Perang dunia antara dua insan yang kupanggil dengan sebutan ayah dan ibu, untuk kesekian kalinya sedang terjadi. Biasanya hanya karena hal remeh-temeh, rumah ini bisa menjadi medan pertempuran. Sejauh ini aku telah membuat nominasi tiga keributan teratas paling heboh dalam versiku. Coba kusebutkan satu-satu mulai dari nomor tiga. Peringkat ketiga, kemarahan ibu akibat kejutan kue ulang tahun dari ayah saat ia sedang mati-matian mengurangi berat badan alias diet ketat. Peringkat kedua, kemarahan ayah saat tahu bahwa ibu lagi-lagi mendaftar suatu ajang pencarian model. Dan peringkat pertama, pertengkaran sengit akibat anjloknya mood ibu sebab gagal menjadi model untuk kesekian kalinya dengan alasan usia yang tidak lagi muda dan fisik yang tidak serupa gitar spanyol.
…
Beralih dari nominasi-nominasi di atas. Mari kita bahas alasan pertengkaran kali ini. Keributan paling heboh dari kehebohan paling heboh yang pernah ada sebelumnya. Bermula dari aku yang sengaja mencuri uang ayah, tolong jangan katakan padanya. Dan ayah yang dengan yakinnya menuduh ibu sebagai pelaku.
***
Sepulang sekolah, aku sempat berada di rumah dalam waktu singkat. Saat aku memasuki ruang makan, aku melihat dompet ayah tergeletak di atas meja. Tanpa babibu aku mengambil beberapa lembar seratus ribuan dari dompet tersebut, lalu pergi lagi dari rumah tanpa sepengetahuan ayah atau ibu. Sejujurnya ini pencurian pertama yang aku lakukan karena iseng, dengan tujuan membuat orang tuaku ribut lagi seperti yang sudah-sudah. Kalau bisa sampai ke persidangan agar perangnya disudahi sampai di sini dan mereka tidak perlu repot ribut-ribut lagi.
Tidak kusangka caraku berhasil. Ketika tiba di rumah, aku sudah disuguhkan pemandangan ayah dengan emosinya yang meluap-luap sedang meneriaki ibu.
“Di mana uangku? Bukankah aku sudah memberimu uang bulanan? Tidakkah itu cukup bagimu?”
“Sumpah demi Tuhan aku tidak mengambil uangmu. Kenapa tidak Kau tanyakan saja pada anakmu itu?” balas ibu sambil menunjuk-nunjuk diriku yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah –yang baru saja kututup.
“Apa yang sedang terjadi di sini?” kataku pura-pura tidak tahu.
“Apa Kau tidak lihat? Dia saja baru pulang. Bisa-bisanya Kau melimpahkan kesalahanmu kepadanya. Sudah jangan berdalih lagi. Lebih baik Kau mengaku saja.“
Mendengar ucapan ayah, tentu saja ibu tidak terima. Emosinya melejit setinggi angkasa. Ia dengan brutal melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. Remot TV jadi barang pertama yang melayang di udara dan untungnya meleset karena ayah masih sempat menghindar. Menyusul barang-barang selanjutnya yang ikut beterbangan yaitu bantal sofa, bingkai foto keluarga, hingga laptop kerja. Beruntungnya, kesemua barang tersebut tidak ada yang tepat sasaran. Aku pikir serangan bengis ibu sudah berakhir, hingga secepat kilat vas antik berukuran sedang –yang setahuku merupakan pemberian ibunya ayah- mendadak melambung dan sepersekian detik berikutnya tepat membentur kepala ayah. Dalam sekejap, badan ayah tiba-tiba limbung dan jatuh begitu saja ke lantai. Ayah tidak sadarkan diri dengan kepala yang mengucurkan darah segar.
Waktu terasa berhenti. Aku mematung begitu pula dengan ibu. Kesadaranku serasa ikut direnggut. Beberapa detik berlalu dengan keheningan hingga teriakan frustrasi milik ibu mengembalikanku pada kenyataan. Ia meraung sejadi-jadinya di samping tubuh ayah. Aku terguncang dengan badanku yang gemetar ketakutan. Perutku mual, kepalaku rasanya berputar. Aku harus keluar dari sini sebentar untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang tidak karuan.
Kubuka pintu utama yang seharusnya membawaku ke halaman depan rumah. Namun anehnya, pintu itu ternyata bukan menuju ke sana. Padahal aku sangat yakin itu adalah pintu yang kulewati di awal sebelum kejadian perkara. Entah apa yang terjadi, aku malah berada di sebuah kamar. Kulihat sekeliling untuk memastikan apakah aku salah membuka pintu, dan saat ini, aku berada di kamarku atau mungkin kamar ayah dan ibu –karena fokusku yang memang sedang berantakan. Faktanya kamar ini jauh lebih rapi dari milikku dan nuansa merah mudanya sama sekali bukan seperti kamar milikku ataupun ayah dan ibu.
Kuamati kamar ini dengan lebih khidmat lagi, hingga mataku terpaku pada tumpukan majalah terbitan tahun 2007. Ragu-ragu aku melangkah mendekat dan meraih majalah itu. Kulihat seorang perempuan cantik dengan senyuman manisnya tercetak di halaman pertama. Itu … sekilas tampak seperti ibu.
Fotonya terlihat seperti versi remaja dari ibuku. Awalnya aku agak ragu bahwa itu benar ibu. Namun, aku langsung yakin begitu melihat tanda lahir di bawah mata kanan persis seperti kepunyaan ibu. Aku terkagum dan terkejut pada waktu bersamaan. Tidak menyangka bahwa ibu adalah seorang model dengan wajah menawan serta tubuh ideal impian setiap kaum hawa.
Tidak jauh dari tumpukan majalah yang sedang kujelajah, aku melihat kalender yang menunjukkan tahun 2007. Sebersit pikiran aneh yang terdengar masuk akal muncul di otakku. Apa aku kembali ke masa lalu? Aku buru-buru menoleh ke belakang mencari pintu yang tadi kulewati. Dengan takut-takut kubuka perlahan pintu tersebut dan aku masih tidak mendapati halaman rumah atau ruang tamuku yang penuh kekacauan.
Aku malah mendapati keramaian orang di ruang tamu yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya. Aku dibuat semakin terkejut melihat beberapa orang yang tidak asing bagiku. Di samping itu semua, ada dua orang yang sangat menarik perhatianku. Pertama, perempuan di sampul majalah tadi yang kuyakini sebagai ibu. Kedua, pria muda dengan alis sedikit tergores yang dilihat dari segi mana pun persis seperti ayahku. Cepat-cepat kututup kembali pintu tersebut.
Aku masih berusaha mencerna semua yang terjadi. Dugaan konyolku adalah aku memang kembali ke masa lalu. Tepatnya di kamar ibu. Dan sekarang di ruang tamu, di antara keramaian orang, ada ayah dan ibu versi muda memakai pakaian yang agak berlebihan untuk sehari-hari. TUNGGU. APA!!?
Seakan tersadar akan sesuatu, aku kembali mengintip dari balik pintu. Ruang tamu didekor dengan sangat sederhana. Di sudut ruangan terdapat beberapa bingkisan yang dibungkus cantik. Salah satu di antaranya adalah vas bunga antik. Vas yang sama persis dengan vas di ruang tamuku.
Barang yang beberapa waktu lalu membuat kepala ayah bersimbah darah. Di tengah ruangan, ada ayah dan ibu dengan pakaian khas pasangan pengantin yang akan menikah. Mereka duduk di depan meja kecil berhadapan dengan bapak-bapak berpeci dan di sebelahnya ternyata adalah kakekku. Sebentar-sebentar. Berdasarkan analisis singkatku, besar kemungkinan si bapak berpeci adalah penghulu. Jadi, aku sekarang berada tepat di hari pernikahan kedua orang tuaku.
Tuhan, kejadian ajaib macam apa ini? Apa yang harus aku lakukan? Dengan pemikiran sok keren ala drama-drama time travel, aku yakin bahwa ada suatu alasan hingga aku berada di sini. Mungkin ini sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan. Semacam penebusan atas dosa mencuri berakhir pembunuhan yang telah aku sebabkan.
Sebuah ide cemerlang yang sedikit gila tiba-tiba terlintas, akan aku gagalkan pernikahan kedua orang tuaku. Jika pernikahan ayah dan ibu gagal, mereka tidak perlu repot-repot bertengkar lagi di masa depan. Ibu bisa tetap melajang dan menjadi model terkenal, sedangkan ayah mungkin bisa menemukan cinta sejati yang tidak akan pernah melukainya. Tidak tahu Tuhan akan suka atau tidak dengan rencanaku, karena menurutku ini termasuk bunuh diri walaupun tidak secara langsung. Di mana saat ayah dan ibu tidak jadi menikah, maka aku otomatis batal untuk dicetak. Entah apa yang akan terjadi padaku setelah ini, mungkin saja aku akan hilang menjadi debu seperti dalam film yang pernah aku tonton. Namun, segi positifnya, ini akan menjadi tindakan heroik sekaligus bakti terakhirku sebagai seorang anak –yang tidak jadi menjadi anak.
Dengan langkah yakin dan mantap, kubuka pintu kamar ibu dan keluar menuju ruang tamu. Batinku menjerit keras-keras, “Maaf Ayah, tapi sungguh ini demi kebaikan Ayah.”
Aku mulai berakting dengan berteriak keras-keras.
“Mas, tega-teganya kamu menikahi wanita lain saat aku sedang mengandung anakmu. Bagaimana nasib anak di kandunganku, Mas?” teriakku sambil menarik-narik kerah ayah.
Semua orang mulai berbisik-bisik hingga seorang perempuan yang kukenali sebagai ibunya ayah menengahi kami berdua. Beliau terlihat marah dan berkata lirih di telinga ayah yang samar-samar masih dapat aku dengar.
“Wanita mana lagi ini? Tidak cukupkah Kau menghamili satu wanita saja?” Desisan lirih penuh amarah itu berhasil menamparku. Jiwa pemain utama dengan ide-ide gila dalam diriku perlahan meluntur. Nyatanya rencanaku sia-sia atau lebih tepatnya aksi nekat yang kulabeli heroik berakhir dengan masalah baru.(*)
Tanggal tayang:
Minggu, 12 Mei 2024
Tentang Cerpenis
Putri Sari
Beberapa karyanya pernah dimuat di media online. Lahir di Klaten. Orang biasa yang hobinya membaca cerita fiksi dan menulis sesuai isi hati. Ia dapat dihubungi di email: putriisgirl@gmail.com atau Instagram: @meemoshaaa.
Testimoni Putri Sari
Cerpen Sastra merupakan wadah yang sangat tepat untuk menjembatani hobi dan minat dalam bidang kepenulisan cerpen, sehingga karya yang kita punya bisa dibaca oleh para penikmat sastra.
Terima kasih Cerpen Sastra, telah mewadahi dan memotivasi penulis-penulis untuk terus berkarya.
Semangat selalu teman-teman dan penulis di luar sana. Sekali lagi, terima kasih Cerpen Sastra atas kesempatannya.

Plot twist sekali :v :v :v