Cerpen Sastra

Buku untuk Nek Lani (Cerpen Dhea Fajrin Barkah)

Jelita mendekatkan sebuah buku ke hidungnya demi menghirup debu-debu halus dari lembar-lembar kertas yang sudah menguning. Ia bersin-bersin, tapi cepat menampik. Simpul senyum justru timbul dari balik buku yang terlihat langsung oleh seorang pedagang buku di hadapannya.
…

“Yang ini berapa, Bang?” tanya Jelita.
“Sepuluh ribu saja, Neng.”

Jelita mengaduk-aduk isi tas selempang marun dari katun, lalu mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah berwarna ungu.

“Ini, Bang. Terima kasih, ya!” dengan cepat uang itu berpindah tangan.

Tanpa menunggu balasan dari si pedagang buku yang buru-buru mengambil kantong kresek hitam, Jelita langsung melenggang pergi bersama sebuah buku di pelukan. Simpul senyumnya masih menempel di muka. Bahagia sekali ia masih bisa membawa pulang buku yang mendapat perhatian dari neneknya, Nek Lani.

Sambil menyusuri jalan besar menuju gerbang keluar pasar, Jelita melerai pelukan buku itu dari tubuhnya. Sebuah judul terbaca jelas di muka buku; Telegram karya Putu Wijaya. Buku itu diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1973. Nek Lani sudah pernah membacanya waktu masih muda. Namun, beberapa bulan lalu Nek Lani kembali tertarik untuk membeli buku itu setiap kali ia melihatnya di lapak buku bekas yang sama dengan tempat Jelita meminang buku itu barusan.

“Suatu hari nenek akan membaca buku itu lagi,” ucap Nek Lani seperti janji pada diri sendiri di depan Jelita.

Jelita memeriksa kembali jilid, sampul, lembar-lembar halaman, dan tinta tulisan yang semuanya masih dalam kondisi baik. Hanya kertasnya saja yang sudah menguning, dan itu tak jadi masalah. Paling tidak, isinya masih utuh dan ceritanya masih bisa dibaca penuh. Soal isinya itu Jelita penasaran, sedang Nek Lani pasti kegirangan.

Sebelum tiba di pertigaan dekat rumah sakit, Jelita mampir ke sebuah perpustakaan kecil di halaman rumah Tio, salah satu temannya yang juga cucu dari teman Nek Lani. Ia berniat meminjam dua buah buku terjemahan lama berjudul ‘Yargo’ karya penulis Jacqueline Susann dan ‘Lorna Doone’ karya Richard Doddridge Blackmore yang menjadi koleksi di sana.

“Itu koleksi terakhir yang sering dipinjam Nek Lani. Apa kamar Nek Lani sudah jadi perpustakaan sekarang?” tanya Tio mengajak perempuan itu bercanda.

“Kau akan terkejut saat melihatnya nanti!” balas Jelita.
Ia segera memasukkan dua buku itu ke dalam tas katun merahnya.
“Ah, andai bisa, aku pasti datang. Saat ini sampaikan saja salamku pada nenek!”

Jelita mengangguk sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya. Dari rumah Tio, ia belok ke kiri di pertigaan menuju rumah sakit.
***

Tepatnya dua bulan yang lalu, Nek Lani yang tidak sadarkan diri dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan koma. Berlapis-lapis perawatan untuk nenek dilakukan di sana. Selama dua bulan itu tidak ada perubahan yang berarti. Hidup Nek Lani hanya sepanjang selang-selang itu. Kalau dicabut, terangkat jugalah nyawanya. Orang tua Jelita sudah pasrah. Namun, sebagai satu-satunya cucu yang tinggal seatap lebih lama daripada ia tinggal seatap dengan orang tuanya, Jelita pantang mengucapkan kata pasrah.

Sejak Nek Lani tidur panjang, Jelita banyak membaca kisah orang koma yang berhasil kembali sadar. Beberapa terapi ampuh yang bisa dilakukan orang-orang terdekat mereka adalah dengan menghadirkan segala hal yang sehari-hari dekat dengan pasien seperti wewangian dari parfum favorit, suara dari musik favorit, atau sentuhan dari tangan orang-orang tersayang.

Menurut kisah orang-orang itu, meski mata para pasien koma tidak bisa terbuka, indra lainnya masih bisa merasa. Dan terapi untuk menstimulasi indra lainnya itu adalah salah satu usaha terbaik yang bisa dilakukan oleh orang terdekat di samping pengobatan medis dari dokter. Tentu Jelita lebih tahu segala sesuatu tentang Nek Lani.

Ia mulai menyemprotkan parfum mawar di setiap sudut kamar rumah sakit agar hidung Nek Lani familier dengan wangi kesukaannya. Setiap malam, Jelita memijit tangan nenek dengan minyak oles hangat yang dulu selalu diselipkan di bawah bantal oleh Nek Lani sebelum tidur.

Hal lain yang tak kalah penting dan paling disukai oleh Nek Lani adalah menghirup bau buku lama. Setiap kali Jelita dan Nek Lani belanja ke pasar, mereka pasti selalu menyempatkan diri berhenti di lapak buku bekas. Nek Lani akan mendekatkan satu buku ke hidungnya, bersin-bersin, lalu tersenyum. Jelita mungkin hanya ikut-ikutan. Namun ia tahu dengan jelas kenapa Nek Lani begitu menyukai harum buku lama dan selalu melakukan ritual itu setiap kali mendapati buku lama di tangannya.

Penjelasan dari Nek Lani masih terngiang di telinganya, “Hanya buku yang disimpan di tempat gelap dan lembab yang bisa punya harum seperti ini. Harum apak dan debu yang menyatu. Mereka mungkin rapuh, tapi mereka masih bisa bertahan selama bertahun-tahun hingga sampai di tangan nenek. Buku-buku itu telah melewati hal yang tidak mudah dilewati oleh manusia. Oleh karena itu nenek suka.”

Selepas dari pasar, Nek Lani melanjutkan perjalanannya untuk berkunjung ke perpustakaan kecil milik Tio. Nek Lani senang menghabiskan waktu sambil membaca buku di sana. Sebuah paviliun di halaman rumah yang diubah menjadi perpustakaan oleh Tio itu tidak memiliki banyak pengunjung meski terbuka untuk umum. Makanya Nek Lani bisa merasakan kesunyian di tengah buku yang ramai, dan suasana itu sangat disukainya. Meski buku yang dibaca Nek Lani kebanyakan adalah buku-buku yang sudah pernah ia baca juga, Nek Lani tidak pernah bosan.

“Setiap kali membaca ulang buku, nenek selalu merasa baru pertama kali membacanya. Selalu ada makna yang baru kita sadari saat membaca ulang sebuah buku,” ucap Nek Lani suatu hari kepada Jelita.

“Apa itu juga alasan nenek selalu membaca ulang buku-buku di perpustakaan Tio?”

“Ya. Makanya nenek senang membaca ulang sebuah cerita. Meski tahu akhirnya tetap sama, pemandangan saat menelusuri jalan ceritanya itu selalu tampak berbeda bagi nenek.”
Jelita mengangguk paham.
***

Suatu hari, saat Jelita mulai membacakan sebuah buku yang ia pinjam dari Tio untuk Nek Lani, jari telunjuk Nek Lani bergerak. Puluhan hari telah berlalu dan tiba-tiba ada harapan besar Nek Lani akan sadar.

Sejak itu Jelita jadi semakin rajin membaca buku di samping neneknya. Ia bahkan memenuhi setiap sudut kamar rumah sakit dengan buku dari perpustakaan Tio agar Nek Lani bisa merasakan kehangatan perpustakaan yang disukainya. Jelita juga membeli buku-buku lama dari lapak buku bekas di pasar untuk disimpan di kamar Nek Lani. Saat angin segar masuk ke kamar Nek Lani melalui jendela, samar-samar harum buku yang disuka Nek Lani bisa tercium. Namun tentu saja Jelita sudah lebih dulu membersihkan debu-debunya hingga hanya harum kertas yang tersisa.

“Nek, hari ini Jelita dapat Telegram, Yargo, dan Lorna Doone! Jelita ingat nenek sangat ingin membaca Telegramnya Putu Wijaya. Sementara Tio bilang nenek sering meminjam buku Yargo dan Lorna Doone di perpustakaannya. Wah, Jelita penasaran kenapa nenek menyukai buku-buku ini. Mana yang lebih dulu ingin nenek baca?” Jelita menimbang-nimbang tiga buku yang ia letakkan di atas kasur, dekat tangan Nek Lani.

“Bagaimana kalau Telegram lebih dulu? Jelita bisa membaca sampai selesai sebelum jam 9 malam.”
Hangat matahari sore menerobos masuk ke kamar rawat Nek Lani melalui dua buah jendela besar yang tirainya sengaja dibuka. Suara Jelita yang sedang membaca diiringi suara detak jantung nenek di monitor.

Harum buku-buku yang dijajarkan di atas meja dan di dekat jendela bersanding dengan harum parfum mawar kesukaan nenek. Entah berapa judul buku lagi yang akan dibacakan Jelita untuk Nek Lani sampai mata yang sudah terpejam lama itu bisa terbuka kembali. Satu yang pasti, Jelita tidak akan berhenti membaca untuk Nek Lani. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 16 April 2023

Cerpenis

Dhea Fajrin Barkah
Tinggal di Rangkasbitung, Kab. Lebak, Provinsi Banten.
Nama pena: Dhea FB
Akun IG  : @ddheafb

Testimoni Dhea Fajrin Barkah
Selasa, 18 April 2023

Kehadiran cerpen_sastra merupakan angin segar di dunia publikasi cerpen. Adanya kesempatan untuk “Bareng-Bareng Menjadi Sastrawan” tanpa memandang latar belakang — murni menilai tulisan penulis — ini mampu membuka jalan bagi siapapun untuk menyalurkan karyanya dengan percaya diri.

Setelah mengamati cerita-cerita dari para pemenang di setiap minggu, akhirnya saya merampungkan sebuah cerpen untuk diikutsertakan dalam sayembara. Buku Untuk Nek Lani pun berhasil tampil di edisi 16 April 2023. Sebuah kabar baik sekaligus suntikan semangat untuk saya pribadi karena ini adalah pengalaman pertama memenangkan sayembara cerpen.

Terima kasih untuk semua tim @cerpen_sastra yang telah memberikan kesempatan menulis bagi siapapun, terutama Pak Horas selaku pendiri cerpen_sastra ini. Niat baik akan selalu membawa berkah. Semoga panjang umur dan sukses selalu.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *