Jedug! Perahu karet yang kami tumpangi mendadak berhenti di tengah riak arus Ciliwung River Adventure. Dayung terus dikayuh, tetapi perahu tak bergerak. Dasarnya tersangkut pada anyaman jaring limbah yang telah menyatu dengan dasar sungai. Kami saling berpandangan. Tak ada yang menyangka, sesuatu yang dibuang orang lain bisa menghentikan perjalanan kami sore itu.
***
Jeratan jaring di dasar Ciliwung itu bukan sekadar kendala perjalanan. Ia menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak pernah benar-benar hilang. Sebagian tertahan di sungai, sebagian lagi terus mengalir menuju tempat yang selama puluhan tahun menjadi tujuan akhirnya. Pikiran saya langsung melayang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Jika Ciliwung memperlihatkan wajah persoalan sampah di permukaan, Bantar Gebang adalah jantung yang selama ini bekerja diam-diam menerima sisa denyut kehidupan Jakarta.
Di lahan seluas 110 hektar, jutaan sisa makanan, plastik, dan berbagai limbah rumah tangga bermuara setiap hari. Selama lebih dari tiga dekade, tempat ini menjaga agar Jakarta tetap dapat bernapas. Namun, kini kapasitasnya nyaris mencapai batas.
Alarm dari Halaman Belakang
Melihat Bantar Gebang hari ini tak lagi bisa dengan cara pandang “buang lalu lupakan”. Tempat ini sedang memberi tanda bahwa daya tampungnya semakin menipis. Sulit melupakan peristiwa Maret 2026. Longsor gunungan sampah di zona 4 setinggi sekitar 16 lantai bukan hanya menghentikan operasional sementara, tetapi juga merenggut tujuh nyawa para pekerja. Di balik tumpukan sampah itu, ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka tunggu pulang.
Persoalan Bantar Gebang bahkan menjadi perhatian dunia. Data satelit mendeteksi kebocoran gas metana dalam jumlah besar akibat rusaknya fasilitas penangkap gas. Sejumlah laporan internasional juga menempatkan Bantar Gebang sebagai salah satu tempat pembuangan sampah dengan emisi metana terbesar di dunia.
Di balik persoalan ini, ada manusia-manusia yang ikut menanggung akibatnya. Ada petugas kebersihan yang bekerja sejak dini hari. Ada para pemulung yang menggantungkan hidup dari sampah yang masih memiliki nilai. Ada warga sekitar yang bertahun-tahun hidup berdampingan dengan bau menyengat. Bahkan ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai akibat longsor sampah. Ketika kita berbicara tentang Bantar Gebang, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kehidupan banyak orang. Kementerian Lingkungan Hidup bahkan telah menetapkan target penutupan Bantar Gebang pada 2027 karena kapasitasnya diperkirakan telah mencapai batas.
Ironi “Truk Campur Aduk”
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan bahwa mulai 1 Agustus 2026, Bantar Gebang hanya akan menerima sampah residu. Sampah organik dan sampah yang masih dapat didaur ulang harus selesai dikelola sejak dari rumah tangga. Kebijakan ini memang mendesak. Namun, pertanyaan besarnya adalah, siapkah Jakarta di tingkat hulu?
Membuat aturan tanpa menyiapkan infrastruktur pendukung hanya akan melahirkan kebingungan. Warga diminta berubah, tetapi sistem yang menopang perubahan itu belum benar-benar tersedia.
Banyak warga Jakarta sebenarnya sudah berusaha memilah sampah sejak dari dapur. Botol plastik dipisahkan, kardus diikat rapi, dan sisa makanan ditempatkan di wadah berbeda. Namun, usaha itu sering berhenti di depan pagar rumah. Ketika truk pengangkut datang, kantong-kantong yang sudah dipilah kembali disatukan ke dalam satu bak yang sama.
Dalam sekejap, upaya memilah sampah yang dilakukan di rumah menjadi sia-sia. Sulit meminta masyarakat untuk terus disiplin apabila sistem yang mereka lihat justru memberi pesan sebaliknya. Warga tentu ingin ikut menjaga Jakarta. Namun, mereka butuh fasilitas yang benar-benar mendukung. Komposter komunitas. Bank sampah yang aktif. Armada pengangkut untuk sampah terpilah. Ketika kebijakan dan fasilitas berjalan beriringan, perubahan lebih mungkin menjadi kebiasaan.
Saya juga membayangkan anak-anak yang tumbuh di sekitar Bantar Gebang. Bagi mereka, gunungan sampah mungkin bukan lagi pemandangan yang asing, melainkan bagian dari keseharian. Padahal setiap anak berhak mengenal langit yang bersih dan udara yang layak dihirup. Harapan untuk Jakarta juga berarti harapan untuk mereka.
Kado Ulang Tahun untuk Jakarta dan Kopaja71
Juni 2026 menjadi bulan yang istimewa. Komunitas Kompasianer Jakarta (Kopaja71) merayakan ulang tahunnya yang ketiga pada 16 Juni, sementara Jakarta memasuki usia ke-499 pada 22 Juni.
Sebagai warga sekaligus penulis yang sehari-hari hidup di kota ini, harapan saya untuk Jakarta tidak lagi sebatas jalan yang makin indah atau gedung-gedung yang terus menjulang. Saya berharap Jakarta memiliki ekosistem pengelolaan sampah yang benar-benar terhubung dari rumah tangga hingga tempat pengolahan akhir.
Regulasi berjalan seiring dengan penyediaan fasilitas. Edukasi tidak berhenti pada slogan. Truk pengangkut mendukung pemilahan yang telah dilakukan warga. Teknologi seperti Refuse Derived Fuel (RDF), komposting, dan pusat pengolahan di tingkat kecamatan benar-benar dioptimalkan.
Perjalanan singkat yang terhenti di Ciliwung sore itu mengingatkan saya bahwa persoalan sampah bukan sekadar tentang apa yang kita buang, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan ruang hidup bersama. Kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung atau ramainya jalan. Kota yang besar adalah kota yang tidak meninggalkan halaman belakangnya. Tidak membiarkan sebagian warganya menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama.
Selamat Ulang Tahun ke-499, Jakarta
Semoga ketika memasuki usia lima abad tahun depan, yang kita wariskan adalah keberanian untuk mengubah cara kita memperlakukan bumi dan sesama. Semoga hadir sebuah kesadaran bahwa yang sedang kita selamatkan adalah masa depan manusia yang hidup di kota ini.
Selamat ulang tahun ke-3 untuk Kopaja71. Semoga komunitas ini terus menjadi ruang bagi para penulis untuk merawat harapan, termasuk harapan untuk Jakarta yang lebih manusiawi.
***
Jakarta, 30 Juni 2026 | Ditta Atmawijaya
Artikel merupakan Juara II Lomba Menulis Artikel Harapan untuk Jakarta.

