Cerpen Sastra

Roti Cokelat Buat Bunda (Cerpen Intan Mairiza Putri)

Seorang anak kecil berdiri terdiam sambil memandangi roti cokelat di toko yang ramai pengunjung. Guyuran hujan seakan tidak menjadi penghalang bagi setiap pelanggan yang sedang mengantre di toko itu. Nayla beberapa kali menelan salivanya. Tidak, ia tidak begitu menginginkan roti itu untuk dirinya, tapi ia menginginkan roti itu untuk bunda yang saat ini pasti menunggu kedatangannya di rumah. Nayla merogoh saku celananya, menghitung beberapa uang receh di tangannya. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas. Dipandanginya poster atau tulisan yang ada di toko itu untuk melihat kembali harga yang tertera di sana.
…

“Hanya 50K saja, free es cokelat,” gumamnya saat membaca tulisan di depan toko itu.

Nayla menghela napas, memasukkan kembali recehan yang ia kumpulkan dari hasil bekerja sebagai pemulung sampah. Hujan tak kunjung reda, udara dingin seakan sudah menusuk tulang-tulangnya. Mengusap beberapa kali lengannya dan meniup-niup tangannya yang mungil dan sudah mulai keriput karena kedinginan.
…

Seorang wanita paruh baya dan juga anak kecil perempuan sedang memilih-milih botol dan alat-alat yang sekiranya bisa dipakai atau dijual dari tong sampah. Mereka tampak tersenyum ceria saat melakukan pekerjaan yang bagi kebanyakan orang tampak menjijikkan karena berhubungan dengan sampah yang busuk dan tak enak dipandang. Ia tidak peduli pandangan orang lain, ia melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan berharap masih bisa terus bertahan hidup dari hari ke hari.

Kini, mata itu tertuju pada seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Memandangi orang itu tengah memakan makanannya dengan lahap dan terlihat sangat menggiurkan sekali. Wanita paruh baya itu tampak sangat ingin sekali mencoba mencicipi makanan yang tengah disantap oleh orang yang berada di dekatnya itu.

“Nanti kalau ada uang, bunda mau beli roti itu, Nak,” ucap wanita pada anaknya.
Anak perempuan itu menghentikan aktifitasnya, ikut melirik pada objek yang saat ini sedang dipandangi oleh bundanya.

Hanya roti cokelat yang kebanyakan orang sudah tahu bagaimana rasanya, apalagi roti itu memang sedang ramai peminatnya karena harga yang tidak begitu mahal serta sudah menjadi jajanan terlaris dan banyak para artis yang ikut mempromosikannya lewat aplikasi Tiktok, bahkan juga Instagram. Tapi harga tak seberapa itu bukan bagi Nayla dan bundanya, mereka tidak cukup mampu untuk membeli roti cokelat enak itu, mengumpulkan botol-botol bekas dari pagi hingga malam pun belum tentu cukup untuk membeli roti cokelat dengan gratis es cokelat yang dipadukan dengan brownies dan cokelat pekat melimpah itu. Kali ini Nayla menatap bundanya, memang bunda sangat terlihat menginginkan roti cokelat itu.

“Nanti kita beli ya, Bun.”

Nayla tersentak dari lamunannya. Sudah berapa lama ia berdiri di halte bis yang berhadapan langsung dengan toko roti yang selalu diliriknya saat sedang mengumpulkan botol-botol bekas di jalanan. Mata Nayla beralih pada langit sore yang harusnya memancarkan sinar jingga yang cantik menghiasi kota, namun pada sore ini tampaknya langit tengah kehilangan mood-nya untuk tampil indah dan memanjakan mata setiap pengamatnya.

Tidak hanya manusia, bahkan langit pun sesekali juga ingin menjadi pusat perhatian bukan hanya karena keindahan, tapi juga karena bentuknya yang tidak bisa setiap hari sama. Begitu pun bagi Nayla, bagaimana pun bentuk kehidupannya yang terkesan berbeda dengan orang lain yang hidup mewah, Nayla menyenangi dan mensyukuri itu semua.
…

“Antrean berikutnya!“
Nayla berjalan menuju tempat penyerahan roti cokelat itu. Raut wajahnya tak bisa dikondisikan. Ia takut, tapi ia akan berusaha jujur mengenai apa yang menjadi keinginannya.

“Silakan bayar ke kasir ya, Dek!” ucap pelayan itu dengan senyum ramah.

Nayla berjalan tertatih, tepat di depan kasir, Nayla mengeluarkan uang receh yang sudah seminggu lamanya ia kumpulkan untuk membeli roti itu. Uang itu diserahkan Nayla pada kasir yang sudah lama menunggu Nayla menghitung uang itu berkali-kali. Kasir itu terdiam saat menghitung uang Nayla yang sukar sekali dihitung karena dalam bentuk recehan lima ratus perak.

“Uangnya kurang dua puluh ribu, Dek,” ujar kasir itu dengan tidak senyum sedikit pun.
“Boleh saya hutang dulu Kak, minggu depan saya bayar, Kak,” ujar Nayla memohon.
“Tidak bisa, di sini tidak boleh berhutang. Masa roti pun mau dihutangi, kalau ga mampu gak usah sok sok mau beli.”

Nayla sudah tidak bisa berkata apa-apa, air matanya telah bergelinang. Nayla berlari meninggalkan toko itu. Tapi sayangnya roti  yang ia genggam tidak ditinggalkannya, alhasil Nayla dikejar oleh keamanan di sana. Entah keberanian apa yang membuatnya berani melakukan hal tersebut.
…

“Saya bundanya Nayla, Pak. Kenapa anak saya bisa ditangkap, apa salah dia, Nayla tidak mungkin mencuri, Pak!“

Wanita paruh baya itu tampak sangat hancur sekali mendapati berita bahwa putrinya ditangkap dengan kasus pencurian roti di salah satu toko. Ia tidak menyangka jika Nayla anaknya akan melakukan hal itu. Dadanya sesak, beberapa kali juga menepuk dadanya agar berkurang rasa sesak itu.

“Anak Ibu sudah terbukti mencuri, Buk. Anak Ibu sudah melanggar pasal 362 KUHP: Pasal ini menjelaskan tentang pencurian, yang terjadi ketika seseorang mengambil barang milik orang lain dengan maksud untuk memiliki barang tersebut secara melawan hukum. Pasal ini juga menyebutkan bahwa pencurian dapat dihukum dengan pidana penjara selama maksimal 5 tahun.“

Bunda Nayla menatap putrinya yang saat ini sedang berada di samping polwan dengan tangannya diborgol seperti penjahat yang sangat kejam. Air mata sudah menghujani pipinya, bukan hanya sang bunda, Nayla juga ikut menangis dan hancur melihat bundanya seperti itu. Niat baiknya untuk menyenangkan hati sang bunda dengan membelikan roti yang telah lama diinginkan bunda saat ini hanya berujung air mata dan penyesalan. Sekuat apapun ia membela diri dengan mengatakan bahwa akan segera mengantarkan kekurangan uang itu pada kasir, pihak kepolisian tidak akan percaya, tidak ada bukti kuat terhadap niatnya.

“Nayla masih terlalu muda untuk menghabiskan umurnya di sel tahanan ini, Pak Polisi. Sebenarnya saya yang menyuruh Nayla untuk mencuri roti itu karena saya sangat menginginkan roti itu.”

Pengakuan sang bunda membuat Nayla berteriak histeris. Ia menangis mengatakan semua itu tidak benar. Bunda tidak menyuruhnya untuk berbuat hal sekeji itu. Dialah yang sepenuhnya salah. Bunda memeluk Nayla, menenangkan sang putri tercinta, terlepas dari keputusan Nayla untuk mencuri, Nayla adalah putrinya yang baik karena berniat untuk membahagiakan sang bunda meskipun dengan cara yang salah.
…

Bunda resmi menggantikan Nayla mendekap dalam sel tahanan. Hal yang tidak seharusnya dirasakan bunda di umurnya yang tidak terbilang muda lagi. Nayla setiap hari menyalahkan dirinya, menangis seorang diri bukan lagi hal yang jarang ia lakukan. Menangis setiap hari sudahlah menjadi rutinitasnya. Dua minggu sudah bunda berada di penjara, namun Nayla hanya datang 2 kali saja. Ia bukan tak merindukan ibunda tercintanya, ia tidak mau bunda menyaksikan matanya yang sudah membengkak karena dihabiskan untuk terus menangis sepanjang hari.

Dua minggu telah berlalu, tidak mau hanya terus-menerus meratapi nasib, Nayla perlahan mulai berdamai dengan dirinya dan kembali mengumpulkan uang untuk membeli roti itu. Sedikit pun niatnya untuk membuat bunda merasakan roti itu tidak berkurang. Mata bunda tak bisa berbohong, setiap kali Nayla datang dan membahas roti itu, bunda selalu mengatakan bahwa ia sudah tak menginginkan roti itu.

Namun, beberapa kali mata bunda sering diam-diam melirik polisi atau bahkan tahanan lain yang sedang menyantap roti itu, memang sangat begitu terkenalnya roti itu bahkan sampai ke kantor polisi pun dapat ditembus oleh roti itu.
…

Nayla berlari dengan riang memasuki kantor polisi dengan menenteng kresek bertuliskan Roti Cokelat Cinta. Ia sudah tidak sabar untuk menemui bundanya. Nayla terkejut. Kakinya terasa tidak mampu bergerak. Ia berlari mengikuti langkah polwan itu menuju rumah sakit yang hanya perlu 5 langkah untuk sampai di rumah sakit itu. Buliran bening itu sudah tak mampu ditepisnya. Bagaimana bisa tak ada satu pun yang mengabari Nayla bahwa sang bunda dirawat di rumah sakit, bahkan sudah berjalan hampir 3 hari.

Di ruangan persegi dan bercat putih itu, Nayla menatap bundanya yang sedang ditangani oleh dokter. Nayla terus menggigit bibirnya melihat kondisi sang bunda yang sedang tidak sadarkan diri, kali ini selimut putih yang sebelumnya hanya sampai pinggang, saat ini perlahan menutupi wajah bunda. Nayla berlari, tak lagi ia hiraukan panggilan dari polwan yang mengantarnya ke sana. Nayla menangis dan berteriak sambil menyodorkan kantong kresek berisikan roti yang diinginkan oleh sang bunda.

“Ini, Bun. Roti cokelat buat Bunda!” rengeknya. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 5 November 2023

Cerpenis

Intan Mairiza Putri
Telah beberapa kali memenangkan lomba menulis cerpen. Intan merupakan panggilan akrabnya. Ia pun telah beberapa kali memenangkan lomba menulis pantun dan puisi. Tidak hanya itu, ia juga sudah berhasil menerbitkan satu novel dan antologi cerpen solo. Terlepas dari beberapa kali menang, ia juga pernah gagal dalam beberapa hal, namun semangatnya untuk terus berkarya tidak pernah redup. IG: @itsme_ntan14

Testimoni Intan Mairiza Putri
Selasa, 7 November 2023

Kegemaran mencari tahu lomba kepenulisan membuat saya menemukan @cerpen_sastra. Saya mulai kepo dan membaca karya-karya yang menang. Saat baca, tebersit keinginan ikut jadi peserta. Awalnya saya sedikit minder karena setelah baca cerpen pemenang, memang sangat bagus dan mulai ragu, diri saya belum yakin mampu membuat cerpen sebagus itu.

Berbekal seadanya dan tekad kuat karena saya termasuk orang yang walaupun minder, berusaha mencoba sebisa saya. Pertama kali ikut, Alhamdulillah jadi nominasi. Namun, hari Minggu, ternyata bukan saya yang keluar sebagai pemenang. Saya sedih dan berpikir tidak mau ikut, namun semangat dari orang tua membuat saya kembali bangkit dan bertekad ikut. Alhamdulillah, Minggu, 5 November 2023, jadi pemenang. Saya senang dan langsung mengabari orang tua di kampung. Saya sangat berterima kasih kepada @cerpen_sastra karena menyediakan wadah untuk kami, para penulis, berkarya.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *