George Telolet sudah mumet1 dengan tingkah Angelina Cempluk semingguan ini. Istrinya itu melakukan sekaligus meminta hal-hal aneh padanya. Dan di hari Sabtu pekan ini, George Telolet sudah kehabisan akal menghadapi tingkah istrinya.
…
Senin lalu, Angelina Cempluk yang sudah berusia tiga puluh delapan tahun minta didandani seperti Veronica Slebew, tetangganya yang masih SD. Ia minta persis seperti Veronica: pakai seragam merah putih, rambut dikuncir kanan kiri, bedak tebal di wajah, dan bekal berisi mi instan yang bentuknya sudah balok sempurna, persis seperti wadahnya. George Telolet tak serta merta menuruti keinginan istrinya. Segala penolakan telah ia lakukan. Bahkan bapak-bapak yang hobi memakai kaos dalam dan sarung itu berkali-kali menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi Angelina Cempluk, memastikan istrinya itu tak sedang demam tinggi.
“Aku ndak sedang sakit, Kangmas2.”
“Terus kenapa kamu minta didandani seperti Veronica, Diajeng3?“
“Ndak papa, Veronica Slebew itu lucu. Aku ingin seperti dia.“
Lelah berdebat dengan istrinya, George Telolet pun menuruti permintaan Angelina Cempluk. Segera ia pesankan seragam merah putih pada Hajah Kiwkiw untuk istri tercintanya.
“Istrimu itu sehat betul kan, Telolet?”
“Entahlah Bu Hajah. Daripada tantrum dia itu.”
“Cempluk … Cempluk … kok ya ada-ada saja.”
Bu Hajah Kiwkiw tertawa mendapat pesanan nyeleneh pertamanya.
…
Tak sabar menanti bajunya jadi, Angelina Cempluk sudah melakukan hal aneh lagi di keesokan harinya. Ia main lumpur. Angelina yang entah bagaimana sudah ditemani Robin Chuaks, bocah tiga tahun yang tak lain adalah keponakannya, terlihat begitu asyik bermain lumpur. Matanya berbinar-binar. Senyum di bibirnya merekah.
“Kangmas, ndak mau ikutan aku sama Robin main lumpur?” Angelina Cempluk menanyai suaminya dengan sungguh-sungguh.
“Ndak wis, Diajeng. Nanti aku dikira kerbau yang lagi berkubang di lumpur sama tetangga.”
Angelina Cempluk dan Robin Chuaks sontak tertawa mendengar jawaban George Telolet.
Sementara George Telolet hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah aneh istrinya. Ia putuskan masuk rumah untuk makan gedhang goreng4 buatan Angelina Cempluk yang masih hangat. “Setidaknya istriku masih waras, ndak lupa nyiapin makanan untukku,” gumam George Telolet menenangkan diri sendiri.
…
Seragam Angelina Cempluk sudah jadi di hari Rabu.
“Tak kebut demi bisa segera melihat istrimu pakai seragam bocah, Telolet.” Bu Hajah Kiwkiw menyerahkan bungkusan berisi seragam kepada George Telolet sambil menahan tawa.
“Mungkin istri saya itu ingin karnaval, Bu Hajah.” Mereka berdua akhirnya sama-sama tertawa. Benar saja, setelah seragam itu diterima Angelina Cempluk, ia segera mengenakannya. Tanpa dicuci. Sungguh bukan Angelina Cempluk yang biasanya. Wanita cantik itu biasanya akan ngomel apabila sang suami langsung memakai baju baru tanpa dicuci terlebih dulu. Tapi, ini Angelina Cempluk yang berbeda.
“Kangmas, aku sudah siap. Gimana? Mirip ndak sama Veronika Slebew?” Angelina Cempluk keluar kamar lengkap dengan seragam, rambut, juga kotak bekal berisi mi instan.
“Ya ampun, Diajeng! Kamu lucu sekali!” George Telolet tak mampu menyembunyikan tawanya.
Walaupun istrinya sedang melakukan hal aneh, tapi George Telolet harus mengakui bahwa Angelina Cempluk terlihat manis dan lucu. Tapi ternyata keanehan itu masih berlanjut. Angelina Cempluk minta jalan-jalan ke mal.
“Ayolah Diajeng. Dipakai di rumah saja ya seragamnya.”
“Kangmas malu punya istri seperti aku?“
Lagi-lagi, George Telolet kalah. Ia berkeliling mal sambil menahan malu. Betapa tidak, seluruh mata tertuju pada mereka berdua. “Semoga saja mereka tidak menganggapku sedang menculik bocah SD,” gumam George Telolet yang jelas tak masuk akal.
…
George Telolet bangun di hari Kamis yang cerah dengan harapan semoga istrinya normal pagi ini. Benar saja, Angelina Cempluk baik-baik saja.
“Diajeng beneran ndak sedang ingin apa-apa hari ini?”
“Ndak, Kangmas. Aku sedang tidak ingin apapun.”
“Syukurlah. Sepertinya istriku sudah benar-benar normal,” ucap George Telolet dalam hati.
Tapi, hal yang lebih tak terduga ternyata terjadi di malam hari.
“Lepaskan aku, Kangmas! Lepaskan aku!”
Angelina Cempluk terus berteriak karena seluruh tubuhnya didekap erat oleh George Telolet. Wanita cantik itu mengamuk tanpa sebab. Secara tiba-tiba. Ia berteriak hingga tak segan menjatuhkan beberapa barang yang secara asal diambilnya. Teriakan Angelina Cempluk mengundang warga untuk datang ke rumahnya. Mereka berbondong-bondong menyaksikan Angelina yang tiba-tiba berubah menjadi monster. Justin Tetot, sahabat karib George Telolet segera memberi saran.
“Bawa ke orang pintar saja, Telolet. Sudah hampir seminggu ini Angelina Cempluk bersikap aneh. Kasihan kalau dia sampai ngamuk-ngamuk begini.“
Usul Justin Tetot segera diamini warga yang lain. Malam itu juga Angelina Cempluk dibawa sang suami serta beberapa warga desa menuju ke tempat orang pintar. Dukun Sakti Mandraguna, begitu mereka memanggil orang pintar yang sedang membaca mantra entah apa itu.
“Istrimu ini pernah pergi ke suatu tempat yang mencurigakan ndak?“
“Saya baru ingat, Mbah5. Hari Minggu lalu, Angelina Cempluk healing ke tempat wisata bersama teman-temannya. Ia cerita di sana ada sungai besar yang jernih dan tenang arus airnya. Tapi saya lupa nama tempatnya.”
“Sepertinya istrimu ini ketempelan jin6 di sungai itu.”
George Telolet kaget mendengar kalimat Dukun Sakti Mandraguna itu sambil melihat istrinya yang sudah tidur pulas tak lama sebelum sampai di rumah si dukun. Sepertinya tenaga Angelina Cempluk terkuras habis seusai mengamuk.
“Ini ada air. Minumkan pada istrimu kalau dia sudah bangun.” Dukun Sakti Mandraguna itu menyerahkan sebotol air yang di dalamnya telah diisi beberapa jenis bunga.
“Baik, Mbah. Terima kasih.” George Telolet mengambil air itu sembari menyerahkan sebuah amplop berisi uang sekaligus berpamitan.
…
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi saat Angelina Cempluk terbangun dari tidurnya. Ia segera meneguk air yang diberikan suaminya. Angelina Cempluk terlihat begitu bugar setelah bangun dan minum air, seolah-olah tak terjadi apapun semalam.
“Diajeng sudah enakan?”
“Sudah, Kangmas. Saya masak dulu, ya.”
Angelina Cempluk meninggalkan George Telolet yang tengah tersenyum lega. George Telolet mulai percaya ucapan dukun yang semalam ditemuinya. Hari Jumat itu terlewati dengan begitu baik. Angelina Cempluk sudah normal kembali.
…
Teresia Acikiwir, ibu Angelina Cempluk datang berkunjung keesokan harinya. Ia datang untuk melihat kondisi sang putri.
“Angelina Cempluk ini kenapa sebenarnya, Le7?”
“Saya juga ndak tahu, Buk. Kalau kata orang pintar yang saya datangi, Angelina Cempluk ketempelan jin.”
“Tapi ibuk kok ndak percaya yo Le.”
Di tengah obrolan George Telolet dan ibu mertuanya, Angelina Cempluk datang dengan wajah sendu.
“Kangmas, aku ingin boneka barbie.”
“Apalagi ini, Diajeng.”
George Telolet yang semula bahagia karena air dukun itu manjur sontak berubah menjadi lemah lesu. Ia mulai putus asa dengan tingkah aneh istrinya. Dipandanginya wajah Angelina Cempluk yang terlihat begitu memelas, sungguh-sungguh ingin boneka barbie.
“Ibuk sekarang sudah tahu kamu ini kenapa, Nduk8. Ayo siap-siap. Semuanya ikut ibuk.“
George Telolet bingung mendengar kalimat mertuanya. Begitu pun Angelina Cempluk. Tapi tak banyak protes, mereka berdua segera mengikuti ibunya.
…
Teresia Acikiwir, George Telolet dan Angelina Cempluk telah sampai di rumah sakit. Mereka memandang plakat di depan sebuah ruangan sebelum akhirnya dipanggil masuk.
“Selamat ya, Bapak dan Ibu akan segera menjadi orang tua,” ucap dokter kandungan yang baru saja selesai memeriksa Angelina Cempluk. Alih-alih terharu, mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
“Walah … walah … rupanya kamu ngidam, Nduk!”
Teresia Acikiwir tertawa sambil mengelus perut putrinya.
“Ternyata kamu ketempelan bayi di perutmu, Diajeng. Ha… Ha… Ha….“
Dokter kandungan yang telah mengetahui duduk permasalahannya kini berpesan pada George Telolet, “Bapak harus dipertebal kesabarannya. Ngidamnya istri bapak bisa lebih aneh dari sekarang.” Mereka semua tertawa.
…
Teresia Acikiwir, George Telolet, dan Angelina Cempluk pulang dengan perasaan lega. Mereka tak henti-hentinya berterima kasih pada Tuhan. Setelah penantian 12 tahun, setelah akhirnya mereka benar-benar ikhlas dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, Tuhan titipkan malaikat kecil dalam perut Angelina Cempluk.
George Telolet memeluk erat istrinya. Ia begitu bahagia. Angelina Cempluk tersenyum. Dikatakannya lirih, “Aku masih ingin dibelikan boneka barbie lho, Kangmas.” (*)
- Pusing, pening dalam bahasa Jawa.
↩︎ - Kakanda, kakak (laki-laki) dalam bahasa Jawa. ↩︎
- Panggilan untuk adik perempuan atau perempuan
yang lebih muda dalam bahasa Jawa. ↩︎ - Pisang goreng dalam bahasa Jawa. ↩︎
- Kakek, nenek dalam bahasa Jawa.
↩︎ - Kena tempel, atau tertempel makhluk halus/jin. ↩︎
- Panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa. ↩︎
- Panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa. ↩︎
Tanggal tayang:
Minggu, 15 Oktober 2023
Cerpenis
Loriza Virga Giardillah
Seorang ibu rumah tangga. Baru menerbitkan buku antologi puisinya yang berjudul “Katanya Pesta Tak Lagi” pada Juni 2023. IG: @lorizavirga
Testimoni Loriza Virga Giardillah
Selasa, 17 Oktober 2023
Menemukan akun @cerpen_sastra membuat saya jadi lebih produktif menulis cerpen. Sudah tiga cerpen selama tiga minggu berturut-turut saya buat dan kirimkan ke @cerpen_sastra. Dua sebelumnya berhasil masuk nominasi dan cerpen ketiga berhasil menjadi pemenang.
Ternyata, saya senang. Bukan hanya karena berhasil menang. Menunggu akhir pekan tiba sekarang jadi aktivitas yang saya nanti. Seolah mengingat masa jadi anak kos dulu, menunggu waktu pulang ke rumah di akhir pekan. Sekarang, menunggu cerita hebat apa dan milik siapa yang akan dimuat. Terima kasih @cerpen_sastra.
