Cerpen Sastra

Hitam, Putih, dan Abu-Abu (Cerpen Imas Hanifah N.)

Tepat setelah memasuki usia akil balig, aku dikejutkan oleh kedatangan mereka. Mereka yang mengaku sebagai Hitam, Putih, dan Abu-Abu. Ketiganya itu selalu menjelma sosok-sosok dengan warna serupa nama-nama yang mereka punya. Hitam yang berwarna hitam, tapi tetap terlihat karena lampu kamarku selalu cukup terang. Putih yang berwarna putih dan kalau saja ia tidak selalu berdiri di dekat lemari, maka ia akan menyatu dengan tembok kamarku yang warnanya sama. Kemudian juga Abu-Abu, yang tak pernah absen berdiri di tengah Hitam dan Putih. Mereka selalu membawa buku catatan, kecuali Abu-Abu. Aku suka kepada Hitam dan Putih karena mereka selalu mengatakan hal-hal yang pasti. Abu-abu selalu membuatku bingung.
…

Bertahun-tahun kemudian aku terus hidup bersama tiga sosok itu. Kadang aku melakukan sesuatu dan menyatu dengan salah satu dari mereka. Aku menjadi Hitam atau menjadi Putih atau menjadi Abu-Abu. Bergantian. Namun akhir-akhir ini semakin usiaku bertambah, entah mengapa aku semakin dekat saja dengan Hitam dan sering bermesraan dengan Abu-Abu. Aku sudah jarang menyatu dengan Putih. Sama seperti malam ini.

Ketika aku selesai mengirim tulisan ke sebuah media online, mereka kembali mengunjungiku. Itu sudah jadi aktivitas rutin mungkin. Seperti biasa. Putih di dekat lemari, agar tetap terlihat jelas olehku, lalu Hitam di sisi lainnya dan kemudian Abu-Abu di tengah-tengah mereka.

“Apa yang kau lakukan adalah kesalahan. Kau sudah menyakiti apa yang selama ini kamu cintai. Tarik naskahnya sekarang juga. Kalau kau tetap melakukannya, pikirkan orang-orang yang mendukungmu dengan tulus. Mereka akan sedih.”

Putih berkata begitu. Raut wajahnya yang bersih terlihat menyimpan segenap kecewa. Aku menunduk, malu. Seakan tak mampu menatap matanya yang penuh cahaya kebaikan itu. Kesejukan yang sering kulihat di matanya selalu membuatku tenang, tapi sekarang aku mungkin telah memberinya sejuta kekecewaan.

Hitam pun maju. Giliran ia yang berbicara, “Yang kau lakukan tidak benar.”
Hitam tegas dan agak menakutkan, tidak seperti Putih yang berbicara dengan penuh kelembutan.  

Keduanya menunggu. Aku berpikir. Berpikir keras. Setelah beberapa saat, Hitam dan Putih bersiap, hendak mencatat. Mereka menunggu keputusanku. Namun sebelum aku memutuskan, Abu-Abu maju.

Ia dengan percaya diri berkata, “Kamu hanya mengutip sedikit. Banyak, kok, penulis yang lebih parah dari kamu. Banyak yang jadi plagiat dan sampai sekarang mereka masih hidup. Banyak kok, di luar sana yang mengakui karya orang lain sebagai karya mereka, tapi mereka tetap hidup damai. Tidak apa-apa. Cuma sedikit, tidak masuk dosa kalau begitu. Kalau pun dosa, ya, cuma sedikit. Tidak apa-apa. Sekali-kali melakukan dosa ya, wajar. Namanya juga manusia.”

Aku mengangguk. Entah kenapa aku setuju. Benar, cuma sedikit. Aku hanya mengambil kutipan cerpen orang lain dan menambahkannya di cerpenku, lalu mengirimkannya ke media. Pasti tidak akan ketahuan. Lagi pula, cerpen yang aku kutip itu tidak terkenal, tidak banyak yang tahu. Tidak akan apa-apa. Pasti aman-aman saja. Aku mencoba menenangkan diri. Abu-Abu merangkulku dengan erat. Hitam tetap berada di tempatnya dan terlihat mencatat, sementara Putih menjauh. Aku tidak bisa melihat lagi matanya yang penuh kesejukan itu. Untuk beberapa saat, aku melebur, menyatu, bersama sang Abu-Abu.

Setelahnya, aku beranjak dan hendak tidur. Meskipun Abu-Abu sudah berusaha menenangkanku tadi, dan aku juga berkali-kali berkata kepada diriku sendiri bahwa semuanya akan aman-aman saja, tapi hatiku tak kunjung merasa tenang. Serasa ada yang mengganjal.
***

Keesokan paginya, saat aku terbangun, tetap masih ada tersisa perasaan itu. Ya, perasaan takut dan bersalah. Ah, tapi ini hidupku. Ini pilihan yang kubuat dan aku berhak untuk itu. Di dalam kehidupanku, tak hanya ada Hitam atau Putih, tapi ada juga Abu-Abu. Ia eksis seiring keberadaan diriku di dunia ini. Ia bagian dari diriku juga. Jadi, ya, tidak apa-apa untuk memilih itu.

Aku menikmati kopi sambil mendengarkan puisi yang dibacakan salah satu penyair di sebuah kanal YouTube. Mencoba rileks, tapi saat kulihat tembok kamarku, aku ingat kepada kesejukan mata Putih. Aku merindukannya, tapi ah, aku tidak bisa. Ketika aku sudah dicatat Hitam dan melebur sebagai Abu-Abu, maka Putih akan lenyap untuk beberapa waktu. Sampai aku melakukan sesuatu lagi. Begitu seterusnya.

Kulihat ke luar jendela kamarku. Ada mobil berwarna hitam, milik tetanggaku. Kemudian dari bagian belakang mobilnya, mengeluarkan asap yang cukup pekat berwarna abu-abu. Aku segera keluar dan berteriak, “Paman! Mobilmu!” 

Yang kupanggil Paman terlihat panik. Ia dan anaknya buru-buru menyelamatkan mobil mereka. Ah, ya ampun. Padahal masih pagi, tapi sudah ada kejadian yang seperti ini. Aku kemudian tersadar. Putih datang dan mencatat. Benar juga, aku baru saja melakukan kebaikan.

“Putih, tunggu. Jangan pergi dulu.”
Putih belum pergi. Ia menatapku dengan mata yang bening itu. Ia masih sama. Bersikap baik dan menenangkan.

“Kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu.”

Putih pun pergi. Aku menarik napas panjang, kuembuskan perlahan. Sementara bait-bait puisi masih terdengar, aku memeriksa kopiku yang ternyata mulai dingin. Perasaan itu perlahan pergi, namun masih tetap ada.

Aku harap-harap cemas, memikirkan apakah kiranya redaktur media online itu akan tahu bahwa aku melakukan kecurangan? Pikiran itu membuntutiku, bahkan ketika kopiku habis, ketika langkahku mulai meninggalkan kamar, rumah, pergi ke kampus, dan mengobrol bersama teman-teman.

Ketika kulihat langit, aku ingat Putih. Ketika kulihat aspal jalanan, aku ingat Hitam. Ketika kulihat temanku Fahmi merokok, asap rokoknya mengingatkanku kepada Abu-Abu. Iya, tidak apa-apa. Tenang saja, semuanya akan aman. Seolah Abu-Abu memang sudah menjadi bagian dari diriku. Hatiku kini, ikut bicara dan menenangkan, sama seperti Abu-Abu menenangkanku kemarin.

“Kau sudah kirim cerpen ke media lagi?” tanya Fahmi tiba-tiba. Aku agak kaget, padahal Fahmi sering sekali bertanya demikian.

“Ya, sudah. Tentu saja sudah.”
“Yakin akan dimuat? Aku sekarang sudah malas menulis dan kirim ke media. Memangnya mahasiswa seperti kita punya tempat? Kita belum punya gelar dan belum lulus.”

“Ya ampun, kau ini. Banyak yang tak punya gelar dan bahkan bukan mahasiswa tapi punya ruang untuk menulis dan di antaranya karya-karya mereka mampu diterima oleh masyarakat.”

Fahmi mengangguk.
“Kau bicara begitu karena karya-karyamu pernah dimuat. Apa yang sekarang akan dimuat? Maksudku, kau yakin? Sudah beberapa bulan karyamu belum ada yang lolos lagi.”

“Aku yakin kali ini akan lolos,” ucapku dengan tegas. Sedikit kesal, tapi kemudian aku sadar bahwa ternyata aku memang tak salah pilih. Aku tak salah memutuskan untuk menjadi bagian dari Abu-Abu.

Tepat ketika itu, Fahmi kembali berkata, “Tahu tidak? Aku sebenarnya pernah plagiat. Tapi, kau jangan cerita ke siapa-siapa. Ini hanya antara kita saja. Ini karena kau teman baikku. Aku memang tidak ketahuan dan karyaku itu lolos. Sekali. Tapi ketika aku mengirimkan ceritaku yang lain, yang sungguh-sungguh kubuat atas dasar pemikiranku seluruhnya, aku tidak berhasil. Berkali-kali kemudian, berwaktu-waktu kemudian, tak kunjung berhasil. Mungkin ini hukumanku. Makanya aku belum menulis lagi. Aku berencana mengaku, tapi uang hasil tulisanku sudah habis dan aku takut menanggung malu.”

Mendengar kata-kata Fahmi, aku sedikit gemetar dan buru-buru berpamitan. Semua keyakinanku semula perihal aku akan aman langsung rubuh saat itu juga.
***

Malam kembali datang. Di tengah kegelisahanku, tiga sosok itu kembali hadir. Aku menatap satu-satu dari mereka.

“Kalian, bicaralah. Aku ingin dengar pendapat kalian.”

Putih maju lebih dulu, seperti biasa. Ia kemudian berkata, “Dengarkan aku. Benar apa yang orang-orang katakan bahwa kejujuran itu mahal harganya. Karena mahal, tak banyak orang yang memilikinya. Sebagian orang tak mampu menggenggam kejujuran dan mereka merasa keberatan. Tapi aku harap kau tidak. Kuharap kau bagian dari yang tak banyak itu. Kuharap kau bagian dari orang-orang yang menggenggam kejujuran.”

Aku hampir ingin menangis, tapi aku akan tahan.
“Hitam, sekarang giliranmu.”

Hitam pun maju.
Seperti biasa pula, ia tegas menjawab, “Kebohongan adalah kesalahan. Salah tetaplah salah.”
Aku mengangguk-angguk.
“Bagaimana denganmu, Abu-Abu?”

Abu-abu datang. Ia melihatku dan berkata, “Hanya sedikit. Berbohong sedikit, tidak apa-apa. Banyak orang yang melakukannya dan mereka tetap baik-baik saja. Namanya juga manusia. Tuhan itu pemaaf. Kalau kau melakukan kesalahan, tinggal bertaubat. Jangan risau. Itu hanya kebohongan sedikit, tidak ada yang tahu bahwa kamu mengutip cerpen orang lain. Dan tidak akan ada yang tahu. Jika ketahuan, kamu tinggal minta maaf dan klarifikasi. Beres. Jangan khawatir.”

Aku terdiam cukup lama dan berpikir mana yang kali ini harus kupilih. Akan melebur menjadi apa aku kali ini. Apakah Putih, Hitam, atau Abu-Abu? (*)

Tasikmalaya, 2022
***
Tanggal tayang:
Minggu, 19 Maret 2023

Cerpenis

Imas Hanifah N.
Admin Komunitas Menulis Loker Kata. Lahir di dan tinggal di Tasikmalaya. Beberapa karyanya pernah dimuat di media cetak maupun media elektronik. Baginya, membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan. Akun FB: Imas Hanifah N dan IG: hani_hanifahn

Testimoni Imas Hanifah N.
Selasa, 21 Maret 2023

Pertama kali mengetahui tentang adanya pencarian naskah di Instagram yang tayang seminggu sekali, tentunya saya sangat antusias. Setelah saya mengirim cerpen saya, saya sempat memiliki keraguan apakah cerpen saya akan diterima dan bahkan terpilih?

Kemudian, tibalah di hari sebelum naskah terpilih dipublikasikan. Rupanya ada deretan nama yang jadi nominasi untuk kemudian nantinya dipilih sebagai cerpen yang akan ditayangkan. Dan cerpen saya ada di nominasi tersebut, bersanding dengan judul cerpen teman-teman penulis lain yang keren-keren. Sampai sekarang, masih kaget dan tidak menyangka kalau cerpen saya yang terpilih untuk tayang di hari Minggu, tanggal 19 Maret 2023.

Saat itu, saya langsung mendapat pemberitahuan lewat DM dan komunikasi dilanjutkan via WhatsApp. Setelah beberapa menit, honor cerpen saya pun langsung dikirimkan. Perlu teman-teman ketahui, mengirimkan karya ke @cerpen_sastra tidak dipungut biaya sepeser pun, alias gratis. Tidak pula ada ketentuan untuk membeli buku, karena cerpen yang terpilih akan ditayangkan di Instagram.

Selanjutnya, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada @cerpen_sastra atas apresiasinya terhadap cerpen saya. Saya berharap ke depannya, @cerpen_sastra mampu terus berkembang dan menjadi wadah para penulis untuk terus menampilkan karya terbaik mereka. Terima kasih banyak juga kepada teman-teman saya yang selalu memberikan banyak dukungan. Saya akan berupaya lebih baik lagi agar bisa terus menghasilkan karya-karya terbaik.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *