Cerpen Sastra

Menjadi Toilet (Cerpen Chrisania Sharon Vircilia)

“Dari hasil pemeriksaan selama beberapa hari terakhir, kami hanya bisa memperkirakan jika usia Anda tidak akan lebih dari lima bulan lagi.”

Tak ada gurat syak dan syok di wajahnya. Justru si pasien tersenyum semringah, “Terima kasih, Dokter, karena sudah memberikan kabar gembira ini.”

Gembira? Pasti ia sudah gila. Mungkin itu yang dipikirkan sang dokter saat melihat pasiennya melenggang keluar dengan riang sembari bersenandung kecil.
…

Lima bulan bukanlah waktu yang lama untuk dihabiskan. Dan juga bukan waktu yang terlalu sedikit. Ia masih bisa menyelesaikan semua seri anime dan film One Piece dalam 2 bulan, sisanya ia bisa lanjutkan dengan bermain gim atau menonton Skibidi Toilet. Ya, segala macam memuakkan dalam hidup akan berakhir segera tanpa harus merenggut nyawa sendiri. Ia percaya jika ia mati, ia akan dilahirkan kembali sebagai toilet yang memiliki kepala dan mengucapkan suara-suara aneh.

Pasien itu mengurung diri di kamar, tak mau keluar lagi dengan dalih bahwa hidup sudah tidak berarti lagi. Ia pun tak melanjutkan pengobatannya sama sekali, entah itu pergi memeriksakan diri ke dokter maupun meminum obat.

Bahkan saat orang tua, saudara, maupun tetangga menyeretnya keluar untuk sekedar makan atau mengobrol, pasien itu menaruh telunjuk di bibir. Sudah dipastikan kalau ia tidak mau berkomunikasi atau bertemu dengan siapa pun. Ia hanya hidup sesuai rencananya saat itu: hidup bagai sigma(1).
***

Enam bulan telah berlalu. Ia masih menjalani hidup seperti rencananya. Namun ia tak memungkiri kalau ia merasa bosan menggeser layar ponsel pintar untuk melihat konten TikTok. Melihat tanggal yang tertera di ponselnya, ia menyadari kalau perkataan dokter itu hanya tipuan belaka.

Ia membuka pintu perlahan dan mengintip ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Si pasien menghela napas lega, lalu melangkah perlahan menuju ke sebuah tempat. Kamar mandi adalah kuil suci yang ia dambakan selama ini. Sedari awal ia ingin sekali ke sana, namun ia tidak ingin mendengar berbagai ocehan dari orang-orang rumah.

Kakinya melangkah melalui genangan cairan berkilat berwarna merah. Bau anyir tak ia hiraukan. Ia terus berjalan tanpa memandang mereka yang membelalakkan mata dengan mulut menganga, terbujur kaku tanpa aura kehidupan.

Setibanya di kamar mandi, tangan si pasien ditarik oleh seseorang yang misterius. Pria bertubuh kekar dengan tato yang terpampang di tangan kiri maupun kanannya tak memedulikan penampilan korbannya yang telah telanjang bulat. Ia segera menarik si pasien dan membekap mulutnya.

“Ternyata masih ada orang di rumah ini!” serunya geram. Dengan sigap, pria itu segera membekuk pasien dan menaruh kepalanya di dalam kloset duduk yang masih mengandung cokelat berenang.

Pasien itu menahan napasnya, entah karena bau yang tak tertahankan atau karena tidak ingin ada air yang masuk ke hidung maupun mulutnya. Semakin ia memberontak, semakin kuat tenaga pria bertampang preman itu menjebloskannya ke dalam lubang kloset. Pada akhirnya, pasien itu meninggal di dalam kamar mandi.
***

Suara tombol penyiram terdengar. Pasien itu membuka mata, mendapati dirinya berada di ruangan sempit yang berbilik.

“GOAT!(2) Dia ini benar-benar mommy! Dia lulus dari University of Servington dengan gelar master k*nt*logi dan jurusan ilmu motherlogical. Please kasih gue kesempatan sekali aja, aku bakal jadi anak baik!”

“Coba bayangkan kalo lo itu sigma skibidi level 500 jet rizz. Kamu bisa mewing biar Bang Jarwo jadi keripik kaca terlupakan W. Waduh si only ohio get rizz lagi tidur, nih.(3)”
“Sigma, sigma. Sigma, sigma. Ohio, gyatt, mewing, mewing, mewing. Baby gerong. Sigma, Skibidi Toilet.”

Baik itu suara pria dewasa maupun anak-anak, pasien itu menyadari kalau sekarang bahasa gaul itu sudah merambah kepopulerannya hingga ke usia tua. Dalam hati, ia mengejek kedua orang tua dan kakaknya karena menghina bahasa anehnya itu.

Pintu terbuka dan ia terkejut. Pria yang bertubuh gempal dengan ponsel pintar yang melekat bersama jari-jari tangan kanan segera menutup pintu dan membuka celana. Si pasien ingin berteriak, tetapi ia harus merasakan wajahnya mencicipi bokong orang asing.

“Tidak! Gyaatt!(4) Skibidi(5) banget!” teriak si pasien. Si pasien menyadari ada sesuatu yang aneh dari dirinya. Ia tidak bisa menjerit, tetapi pasrah saat berbagai kebusukan itu masuk ke dalam mulut. Saat tombol bilas ditekan, semua itu masuk ke dalam kepalanya dengan sangat cepat.

Ketika tidak ada siapa-siapa yang masuk ke dalam bilik, pasien itu kembali ingin mengeluarkan suara. Namun apa daya hanya suara yang tidak jelas dari toilet.

Ia tersentak. Ia tidak menyangka doanya selama ini terkabul. Selama ia berdoa dengan memasukkan badan ke dalam ember yang sangat besar atau sebuah kotak besar dengan lingkaran di atasnya, lalu ia menggerak-gerakkan kepala. Ke atas, ke bawah, ke kiri, dan ke kanan. Tak lupa dengan kata-kata yang tidak jelas arti sebenarnya. Namun ia merasa bahwa tindakan ini tidak akan mengubahnya menjadi toilet, oleh karena itu memang sebaiknya ia melakukannya langsung di kuil suci pencinta Skibidi Toilet.

Mulai sekarang, kita tidak akan memanggilnya sebagai “si pasien”, melainkan “toilet”. Pasien itu benar-benar berubah total menjadi kloset duduk. Namun, mengapa ia tidak bisa menggerakkan kepalanya sama sekali? Ia bahkan tidak bisa mengucapkan kata-kata khas Skibidi Toilet.

“Ohio(6) banget, sih. Mending sigma rizz(7), kek. Ini malah dikasih gyatt yang skibidi.” Toilet itu mengeluh. Ia pikir hidupnya pasti sangat seru jika dirinya menjadi Skibidi Toilet yang melawan Cameraman, Speakerman, ataupun TV man. Skibidi Toilet juga mampu berada di berbagai tempat, bahkan mampu melayang di atas udara tanpa bantuan apa pun.

“Kenapa gue enggak bisa?” keluhnya. “Apa gue harus delulu(8), ya? Atau apa selama ini gue lagi delulu?”

Toilet itu berusaha mengembangkan segala imajinasinya. Ia berpikir dan berkonsentrasi agar ia bisa terbang di udara, berada di jalan raya, di dalam bar, atau di tempat lain. Sayangnya, hanya dalam kurang dari satu menit, ia tidak mampu berkonsentrasi sama sekali.
***

Ia sudah buta akan waktu, tak tahu sudah berapa hari dilalui dalam keadaannya menjadi toilet. Yang ia rasakan hanyalah waktu yang terasa sangat lama, rasanya bagai berabad-abad.

Entah mengapa, bilik tempatnya tinggal lebih sering dimasuki orang. Ia mulai terbiasa saat dudukannya ditindih begitu saja oleh pantat. Ia yang awalnya merasa jijik pada orang-orang itu, sekarang berubah menjadi kejijikan yang luar biasa terhadap dirinya sendiri.

Ia menyesal berharap menjadi toilet. Hidup menjadi manusia ternyata jauh lebih baik. Isi kepala manusia masih mampu dibersihkan dari segala macam kebusukan dan diganti dengan kebersihan dan kesegaran, namun bagaimana dengan dirinya yang saat ini? Selama ini ia hanya menegak air seni dan menelan kotoran yang membusuk; semua itu menumpuk di dalam kepalanya.

Pintu bilik terbuka. Dengan pasrah, toilet itu menyerahkan kepalanya untuk kembali diisi dengan kebusukan manusia masa kini.

“Gross! Skibidi!” teriak seorang pria yang memakai helm putih dengan seragam warna merah. Ia memegang selang putih panjang. “Udah berapa lama toilet ini enggak disedot?”

“Enggak tau. Pemiliknya cuek-cuek aja,” jawab seseorang.

Toilet itu tampak senang melihat dua orang pria yang ia rasa itu adalah petugas penyedot tinja. Dengan begini, setidaknya kebusukan yang sudah mendarah otak di kepalanya bisa menghilang.

“Tuhan, engkau sungguh baik!” seru toilet, meski tak ada yang bisa mendengarnya.

“Toilet ini septic tank-nya juga kelewat penuh. Enggak hanya itu aja, coba lihat banyak goresan-goresan di dudukannya. Tombol pembilasnya aja rusak. Terus masih banyak sisa kotoran di sana.”

“So what, Pak?”

“Lo dah bawa barang yang gue minta, kan?”

Orang satunya mengangguk. Ia kemudian menyeret sesuatu yang menimbulkan bunyi gesekan besi. Usai menyerahkan palu bogem, orang yang satunya mengayunkan palu itu ke toilet, membuat si toilet kalap. Semakin lama, tubuhnya semakin hancur setiap terkena hantaman palu.

“Sedot dia enggak ada gunanya, terlalu lama! Di era Indonesia Cemas 2045 ini, kita enggak butuh namanya konsentrasi!” teriak si petugas sembari mengayunkan pukulan terakhir yang menghancurkan toilet duduk itu berkeping-keping.

Toilet itu benar-benar hancur, kemudian ia mengeluarkan cairan merah dari pecahan tubuhnya.(*)

(1) Orang yang keren karena kemandiriannya, biasa disematkan pada laki-laki.
(2) Greatest of All Time; terbaik sepanjang masa.
(3) “Coba bayangin kalau kamu bad boy yang berkarisma banget. Kamu bisa bikin Bang Jarwo tertarik biar dia klepek- klepek. Waduh, si freak yang berkarisma ini malah tidur.
(4) Sesuatu yang jelek atau buruk.
(5) Pantat.
(6) Sesuatu yang sangat aneh.
(7) Karisma.
(8) Seseorang yang berkhayal atau memiliki harapan yang tidak realistis.

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 10 November 2024.

Tentang Cerpenis
Chrisania Sharon Vircilia
Telah menerbitkan delapan buku solo dan memenangkan berbagai lomba menulis cerpen. Sosok yang bercita-cita ingin menjadi bakteri ini sangat suka menonton drakor, anime serta membaca komik bergenre mystery-thriller, fantasi, dan komedi. IG: @eren_chiirsa
.

Testimoni Chrisania Sharon Vircilia

Sebenarnya ini kedua kalinya karya saya lolos di Cerpen Sastra, dengan karya pertama berjudul “Penyakit Aneh Bapak” yang tayang pada tanggal 22 Oktober 2023. Saya sebenarnya mengetahui pengumuman pemenang ini tepat ketika saya di dalam toilet, sungguh saya sangat menghayati peran, hahaha. Tenang, saya tidak tertarik untuk menjadi toilet.

Cerita ini saya buat karena melihat mirisnya generasi muda sekarang yang terlalu sering menonton asupan yang tidak berguna, seperti konten-konten tidak berfaedah di media sosial. Penggunaan salah satu media sosial berbasis video berdurasi sangat pendek tanpa disadari merusak daya konsentrasi manusia sehingga cenderung untuk sulit fokus pada satu hal dan terlalu ingin mencari instannya saja tanpa mencari penyelesaian yang lebih baik.

Tentunya saya berterima kasih banyak pada Cerpen Sastra karena mau memublikasikan cerita beride di luar nalar ini dan juga membantu memperpanjang hidup saya yang sedang paceklik parah ini. Semoga Cerpen Sastra menjadi tempat membaca dan menulis cerpen berbahasa Indonesia nomor satu di Instagram.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *