Site icon cerpensastragrup

Menguji Ego di Jalur BKT: Karung yang Menambal Kemalasan (Artikel Ditta Atmawijaya)

Pasukan Hijau yang kembali bertugas setelah sejenak berdialog denganku. (Foto: Dok. Pribadi)

Matahari baru saja mengintip di sela beton Jakarta saat aku menyusuri jalur Banjir Kanal Timur (BKT). Udara pagi yang biasanya menyisakan sisa embun perlahan mulai bersaing dengan aroma gurih minyak dari lapak camilan.
***
Di sepanjang jalur, peluh orang-orang yang berburu sehat menetes ke bumi. Namun, di beberapa sudut, “jejak kaki” mereka tertinggal dalam bentuk berbeda—botol plastik kosong, sedotan yang mencuat dari cup bekas es teh, dan bungkus cilok yang tergeletak di atas rumput.

Hanya beberapa meter di depanku, seorang pengunjung dengan santai menjatuhkan tisu bekas keringat ke rumput, lalu melenggang pergi tanpa beban. Mereka datang menjemput sehat untuk diri sendiri, tetapi meninggalkan “sakit” bagi lingkungan publik. Padahal, jika tidak menemukan tempat sampah, apa salahnya mengantongi sampah itu dulu dan membawanya pulang?

Dua Pasukan, Satu Kebijakan Hati
Ketiadaan tempat sampah di sepanjang jalur hijau BKT seolah menjadi kambing hitam abadi.

Dulu, aku pernah berdialog dengan seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU)—akrab kita sebut Pasukan Oranye—yang sedang menyapu area BKT. Dari obrolan itu, aku baru tahu tempat sampah permanen sengaja tidak disediakan lagi karena sering disalahgunakan warga untuk membuang sampah rumah tangga hingga lingkungan menjadi kumuh. Sebagai solusi, petugas itu berpesan: jika ada sampah selama berolahraga, titipkan saja di karung milik mereka.

Pagi tadi, di tengah kepungan sampah yang mulai bermunculan kembali di berbagai titik, pandanganku tertumbuk pada sesosok pria berseragam hijau di area taman. Tangannya yang berbalut sarung kain telaten memunguti daun-daun kering dan memasukkannya ke dalam karung goni besar di tepi jalan. Beliau adalah Pasukan Hijau dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota. Melihatnya, sebuah tanya menggelitik benakku. Apakah pengunjung juga boleh menitipkan sampah di karung mereka? Bukankah tugas utama mereka merawat vegetasi taman, bukan mengurusi limbah konsumsi pengunjung? Didorong rasa penasaran, aku melangkah mendekat.

“Pak, maaf … di sepanjang jalur ini kan enggak ada tempat sampah publik, ya. Kalau misalnya pengunjung ada yang mau buang sampah, apa boleh mereka titip ditaruh di karung daun milik Bapak ini?” tanyaku. Petugas itu mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu tersenyum ramah.

“Boleh, Mbak. Enggak apa-apa. Nanti pas di pembuangan akhir, kan, dipilah lagi sama temen-temen. Daripada dibuang sembarangan di jalan, mending ditaruh di sini. Lebih memudahkan kami juga buat ngangkutnya nanti,” ujarnya tenang. Sebuah jawaban sederhana, tetapi menampar telak. Karung daun itu akhirnya menjadi penambal kemalasan pengunjung yang enggan membawa pulang sampahnya sendiri.

Beberapa titik pembuangan liar yang sempat kuabadikan.
(Foto: Dok. Pribadi)

Kemalasan Berlindung di Balik Alasan Fasilitas

Secara sosiokultural, fenomena di BKT menunjukkan potret buram masyarakat yang terlalu bergantung pada fasilitas luar. Dalih “enggak ada tempat sampah” dijadikan pembenaran untuk melepaskan tanggung jawab pribadi atas sampah yang kita hasilkan sendiri. Ada ruang kosong dalam kesadaran kolektif kita: kita merasa berhak menikmati ruang publik yang bersih, tetapi menganggap kewajiban menjaga kebersihan itu sepenuhnya milik petugas berseragam.

Ketika Pasukan Oranye dan Pasukan Hijau membuka karung kerja mereka untuk menampung sampah kemasan kita, mereka sedang memperlihatkan empati yang melampaui batas tugas pokoknya. Sayangnya, kebaikan itu sering dibalas dengan mentalitas, “Ah, nanti juga ada yang mungut.” Akibatnya, tubuh kita bergerak aktif membakar kalori demi kesehatan pribadi, tetapi mentalitas sosial kita justru lumpuh.

Tip Sederhana: Budaya Bersih Dimulai dari Kemandirian

Membangun budaya bersih sebenarnya tidak muluk-muluk. Dari kebiasaan kecil saat berjalan pagi, ada dua langkah sederhana yang bisa dilakukan bersama.

Selalu bawa tumbler sendiri
Cara paling efektif mengurangi sampah plastik adalah dengan tidak memproduksinya sejak awal. Membawa tumbler sendiri membuat kita tidak perlu membeli minuman kemasan sekali pakai di jalur olahraga.

Berkomitmen membawa pulang sampah
Jika terpaksa menghasilkan sampah, tanamkan prinsip: datang bersih, pulang bersih. Logikanya sederhana: jika tangan kita mampu membawa makanan atau minuman saat masih penuh, mengapa terasa berat membawa bungkus kosongnya saat pulang? Kantongi dulu sampahmu sampai menemukan tempat sampah yang semestinya—bahkan jika itu berarti membawanya kembali ke rumah. Menghargai “karung kebijakan” para petugas lapangan bukan berarti kita bisa manja dan asal melempar sampah ke arah mereka.

Ruang publik adalah cerminan tingkat peradaban dan empati masyarakatnya
Jangan sampai peluh sehat yang kita kejar setiap Minggu pagi di BKT justru berganti menjadi pemandangan miris runtuhnya tanggung jawab terhadap lingkungan.
***
Jakarta, 17 Mei 2026 | Ditta Atmawijaya

Artikel merupakan Juara I Lomba Menulis Artikel Budaya Bersih dalam Keseharianmu.

Exit mobile version