Gadis itu menghentikan lantunan nadanya. Sorotnya menatap tubuh-tubuh kaku itu mengambang di permukaan air laut. Samar, sudut bibirnya terangkat. Aroma rum bercampur bau anyir mendekap tubuhnya yang sedingin salju di balik air kehidupan. Hatinya dibutakan oleh bara api yang tak kasat mata. Kekecewaan itu mematikan akal sehatnya. Kini dirinya berteman kesunyian dan rakitan kayu tanpa tuan di hadapannya.
…
Sumpah itu tak lekang oleh waktu, di mana membawa kaumnya untuk tidak memaafkan kaum serigala yang merampas hak hidup mereka secara semena-mena. Ketamakan mereka, membuat kaumnya banyak yang mati sia-sia. Gadis itu menatap hampa sekelilingnya. Paraxenos Cosmos telah berubah sepenuhnya.
Dahulu kala, Paraxenos Cosmos adalah negeri yang indah. Sesuai namanya, negeri itu aneh dan penuh misteri. Bersarang makhluk-makhluk unik nan ajaib. Berbagai jenis makhluk, hidup berdampingan dan mengandalkan satu sama lain. Tiada perselisihan meski tumbuh di tengah perbedaan kaum. Tempat itu layaknya surga.
Karena keindahan dan hal menakjubkan itu, makhluk penghuni menyadari akan keberadaan dewa dan dewi yang memberkati mereka. Negeri ini dipimpin oleh sang peri ratu, berperawakan anggun dan bijaksana. Peri ratu menebarkan serbuk damai pembawa kebahagiaan.
Akan tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, tepatnya pada suatu malam di bawah rembulan biru. Seluruh makhluk berkumpul di tepi pantai dalam kemeriahan pesta sebagai rangka mempererat hubungan kaum. Pesta itu disambut baik, semuanya dipenuhi tawa antusias berlebih. Alunan musik dan situasi riuh membuat semua makhluk terhanyut dalam perayaan.
Ringisan gadis siren mengusik pemuda serigala di sampingnya. Gadis itu tergelincir batu karang, menyebabkan lengannya terluka. Siren dapat menyembuhkan diri, mengingat mereka mempunyai air mata penyembuh. Tetapi air mata yang mereka keluarkan bukan untuk hal tidak penting. Karenanya, mereka begitu keras kepala untuk tidak menangis.
Melihat itu, salah satu pemuda serigala menawarkan diri menyembuhkan gadis siren yang terluka. Bagaimanapun, salivah mereka membantu dalam mengobati luka. Namun, akibat yang lainnya begitu terhanyut dalam perayaan, nampaknya tak ada yang menyadari kehadiran rembulan bercahaya biru. Hal ini berdampak buruk bagi kaum serigala, mereka rentan tidak dapat mengendalikan diri. Benar saja, pemuda serigala terangsang oleh darah yang mengalir dari lengan gadis itu.
Bersamaan lolongan serigala lain, mengejutkan hiruk-pikuk di tepi pantai. Suasana senyap seketika, sebelum jeritan yang menyadari gadis siren tewas tercabik. Ironisnya pemuda serigala yang membunuh gadis siren itu secara drastis berubah menjadi semakin kuat dan ganas.
Keserakahan timbul dari kaum serigala agar mereka menjadi persatuan yang kokoh dan dapat menguasai negeri. Perburuan pun terjadi. Sejak terbunuhnya gadis siren itu, berlanjut banyak siren yang mati di hari berikutnya. Kaum serigala kian beringas, mereka semakin haus. Bahkan serbuk damai pembawa kebahagiaan yang ditebarkan peri ratu tiada guna lagi. Semuanya tergelapkan oleh ketamakan serta obsesi. Malam itu, hubungan antarkaum terpecah belah.
Peri ratu mengeluarkan titah tentang larangan perburuan. Sudah terlalu banyak korban menyebabkan krisis kehidupan. Namun, kaum serigala tidak mengindahkan titah itu, mereka malah melakukan pemberontakan untuk menyingkirkan peri ratu yang menyebabkannya terbunuh. Kaum serigala mengambil alih sebagai pemimpin negeri. Raja serigala membebaskan kaumnya berburu darah dan daging siren. Selain itu juga, mereka kerap bertindak semena-mena, membuat makhluk lain di ambang keterpurukan. Karena tidak ada pilihan lain, makhluk lain terpaksa melakukan tindakan kejahatan untuk bertahan hidup.
Kaum siren hampir punah. Kematian saudara mereka, membangkitkan amarah luar biasa. Seketika kaum siren berlomba menenggelamkan manusia serigala ke lautan. Nyanyian yang biasanya mereka lantunkan sebagai sesuatu yang menyenangkan, kini, mereka lapalkan dengan kutukan mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. Nyanyian itu menjadikan para pemuda dimabuk cinta hingga rela mati untuk mereka. Kutukan itu menjadi kebiasaan tanpa pandang bulu.
Seketika Paraxenos Cosmos dipenuhi banyak dosa. Semua makhluk terlibat menjadi pendosa, tiada lagi negeri yang tentram dan aman. Para dewa dan dewi menjadi resah. Dosa yang begitu banyak, berdampak kerusakan alam dan kehidupan. Zeus turun tangan untuk memberi pelajaran. Maka dari itu, dia mendatangkan sebuah bencana pada alam semesta, sebagai timbal balik bagi makhluk pendosa. Tujuannya adalah mensucikan alam kembali dari kekotoran dunia.
~~~
Gadis itu bersimpuh, melontarkan keinginannya, “Aku mencintainya, aku mengabdi pada pria itu. Terimalah permohonanku, Hopis.”
Saat ini, dirinya berhadapan dengan pohon sakral, di hutan Paramosdis. Para makhluk menyebutnya Hopis, atau pohon harapan. Pohon ajaib, yang mengabulkan satu keinginan bagi setiap makhluk. Hopis sangat dicintai oleh penghuni. Tidak ada yang bisa menghancurkan pohon itu, termasuk para dewa dan dewi sekalipun. Hopis berdaun biru dan lebat. Bahkan bersinar di tengah kegelapan. Konon pohon sakral itu adalah jelmaan dewi.
Di saat bencana menghantam Paraxenos Cosmos dan menghancurkan permukiman sekaligus banyak memakan korban jiwa, Hopis adalah salah satu dari harapan mereka yang tersisa. Dan gadis itu, telah menggunakan harapan satu-satu miliknya, untuk seorang pemuda yang dia cintai. Galatea tidak pernah melupakan Netra biru laut, yang telah menolongnya kala itu.
Galatea tidak pernah menaruh hati pada pria mana pun, hal keji yang kaumnya terima, membuatnya tidak percaya akan cinta. Namun, sungguh pemuda itu berbeda dan mencuri hatinya. Bukan membunuhnya, tetapi malah menyelamatkan hidupnya. Kali ini dia membiarkan diri terlena pada perasaan itu. gadis itu mengelus perutnya yang masih rata, di dalamnya dia merasakan, telah tertanam benih cinta miliknya dan pemuda itu.
“Di sini kau rupanya.”
Suara berat itu cukup mengejutkan, membuat gadis berambut pirang itu menoleh.
“Tuan?”
Pemuda itu merengkuh tubuhnya dengan erat, “Aku merindukanmu. Tapi sekarang, kau harus segera kembali ke laut,” ujarnya dengan nada rendah.
Galatea terkekeh menanggapinya. Gadis itu tidak mengerti bagaimana bisa semudah itu dirinya jatuh hati, padahal ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya, dia justru ketakutan. Mereka bukan dari kaum yang sama, pemuda itu hanyalah seorang manusia yang terlahir tanpa kekuatan. Sedangkan dirinya adalah siren, manusia setengah ikan. Namun yang pasti, pemuda itu tidak sama seperti makhluk keji yang dijumpainya. Setidaknya biarkan alam menjadi saksi percintaan mereka. Keduanya hanya ingin bahagia. Dalam kacaunya dunia, dalam kegelapan, mereka berdua saling mencintai.
~~~
Ada satu hal berbeda tanpa disadari. Sejak bencana melanda negeri, alam tidak pernah menggelap. Bahkan langit berhiaskan sandekala sebagai pengganti hari. Mendadak tiada malam. Hades, sang dewa alam bawah menyadari. Erebus, dewa kegelapan menghilang dan tidak menjalankan tugasnya. Akibatnya, bumi menjadi terang tanpa kegelapan. Karenanya, dia memanggil Apollo untuk melihat apa yang terjadi. Mengetahui apa yang dilakukan oleh Erebus, membuat Hades murka, karena dianggap tidak berdedikasi untuk alam.
Maka dari itu, dia mengadakan pertemuan dewan langit. Hades melaporkan hal ini pada Zeus, sang tertua. Tentu Zeus marah, karena apa yang dilakukan oleh Erebus adalah kesalahan fatal.
Erebus adalah bagian dari semesta, kodratnya adalah kegelapan, apa yang dilakukannya sekarang adalah melanggar kodrat itu. Erebus berkhianat, karena telah mengubah jati dirinya sebagai kegelapan menjadi manusia yang mencintai makhluk pendosa. Terlebih berhubungan badan dan menanam benih pada makhluk itu, adalah dosa bagi dewa kegelapan. Gadis itu adalah penggoda, yang tak lain adalah makhluk pendosa.
~~~
Galatea mendekap tubuh kaku itu putus asa. Pria yang dicintainya terbujur kaku. Bahkan dia rela menangis untuknya, menumpahkan air mata penyembuh untuk dewa kegelapan. Mirisnya tanpa mengetahui kebenaran itu. Selang beberapa saat, luka-luka di tubuh Erebus menghilang. Perlahan mata yang tertutup itu kembali terbuka, Erebus bugar seperti sedia kala.
Namun di saat itu pula, Erebus merasakan tubuhnya hilang kendali. Tatapan nanar pria itu seakan tidak dapat mencegah tindakan yang dilakukannya. Sekeras apa pun dia berteriak, Erebus tidak dapat menghentikan dirinya menancapkan belati ke dada gadis itu. Belati jahanam itu merenggut cintanya dan kelak anak mereka. Lidahnya terlalu kelu untuk menyampaikan kebenarannya kepada gadis itu, dirinya terlambat.
Dirinya terpaksa menorehkan pengkhianatan di kala tubuh dan pikirannya tidak selaras. Apa pun usahanya agar dapat bersama gadis itu, nampaknya alam tak akan sudi merestui hubungan mereka. Dan sepertinya lebih baik begitu, kelak anak yang lahir dari hubungan terlarang akan menghadirkan dosa baru dan menambah kegelapan dunia. Erebus yang putus asa memutuskan mengakhiri hidupnya menggunakan belati itu juga.
Kemudian, kematian menjadikannya kegelapan kembali. Hanya saja, Zeus menghapus memori Erebus akan kenangan tentang gadis pendosa, dan membuatnya menjadi tidak berperasaan. Zeus membuat Erebus seakan terlahir kembali. Hanya alam dan para dewa yang tahu tentang kenangan menyakitkan itu. Semuanya disimpan rapat, seakan tidak pernah terjadi sama sekali. Hari gelap sebagai pengganti senja kembali hadir mewarnai alam.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 22 Desember 2024.
Tentang Cerpenis
Mutiara Fahira
Perempuan kelahiran Palembang, 11 Januari 2002. Menulis sebagai media mood maupun healing-nya. Baginya tulisan adalah sarana untuk mengekspresikan imajinasi ke dalam sebuah karya. Menonton film membantunya mengembangkan ide kreatif dalam menulis. Karyanya telah tayang dalam Cerpen Minggu, berjudul ”Bertaut di Dalam Luka” di Cerpen Sastra (2023). Beberapa buku cerpen Antologinya telah terbit,”Tempat Pulang” dan “Cermin Tanpa Bayangan,” (2023). Bisa disapa di instagramnya: @fahira0ah.
Testimoni Mutiara Fahira
“Kegelapan yang Mencintai Pendosa” adalah salah satu cerpen ‘aneh’ yang pernah saya tulis. Pada dasarnya, imajinasi gelap yang satu ini muncul di kala saya merenung. Terkadang pemikiran liar ini membantu saya menggali lebih banyak ide dan menciptakan narasi nyata ke dalam bentuk tulisan. Entah mengapa, menarik benang merah di antara beragam benang adalah sesuatu yang menyenangkan bagi saya.
Singkat cerita, setelah perjalanan dan penantian yang cukup panjang, akhirnya karya ini menemukan rumah barunya. Dan yang membuat spesial kali ini adalah karya saya berkesempatan tayang dalam sayembara cerpen Minggu, 22 Desember 2024, sebagai cerpen penutup akhir tahun.
Untuk itu saya berterima kasih pada dewan juri atas apresiasinya. Harapannya, semoga Cerpen Sastra semakin jaya, dapat dikenal lebih banyak masyarakat pencinta sastra, dan harum menebarkan berbagai kebaikan. Apalagi telah memperkenalkan para penulis serta menginspirasi mereka untuk terlibat dalam memajukan dunia sastra dan menghasilkan karya yang berkualitas.
Palembang, 24 Desember 2024.
