Cerpen Sastra

Jantung Sang Perempuan (Cerpen Nie)

Ancaman-ancaman ayah menusuk tubuhku, dibantu hempasan dingin angin malam. Kertas papirus yang begitu kasar seolah mengungkapkan hatinya. Jauh berbeda ketika aku masih belia. Andai ayah tak berubah, aku juga tak akan berubah.
***
‘Kalau kau tak pulang, ibumu akan mati.’

Gelegak panas merangsang bibirku untuk menariknya satu sudut. Ayah bodoh. Memang sejak kapan ibu hidup? Aku yakin ia sudah mati sejak bertemu ayah. Namun, alih-alih kepalaku penuh dengan kata-kata menjijikkan yang tersimpan selama ini demi menjaga kehormatan, rupanya mendung menyelimuti separuh hatiku. Apa aku harus merelakan dua tahun kebebasan dan pulang bersama kekalahan? Akan tetapi, ibu tak pantas dengan kematian itu.

Bayangan segar hutan hijau yang malam harinya dipenuhi gonggongan ketika dua tahun lalu itu menguasai mataku. Semenjak ibu melanggar aturan dengan membanting rahasia apa yang akan terjadi kepadaku di usia tujuh belas, aku mulai menjadi gadis bodoh. Serupa ayah. Tak disukainya. Seseorang tidak suka orang yang mirip dirinya, ketika ia tak sadar.

Cukup buram ketika bagaimana aku berhasil keluar dari padat kaum itu, agaknya aku dirumorkan telah diculik makhluk besar dengan dua tanduk, berambut panjang, wajah gelap pekat yang memangsa perempuan dari anak-anak hingga remaja awal. Sayangnya apa yang mereka sebut cerita rakyat itu, hanya dongeng khayalan semata. Sebuah bangunan kayu dengan atap jerami muncul setelah sekian langkah. Di dalamnya aku menemukan banyak perempuan, bahkan temanku yang beberapa waktu lalu diculik masih tersenyum lebar. Seorang nenek tua muncul. Seluruh yang tampak begitu putih. Matanya memicing.

“Apa kau kabur dari kaummu?”

Sial.  

“Apa Anda akan memberitahu mereka?”

Ia menatap dengan pelbagai maksud yang tak bisa kupilih.
“Itu keputusanmu. Aku tak berkehendak. Ada imbalan pada setiap yang kau kerjakan.”

Rupanya ini yang dimaksud perempuan tua itu. Aku memosisikan tubuh dengan merebah, menjadikan tangan sebagai bantal yang bersentuhan tanpa ampun dengan tanah.
***

Aku tak tahu kitab suci mana yang dianut kaumku. Atau agama, atau tuhan. Katanya peninggalan leluhur mengatur seluk-beluk hingga perilaku hina yang dosa, keturunan kepala desa menjadi nabinya. Orang-orang beriman karena dosis yang tinggi telah dicekokkan. Namun, kala mendengar rahasia itu dari ibu, aku yakin gejolak itu tak bisa dikendalikan leluhur. Dan keyakinan itu membumbung; bukan hanya aku yang merasa ajaran itu sesat. Aku yakin ibu juga menyalahinya.

“Tidak, Nak. Itulah yang terbaik untuk kita. Kita mungkin terlihat menderita, tetapi itu membuktikan iman kita sekuat baja.” Bahuku melemas dalam sentuhannya.

“Lantas, kenapa ibu membeberkan rahasia ini sebelum waktunya?” Di sini terlihat pikiran ibu membeku dan selanjutnya beterbangan.

“Ibu memberiku harapan agar bisa memikirkan cara untuk menghindar. Artinya, aku melanggar dan jadi pendosa?”

Ia masih diam. Tubuh kurusnya terbungkus kain hitam, ditenun padat, ubun kepalanya tertutup, menyisakan sedikit ruang rambut untuk nampak. Sedikit lengan dan kakinya setulang kering terlihat. Aku baru menelitinya, seketika sadar semua ibu di sini berpakaian demikian. Terbatas. Tidak bebas. Dan aku tenggelam dalam rasa bersalah atas pertanyaanku.

“Apa kau akan memakan jantungku?” Kepala yang panas sebab banyaknya kaset berputar, sadar tak sadar membuat bola matanya lurus kepadaku.

Ia tertawa. “Apa kau mendapat asuhan orang gila setelah kabur, Leyli?” Ekor mataku mengikuti sejauh mana pria ini menyentuh wajahku; dari pelipis dan berhenti di dagu. Sementara tanganku mengepal erat. Aku datang tergopoh ke belakang rumah usai memutuskan untuk kembali, tepat ketika wajah ibu ditenggelamkan paksa ke dalam kolam yang penuh air hujan semalam.

“Aku sudah kembali! Apa kau puas?” Segera aku menarik ibu yang tak berdaya. Tangan pria itu melayang pada pipiku. Membakarnya.

“Beruntunglah kau hanya perlu jantung untuk menghindari neraka!” Ayah beranjak dengan meninggalkan darah di sela-sela jemarinya. Tak tampak. Hanya aku yang bisa melihatnya.

Sesuai apa yang ibu katakan dua tahun lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang ayahnya telah melakukan perjanjian sejak kami berdua masih belia. Begitulah penduduk di sini memanjangkan peradaban mereka.

“Leyli, apa yang kau pikirkan?” Suaranya membuat dadaku sesak lagi. Kembali kutatap matanya dengan berani, meski kuda-kuda air mataku hampir goyah. “Aku sedang berpikir … betapa anehnya lelaki dalam kaum kita.“

Mungkin, aku bisa sedikit berharap. Pada Tuhan yang lain, yang tak kutahu namanya. Mungkin saja ada keadilan. Atau setidaknya, tidak semua pria diciptakan dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar api. Mungkin saja ia diciptakan dari tanah yang bisa memadamkan api. Aku tersenyum getir.

“Apa maksudmu?” 

“Maksudku … para lelaki bekerja, di luar. Dan para perempuan berada di dalam rumah dengan anak-anaknya. Perempuan itu … haruslah tak dikekang sehingga … pikirannya bisa leluasa mendidik dan mengajar anak-anaknya. Semua itu didapat dari … kenyamanan.”

Tanganku menyentuh depan jantungku sendiri pada kata terakhir. Ia melangkah maju, lantas terkekeh.

“Jadi, kau ingin aku menikah lagi supaya kau memiliki teman dan tak kesepian?” Sejenak aku membatu. Tak hentinya bibirku tersenyum lebar.

“Apa kau berniat menjadi serupa ayahmu?” Sebelah alisku terangkat. Dia lebih menjijikkan daripada burung yang mati tercabik-cabik.
***

Aku memekik kecil ketika dahan dan duri-duri berusaha menghalangi jalan; menggores kakiku yang tertutup sejuntai gaun hitam dengan sulaman emas yang memanjang. Sebuah gaun yang selalu diagungkan oleh para wanita kaumku.

Semburat matahari belum muncul, mega mendung menutup langit. Aku menoleh ke belakang dengan napas tersengal-sengal, mencoba mulai berlari kembali dengan sebilah belati di tanganku. Persiapan pernikahan digelar pagi hingga siang hari. Menuju sore pestanya baru dimulai. Ruangan tempatku menunggu sejak hari ini selalu penuh dengan wanita. Sesak sekali sampai pintu rumah depan dan belakang seakan dijaga oleh mereka. Aku juga tak berpikir menghabiskan tenaga terlalu awal. Di sisi lain, aku tak tega menghancurkan wajah bahagia ibu dan para wanita.

Hanya di hari pernikahan mereka bisa melepas penat dari ikatan rumah dengan cukup lama. Mereka seolah hidup kembali; seperti para remaja yang ikut berkumpul. Tatapan mereka seolah ‘tak ada yang memarahimu habis-habisan dan menjadikanmu kuda-kuda untuk meraih dunia akhirat’ hanya karena mereka telah mempersembahkan jantungnya. Terlihat mudah, menyenangkan, hanya perlu bertekuk lutut untuk mendapatkan segalanya. Siapa pun yang kabur dan menemukan logika baru pasti sangat disayangkan.

Tanah yang kupijak bergetar. Gemuruh tapak kuda tak ayal membuat jantungku terasa nyeri dengan denyut yang melonjak kencang. Aku berlari tergopoh-gopoh, melangkahi dahan besar dan membelah kumpulan ilalang sebetis. Berkomat-kamit tak ada ular yang bersembunyi sebelum aku sampai pada ujung tebing. Hampir seluruh pohon yang kulewati memiliki batang selebar punggung manusia besar. Ada gua yang menawarkan tempat perlindungan. Namun, tujuanku sama sekali bukan itu. Aku sudah telanjur menemukan pemikiran baru dan mengerahkan semua keberanian untuk menantang yang lama.

“Leyli!”

Aku menoleh pada pria yang haus akan jantungku. Anak panah meluncur dari busur seseorang dalam rombongan, menusuk mataku tepat ketika aku jatuh ke tebing bersama teriakan yang menggema sepenjuru hutan. Sekuat tenaga aku mencabut anak panah dengan darah yang merembes ke pipiku dengan nyeri yang hampir mati rasa. Aku yakin, orang itu bukanlah pemanah andal. Dia akan dipenggal sebentar lagi.

Sementara tanganku yang menggenggam belati masih sekuat tenaga bertahan pada dahan kering yang mencuat di pinggir tebing. Dinding batu di bawahku menonjol. Bibirku tertarik di satu sudut. Tepat setelah aku berdiri di sana, kepalaku mendongak. Pria yang akan menikahiku, bersama dengan ayah yang apinya berkobar.

Aku tersenyum, berteriak, “Adakah kau bersedia memakan jantung yang tak sempurna?”

“Berhenti, Leyli!”

Tanpa keraguan apa pun, tanganku menancapkan sebilah belati itu pada jantungku. Merembeskan gaun hitam yang agung dengan darah. Mataku berkunang melihat mereka, masih menyeret belati di jantungku. Amis darah di sela jemariku. Aku akan masuk neraka.
***

“Permisi.”
Derap langkah itu takut-takut mendekati seseorang dengan gaun putih yang duduk di bebatuan pinggir sungai.

“Saya tersesat. Apakah Anda mengetahui pos terdekat di sini?”

Pemilik gaun menoleh, mendapati seorang pria dengan pakaian yang tak pernah dilihatnya. Sebuah kain berwarna biru, bukan jubah. Dan benda besar di punggung. “Pergilah. Aku tak punya sesuatu yang bisa dinikmati lagi. Mataku rusak. Jantungku cacat.”

Rahang pria itu menegang, melihat darah merembes di bagian tengah-atas tubuh wanita itu.

“Ah, saya rasa ada cukup perban dan obat untuk menahan itu,” katanya yang gegas mengobrak-abrik benda besar yang dibawanya. Menarik perhatian sang wanita yang lantas berdiri.

Namun, kekuatan itu tak ada lagi dan dirinya jatuh ke sungai dengan tangan pria yang berusaha meraihnya.(*) 

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 27 April 2025.

Tentang Cerpenis
Nie
Senang berkelana memperkenalkan tulisannya dan begitulah dia menghidupkan hobinya. IG: @eilnsya

Testimoni Nie

“Jantung Sang Perempuan” sebenarnya terinspirasi dari ketukan nada sebuah lagu Arab, “Ashekt Rouhak” yang bersarang lumayan lama dalam kepala saya. Namun, inti dari makna keduanya berbeda, hanya satu yang sama yakni jantung perempuan. Daripada itu, saya terkesima dengan Cerpen Sastra yang tidak mengkhaskan suatu gaya dari cerpen yang diterima, sehingga sangat membuka luas gaya cerpen mana pun.

Meski awalnya saya frustrasi dengan ragu, terus membaca cerpen yang lolos dan malah mencoba menipu diri dengan menggunakan gaya cerpen yang lolos, akhirnya saya berani mengirimkan cerpen yang menunjukkan diri saya. Terima kasih Cerpen Sastra, semoga selalu menerima sastra yang seluas samudera.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *