Cerpen Sastra

Api dan Ibu (Cerpen Hayadi Muna)

Masih sangat pagi, kudengar sepasang langkah kaki telah mengitari seluruh ruangan. Pelan dan tak begitu nyaring, bunyinya terdengar seperti bisikan dari lantai, begitu sunyi tetapi dapat ditangkap dengan baik. Aku kemudian membuka kedua mataku, meregangkan tubuhku, dan bangkit dari pembaringanku dengan penuh kehati-hatian. Kutengok jam pada dinding kamarku, dan setiap jarumnya memberitahuku tentang angka saat ini.
…

Pukul 04.00 jarum-jarum itu mengarah ke angka-angka itu, mereka berdua tak bergerak ke mana-mana, selain satu jarum yang terus mengelilingi setiap angka yang ada di situ. Kemudian kubuka jendela kamarku, dan udara segar langsung menyerang masuk seperti sekelompok pasukan yang menyerbu ke medan perang.

Dingin lalu menyerang kulitku, sedikit menghantam ke dagingku, dan gigil tampil di seluruh tubuhku. Tapi itu terasa menyegarkan, aku merasa seakan hidup kembali dalam sebuah hari baru dan dunia baru. Kunikmati semua kedamaian ini sebentar, lalu pergi menuju kamar mandiku untuk membersihkan wajahku.

Seusai membersihkan wajahku, aku kembali lagi ke depan jendela kamarku. Dengan  handuk yang menggantung di bahuku, aku menikmati semua kedamaian dan ketenangan pagi. Sambil berdiri di depan jendela kamarku, aku menyaksikan kebangkitan hari, melihat beberapa orang yang mulai berlalu-lalang, menyaksikan beberapa lampu mulai dipadamkan, dan mendengar beberapa nyanyian dari burung-burung yang mulai beterbangan.

Melihat beberapa daun yang sedang mengucapkan sebuah kata perpisahan kepada embun, dan menatap sekelompok anak-anak dengan sarung juga berbaju rapi bersama ayah mereka berjalan menuju ke istana kuasa. Wajah mereka penuh binar, kebahagiaan dan sayu lahir dari mata mereka, tetapi keceriaan mereka menyembunyikan semua itu. Mereka adalah sebuah kedamaian yang aman, aku jadi terhanyut akan setiap tawa bahagia yang mekar dari diri mereka. Sedikit lama aku menikmati semua keadaan itu, kemudian aku mulai lelah dan bosan akan semua hal itu.

Kuletakkan handuk yang bergantung di bahuku pada kursi di depan mejaku, lalu bergegas keluar dari kamarku untuk membuat secangkir kopi kesukaanku. Kulihat beberapa lampu di ruangan yang berada di dalam rumahku telah dipadamkan, aku lalu pergi menuju ke dapur. Sambil berjalan ke dapur, aku melihat semua lantai telah dibersihkan, barang-barang telah ditata dengan rapi, beberapa jendela telah dibuka, dan kulihat sesosok penuh keindahan telah mendiami dapur.

Tubuhnya tegap dan tangannya yang gesit, kaki-kakinya yang sibuk melangkah ke setiap sisi, dan api yang telah menyala dengan sesuatu di atasnya. Aku menghentikan langkahku sejenak dan memperhatikannya, melihatnya melakukan semua kegiatannya dengan penuh antusias. Tanpa suara atau mengeluh, ia melakukan semuanya dengan tenang seperti api yang memanaskan sesuatu yang ada di atas dirinya.

Beberapa butir keringat nampak bertengger di wajahnya, serupa butir embun yang menggantung di ujung dedaunan. Matanya sangat fokus pada apa yang ia inginkan dan kerjakan, bahkan setiap gerakannya sangat tepat pada apa yang sedang ia butuhkan. Aku hanya menatapnya tanpa mengeluarkan suara, aku tak ingin mengganggunya atau membuatnya menjadi kehilangan fokus pada apa yang ia kerjakan.

Kemudian, aku memilih untuk kembali ke kamarku lagi tanpa mengeluarkan kata untuk mengganggunya, atau mengeluarkan suara untuk membuatnya berpaling dari pekerjaannya. Kuurungkan keinginanku untuk membuat kopiku, dan memilih untuk mendiamkan diri di dalam kamarku saja. Sejenis melarikan diri dan tak ingin mengusik, kedua perasaan itu tergabung di dalam diriku, dan seperti itulah keadaanku saat ini. Kutarik kursiku ke depan jendela kamarku, kemudian duduk dan menatap semua pemandangan yang sedang berlangsung di luar kamarku.

Tetapi entah kenapa, pikiranku justru tetap tenggelam pada sosok penuh keindahan yang selalu mendiami dapur itu, dengan apinya dan segala yang berada di situ. Sosok yang memiliki sihir paling mutakhir untuk setiap makanannya, dan paling ampuh ketika meracik setiap bumbu yang paling diinginkan oleh lidahku dan ayahku. Aku tenggelam ke dalam semua itu, ketika mentari sedang pelan-pelan memperlihatkan kemunculan dirinya.

Aku semakin terhanyut dalam dudukku, sambil merasakan udara segar yang masuk ke paru-paruku, dan menyaksikan para tumbuhan yang sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk memasak makanan mereka. Tenang dengan semua gelombang damai di dalam kepalaku, seperti sosok indah yang sedang sibuk tapi tak tegang di dapur.

Aku merasa sedang ingin menjadi sepertinya, yang mampu melakukan semua itu tanpa mengeluh, atau marah ketika api sedikit menyengat kulitnya. Tetapi aku sedikit yakin, ia pasti cukup lelah tapi ia menyembunyikannya. Ia paling lihai dalam menyimpan luka dan kalah, menyerah dan lelah, bahkan sampai pada semua marah. Ia paling lihai melakukan semua itu, serupa tanah yang selalu menyimpan tangisnya ketika dihantam butir hujan atau langkah kaki.

Aku tahu ia paling lihai melakukan semua itu, tetapi ia tak begitu cerdas dalam menyembunyikannya dengan baik. Ia tak begitu cerdas melakukan itu, karena aku sering menemukannya; aku sering melihatnya nampak dari beberapa keriput di wajahnya, dan aku sering menemukannya dalam setiap senyum damainya. Aku sering melihatnya dari semua itu, hanya saja ia tak pernah sekalipun mewujudkan semua hal itu dalam suara dan kata. Karena mungkin semua hal itu tak cukup hebat untuk mengalahkan dirinya.

Ia mampu mengendalikannya dan mengalahkan mereka, seperti ia menaklukkan setiap panas dari api yang sering menyengatnya. Ia terlalu hebat untuk hal-hal seperti itu, karena ia cukup kuat untuk memukul dan meredakan dalam setiap hidupnya. Seperti pagi saat ini, ia melakukannya lagi dengan penuh pesona paling sejati yang tak pernah aku temukan di mana pun.

Aku melihatnya lagi pagi ini, bagaimana ia melawan panasnya api tanpa lari dan pergi meninggalkannya. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ia memiliki rahasia tersendiri untuk melakukan itu? Karena ia terlihat biasa saja berada di hadapannya dalam waktu yang sungguh lama. Ia bahkan tak kewalahan atau menghentikannya walau wajahnya telah dihinggapi keringat dan sayu juga lelah.

Padahal sebelum ia berhadapan dengan api, ia telah mengeluarkan separuh tenaganya untuk membersihkan dan merapikan beberapa ruangan. Tetapi ia justru tak dapat dibuat kalah oleh panasnya api, ia malah sangat bersemangat dan penuh tenaga ketika menghadapinya.

Bahkan senyumnya masih mampu ia perlihatkan, walau ia sedang berada dalam sengatan panasnya api, dan siksa yang mengerikan di kulitnya. Apakah mereka berdua adalah sahabat? Pikiranku jadi sering mengeluarkan tanya seperti itu, karena ia sangat luar biasa hebatnya di depan api.

Bahkan aku telah melihatnya berkali-kali, bagaimana api tak mampu menaklukkannya dengan panas dan asapnya. Justru terkadang aku melihat api menjadi sedikit kewalahan melakukan semua itu, api terlihat begitu tersiksa dalam menyiksa sosok indah itu, karena mau seperti apa pun usahanya ia masih tetap tak mampu menumbangkan dirinya.

Dan pagi ini aku melihat kejadian itu lagi, bagaimana api disiksa olehnya, bagaimana api diperas oleh dirinya hingga panasnya dikeluarkan untuk memanaskan sesuatu yang berada di atas dirinya.

Pagi ini aku melihatnya lagi, bagaimana sosok indah itu menguras seluruh panasnya api seperti ia memeras sebuah jeruk hingga habis airnya. Ia menyiksa api lagi seperti biasanya, walau keringat menggantung di seluruh wajahnya, ia justru tak memedulikan semua itu.

Ia tetap menyulitkan api sampai panasnya mampu membuat sesuatu yang telah diletakkan di atas dirinya menjadi matang. Pertarungan yang luar biasa, dan sosok indah itu selalu keluar sebagai pemenangnya; dengan setiap masakan dan sihir pada setiap makanannya.

Ia selalu keluar sebagai pemenang antara pertarungannya dengan api, karena ia selalu melahirkan setiap santapan yang membuat lidah dan lambung tak mampu mengeluarkan kata sedikit pun. Ia selalu mampu membuat mereka terdiam dengan setiap kenikmatan yang ia lahirkan dari tiap makanannya.

Dan itu akan terjadi pada pagi ini lagi, aku yakin ia akan melakukannya lagi, setelah pertarungan antara dirinya dengan api telah ia menangkan. Aku akan menunggunya, dan tak ingin mengganggu dirinya yang sedang melakukan itu.

Aku hanya perlu duduk dan diam, sampai saat itu muncul dan membungkam segala hal pada diriku dengan setiap sihir dari makanannya. Aku sangat menantikan semua hal itu, sambil menikmati semua pemandangan yang sedang berlangsung di luar kamarku.

Melihat keramaian yang mulai terkumpul, dan menonton mentari memamerkan keindahan cahaya paginya. Dan sekaligus menjadi saksi akan semua kebangkitan juga kematian yang menandakan sebuah kepulangan dan kedatangan kembali. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 19 November 2023

Cerpenis

Hayadi Muna
Menyukai buku-buku sastra klasik. Menekuni dunia tulis-menulis hingga sekarang. Lahir di sebuah desa kecil yang terletak di provinsi Maluku, kota Ambon. Besar dan menjalani hari-hari masa kecilnya hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya di sana. Kemudian memilih untuk melanjutkan masa-masa sekolah menengah atasnya jauh dari tempat tinggalnya, berjauhan dengan kenangan masa-masa kecilnya dan kampung halamannya, lalu melanjutkan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di kota Yogyakarta sampai saat ini. Menyukai puisi dan sering menulis puisi dengan menggunakan nama pena Diseleksia. Menjadikannya sebagai sebuah hobi dan kebiasaan, yang selalu ditekuni setiap waktu. IG: @yadisiddiq2

Testimoni Hayadi Muna
Selasa, 21 November 2023

Sebenarnya, sangat menarik; yang dilakukan @cerpen_sastra sangat indah. Sayembara yang tanpa sadar lewat di beranda IG dan langsung menarik minat manusia dalam kepalaku untuk mencoba. Merasakan, kemudian mengikuti; lalu terjun bebas ke dalam kata dan lembaran dengan menuangkan amukan-amukan dan kehancuran kota dalam kepalaku ke dalam beberapa paragraf cerpen. Kemudian, kepalaku mulai tenang; sedikit damai ketika semua dituangkan dalam setiap paragraf.

Ada kedamaian, bahkan beberapa cerita yang lama tersimpan dalam buku penuh debu, kini hidup kembali. Mulai bangkit dan ingin mencicip rasanya tersalur dalam sayembara @cerpen_sastra. Yang terakhir, cukup indah; semoga @cerpen_sastra terbang melayang dan melangit dengan setiap sayembara. Beberapa semangat telah bangkit, kita menunggu mereka dibuat nampak oleh @cerpen_sastra. Selamat menulis dan berpetualangan di dalam kepala sendiri sampai terbaca.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *