Site icon cerpensastragrup

Mengetuk Pintu Rumah yang Bukan Milikku (Cerpen Ditta Atmawijaya)

Di antara ribuan pasang sepatu yang bergegas,
aku adalah langkah yang kehilangan arah kompas.
Mengetuk tiap pintu yang kusinggahi dengan ragu,
namun tak satu pun kunci yang cocok dengan lubang hatiku.

Aku telah menelan debu di sepanjang jalan panjang,
mencari satu wajah tempat segala lelah bisa pulang.
Hingga pada sebuah persimpangan yang tak terduga,
matamu bicara dan aku merasa semesta berhenti bekerja.
***
Kerapuhan sang Lelaki
Lampu neon di langit-langit kantorku sudah berkedip-kedip sejak dua jam lalu—mungkin memang sudah waktunya diganti, atau mungkin ia sama lelahnya denganku. Cahayanya yang tidak stabil menciptakan irama monoton yang seolah mengejek kesendirianku.

Rekan-rekan kerjaku sudah lama pulang; meja-meja di sekitarku kini hanya tumpukan bayangan hitam yang kaku. Aku masih di sini, bukan karena beban kerja yang tak masuk akal. Aku hanya tak punya alasan yang cukup kuat untuk menghadapi sunyi di unit apartemen lantai dua belas itu. Tanganku meraih cangkir kopi ketiga hari ini. Sudah dingin. Meninggalkan selaput tipis di permukaan. Saat kucoba menyesapnya, rasa pahit yang tertinggal di lidah sudah seperti kawan lama.

Aku sering mendapati diriku berdiri di depan jendela kaca besar, menatap lampu-lampu kendaraan di bawah sana yang tampak seperti aliran lava merah yang tak putus-putus. Orang-orang itu pasti punya tujuan. Ada seseorang yang menunggu mereka dengan peluk hangat, atau setidaknya, ada sepasang telinga yang siap mendengarkan keluh kesah tentang macetnya jalanan.

Sementara aku? Aku hanya disambut dinding-dinding putih yang bisu.

Sudah berapa lama aku merasa “rapuh” begini? Entahlah. Mungkin sejak aku berhenti menghitung hari. Aku sering berjalan di trotoar yang ramai, sengaja membiarkan bahuku bersenggolan dengan orang asing, hanya demi merasakan bahwa aku masih memiliki wujud fisik di dunia ini.

Aku mencari sesuatu—atau seseorang—yang bisa membuatku berhenti merasa seperti hantu yang tersesat di kota sendiri.

Malam itu, hujan turun dengan malas. Aku memutuskan untuk pulang berjalan kaki, membiarkan kemejaku lembap oleh sisa-sisa air langit. Aku butuh sesuatu yang nyata untuk dirasakan, meski itu hanya rasa dingin yang merayap ke tulang. Aku menuju kafe kecil di sudut blok depan, yang lampunya berpendar kuning hangat, tanpa tahu pencarianku akan menemukan titik hentinya.

Seseorang tampak duduk di balik jendela kaca yang berembun, menyesap minuman sambil menikmati rintik hujan. Caranya memandangi tiap tetes yang jatuh itu menarik perhatianku.

Pertemuan di Balik Kaca Berembun
Aku mendorong pintu kafe itu. Bunyi lonceng kecil di atas pintu terdengar seperti musik yang asing di telingaku. Aroma kayu manis dan biji kopi panggang menyambutku, perlahan mengusir petrikor yang menempel.

Dia masih di sana, di sudut paling tenang.

Awalnya aku hanya berniat memesan sesuatu yang panas untuk menghangatkan kerongkongan. Namun, langkahku terhenti tepat di samping mejanya. Bukan karena aku tidak sopan, melainkan karena buku yang terbuka di hadapannya. Itu favoritku. Buku yang selalu kusimpan di laci nakas. Buku puisi lama yang sampulnya sudah mengelupas.

“Bait terakhirnya selalu membuatku ingin berhenti bernapas sebentar,” ucapku pelan, hampir tanpa sadar.

Dia mendongak. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan yang mengganggu. Sebaliknya, ada ketenangan yang aneh di sana. Dia tersenyum tipis, jenis senyum ramah yang seketika meruntuhkan tembok kecanggunganku.

“Tentang burung yang lupa cara terbang karena terlalu nyaman di dalam sangkar?” Suaranya lembut, tetapi bergetar dengan frekuensi yang pas di dadaku. Aku mengangguk, lalu menunjuk kursi di hadapannya, menunggu izin. Ia tampak ragu sejenak, lalu tersenyum kecil sebelum mempersilakan dengan gerakan tangan.

Berusaha tenang, aku ucap terima kasih dan duduk di sana. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa seperti hantu. Di depan perempuan ini, aku merasa padat. Aku merasa punya warna.

Percakapan kami bermula dari larik-larik puisi di buku itu. Sesekali, ia mengutip sebuah bait yang ia sukai, lalu aku melengkapinya dengan pemahaman yang selama ini hanya kusimpan sendiri. Obrolan merembet pelan pada hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Tentang hujan yang terasa lebih melankolis di balik jendela kafe. Tentang rasanya menjadi pengamat yang diam di tengah hiruk-pikuk kota. Tentang dunia yang sering kali berjalan terlalu cepat bagi orang-orang yang hanya ingin berhenti sejenak dan menarik napas.

Terkadang saat menyesap teh, dia melirik arloji kecil di tangannya. Apakah dia sedang menunggu seseorang? Pikiran selintasku langsung larut oleh hangatnya diskusi kecil kami.

Dua jam berlalu sekedipan mata. Bagiku, dia adalah jeda yang menenangkan dalam paragraf hidupku yang berantakan. Di antara aroma kopi dan suara rintik di luar, aku merasa seperti baru saja menemukan kembali bagian dari diriku yang sempat hilang. Sepertinya semesta turut merayakan momen indah ini. Dari pengeras suara di sudut kafe terdengar lagu lama dari Naff. Mengalun pelan, seperti ikut memahami suasana yang ingin kubingkai dalam hati.

“Terima kasih,” kataku saat dia mulai merapikan barang-barangnya. “Untuk … obrolan ini.”

Dia berdiri, menyampirkan tas di bahunya. “Terima kasih juga karena sudah mampir ke mejaku.”

Aku ikut berdiri, keberanian yang sudah lama mati mendadak meledak di dadaku. Aku akan menanyakan nomor teleponnya. Memastikan bahwa ini bukan terakhir kalinya aku bertemu “rumahku” ini.

Patah yang Paling Senyap
Namun, sebelum kata-kata di ujung lidahku sempat terucap, pintu kafe berdenting lagi. Seorang pria meletakkan payung basah di dekat pintu masuk. Wajahnya tampak cemas, tetapi langsung berubah cerah saat menatap ke arah kami.

“Sayang, maaf lama. Jalanan di depan macet total,” ujar pria itu.

Lalu, seorang anak perempuan cantik, mungkin berusia empat tahun, berlari dari balik pria itu. Gaun kuningnya tampak kontras dengan cuaca abu-abu di luar sana.

“Bundaaa! Lihat, aku beliin cake kesukaan Bunda!” teriaknya riang sambil memeluk perempuan di hadapanku.

Perempuan itu tertawa. Tawa sama yang baru saja menyembuhkan kerapuhanku. Dia merunduk, mengusap pipi sang bocah dengan jemari yang kini terlihat jelas dilingkari cincin emas sederhana, berkilau tertimpa lampu kafe. Kehangatan yang tadi kurasakan mendadak membeku, berubah menjadi es tajam dan menghujam tepat di ulu hati.

Dia berdiri kembali, lalu menatapku. Tetap ramah, tetapi kini terasa sangat jauh. “Kenalkan, ini suamiku. Dan ini bidadari kecilku,” ucapnya tulus.

Pria itu mengulurkan tangan, menjabat tanganku dengan hangat. “Terima kasih sudah menemani istri saya menunggu hujan, Mas.”

Aku memaksakan sebuah senyum. Senyum yang kurasa lebih mirip sebuah luka yang dipaksa menutup. “Sama-sama. Kebetulan kami tadi bicara tentang buku,” jawabku, suaraku terdengar seperti gema dari dasar sumur. Aku melihat mereka bersiap pergi. Si pria melepas jas dan meletakkannya di bahu sang istri, lalu menggendong putrinya. Di luar, payung besar itu terbuka, memastikan mereka terlindung dari sisa-sisa rintik langit.

Mereka berjalan meninggalkan kafe, tampak seperti sebuah potret keluarga sempurna yang sering kulihat di iklan. Bahagia, utuh, dan tak tertembus. Aku tetap berdiri di tempatku, di samping meja yang kursinya kini sudah kosong. Cangkir teh kedua miliknya masih mengepulkan uap tipis. Namun, kehangatan di sana sudah ikut terbawa pergi bersama langkah mereka yang menjauh.

Dunia kembali menjadi sunyi. Bahkan lebih sunyi dari apartemen yang kutinggali. Aku menyadari satu hal yang paling getir. Aku tidak kehilangan apa pun—hanya menyadari bahwa yang kucari memang tidak pernah disediakan untukku. Aku menemukan apa yang selama ini kucari. Namun, di saat yang sama, aku tahu tidak akan pernah bisa memilikinya.

Lampu kafe masih bersinar redup, romantis. Irama musik pun masih bergema lembut. Namun, ada yang berbeda pada diriku. Aku merasa seperti pria yang baru saja menemukan rumah impian, hanya untuk menyadari bahwa jendela dan pintunya sudah dikunci rapat oleh orang lain dari dalam.

Aku kembali berjalan, membiarkan tubuhku kembali dipeluk oleh udara malam yang dingin.

Aku pulang ke alamat yang salah,
pada hati yang tak lagi menyisakan ruang.
Melihatmu utuh dipeluk kekasihmu,
seakan semesta menuntunku merindu tanpa tuju.

Terima kasih telah singgah, meski hanya sekejap mata,
memberi warna pada duniaku yang semula hanya jelaga.
Kini kubiarkan engkau menjadi indah di sana,
sementara aku kembali belajar mencintai hampa.

Aku menarik napas panjang. Cahaya lampu kota mengabur. Mataku terasa panas. Rintik itu pun masih turun.
Akhirnya, ‘ku menemukanmu ….(*)

Jakarta, 7 Mei 2026 | Ditta Atmawijaya

Cerpen merupakan Juara II Sayembara Cerpen Pulpen XXXIV.

Testimoni Ditta Atmawijaya

Terima kasih banyak untuk Pulpen, Bang Horas, dan Mbak Wahyu Sapta. Sangat bersyukur dan sama sekali tidak menyangka, cerpen “Mengetuk Pintu Rumah yang Bukan Milikku” bisa meraih Juara 2. Jujur, aku belum terlalu terbiasa menulis fiksi dalam bentuk cerpen dan baru melahirkan beberapa karya saja. Lewat genre roman balada, aku mencoba memotret kesunyian manusia modern yang sering kali merasa asing dan tersesat di kota sendiri. Cerita ini aku dedikasikan untuk siapa saja yang sedang berjuang mencari arah, mencari sebuah ruang di mana jiwa mereka bisa diterima seutuhnya untuk melabuhkan lelah.

Penyelenggaraan sayembara juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan menyentuh hati. Ketika pendaftaran ditutup, panitia membuat apresiasi khusus di IG dengan mencantumkan nama dan judul karya seluruh peserta tanpa terkecuali. Bagiku, itu adalah ruang penghargaan yang luar biasa hangat. Pulpen tidak hanya mencari pemenang, tetapi juga merayakan proses kreatif dan keberanian setiap penulis yang sudah menitipkan karyanya di sini. Apresiasi ini menjadi kejutan yang sangat manis sekaligus suntikan energi baru bagi perjalanan kepenulisanku ke depan. Terima kasih banyak atas kesempatan, ruang tumbuh, dan penghargaan indah ini. Semoga Pulpen terus konsisten menjadi wadah yang ramah dan suportif bagi para pencinta literasi!

Exit mobile version