Site icon cerpensastragrup

Merah di Arena (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

Sumber ilustrasi: KOMPAS/P Raditya Mahendra Yasa.

“Arena itu jadi saksi bisu pertempuran,” kata mantan prajurit pada kawan yang sibuk mengabadikan kemegahan. Mata seorang purna-Praka itu berpijar. Meski matahari datang bersama udara lembabnya, mereka berhenti di sudut kenangan. Menyeruput es teh lima ribuan di kursi pinggir jalan.
***
Tiga tahun berjalan bersama sirene. Belakangnya, ratusan prajurit sibuk bertahan, tanpa menyerang. Arena itu masih gagah dengan namanya yang agung di atas. Tangganya tetap kokoh menyambut gebrakan dari ribuan prajurit. Bisa menyaksikan cantiknya bunga tabebuya, kalau beruntung.
***
Ketika pertama kali menginjakkan kaki, prajurit berlari masuk ke restoran ayam untuk sekadar mendinginkan kulit. Aliran soda dan es krim membasahi tenggorokan segera. Di dalam gedung, berubah jadi lalat yang menggeromboli makanan. Sang prajurit sempat berkunjung ke gedung di baliknya—tempat banyak orang mengetik, merekam, menyunting, mencetak, bahkan berdebat. Gigi masih tampak setiap kali menemukan hal baru. Berlarian ke sana kemari. Sibuk mengabadikan dengan seragam kebanggaan.

Ratusan prajurit masuk ketika dipanggil untuk menukar secarik kertas dengan cap ungu di tangan, pertanda legalitas senjata. Duduk di bangku kayu yang tetap kuat meski menanggung beban dosa manusia yang mendobraknya. Mata menyorot area tempur utama. Senyum masih tercetak jelas, tak ada bayangan buruk yang terlintas.

“Keren!” satu kata untuk pemandangan di dalam.

Arena itu menjadi bagian sejarah penting bagi setiap pasukan di sana. Semua berpesta merayakan kebersamaan. Bendera dibentangkan sambil mengumandangkan nyanyian turun-temurun, tanpa gitar dan piano yang mengiringinya. Tangan berdansa mengikuti arahan. Saling menggenggam tangan sambil menggesekkan keringat. Ada pula yang sampai mengangkat piala, pamer seragam baru, dan menerima konfeti. Pestanya pun makin ramai.

Lantangkan suara ini! Lalu dentuman drum menyusul. Begitulah gambaran romansa para prajurit yang mencintai batalionnya. Teriakan saling merangkul dan mencoba menyalurkan energi pada pasukan tanpa lengan yang membawa senjata. Tak lupa membuat tameng salawat. Sebab, bukannya adu rayu, tetapi justru adu dukun.
***
“Emang ini arena apa sih? Serem amat,” ungkap kawan yang akhirnya buka suara.

“Perang.”

“Kamu ikut?”

“Loh, aku mantan Tamtama,” jawaban yang berhasil disusul dengan sorakan kagum. Dia duduk di anak tangga paling akhir. Meluruskan kaki dan memejamkan matanya seolah memanggil semua memori. Lalu, dia rebahkan punggungnya.

“Dulu, aku nggak sempat menikmati matahari di sini,” katanya lagi.

Mantan Praka itu mulai membayangkan situasi arena delapan tahun yang lalu. Pasukan terduduk rapat di tangga, namun gelisah bersarang di hati masing-masing. Ada banyak sosok asing bertopeng hitam, bukan intel, yang mendekat dan berbisik keras. Yang penting tidak bawa-bawa si biru, Mbak. Mereka sempat bingung pasal identitas si biru, padahal jelas mereka tidak sedang membawa warna itu. Entah dari mana mulanya, orang bertopeng bak-bik-buk di sekitar. Barisan kian rapat. Sungguh gelap, tak punya peta jelas.

Waktu makin berasa lama untuk sekadar menunggu pulang. Hati mereka berisik. Logika ingin lari, namun arah sudah berantakan. Edaran mata dipenuhi mereka yang bertopeng. Bulu roma enggan tidur kembali. Mata tertutup, makin kelam. Bayangan perang berdarah berlalu-lalang selama pasukan belum dinyatakan aman. Mereka kembali dibisiki. Teror ini bakal selalu ada sampai junior kalian. Rencana teror turun-temurun sudah direncanakan dari sekarang. Artinya, ketika kembali, mereka harus melewati tangga ini dan dibisiki lagi.

Teriakan dari orang depan, para kopral yang berusaha gagah berani, menyadarkan rasa takut. Rombongannya berbondong-bondong masuk. Mereka saling tarik untuk masuk ke zona aman meski tak yakin benar-benar aman.

“Prajurit berperang tanpa persiapan?” tanya kawannya.

Dia tertawa miris. Pasukannya hanya bersiap perang di arena, bukan di luar. Lagian, bukankah prajurit dilarang bersenjata seenaknya? Di dalam arena, para prajurit fokus perang dengan lawan yang ditentukan. Sayang, ada penyusup pasukan hitam yang berkata, Kutunggu kalian di bawah. Peringatan yang entah asalnya dari mana membuat mereka kelabakan.

Sejak kunjungan kedua yang membawa petaka itu, para Tamtama mencoba skema lebih rapi. Tidak ada lagi agenda menghabiskan uang saku. Mereka benar-benar terkurung di sebuah ruangan yang tidak sembarang orang bisa masuk. Arena itu punya sudut khusus untuk prajuritnya. Hampir setiap pintu ada kopral-kopral dengan tubuh kurusnya. Mata merah tidak tidur semalaman terus mengedarkan pandangan. Mereka akhirnya tahu rasa berjuang di arena perang sesungguhnya dengan lawan yang tidak teridentifikasi. Beginikah dulu orang tua melawan Belanda?

“Aman?”

Sang prajurit menggelengkan kepala dengan tetap merebahkan diri di sana. Semua aman saat di dalam. Tentu tidak ada yang berani melepas tembakan. Tembok yang kokoh dengan para kopral di setiap sudut. Ketika geredukan turun, mereka kudu bergandeng tangan keluar, tak ada satu pun yang boleh terpisah. Berjalan cepat mengikuti kepala pasukan. Tidak ada waktu bercanda. Kunjungan ketiga itu benar-benar menggelapkan arena—hanya datang, masuk, perang, pulang. Takut kalau diam-diam ada kepala yang terpenggal, tangan yang ditarik, dan perampasan aset yang bukan dibeli dari pajak. Mereka seperti dukun dengan jubah hitam-hitam dan cluritnya berkeliling mengincar kepala.

Sopir bus menancap gas berkecepatan tinggi. Mereka buru-buru masuk ke jalan khusus lagi, hampir mati kalau orang lain bisa masuk. Saat sudah di jalur aman, barulah terlihat luka yang ada di punggung kopral satu dan dua. Diinjak dan didorong adalah hal yang harus diterima untuk keselamatan anggota, masih untung tidak mati.

“Mereka juga prajurit?”

“Bukan.”

“Berani, ya? Padahal sebelah gedung orang penting.”

Prajurit tertawa keras. Menurutnya, gedung itu cuma bangunan kosong yang airnya pun berwarna kuning pekat, dinding berdebu dan kusam, bahkan plafon sudah hampir roboh. Dia tidak tahu kondisi ruangan pimpinannya, mungkin berlapis kaca tebal anti peluru, dan sofa empuk. Mau pakai lencana anggota dan jenderal sekali pun tak akan cukup kalau tidak mengisi rekening. Begitulah, tidak heran kalau banyak yang akhirnya meremehkan setumpuk undang-undang.

Meski harus bertaruh nyawa, dia bilang, di situlah letak asiknya. Dengan begitu, hidupnya penuh cerita yang menarik selama tiga tahun di arena perang. Nyawa jadi ancaman, padahal perangnya antara prajurit dan preman. Mereka tak bisa salah langkah, nanti berujung tuntutan di pengadilan. Bayangkan saja, kalau mereka melawan, apa yang akan terjadi? Narasi pasukan melakukan kekerasan terhadap sekelompok warga? Pada akhirnya merekalah yang salah, bahkan saat datang dan pulang bersama wiu-wiu, preman-preman menganggap pasukan itu pengecut.

“Toh, peluru-peluru ilegalnya juga tetap dilepas sama mereka. Mereka lupa banyak ‘jiwa’ yang telah hilang karena ancamannya. Mobil Patwal itu cuma jadi tameng. Preman-preman itu tak ditangkap, padahal setiap tahun tak pernah absen mengepung.”

Kini, sang prajurit duduk menghadap bunga tabebuya. Matanya bersinar, tidak seperti tadi saat menceritakan masa kelam beberapa tahun yang lalu. Ada rasa haru karena dia bisa menyaksikan keindahan bunga warna merah muda yang bermekaran di pinggir jalan.

Ketenangan sekaligus lega masuk ke paru-paru sebagai pasokan oksigen setelah semua trauma menahannya. Dia disadarkan oleh Sakura kw di depan arena perang bahwa tak ada lagi peluru yang menyasar ke tubuhnya.

“Kenapa nggak ditangkap?”

“Anak di bawah umur. Entah benar-benar di bawah umur atau hanya orang-orang yang haus validasi dengan kartu pelajar palsu.”

“Ada yang diincar? Yang biru-biru tadi apa?”

“Harga diri, mungkin?”

Mereka takut daerahnya direbut, spekulasi lain. Para prajurit yang datang hanya sekadar membela batalionnya di arena, bukan mencari kursi jabatan gubernur, apalagi walikota. Toh, selama tiga tahun itu mereka berangkat hanya untuk perang resmi antarpasukan berseragam. Untuk warna biru, dirinya sendiri juga kurang terbuka. Dia tidak mau berbicara banyak pasal warna itu.
***
Perang antara prajurit dan preman itu cukup gempar di kalangan mereka. Namun, tidak ada media satu pun yang memberitakan. Tiga tahun lemparan peluru selalu terjadi. Media hanya tertarik dengan batalion kota sebelah yang berhasil menaklukkan sang raja kota ini, padahal ada malam-malam yang mencekam.

“Pasukan prajurit dan penjaga di sinilah yang harus menahan lemparan peluru merah dari mereka. Semua itu terus terjadi tanpa diketahui publik,” mantan prajurit melanjutkan.

Ia menarik napas panjang mengingat teror itu. Dia benar-benar tahu banyaknya kerikil yang mengenai tubuhnya. Diam, tak bergeming. Angin malam pun turut membawa pasir-pasir tak bertuan. Sayangnya, orang-orang justru hanya melihat pesta dan piala yang dipamerkan lewat berita lokal. Kekerasan di luar arena dianggap biasa.

“Kami hanya jadi samsak oleh orang-orang yang punya dendam warisan.”(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 1 Februari 2026.

Tentang Cerpenis
Auranita Gibrani Darmawan

Ketertarikannya dengan sastra sejak kecil membuatnya berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM. Telah memublikasikan sejumlah karya, di antaranya, cerpen-cerpen: “Blok Sembilan”, “Kana”, “Salam Maria”, “Yogya dan Rindu”, “Mimpi di Balik Gerbang Sunyi”, “Bakauheni Merak”, dan “Penaku Dicuri”. IG: @auragib

Testimoni Auranita Gibrani Darmawan

Sudah pesta, terbitlah perang.
Tulisan ketiga saya di Cerpen Sastra yang berjudul “Merah di Arena” tersebut menggambarkan sportivitas yang masih dinilai kurang di negeri ini. Melalui cerita pertarungan prajurit, saya ingin menyoroti euforia di lapangan sering kali berujung kekerasan. Darah meluap-luap karena rivalitas buta. Kalau orang pikir ini soal sepak bola, salah, banyak hal lainnya yang tidak terekspos. Saya harap, tidak ada lagi perang karena hal sepele yang bahkan dianggap angin lalu dan berujung fatal.
Manusia bukan samsak untuk menyalurkan dendam warisan.

Terima kasih, Cerpen Sastra, sudah menjadi rumah untuk anak cerpen saya ini. Dengan cerita dan makna baru, saya harap pembaca bisa ambil insight yang baru lagi. Semoga banyak sastrawan lain lahir dan lebih banyak yang mencintai sastra Indonesia.

Exit mobile version