Kantong Keresek dari Bangku Ketiga (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

Jemaat baru itu muncul di bangku ketiga setiap lonceng pertama dibunyikan, bahkan koster belum sempat meneguk air putih. Ia tidak pernah mengetuk dan langkahnya menyeret pelan. Datang selalu…

Merah di Arena (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

“Arena itu jadi saksi bisu pertempuran,” kata mantan prajurit pada kawan yang sibuk mengabadikan kemegahan. Mata seorang purna-Praka itu berpijar. Meski matahari datang bersama udara lembabnya, mereka berhenti…

Salam Maria (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

“Mas, bangun, Mas!” teriak wanita berambut panjang yang tergulung acak.***Suara komputer di sebelahnya terus mengumumkan berita buruk yang tak ingin didengar semua orang. Ia meraung-raung, memohon pada Tuhan…

Kana (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

“Apa yang sakit, Kan?” tanya seorang wanita tua yang biasa dipanggil ibu oleh Kana, lebih tepatnya ibu tiri.*** Kana mengeluh, badannya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran. Tangannya meremas…