Tanganku sedikit bergetar saat mendekat ke obor yang dibawa kakak. Antara memang ingin memegang dan takut terbakar karena tangan kakak sendiri juga gemetar. Di antara batuan karang, jasad itu tergeletak. Tengkurap dengan rambut acak-acakan penuh pasir dan memakai kemeja yang sudah mengerut dengan noda besar di area perut. Dari rambut panjang dan kemeja motif bunga itu, tentu kami mengenalinya. Terakhir aku lihat sekitar dua hari lalu saat kami menumpang mobil bak ke pusat kota.
…
Kakak membalikkan posisinya, bibir pucatnya membuatku semakin merinding. Selain karang-karang tajam, ombak besar namun tenang, dan bulan yang termakan malam, hutan yang ada di dataran belakang pantai, besar noda yang mungkin darah di bajunya… ah sudahlah, memang aku yang penakut.
“Segera panggil yang lain!”
Suara kakak sedikit tercekal. Aku pun segera berbalik arah, berlari dengan obor tadi. Sulit berlari dalam keadaan ini. Tanganku kembali gemetar, kini dengan keringat. Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang kupijak, pasir, batu, maupun tanah.
Mataku lebih fokus pada lidah obor yang ingin membakar tapi juga padam atau abu dan minyaknya yang terbawa angin ke arahku. Sedikit merutuki kakak yang mempunyai ide untuk memisahkan diri ke tempat tadi. Aku terus berlari hingga berhasil melewati sisi lain hutan. Beruntung, di sana ada beberapa bapak-bapak dan pemuda kampung yang membersamai aku dan kakak tadi.
“Nadia ketemu, Pak!“
Kerumunan itu ribut, semakin ramai saat seorang bapak dengan kumis tebal itu tiba-tiba mencengkeram bahuku. Kuat mengguncang sambil menanyai kebenaran ucapanku tadi. Aku tanpa ragu langsung menariknya untuk kembali melewati hutan untuk ke pantai tadi, namun baru setengah jalan menelusuri hutan, kami sudah bertemu kakak yang membawa Nadia. Bapak itu berlari lalu memeluk jasad putrinya.
Ditemukan di laut lalu dikembalikan ke laut. Itu adalah akhir dari Nadia. Orang pertama dari kampung kami yang mengenyam bangku kuliah itu tiba-tiba hilang 2 hari lalu. Yang orang-orang ingat adalah Nadia pergi ke pusat kota lalu tidak kembali.
Keluarganya sempat menyusul ke kota, namun teman-temannya atau orang lain yang Nadia kenal, mengaku bahwa Nadia sudah pulang. Hingga kemarin sore, semua bapak dan pemuda kampung berkumpul untuk mencari Nadia.
Walaupun pagi tadi Nadia telah dipulangkan ke laut dengan cara yang lebih baik dan layak, kematiannya telah menjadi buah bibir desa. Setelah menerka-nerka, berdiskusi, mencari informasi, menyampaikan belasungkawa, lalu mereka kompak menyalahkan orang-orang laut, terutama kakak. Sejak pulang dari pemulangan, kakak menangis di halaman belakang sambil menyalahkan orang-orang laut tentunya.
Entah apa yang kakak lalui hingga pikirannya hanya ada orang laut. Kakak sempat mengalami hal sama seperti Nadia, bahkan kakak hilang selama satu minggu. Hanya saja kakak hidup, lalu pulang dengan sendirinya.
Masuk tanpa mengetuk pintu, langsung menghabiskan makanan di dapur, mengabaikan orang-orang di rumah lalu tanpa mencuci piring pergi ke kamarnya dan tidur seharian. Melihat itu, ibu menyuruhku memanggilkan dukun di kampung sebelah.
Ketika aku pulang bersama dukun, kakak sudah berlari keliling kampung sambil berteriak, “Awas orang laut!”
Dukun di sebelahku langsung komat-kamit merapalkan apa yang tidak aku mengerti. Aku pun diminta untuk menangkap kakak. Tidak semudah permintaan. Kakakku yang tinggi dan berisi tulang itu tetap bertenaga lebih besar daripada aku yang pendek dan berisi tulang ini. Kami berkejaran sampai bertemu para nelayan yang baru pulang melaut, salah satunya bapak.
Masih dengan seruan mengenai orang laut, kakak membuat kekacauan. Melempari peralatan mancing, melemparkan ikan-ikan mati itu ke laut, beratraksi lalu memeluk kaki beberapa nelayan, bahkan hendak membalik sebuah perahu. Kekacauan itu selesai saat bapak benar-benar menyeret kakak untuk pulang. Setelah satu tamparan, kakak berhenti dan mulai bercerita, tanpa bantuan dukun tadi.
Cerita kakak dimulai dari ombak besar yang menghantam perahu kakak. Perahu kakak hancur. Seakan ada yang menarik, kakak kehabisan tenaga untuk berenang. Begitu membuka mata, kakak sudah ada di istana orang-orang laut. Di sana, kakak bertemu orang-orang berbadan besar, berkulit bersih, berbaju warna-warni, sedikit berbau amis dan berbahasa yang tidak ia mengerti. Hingga, salah satu dari mereka ternyata bisa bicara dengan kakak dan memperlihatkan masa depan kalau kampung kami akan hancur karena kemarahan orang laut.
Singkatnya, apa yang di laut adalah milih orang laut dan apa yang kami tangkap adalah belas kasih mereka untuk berbagi. Namun, kami menyia-nyiakan hal tersebut. Menangkap terlalu banyak, bahkan menggunakan alat-alat yang dapat merusak laut. Bapak sedikit tersentak, teringat kadang memakai petasan untuk menangkap ikan.
Kakak melanjutkan cerita, bagaimana ia memohon pada orang laut dan menawarkan kesepakatan agar kampung kami selamat. Namun, apa pun yang kakak tawarkan tidak digubris sampai orang laut itu memberi kakak waktu sebulan agar warga kampung pergi.
Kakak tentu tidak terima, mana ada yang mau diusir dari rumah sendiri, tetapi bagi orang laut itu bukan rumah kami. Setelah itu, tidak ada lagi yang kakak ingat, lagi, ia sudah berpindah tempat di kampung kami.
Esok harinya, cerita orang laut dan kakakku yang gila menyebar hingga kampung lain. Entah karena tembok rumah kami memiliki mulut dan telinga sendiri atau memang kejadian kemarin sore dilihat semua orang. Namun, hal itu terjadi. Laut semakin kosong. Sudah berhari-hari bapak pulang dengan tangan kosong dan ibu sering memasak kelapa.
“Laut kosong,” begitu kata bapak.
Beberapa warga kampung akhirnya mencoba pekerjaan baru, salah satunya bertani rumput laut bersama Nadia dan keluarganya. Setelah lulus, Nadia membawa teman-temannya ke kampung untuk mengembangkan rumput laut. Selain ikan berkurang sampai laut kosong, kemarahan orang laut semakin menjalari kampung kami. Beberapa rumah warga dirusak, entah pekarangan saja atau satu rumah sekalipun. Hingga yang terbaru, Nadia yang diculik laut.
Ketakutan warga kampung tentu tak akan tersampaikan pada orang-orang laut. Sekarang mereka melimpahkannya pada kakak. Pintu depan itu seakan mau lepas karena terus diketuk kasar. Kakak langsung ke depan, menahan ibu untuk membukakan mereka pintu. Semburan protes menyambut kakak, menyalahkan kakak atas semua kemalangan ini.
Tentu kakakku membela diri, “Ini bukan karena saya, melainkan orang-orang laut itu!” Aku tidak terlalu menangkap balasan atas pembelaan kakak, ada yang meminta kakak pergi, kakak bicara pada orang laut, ada juga yang meminta kakak memperbaiki pekarangan rumahnya.
Kakak masih membela diri, dengan menceritakan ulang percakapannya bersama orang laut. Tentang alasan orang laut melakukan ini, karena kami sendiri juga merusak laut.
Kerumunan masih ribut hingga seorang bersuara tegas mendiamkan mereka, bukan bapakku melainkan bapak Nadia. Beliau setuju dengan kakak, pengembangan rumput laut anaknya mengambil tempat untuk ikan-ikan juga belum lagi alat para nelayan untuk menangkap ikan. Entahlah debat itu tidak lagi terasa panas. Semua orang menuruti bapak yang bersedih itu untuk meninggalkan kampung mereka.
Mulai hari itu tidak hanya laut, desa pun perlahan kosong, menyisakan keluarga kami. Entah panggilan apalagi, sehingga kakak meminta keluarga kami agar pindah terakhir. Lalu, saat kami sudah siap untuk pindah ke kampung lain, datanglah orang-orang besar dan berkulit bersih, orang-orang laut. Mereka tidak sebau yang kakak bilang.
Salah satu yang tidak terlalu tinggi datang menemui kakak. Tak lama setelah mereka berbincang, kami diiring untuk masuk ke dalam mobil tertutup. Sepertinya orang laut sangat berbeda dengan bayanganku selama ini. Bapak sempat protes dan ibu pun bertanya-tanya, tetapi mungkin karena takut dan percaya pada kakak, kedua orang tua setuju untuk ikut.
Kakak duduk di depan dan terus mengobrol dalam logat yang aneh pula. Aku mengantuk dan begitu membuka mata, aku melihat sekolahku. Tandanya, kami berada di pusat kota. Aku tidak tahu mau ke mana hingga kami berhenti di salah satu bangunan tinggi, sangat menonjol di antara bangunan lain yang kecil.
“Jadi, ini istana orang laut?” tanyaku. Kakak menjawab dengan tertawa, lalu mengajakku pergi, meninggalkan ibu dan bapak yang terkagum-kagum dengan apa yang mereka lihat.
Kakak sempat mengajakku berkeliling lalu berhenti di ruangan yang penuh dengan meja makan untuk menceritakan semuanya. Tentang orang laut atau tepatnya perusahaan Laut Biru itu, tentang pembangunan pantai rekreasi, tentang warga kampung yang tidak mengerti dan hanya ingin menjadi nelayan, tentang karang-karang tajam di ujung pantai yang dapat menjadi tempat wisata, tentang hutan dekat pantai yang dapat dijadikan penginapan dengan pemandangan, dan segala tetek bengek lain yang tidak ingin kudengar.
Kakak menipu semua orang bahkan, membunuh.
Dasar kakak belagu.
Masih saja bisa menjelekkan warga kampung terutama Nadia dengan muka mau menangis begitu. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 17 Maret 2024
Cerpenis:
Chiquita. IG: @kurienta
Testimoni Chiquita
Terima kasih banyak Cerpen Sastra atas kesempatan yang telah diberikan. Semoga tetap konsisten menjadi ruang temu antara penulis dan pembaca cerpen.
Semangat terus dalam menginspirasi para penulis untuk berkarya. “Akibat Diculik Laut” adalah cerpen pertama yang saya tulis setelah lama menjadi pembaca.
Saya akan mulai menulis lebih banyak. Tolong nantikan karya saya selanjutnya.
