Site icon cerpensastragrup

Temuilah Aku, di Atas Punggung Buaya (Cerpen Gagah Pranaja Sirat)

Sumber ilustrasi: Pinterest (diolah).

Cepat atau lambat, Mardan akan membunuhku. Dengan bantuan Bajul, pasti lebih cepat. Estimasi kurang dari tiga hari, tubuhku mungkin sudah terpisah jadi empat bagian. Mardan adalah mantan tukang jagal ayam di pasar. Tentulah ia mengerti jika suatu daging ingin dijadikan pakan: harus dipotong kecil-kecil dahulu supaya muat untuk mulut para hewan. Untungnya, mulut buaya di Sungai Way Semaka rata-rata besar. Mampu melahap satu ekor kambing ternak warga dalam sekejap. Pakai parang, sudah cukup. Konon, parang itu warisan bapaknya ketika masih jadi perambah liar dan dikejar-kejar serimol(*) yang keluyuran. Sekali tebas, parang itu mampu menumbangkan satu dahan pohon jati. Bisa dibayangkan bagaimana itu akan terjadi pada tubuhku yang sekering ranting.
***
“Selepas kau pulang dari Kalimantan, Mardan ingin menikahimu.“

Aku baru saja pulang dari hutan dengan kondisi menimang seekor bayi orangutan. Teleponku mendadak berdering dan itu berasal dari nomor yang tidak kukenal. Namun, ketika kuangkat, aku mengenali suara pemilik nomor itu. Aku bahkan telah mengenalinya lebih dari sepuluh tahun.

“Aku tidak akan pernah pulang dari Kalimantan, Pak. Aku tidak akan pernah kembali ke Tanggamus. Bapak tahu itu.”

“Tapi, kau harus pulang, Dian,” panggilan itu sejenak terjeda oleh tiga batukan dan satu deheman panjang, kemudian diteruskan oleh suara lelaki tua yang lebih serak dari sebelumnya, “Mardan dan kawan-kawannya semakin menggila di sini. Mereka telah banyak merambah tanah hutan untuk dijadikan kebun kopi. Lagipula…”

Ia menghela napas.
“Kau belum mengambil batu safir milik ibumu.“

Mardan tahu aku membenci bapakku sendiri. Dengan hal itu, menurutnya akan semakin mudah untuk terus menyeret tubuhku sebagai istri mudanya. Sebetulnya, kami berdua sama. Aku membenci bapak, begitu pula Mardan. Ia membenci bapak karena bapak senantiasa menghalang-halangi rencana liciknya perihal tanah hutan sana yang mau disulap jadi kebun kopi ilegal.

Aku membenci bapak karena ia adalah seorang dukun hutan. Kendati ia tak jarang mengelak, “Bapak ini sekadar tabib, Dian.“ Lalu aku membalas, “Tapi, mengapa tabib perlu memakai kepala ayam cemani, Pak?” Bapak biasanya mendadak terdiam. Puncaknya, waktu itu, tatkala ibu menghilang dan bapak berkata bahwa ibu sudah pergi ke dunia antah berantah dengan menunggangi seekor buaya. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku memutuskan untuk mempercepat masa relawanku di pusat rehabilitasi. Kalau bisa, aku ingin jadi pengurus tetap. Tak digaji pun tak apa. Sedari mendaftar sebagai relawan, aku sudah tidak memikirkan soal gaji. Yang aku pikirkan adalah: bagaimana caranya mengungsi dari daerah ini. Aku ingin mengurus dan melindungi hewan yang betul-betul nyata, bukan karangan lokal belaka seperti sosok serimol.

“Jika kau ingin membiarkan bapak mati, tak apa,” sesudah telepon itu kututup, bapak mengirimkan beberapa pesan kepadaku.

“Biarlah bapak mati bersama dupa-dupa dan kembang yang sering kau injak-injak. Tapi, tolong, ambil batu musafir ibumu. Hanya itu satu-satu yang tersisa darinya. Lepas itu, kau boleh pergi sejauh-jauhnya dari Tanggamus.“

Ibu dinyatakan hilang setelah Mardan mengetahui bahwa ibu telah melaporkan kelompok mereka kepada aparat. Mardan berujar pada warga bahwa ibu kabur dan mencuri uang kas desa dengan menaiki seekor buaya. Mardan pula menambahkan, ibu telah bersekutu dengan kaum serimol. Aku tahu itu hanya akal-akalan Mardan supaya orang-orang semakin menggunjing bapak perihal pekerjaannya. Ibu pasti telah dijadikan ayam potong oleh mereka. Sayang, aku tidak mempunyai bukti, lantaran aku sedang berada di luar kota untuk mengikuti pelatihan. Namun, aku sungguh terkejut ketika mendengar bahwa bapak menyetujui perkataan Mardan. Ibu memang kabur menaiki seekor buaya tersebab Mardan dan kawan-kawannya mengejar ibu malam itu sambil mengacung-acungkan sebilah parang.

“Batu safir ini yang menyelamatkan ibumu,” bapak berkata dari balik pintu setelah aku mengacak-acak semua peralatan dukunnya, “ibumu masih hidup, Dian … Bapak menemukan benda ini di dalam air, di antara bebatuan sungai.“

Lalu aku buru-buru menikahi Bajul. Pria idiot itu. Bukan tanpa alasan! Aku memang sengaja tidak akan berlama-lama di Tanggamus. Dan, dengan menikahi dirinya, Mardan tidak akan mudah menyeretku jadi istrinya dalam sesaat. Ia lebih takut gunjingan para warga dibanding pistol para aparat yang sedang memburu tengkuk kepalanya. Meski begitu, Mardan tampak senang bahwa aku menikahi Bajul. Lelaki itu gampang disingkirkan dan rencana ia menjadikan Bajul sebagai rekan sejawat adalah satu dari sekian langkah untuk menyingkirkannya, sama seperti nasib ibuku.

Aku pulang ke Tanggamus dan menemukan bahwa hutan lindung di sekitar daerah ini telah habis begitu banyak. Aku melihat kebun kopi Mardan berjamur di mana-mana. Dan, waktu itu, aku sangat rindu akan masa-masa relawanku di pusat rehabilitasi. Aku memutuskan berjalan-jalan sejenak di dalam hutan. Sebelum pada akhirnya, aku tidak pulang ke rumah selama dua hari. Aku dinyatakan hilang.

Tetapi ketika aku kembali dari hutan dan para warga mendesak agar aku bercerita, aku memilih bungkam. Gara-gara: “Banjir yang begitu besar akan terjadi di daerah ini.“

Aku mampu memahaminya lewat rambut-rambut di sekitar tubuhnya yang sejuk serupa musim dingin. Binar matanya bahkan mampu melelehkan relung hatiku serupa musim panas. Aroma tubuhnya laksana musim semi dan teduh air mukanya laksana musim gugur. Aku melihatnya sebagai paduan-paduan musim yang sempurna. Ia seperti manifestasi langit atas cuaca-cuaca yang sudah rusak. Musim-musim lalu turun, menjelma kumpulan rambut yang membungkus seluruh tubuhnya. Dari rambut-rambut itu saja, aku tahu ia bukan sekadar makhluk biasa. Ia merupakan legenda, seperti yang dibicarakan orang-orang. Meski ia bukan orangutan, apalagi manusia: dalam tubuhnya, aku masih bisa merasakan apa itu cinta.

“Lelaki itu pernah membunuh salah satu saudara kami,” jari-jemarinya yang panjang lalu memeluk lenganku. Aku tahu lelaki yang dimaksud olehnya adalah Mardan. Aku tahu senjata yang dipakai olehnya adalah sebilah parang.

“Kalau kebun kopi itu semakin meluas, tempat tinggal kami akan diketahui warga. Dan jika kami diketahui oleh warga….” Ia mengeluarkan suara nyaring yang aku mampu terjemahkan sebagai bentuk kesedihannya. Kendati ia telah mampu meniru gerak-gerik manusia secara utuh, tapi aku rasa wujud asalnya tetaplah seekor kera. Pengalamanku menimang pelbagai primata di Kalimantan ternyata sangat tidak sia-sia.

Aku menghabiskan dua hari penuh bersamanya. Tubuhnya setinggi pinggangku, tapi kelakuannya seperti seorang lelaki yang aku dambakan selama ini. Hangat. Dingin. Sejuk. Sungguh keselarasan setiap musim teruntai sempurna di seluruh pori-pori kulitnya. Aku memang tidak menyukai lelaki bertubuh tinggi. Aku tidak suka jika seseorang terlalu mendominasi. Namun, aku mungkin harus berpisah dengannya. Bajul mengetahui hubunganku dengan mahkluk itu. Ia mengintip jendela ketika aku perlahan menyelinap keluar rumah, pergi ke dalam hutan. Bagi orang-orang di sini itu adalah aib yang begitu besar.

Berhubungan dengan manusia saja sudah diganjar rajam, apalagi dengan seekor anomali? Bajul tidak bisa menahan diri lagi. Ia merasakan sakit hati yang teramat sakit. Aku tidak peduli. Kendati, cepat atau lambat, Bajul akan membunuhku. Dengan bantuan Mardan, pasti lebih cepat. Sebab:
“Ayo, kita usir perempuan haram itu!”

“Jangan sampai ia membuat keturunan di daerah ini bersama seekor sekhimol!”

“Ini pasti karena ajaran bapaknya yang sesat!”

“Ia bercinta dengan monster!”

“Lempar kafir-kafir itu ke Sungai Way Semaka! Jadikan pakan untuk para buaya!”

Aku sudah berjanji dengan mahkluk itu bahwa aku akan melaporkan tindakan Mardan dan kawan-kawannya ke aparat. Hanya tinggal meneruskan dokumen laporan yang telah dibuat ibu, aku akan menyelamatkan musim-musim yang sudah lama bersemayam dalam tubuhnya. Daerah ini tidak boleh terkena banjir. Hutan ini tidak boleh dibabat kembali. Aku tahu, serimol itulah yang bapak lindungi selama ini. Ia menyembunyikannya dari para warga. Dan sekarang, semua orang telah mengetahuinya.

“Terkutuk! Kau menikahi dedemit!”

Aku keluar. Membuka pintu. Melihat sosok Mardan berada paling depan. Ia membawa parang. Sama halnya dengan puluhan warga lainnya. Beberapa dari mereka membawa obor. Tanpa gentar, aku maju selangkah. Menggenggam erat-erat dokumen buatan ibu sembari menatap satu per satu wajah mereka yang begitu bengis. Bapak lalu ikut keluar, memohon-mohon di depan Mardan, bersujud-sujud.

“Jangan lukai Dian, Mardan. Bawa aku saja! Bawa aku saja….”

Sejurus bapak mengucapkan kalimat itu, aku melihat ada yang berkilau dari dalam saku celananya. Mardan mengangkat parangnya tinggi-tinggi, lantas aku buru-buru menghampiri bapak. Tanganku melesat. Menghampiri tepi celananya. Mengambil batu safir milik ibu. Lalu menunjukkannya ke hadapan mereka.

“Jika kau ingin melukaiku, Mardan!” kataku dengan suara selantang mikrofon masjid, “temui aku di Sungai Way Semaka. Temuilah aku di atas punggung para buaya! Sebab, lepas kau membunuh ayahku, aku akan lari ke hutan. Menjadi serimol.“(*)

*Serimol: Kryptid Lampung yang juga dipanggil sekhimol, digambarkan sebagai makhluk mitologi berwujud manusia-kera yang dipercaya menghuni hutan-hutan Tanggamus.

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXX.

Tentang Cerpenis
Gagah Pranaja Sirat

Menjuarai lebih dari 50 juara dan prestasi dalam lomba kepenulisan fiksi serta non-fiksi. IG: @gahpraja

Testimoni Gagah Pranaja Sirat

Entah memang kebetulan atau tidak, tema yang diusung untuk Sayembara Cerpen Pulpen kali ini sungguh relate dengan kondisi negara kita sekarang. Isu iklim tampaknya hampir memudar sebelum peristiwa besar yang terjadi pada saudara-saudara kita kemarin.

Semoga dengan adanya sayembara kali ini, isu tentang iklim ataupun lingkungan tetap menjadi pandangan utama kita dalam berkehidupan. Pula, menjadikan sastra sebagai agen perubahan dan pengingat untuk kita semua.

Cerpen saya yang menjadi juara II adalah respon saya terhadap para perusak lingkungan juga bentuk empati terhadap para korban.



Exit mobile version