Hewan diberikan hak hidup yang sama seperti manusia. Manusia tidak memiliki hak untuk menghapus hak hidup yang telah Tuhan berikan kepada mereka.
…
Riuh suara hewan tak pernah absen mengganggu indra pendengaran milik Janu. Dari pagi sampai bertemu pagi lagi, suara-suara bising itu mengacau hidupnya. Jika malam terdapat jangkrik, sementara saat pagi menjelang kicauan burung menyambut. Untuk sebagian besar orang suara alam adalah suara yang paling menenangkan. Namun, untuk sebagian kecil orang seperti Janu, suara-suara hewan hanya hama yang mengganggu aktivitas.
Belum lagi jika seekor kucing datang untuk meminta makan. Tak jarang Janu menendang dan memukul para kucing tersebut ketika hendak masuk ke dalam rumah. Seperti pagi ini, Janu sengaja menyiram air panas bekas merebus sayur kepada seekor kucing yang sedang mengeong di teras rumah. Kucing tersebut terperanjat, lalu kabur dari rumah Janu.
“Enak sekali hidupnya! Pagi-pagi datang ke rumah orang dan meminta makan, dipikir cari uang gampang?” oceh Janu.
Janu kembali masuk ke dalam. Rasa sedih selalu datang tiap kali kakinya menapak di lantai rumah. Malas memikirkan hal itu, lantas Janu segera bersiap untuk pergi bekerja ke kantor.
Janu pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda motor yang baru dibelinya beberapa minggu lalu. Karena terburu-buru, Janu tak sengaja menabrak seekor tupai yang sedang membawa beberapa makanan saat sedang melintasi perkampungan. Janu tidak berhenti, ia bahkan dengan tega melindas tupai tersebut hingga hancur alih-alih menepikan jasad tupai itu di pinggir jalan.
Janu tak peduli dengan apa yang terjadi pada tupai dan kucing yang telah ia siksa pagi ini. Toh, hanya hewan, begitu pikir Janu. Hingga tiba di kantor, Janu langsung masuk dan bekerja seperti biasa. Sudah lama Janu bekerja di kantor ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sembari menabung untuk membangun masa depan.
Saat sedang asyik bekerja, meja kerja Janu pun digebrak secara tiba-tiba oleh sang pemilik perusahaan. Janu dipecat karena sebuah kesalahan yang tidak Janu sadari. Janu sudah tanpa sengaja membocorkan rahasia kantor. Janu mengelak, karena ia tidak pernah merasa melakukan hal buruk itu.
“Saya difitnah, Pak! Saya tidak pernah membocorkan rahasia kantor!”
“Semua bukti mengarah kepada Anda! Silakan kemasi barang Anda, atau saya laporkan Anda ke pihak berwajib!”
Janu pasrah, hari ini adalah hari sial dalam hidupnya. Janu rasa dirinya memang difitnah oleh orang yang tidak suka padanya. Tidak ada yang bisa Janu lakukan sekarang selain menurut dan mencoba melamar pekerjaan ke perusahaan lain.
Janu pulang dengan perasaan gundah gulana. Hari sudah senja, tetapi lamarannya belum ada yang diterima. Janu melangkah gontai masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Besok pagi ia akan kembali melamar pekerjaan.
Baru saja matanya hendak terpejam, Janu merasa ada sesuatu yang menggeliat di kakinya. Janu terperanjat saat menemukan keberadaan seekor tikus tengah menggigiti selimutnya. Dengan amarah yang memuncak, Janu pun mengambil tikus tersebut dan pergi ke dapur. Janu merebus air hingga mendidih, kemudian memasukkan hewan pengerat tadi ke dalamnya. Janu menutup panci tersebut dengan rapat agar tikus itu tidak bisa keluar.
“Sepertinya hari ini adalah hari tersial di sepanjang hidupku!” umpat Janu sembari mendengarkan cicitan tikus yang tengah tersiksa di kubangan air mendidih.
Setelah hari itu, lamaran Janu selalu ditolak oleh perusahaan. Ini sudah hari kesepuluh, dan belum ada perusahaan yang menerimanya. Selama ini Janu bertahan hidup dengan mengandalkan uang tabungannya. Entah apa maksud Tuhan, tetapi kucing selalu datang ke rumahnya untuk meminta makan, kendati dirinya sedang menghemat pengeluaran. Makan saja hanya pakai nasi yang ditaburi sambal dan garam, tentu saja Janu tidak rela mengeluarkan uang untuk membeli makanan para hewan karnivora itu.
Janu merasa sedang berada di fase terendah dalam hidup. Tanpa sengaja pandangannya membentur seekor burung di dalam sangkar yang sedang dimandikan oleh tetangganya. Burung itu mengepakkan sayapnya, lalu makan dan minum sesuka hati. Janu miris, terselip di dalam benaknya untuk bertukar jiwa dengan burung itu.
“Enak sekali menjadi hewan. Tidak perlu bersekolah dan kerja. Hanya bermodal tubuh yang bagus, maka akan dipelihara dan dirawat dengan baik oleh manusia.”
Janu kembali masuk ke dalam rumah. Langkahnya membawanya ke dalam kamar. Janu kembali tidur, mencoba menghilang sejenak dari lelahnya dunia.
***
Janu terbangun, tetapi bukan di dalam kamar yang terakhir kali ia tempati, melainkan di pinggir jalan raya. Janu bangkit dan menoleh ke kanan kiri untuk menyadarkan bahwa ini bukanlah mimpi. Beberapa kali Janu menepuk pipinya sendiri, tetapi terasa sakit. Jelas ini bukan mimpi. Janu tidak ingat ini di mana. Namun, sebuah pemandangan mengerikan menyambutnya tepat di depan mata.
Di tengah jalan sana, terdapat seseorang yang dilindas begitu saja oleh truk besar. Darahnya menggenangi aspal, potongan tubuhnya pun terlempar ke sembarang arah. Ada yang aneh di sini, kecelakaan itu bukan kecelakaan ringan. Seharusnya orang-orang sudah berkumpul dan menyelamatkan jasad si korban. Namun, sampai saat ini bahkan tidak ada satu pun orang menghampiri korban. Pelaku yang menabrak pun seolah tak peduli. Di sisi jalan, Janu melihat banyak anak kecil menangisi si jasad. Apakah itu keluarganya?
Yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika Janu melihat seekor biawak mengendarai mobil. Terlihat lucu, bukan? Tapi tidak dengan situasinya. Janu kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru arah. Lantas ia terperanjat begitu menjumpai banyak hewan yang bertingkah layaknya manusia. Para kucing duduk berjejer di halte bus sembari membaca koran, kelinci yang berdagang, tikus masuk ke dalam kantor dengan seragam rapi, juga ada keluarga kambing yang terlihat bahagia di tengah taman seolah sedang piknik keluarga.
“Di mana manusia?” Janu bermonolog sampai akhirnya ia menemukan seseorang yang tengah diadu layaknya ayam.
Sekujur tubuh Janu merinding. Janu mulai berjalan sampai tanpa sengaja bertabrakan dengan sesosok pria asing yang tidak mengenakan pakaian.
“Hei, ke mana pakaianmu?!” pekik Janu. Orang itu tak waras, pikir Janu.
“Baju untuk apa? Makhluk Tuhan yang mengenakan baju di muka bumi ini hanyalah hewan. Manusia seperti kita tidak perlu membutuhkan baju.”
“Kau pasti manusia peliharaan. Baju yang diberikan majikanmu tampak bagus. Aku iri dengan manusia yang dipelihara. Mereka diberikan tempat tinggal, makanan, dan kasih sayang. Apa kau mau membawaku ke rumah majikanmu? Barangkali majikanmu itu mau menerimaku untuk dipelihara.”
Janu semakin pusing mendengar celotehan dari si pria.
“Kau ini bicara apa? Manusia dipelihara? Bukankah hewan yang sepatutnya dipelihara?”
Pria itu tertawa mendengar ucapan Janu seolah lelucon kecil. “Hukum dari mana itu? Mana ada hewan dipelihara manusia? Kau ini ada-ada saja.”
Tak berselang lama, pria tadi menarik tangan Janu dan membawanya berlari dari kejaran manusia lainnya. Janu masih membeku, ia membiarkan pria ini menarik tangannya. Si pria membawa Janu untuk bersembunyi di got kering, hal itu membuat Janu menggeliat geli.
“Ada apa? Mengapa kau membawaku bersembunyi di sini? Siapa orang-orang tadi?”
“Diam … orang-orang itu ingin memangsa kita.”
Sontak Janu menutup mulutnya. Terkejut dengan ucapan si pria. “Mereka kanibal?! Laporkan saja ke badan hukum!”
Alih-alih setuju, si pria justru tampak bingung.
“Kau ini sebenarnya berasal dari mana? Apakah di duniamu manusia seperti hewan yang berkuasa? Tidak ada hukum yang berlaku di antara manusia seperti kita. Yang ada hanya hukum makan atau dimakan.”
Sudah tiga hari Janu menjalani kehidupan layaknya hewan. Sepertinya ini merupakan hukuman dari Tuhan karena dirinya sering menyiksa hewan. Janu berlutut, lalu memanjatkan doa kepada Tuhan. Ia meminta untuk dikembalikan ke dunia asalnya. Tak lama dari itu, Janu teringat akan tabiat kucing yang selalu meminta makan kepada manusia. Janu lapar, ia harus makan. Mau tidak mau dirinya mengunjungi sebuah rumah besar yang terletak di pinggir jalan.
Janu berteriak memanggil sang penghuni. Namun, yang datang adalah kucing yang saat itu Janu siram air panas. Alih-alih diberi makan, kucing tersebut justru menyiram Janu dengan air panas seperti apa yang dilakukannya dahulu. Janu menjerit, lalu kabur dari sana. Kulitnya melepuh dan terbakar. Sakit sekali, padahal ia hanya meminta sedikit makanan.
***
Janu terbangun dari tidur panjangnya. Ia menangis keras ketika mengingat mimpi seramnya. Mungkin selama ini ia sudah terlalu jahat kepada hewan. Ia menyiksa hewan tanpa peduli bahwa hewan pun memiliki hak hidup yang sama layaknya manusia. Untung saja ia belum sempat direbus hidup-hidup seperti tikus yang pernah ia rebus beberapa waktu lalu.(*)
Tanggal tayang:
Minggu, 14 April 2024
Tentang Cerpenis
Zahra Rizki Amalia
Lebih dikenal dengan Zara. Merupakan seorang penulis yang baru menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Karyanya banyak dimuat di platform online, seperti, Wattpad dan Noveltoon. Penulis telah menghasilkan sebuah karya tamat bertema zombie di aplikasi Noveltoon dengan id: Zahra Rizki Amalia. Karyanya juga bisa dijumpai pada aplikasi Wattpad dengan akun ZahraAra041. Yuk, kenali penulis pemula ini lebih dalam di akun Instagram pandaraz_wp, juga di zahraara441@gmail.com.
Testimoni Zahra Rizki Amalia
Lapak bagi penulis dengan komitmen yang mampu menghargai para penulis tidak banyak, namun ada beberapa komunitas penulis yang memberikan ruang bagi para penulis untuk mencurahkan segala idenya sebagai bentuk penghargaan. Salah satunya adalah cerpen sastra.
Dengan mengikuti sayembara cerpen sastra, saya banyak mendapat pelajaran. Nominasi yang ditentukan oleh komunitas cerpen sastra ini sangat menjunjung tinggi kualitas karya, bukan hanya sekedar cerita yang bagus. Saya sangat puas dengan aspek penilaian oleh komunitas cerpen sastra ini.
Saya harap, dengan adanya perlombaan seperti ini akan menggugah minat literasi para anak muda, sehingga mampu menghasilkan karya-karya berkualitas yang mampu bersaing di dunia.
