Cerpen Sastra

Colt 1851 Navy Revolver Terkutuk (Cerpen N. Laila)

Colt 1851 Navy Revolver terkutuk yang telah lahir sebelum republik ini menetas dengan selongsong peluru logam, kini telah jatuh ke tangan dingin Adam dan hendak memuntahkan peluru dari moncong panas untuk kesekian kali. Tidak seperti rakyat rendahan yang menggigil di bawah kaki penguasa virulen, Sierra justru mengangkat dagu dengan mata menyala walau moncong buas tinggal sejengkal saja dari keningnya. 
…

Wanita itu sama sekali tidak takut dengan kematian, padahal nyawanya bergantung pada sosok lelaki yang tengah menodongkan senjata api ilegal tepat ke kepalanya. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menekan pelatuk saja, maka tamat riwayat Sierra. Kemudian, ia merogoh sesuatu dari saku, secarik potret klasik berwarna hitam putih menampilkan dua orang bocah laki-laki dan perempuan yang kira-kira diabadikan menggunakan kamera lawas dengan pixel sangat rendah. Diangkatnya tinggi-tinggi benda tersebut di hadapan Sierra.

Tak berpanjang-panjang Adam menekan pelatuk sehingga meninggalkan lubang di kepala Sierra. Tubuh sang wanita yang memang semula sudah lemah bekas pelampiasan amukan, kini ambruk dengan darah yang lesap membasahi tanah. Adam menyeringai, lantas menjilat setitik darah yang muncrat menodai revolvernya.

“Betapa harum tubuhmu,” dengkus Adam menatap lekat tubuh Sierra yang terkapar bagai jasad korban pertempuran.

Sejak memperoleh senjata itu, Adam menjadi haus darah, serampangan menuduh dan menangkap siapa saja yang tak disukainya. Makin tempo, ia percaya pistol yang direbutnya dari seorang serdadu Inggris merupakan jagapati yang telah meloloskannya berkali-kali dari kepungan musuh—atau siapa saja yang menganggapnya sebagai tawanan. Benda itu seakan-akan digdaya memberinya kuasa, keberanian, dan kupon keberuntungan yang bisa ditukar tanpa batas jatuh tempo. Tidak lama, Adam mendapat tugas baru. Ia mesti membunuh lagi.

“Belum puas kau mencicipi pria lain, ha?!” Urat-urat hijau merambat di sekitar lehernya yang tegang. “Seharusnya, sejak dulu saja kau kukirim ke rumah bordil!”

Ia pun tidak tahu mengapa kali ini istrinya sendiri yang menjadi mangsa. Namun, tentu pekerjaannyalah yang telah membutakan mata dan hati, merampas otak dari kepala seperti tubuh tanpa jiwa. Adam hilang waras. Setiap kali mendapati penghambat dalam menjalankan tugas, senjata di genggamannya seolah-olah berkata, “Demi pekerjaan, singkirkanlah segala kembang elok yang menjadi duri di jalan mulus.” Benda itu telah merenggut nyawa seseorang sebelum Sierra.

Adam adalah sebengis-bengisnya algojo macan tempur. Tidak peduli hubungan pribadi dengan sasaran, ketika tugas itu diluncurkan, maka siapa pun akan menjadi lalat yang perlu ditepuk hingga sekarat. Tidak ada kata maaf dan kalimat yang bisa mencairkan hatinya dari kebekuan. Sosok iblis sudah menyatu ke dalam tubuhnya.

Mata Adam memicing. Seluruh indra dalam tubuhnya sangat peka. Ia mampu melihat objek dengan jelas di kegelapan dan mendengar suara dari jarak ratusan meter. Penciumannya tidak kalah dengan seekor anjing pelacak. Benar saja, seorang wanita menyaksikan adegan traumatis itu ketika secara tak sengaja melintas, lalu menyembunyikan diri di balik mobil Jeep Willys dengan mulut terkunci. Tentu, saksi mata harus dihilangkan untuk menghapus jejak pelaku kriminal.

Wanita di balik mobil itu membekap mulut rapat-rapat. Keberadaannya sudah tercium oleh singa buas yang lapar. Langit tidak mendung, tetapi mengapa ada gerimis di pipinya? Ia melepas sepatu hak tingginya perlahan sambil meneguk ludah yang begitu perih di tenggorokan. Sepertinya ia harus berlari. Selamat atau tidak, setidaknya terseok sebelum mati lebih baik daripada terbujur tanpa perjuangan.

Ujung gaun merah selututnya ia remas, bersiap melarikan diri walau tidak tahu harus mengambil arah yang mana. Tempat itu bagaikan ladang ranjau, hidup atau mati bergantung kepada keberuntungan. Langkah yang diambil tidak ubahnya seperti bermain di papan ular tangga, jumlah mata dadu menentukan ia terus berjalan, atau justru terpatuk ular.

Sementara, Adam berjalan mendekat dengan senyum khasnya yang gila. Tidak ada yang bisa selamat ketika pria itu sudah melemparkan senyum maut kepada buruannya. Ketukan sepatu hitam di jalan lengang begitu menyengkak. Kesempatan selamat bagi sang wanita terus menyusut laiknya jam pasir yang bergerak.

Bunyi tembakan menggema di udara. Adam baru saja memberi peringatan halus kepada mangsanya agar segera melarikan diri. Ia tidak menyukai seekor kelinci yang mudah ditangkap. Bukankah sebuah pemburuan dikatakan seru karena tingkat kesulitannya dalam menangkap objek buruan? Begitulah, Adam senang melihat penderitaan dan jeritan nikmat para korban. Ia tidak akan berhenti sebelum merasa bosan bermain dengan tikus tangkapannya.

Wanita itu pontang-panting menjinjing sepatu dan tas sebahu dengan kaki telanjang. Pukul dua pagi, tak siapa pun berani berkeliaran selain wanita-wanita yang baru keluar dari klub hiburan malam untuk bergegas pulang. Ia tak terlalu memikirkan kondisi dirinya beberapa menit ke depan; masih menjadi seonggok manusia yang utuh, atau seekor kecoak malang di pinggir jalan. Dunia yang kejam lebih dulu mereguk seleranya untuk hidup.

Wanita itu terpojok. Ia bahkan tidak tahu arah karena baru saja pindah sebulan lalu dari luar kota. Bodohnya, ia malah memasuki jalan kecil yang buntu. Ia pasrah. Jika memang jalan cerita hidupnya akan berakhir di sini saja, ia berharap agar Tuhan menciptakan bab-bab indah untuk kehidupan selanjutnya. Sang wanita merasakan gelombang ketakutan yang meningkat dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tu-tuan, tolong lepaskan aku …. Aku tidak akan memberitahu sia—“

Dor!
“Harga yang pantas untuk wanita berisik.”

Seperti pisau untuk memotong, takdirnya adalah melontarkan pelor dari selongsong. Entah sudah berapa nyawa yang hilang di tangan Adam, andai kata pernah mendengar; korupsi adalah oli pembangunan, maka membunuh merupakan pelumas senjata. Ketika kembali, Adam tak mendapati tubuh istrinya, melainkan hanya tersisa genangan darah yang menyala di bawah lampu penerangan jalan. Pria dingin yang beringas seketika jiwanya terbakar. Ke mana hilangnya jasad Sierra?

“Mengapa kaubunuh jika masih butuh?”

Adam lebih dulu menyadari kehadiran Almer di belakangnya sebelum pria tersebut bersuara. Namun ajaib, kali ini tembakannya meleset. Sepertinya Almer adalah lawan yang sepadan untuk manusia berdarah dingin seperti Adam. Keduanya akan mendapat skor seri jika diadukan di ring pertandingan. Kemampuan keduanya sama rata, atau barangkali lebih tinggi Almer sebagai mantan anggota militer.

Pertarungan sengit pun dimulai. Pada dini hari, mereka layaknya dua ekor ayam jantan yang tengah beradu kekuatan, memperebutkan kekuasaan sebelum matahari menyembul dari ufuk timur. Sementara di lain waktu, tetesan darah Sierra meninggalkan jejak membentuk garis jalan dan berakhir ketika sebuah mobil membawanya pergi dari tempat kejadian perkara—kaki tangan Almer.

Perkara siapa yang kalah dan menang di medan pertempuran dini hari, keduanya sama-sama keok hingga pagi. Adam babak belur seperti samsak rusak yang dihantam habis-habisan tanpa ampun. Keterampilan bela diri Almer tidak perlu diragukan lagi. Ia tidak pernah tumbang diserang seribu musuh sekalipun. Namun, pakaiannya compang-camping bekas serangan peluru yang melesat melewati lengan dan bahu, nyaris saja melukai jantung.

“Aku sudah lama menganggapmu musuh sejak pistol itu jatuh ke tangan orang yang salah!”

Mendengar itu, kepala Adam makin mendidih dan panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Begitu pun Almer, ia tak sabar ingin merampas benda yang telah membuat benih kebuasan tumbuh mengakar di dalam jiwa saudaranya. Sampai sebuah tendangan dahsyat memelantingkan tubuh Adam hingga membuatnya kaku selama sejenak.

Tulang-tulang punggung pria itu berkeretek riuh bagai diremukkan secara serentak. Adam mendadak lumpuh menyeret kakinya untuk menggapai senjata andalan yang tergeletak di muka jalan. Tanpa revolver itu, ia seperti kehilangan nyawa. Nyalinya ciut kecolongan senjata. Dampal sepatu Almer lebih dulu memisahkan selongsong dari tuannya.

“Aku tidak akan menghabisimu, hanya menyingkirkan benda terkutuk ini saja. Bagaimanapun, kita adalah saudara kandung yang dilahirkan dari rahim yang sama,” ujar Almer.
***

Sebuah Colt Revolver dikuburkan bersama tubuh sang wanita sehingga kelak tidak akan ada lagi serigala buas selanjutnya setelah Adam—itu akan menjadi senjata tak bertuah. Tidak terhitung berapa kali pistol itu berganti kepemilikan, jatuh dari tangan ke tangan orang-orang yang lemah, lalu mengubah ayam pecundang menjadi elang pemberani.

Adam bukanlah seorang pembunuh bayaran, tetapi pistol itu telah mengendalikan pikiran dan jiwanya sehingga ia merasa demikian. Tidak ada yang memberinya tugas. Benda itu bagaikan seorang dalang dan ia adalah boneka wayang yang dimainkan.

Adam bahkan pernah berpesan kepada adiknya saat memegang penuh kesadaran sebelum kembali dikuasai pistol terkutuk itu. “Bila suatu waktu pistol ini jatuh ke tanganmu, kuburlah ia di ruang tersunyi dari bisikan hati yang gelap.” (*)

Bogor, 28 Juli 2023

Tanggal tayang:
Minggu, 30 Juli 2023

Cerpenis

N. Laila
Seorang guru, novelis, cerpenis, dan penyair. Mulai menulis sejak usia 13 tahun. Karya-karyanya: Skizofrenia, Gadis Peraih Mimpi, Suami Nyebelin, CEO Nyebelin, (bukan) Laila Majnun, Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino, dan The Journey of a Governor Princess. IG: @lolliliaa_18. 

Testimoni N. Laila
Selasa, 1 Agustus 2023

Untuk pertama kalinya saya tampil sebagai pemenang Sayembara Cerpen Minggu @cerpen_sastra setelah berkali-kali mengalami kegagalan. Terhitung enam judul cerpen yang telah saya kirim periode Maret-Juli dan cerpen ketujuh inilah yang menjadi pemenang dengan judul “Colt 1851 Navy Revolver Terkutuk”.

Ketika gagal, saya tidak menyerah, tetapi coba lagi, lagi, dan lagi. Sampai akhirnya, saya memahami kriteria cerpen pilihan Juri berdasarkan naskah-naskah yang pernah tayang. @cerpen_sastra memilih tulisan berkualitas tinggi dengan mengutamakan keorisinalan karya. Hanya di sini penilaian super ketat, tetapi temponya singkat.

Dengan adanya Sayembara Cerpen Minggu, saya makin semangat berkarya dan merasa “tertantang” bersaing bersama penulis-penulis hebat Nusantara. Indonesia berada di urutan kedua dari bawah soal literasi dunia dan sastra cetak mulai menampakkan tanda-tanda kejenuhan. Maka, sayembara ini bagaikan benteng yang melindungi sastra Indonesia dari arus kejam globalisasi agar tetap lestari. Mari mengejar prestasi dengan tetap menjunjung etika berliterasi.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *