Cerpen Sastra

Rencana-Rencana Daud (Cerpen Faisal Fadhli)

Seratus delapan, seratus sembilan, seratus sepuluh, seratus dua belas, seratus empat belas. Sebentar, sepertinya saya kembali keliru untuk kesekian kalinya dalam menghitung langkah. Apa yang membuat saya melakukan kesalahan kali ini? Deru truk pengangkut batu yang marah karena punggungnya dihujani lemparan-lemparan kurang bermoral para pekerja lepas, atau suara mesin pemecah batu di pojok ruangan yang sangat pongah menggerus batu kali rakus-rakus? Entahlah. Maaf untuk kesalahan yang kembali saya perbuat, mohon tunggu sejenak saya akan mengulangi sekali lagi. Saya akan menceritakan beberapa rencana pada kalian, termasuk mengapa saya perlu mengulangi hitungan-hitungan tadi. Tolong disimak dengan baik.
,,, 
Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Daud, usia saya tiga puluh satu tahun bulan Desember lalu. Saya belum memiliki anak atau istri, bukan hanya karena saya tidak rupawan. Tapi juga karena rumitnya faktor pendukung lain guna menjalin komitmen dengan lawan jenis.

“Kemiskinan itu sangat menyengsarakan Ud, masyarakat kita terbentuk atas dasar menjilat dan memamerkan pundi-pundi materi.” Begitulah yang pernah dikatakan senior saya Mas Munip satu tahun yang lalu, sebelum kami temukan sisa tubuhnya pagi-pagi sekali di dalam mesin pemecah batu. Para pekerja segera menghubungi pihak berwajib. Sebagian operator memeriksa mesin dan CCTV pabrik. Mereka ingin tahu sebab Mas Munip tewas secara mengenaskan. Anehnya CCTV hari itu mendadak bersemut.

Tak lama kemudian Bos Besar datang, ia berjalan dengan langkah yang membingungkan, apakah kaki atau perut tambunnya yang harus didahulukan. “Bawa karung untuk menutupi mayat itu! Lainnya kembali kerja!” Luar biasa, ia masih memerintahkan anak buahnya meneruskan usaha. Kami sudah khatam dengan tabiat Bos Besar. Jika ada daftar atasan paling lalim di dunia ini, maka saya pastikan ia ada di dalamnya. Pihak kepolisian memeriksa jenazah Mas Munip, mereka juga mengecek CCTV dan meminta keterangan banyak pekerja termasuk saya. Kami berharap penyebab kematian Mas Munip segera diungkap, cukup lama sampai pihak kepolisian memastikan bahwa hal tersebut murni kecelakaan.

Mas Munip adalah senior kesayangan saya, tidak ada yang paling saya dengar ucapannya selain beliau. Ia lebih tua enam tahun, perangainya santai tapi sangat tekun dan terpelajar. Maklum, Mas Munip mencicipi pendidikan hingga SMA. Sudah beristrikan wanita bernama Mbak Nirma tapi belum memiliki buah hati. Awalnya mereka berdua mendirikan bisnis rumahan pengolahan tempe. Ada kripik tempe, kering tempe, sambal tempe, nugget tempe. Sampai tiba-tiba bisnisnya tutup dikarenakan Mbak Nirma keguguran berkali-kali. Untuk Mas Munip hal itu adalah ujian dari Tuhan, namun Mbak Nirma berbeda pandangan. Layaknya orang desa yang berpikiran tertutup, semua hal yang terjadi selalu ia hubungkan dengan klenik dan mitos.

Sialnya lingkungan mereka secara terang-terangan mendukung Mbak Nirma. Bahkan salah satu orang pintar atau merasa pintar di desa mengingatkan jika semua yang telah terjadi adalah perbuatan iri lawan bisnis. Jika tidak segera menghentikan usaha, cita-cita mendengar suara tangisan bayi di dalam rumah hanya tinggal mimpi. Beruntunglah kalian yang tidak pernah menggubris hal-hal tahayul macam ini.

Karena demi istri yang dicintai, Mas Munip memilih mematahkan logikanya dan beralih kerja di pabrik pemecah batu yang baru berdiri tidak jauh dari desa. Walaupun itu berarti ia harus hidup kembali dari nol. Saya tak akan pernah lupa hari pertama bertemu dengannya. Mas Munip menarik tangan saya yang hampir saja masuk ke dalam mesin penggiling batu.

Masalahnya tentu saja karena saya sempat kehilangan konsentrasi. Setelah itu Mas Munip membawa saya ke belakang, di kantin kecil sebelah wc pekerja saya dibelikan secangkir kopi. “Kamu tidak boleh kehilangan konsentrasi barang sedetik pun. Kalau bekerja di percetakan dan salah cetak, kamu bisa mengulanginya. Di sini kalau kamu melakukan kesalahan maka nyawamu jadi taruhan.” Nyawa yang dimaksud Mas Munip ada dua, pertama adalah nyawa dalam arti sebenarnya, kedua adalah nyawa sebagai pekerja yang sewaktu-waktu bisa dihentikan oleh Bos Besar. Sejak kejadian itu, saya menjadi akrab dengan Mas Munip. Ia operator kepercayaan Bos Besar, kerjanya paling cemerlang.

Saya mulai terbuka dan makin sering mengajaknya berbicara berbagai hal. Termasuk keinginan terpendam dan cita-cita ke depan. “Bagus! Berusahalah terus, Ud. Aku beri tahu satu hal, dalam setiap keinginan manusia, diperlukan adanya rencana. Rencana-rencana itu akan membuat langkahmu lebih terhitung dan hati-hati.” Menurut Mas Munip, dengan adanya rencana terutama rencana matang, kita dapat memperbesar peluang untuk berhasil.

Tolong digarisbawahi, di sini saya tekankan pada peluang, semata tidak bermaksud mendahului kehendak Yang Maha Esa. Sehingga semua keinginan tidak bergerak pada spekulasi-spekulasi nekad yang menerka-nerka. Setiap memiliki keinginan baru dalam hidup, saya akan segera mencari Mas Munip untuk membicarakan rencana apa yang patut dan cocok ditempuh.

Mulai dari rencana menabung gaji, rencana membelikan kalung dan cincin emas buat Emak, rencana membuka usaha sampingan dengan Mas Munip, sampai rencana meminang Dik Mita, cucu penjual jamu selatan Masjid yang telinganya tuli sebelah.

“Pasti ada untung ruginya Ud, tapi setidaknya kita tidak serampangan. Tabung dulu semua uang gajimu dan jangan habiskan untuk keperluan lain, kamu dahulukan rencana membelikan Emak kalung dan cincin emas.” Mas Munip mengajakku menyisiri gunungan batu besi, batu kali, batu gunung. Langkahnya pelan tapi mantap, sesekali seperti orang sedang menghitung. “Lalu untuk usaha kita, aku sudah siapkan tempatnya, coba tebak ada di mana?” Mas Munip menoleh ke arah saya yang menjawab dengan gelengan kepala. “Di samping toko nenek penjual jamu, kebetulan sekali, bukan?” Mas Munip tertawa kencang, ia tahu saya tersipu.

Mas Munip meyakinkan saya untuk makin giat bekerja, Dik Mita tidak bisa menunggu lama-lama. Di desa yang saya tinggali, siapa cepat dialah yang dapat. Mas Munip seketika berhenti, ia termenung sebentar lalu berkata bahwa cara yang biasa ia lakukan dalam menyisiri gunungan batu ini bisa saya tiru. “Ud, lakukan kayak yang aku lakukan. Sambil hitung pelan-pelan untuk memperbaiki konsentrasimu. Suatu saat kamu akan jadi operator macam aku.” Senyum Mas Munip ketika itu adalah senyumannya yang terakhir untuk saya.

Pada akhirnya ia ditemukan seperti yang sudah saya ceritakan di pagi durjana itu. Semenjak kepergian Mas Munip, saya mulai memikirkan ulang rencana-rencana saya, beserta kalkulasinya juga.

Hingga suatu hari saya mendengar seorang operator baru sebut saja Pak Misdi menangis sesenggukan di pojok kantin. Di sana ia bercerita dengan seorang security yang tidak saya kenal terkait hari di mana Mas Munip tewas. Pak Misdi ternyata menemukan potongan rekaman CCTV yang bersemut itu, dalam rekaman terlihat Mas Munip sendirian melakukan pengecekan di ruangan mesin pemecah batu. Satu mesin pemecah tampak tidak berjalan semestinya, saat Mas Munip mencoba memeriksanya, secara mendadak mesin menyala dan menggilas Mas Munip.

Dalam rekaman lanjutan, tampak Bos Besar masuk ke ruangan. Ia melihat jenazah Mas Munip tapi tak melakukan apa pun dan meninggalkan ruangan sembari mematikan lampu.

Hampir saja saya meremas gelas yang sedari tadi ada di tangan. Jadi ini sebab operator CCTV yang lama sudah tidak kelihatan di pabrik. Sudah hampir seminggu ini setelah pulang kerja saya mencari keberadaan si operator lama, ia berhasil saya temukan. Sambil bersujud ia meminta dengan sangat pada saya untuk tidak memberitahukan pada siapa pun apa yang akan ia ceritakan. Mas Munip memergoki Bos Besar sedang melakukan perjanjian dengan seseorang terkait usaha pabrik. Pabrik kami ketahuan belum mengantongi izin, serta diperingatkan berkali-kali karena sudah melanggar peraturan tata ruang dan mencemari lingkungan. Bos Besar tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, ia berencana membungkam Mas Munip.

Setelah mengetahui semuanya, saya sekarang memiliki rencana baru dalam hidup. Dimulai dengan menghitung langkah saat mengecek gunungan batu, mengingat bagian mana dari tumpukan itu yang tidak seimbang, memanipulasi tumpukannya agar gampang goyah, lalu melaporkannya pada Bos Besar saat ia sendirian.

Baiklah, saya pikir sudah menjelaskan pada kalian semua perihal rencana-rencana saya. Saat ini saya duduk di hamparan pecahan kerikil berwarna abu-abu gelap. Saya baru menyadari bentuk mereka sangat lucu, terkadang saya menemukan bentuk seperti wajah orang sedang tertawa.

Ada juga yang terlihat sedang marah. Sisanya bagaikan bentuk orang sedang menangis, mungkin mereka juga menangisi apa yang sudah saya perbuat. Tidak jauh dari sana sekitar lima meter atau empat meter sekian-sekian, Bos Besar tidur tergeletak tanpa napas dengan luka sekujur bagian belakang kepala. Sebentar lagi pagi akan menghampiri pabrik ini, dan para pekerja akan menemukan saya. Sampai saat itu tiba, saya ucapkan terima kasih sudah bersabar menyimak rencana-rencana dari saya. Saya Daud, salam.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 5 Januari 2025.

Tentang Cerpenis

Faisal Fadhli
Sedang menekuni dunia kepenulisan terutama cerpen dan sudah menulis sejak remaja. Lulusan Fakultas Hukum yang menyukai seni, film, olahraga, serta sejarah. Dikenal dengan nama pena GoresTerka. Mulai mengirimkan karya di tahun 2022. IG: @goresterka

Testimoni Faisal Fadhli

Seingat saya “Rencana-Rencana Daud” adalah cerpen kedua belas yang saya kirimkan ke Cerpen Sastra. Bersyukur akhirnya kali ini bisa tembus dan menemukan tempat untuk bisa dibaca semua orang. Cerpen ini saya tulis dadakan, hanya hitungan jam sebelum deadline karena saya salah mengira hari pengumpulan terakhir. Untungnya, berhasil saya kirimkan sisa beberapa menit saja sebelum penutupan dan bisa masuk nominasi.

Sepertinya, hidup terkadang harus nekad tanpa perlu rencana-rencana matang layaknya yang dilakukan oleh Daud. Saya ucapkan banyak terima kasih pada dewan juri Cerpen Sastra yang sudah memilih cerpen ini sebagai pemenang. Harapan saya, semoga Cerpen Sastra mendapatkan semakin banyak pembaca dan terus membantu mewadahi karya cerpenis negeri. Terima kasih juga untuk yang telah bersabar membaca testimoni dari saya. Saya mewakili Daud, salam.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *