padahal beberapa hari terakhir ini, saya sempat merasa stuck untuk menulis dan menyelesaikan satu cerita pendek, tapi berkat sebuah postingan di Instagram @cerpen_sastra terkait cerpen yang dibayar dengan mengikuti syarat dan ketentuan, seakan mendorong saya untuk ikut serta.
Barangkali cerpen saya lolos. Ya, saya berpikir barangkali. Beruntungnya saya mendapat kabar baik. Terima kasih kepada @cerpen_sastra yang sudah menyelenggarakan sayembara menulis cerpen Minggu. Semoga yang ikut berpartisipasi, di lain waktu juga lolos. Sukses selalu untuk Cerpen Sastra karena telah menjadi wadah bagi para penulis kreatif untuk menuangkan ide dan inspirasinya.
