Baru kali ini Dokter Fransiskus merasa ruangannya begitu asing, begitu ganjil. Bukan karena mesin AC yang sudah mati dan katanya mau diperbaiki, tapi gelagat pasien tua ini. Keluhan asing dalam perut, tertulis pada selembaran surat administrasi itu. Dokter Fransiskus menelan ludah, lantas menengadah. Nenek-nenek itu tersenyum sungguh sumringah.
***
“Sudah tujuh hari, Dok,” katanya, “perut saya tidak enak dan nyeri di segala sisi.”
Belum juga diminta untuk membuka setengah pakaian dan menampilkan perutnya yang bergelambir, nenek-nenek itu sudah melakukannya terlebih dahulu. Mulut Dokter Fransiskus kelu, tak bisa mengucap apa-apa. Matanya membelalak. Membulat. “Saya sering mendengar suara langkah kaki di dalam perut saya.” Dan, tepat di hadapan pucuk hidungnya, lelaki berpakaian putih itu melihat gerak-gerik aneh: sesuatu menonjol pada perut pasiennya yang bergelambir, dengan gerakan teratur, ke kanan, ke kiri. Mondar-mandir. Seperti setrikaan. Seperti orang yang betul-betul tengah berjalan.
***
Mertuanya itu tak henti-henti mengeluh sakit, mengeluh nyeri. Semua pengobatan telah Rene lakukan, akan tetapi tetap nihil hasil. Sampai pada titik paling berat, titik paling menyedihkan: mertuanya hanya bisa tergeletak di atas dipan. Kaku. Beku. Saat itu juga, suaminya — Haji Sobar — mulai sering keluar malam. Membawa kitab, tasbih, dan doa suci dalam relung hati.
“Sepertinya ibu,” ia menghela napas, janggut putihnya tertarik ke atas, “terkena tulah dari tuselaq(1).”
Sudah lama sekali Rene tidak mendengar istilah itu. Kali pertama ia mendengarnya, justru bukan dari orang-orang sini, tapi dari orang-orang sana — orang-orang yang berada di kampung halamannya — ketika ia menikahi Haji Sobar dan hendak berpindah ke Lombok. “Hati-hati,” begitu bisik-bisik tetangganya, “di sana juga ada santet!”
“Jangan punya musuh!”
“Betul!” Ibunya bahkan ikut menimpali.
“Di sana bahkan lebih parah. Bukan hanya dimasukkan jarum ke dalam perut, tapi santetnya itu… Santetnya… Berwujud mahkluk menyeramkan! Monster! Kau bisa jadi mangsa yang lezat!“
Namun, desas-desus itu tak terlalu mengusik batok kepala mereka tersebab kepergian Rene di sana bukan dengan sembarang orang. Ini Haji Sobar. Orang yang dakwahnya sudah melanglang buana dengan pecinya yang segede gaban dan namanya begitu kudus di segala lubang telinga khalayak. “Tenang saja,” kata ibunya, “sekali suamimu yang selalu memakai peci hingga menutupi kening itu merapal kalimat-kalimat suci, pasti setan atau monster mana pun bakal lari pontang-panting.” Ibunya tergelak. “Terkencing-kencing!“
Sebetulnya, Rene tidak pernah memusingkan masalah itu. Untuk apa? Ini bukan lagi tahun sembilan puluhan. Ia begitu bahagia hidup dengan Haji Sobar. Suasana hidupnya selalu teduh, selalu sejuk macam ayat-ayat dalam kitabnya. “Apa? Umi sakit?” Namun, saat itulah semuanya sedikit berundak-undak. Mereka mesti pindah ke Lombok lantaran mertuanya itu — orang yang sama sekali belum pernah dilihatnya — menderita penyakit. Entah penyakit apa, tapi yang pasti kondisi tubuhnya serta-merta mengering. Macam batang ranting.
Setiap malam, Haji Sobar memburu selaq(2) yang mungkin akan mengincar anggota tubuh ibunya. Bersama dengan anggota-anggota kepengurusan masjid lain, misalnya Barman — istri dari lelaki berjanggut itu baru saja berkalang tanah dengan penyakit yang dokter bilang belum bisa diidentifikasi.
“Sihir itu benar-benar nyata. Ada yang tengah berpura-pura di sekitar kita,” terang Barman selepas Rene mengunjungi rumahnya dan semakin ketakutan tersebab kondisi mertuanya sungguh di luar nalar, “kau tahu? Usai jenazah istriku dimandikan dan orang-orang menyalatinya di beranda masjid. Sangkep(3) di ruang pemandian tahu-tahu habis! Tidak ada jejak airnya.”
“Jadi?” Rene mengerutkan kening.
“Seseorang telah meminumnya.”
Dari percakapan itu, Rene mengerti banyak hal. Selaq bisa berubah menjadi apa saja. Hal yang dapat diamati untuk membedakan mana hewan asli dan mana selaq adalah bagian tumitnya. Tumit itu masih berperawakan seperti tumit manusia. “Dan selaq hanya berkeliaran pada malam hari,” lanjut Barman, “pada siang hari, penampilan mereka betul-betul normal, bahkan melakukan ibadah.“ Mendengar ibadah, batok kepala Rene langsung tertuju pada satu nama: Mardun.
“Kau berpikiran hal yang sama?“
“Ya,” Barman mengangguk. “Ia sudah keluar dari anggota kepengurusan sejak periode berganti, bukan? Aku bahkan jarang melihat dirinya berada di masjid. Pagi atau malam. Mungkin, ia menyembunyikan sinar berwarna merah pada keningnya.”
“Sinar? Merah?”
“Tanda yang tidak bisa dihilangkan jika ia betul-betul selaq.”
Rene segera menyiapkan satu rencana. Rumah Mardun betul-betul berseberangan dengan rumahnya. Tak heran jika sihir itu mudah sekali dikirimkan. Pun, Mardun dan keluarganya jarang sekali keluar akhir-akhir ini. Mulanya, Rene mengira mereka kesal dengan Haji Sobar karena tidak mau berganti posisi setelah sekian lamanya menjabat sebagai ketua kepengurusan. Mardun iri, mungkin begitu. Dan akhirnya memilih mundur, memilih menutup pintu. Namun, urusan selaq ini membikin hati Rene yakin: kalau mertuanya sakit tersebab kaki-tangan keluarga itu.
“Aku sudah mendapat ranting pohon kelornya,” Barman menyodorkan benda itu usai tiga hari penuh Rene merancang suatu rencana, “kau tinggal cari kain putih. Lalu … silakan lakukan rencanamu! Sebelum sihir itu diwariskan pada anaknya. Pada Marta.”
Ia baru ingat jika Mardun mempunyai anak perempuan. Marta! Anak itu bisa jadi pewaris sihir selanjutnya! Selaq adalah ilmu turun-temurun, ia mengulang sendiri penjelasan Barman, ada dua cara yang dapat melawan mahkluk itu. Yang pertama, dengan telanjang. Kau tidak mau telanjang, bukan? Maka dari itu, Rene melakukan cara kedua. Menurutnya, cara ini lebih suci. Ia tidak mau melawan mahkluk itu. Mau bentuknya hewan atau yang paling parah: selaq mopol(4), cuma ada kepala dan usus saja. Membayangkannya, Rene bergidik ngeri. Terakhir kali ia melihat wajah kuntilanak di televisi pun, matanya sudah berkunang-kunang. Mau pingsan.
Malam ketika suaminya kembali pergi untuk memburu selaq dan neneknya betul-betul menjelma batu di atas dipan, Rene berjalan ke depan rumahnya. Tepat di tengah-tengah jalan, ketika tidak ada sama sekali yang melihat. Dililitkannya kain putih itu ke ranting kelor sembari merapal ayat-ayat suci. Lantas, dengan tarikan napas yang begitu panjang, Rene mengangkat ranting itu — bersiap-siap untuk melemparnya ke rumah Mardun. Mulai dirapalkannya satu surah yang kata Barman mampu menggigit mahkluk itu hingga koit: surah Al-Kausar. Satu ayat. Dua ayat. Tiga ayat–
“Rene?“
Jantungnya serta-merta melompat. Membuat tubuh dan tangannya terpelanting ke belakang. Itu suara Barman. Alhasil… Alhasil… Ranting itu bukannya ke depan, malah ke belakang! Dengan tatapan melongo, dengan mulut terbuka lebar, mereka sama-sama menyaksikan lontaran ranting itu yang mengenai pelataran rumah Haji Sobar — rumahnya sendiri — secara perlahan-lahan.
“Untuk apa kau di sini Barman?”
“Mencari Pak Haji.”
“Lho, bukannya beliau bersama kalian setiap malam? Sama-sama memburu selaq?”
“Apa? Memburu? Sejak kapan?“
Sejurus Barman mengerutkan keningnya, daun telinga mereka sama-sama mendengar suara jeritan. Parau. Kencang. Selepas itu, terbit bunyi pecahan jendela. Dari dalam rumah, neneknya serta-merta berlari. Cepat tak ubahnya burung kasuari. Menerabas jendela. Mengangkat tangan keriputnya seperti hendak mencekik seseorang. Menuju mereka berdua yang tengah terdiam — berdiri kebingungan.
“Mati kau menantu sialan!” Mertuanya lalu menangkap Rene dengan beringas, dengan ganas — tak ubahnya kucing menjerat leher tikus. “Kami sengaja membawamu ke Sasak agar ilmu itu bisa diwariskan! Tapi kau malah mematahkan semuanya!“
Rene terbatuk-batuk, hampir kehabisan napas, dan wajahnya sudah memerah macam kepiting rebus. Barman gegas memukul tengkuk wanita tua itu, lantas mencabut cekikannya. Ia beranjak. Muntah. Satu kali. Dua kali. Wanita tua itu beralih ke Barman. Mencakar-cakar dan berusaha mencekiknya. Lantas, Barman menendangnya. Wanita tua itu terpental. Terjungkal. “Ayo kita pergi! Sekarang!” Dijulurkannya tangan, dibantunya Rene untuk berdiri. Namun…
“Barman!” Rene menjerit. Berteriak, lantas terpelanting — merebah di atas permukaan jalanan lagi. Sebuah mahkluk dengan kepala dan tubuh tinggal organ bagian dalamnya saja seperti usus, jantung, atau paru-paru menyambar kepala lelaki malang itu. Barman tergeletak. Terkapar. Darah mengalir hingga mengenai tangan Rene yang sedang merebah.
Makhluk itu mendekati Rene. Wajahnya familiar. Mirip seperti orang yang pernah dikenalinya. Mirip seperti orang yang sudah menemaninya selama ini… Namun, wajahnya begitu buruk. Berlubang-lubang. Terkoyak-koyak. Rene tahu jika ia melihat makhluk dengan perawakan itu ia pasti akan pingsan. Maka, ia pingsan. Jari-jemarinya terkulai dengan lemas.
“Apa yang harus kita lakukan, Ma? Ia mengacaukan semuanya. Sebentar lagi, saya akan mati.”
“Sebentar,” perempuan itu berdiri. Merangkak. Menyeringai. Menuju Rene. Lantas, mulai menggigiti bagian tangannya. “Mama tahu caranya…”
***
Gelap. Listrik rumah sakit serta-merta padam. Mesin-mesin tidak berjalan dengan normal. Semua orang mengalami kepanikan. Lari ke sana, lari kemari. Sedangkan di suatu ruangan, seorang nenek-nenek tengah terlena memakan lahap-lahap hidangan favoritnya. “Jika kau tidak mengobatiku dan hanya bisa menunjukkan paras takut,” bisiknya, “maka biarlah bulir-bulir kehidupanmu terus berjalan di dalam lambungku.“(*)
(1) ilmu hitam yang berasal dari mitologi masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
(2) Selaq: sosok makhluk gaib hasil perwujudan tuselaq.
(3) Sangkep: air bekas pemandian jenazah.
(4) Selaq mopol: jenis selaq yang seperti kuyang — hanya ada kepala, usus, dan jantung.
Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXV.
Testimoni Gagah Pranaja Sirat
Saat menulis cerpen Nenek Mendengar Orang Berjalan di Perutnya, saya sengaja mencoba menghadirkan horor yang berangkat dari kegelisahan dan imajinasi yang tidak biasa, bukan sekadar mengandalkan hantu atau kejutan. Saya ingin menciptakan rasa tidak nyaman melalui sebuah premis yang terdengar mustahil, tetapi perlahan terasa nyata bagi tokohnya. Karena itu, saya sangat bersyukur dan senang ketika cerpen ini terpilih sebagai pemenang Sayembara Pulpen. Pengalaman ini semakin memotivasi saya untuk terus mengeksplorasi ide-ide horor yang unik dan tidak pasaran.

