Site icon cerpensastragrup

Kana (Cerpen Auranita Gibrani Darmawan)

Sumber Ilustrasi: Youtube via jatim.tribunnews.com.

“Apa yang sakit, Kan?” tanya seorang wanita tua yang biasa dipanggil ibu oleh Kana, lebih tepatnya ibu tiri.
***

Kana mengeluh, badannya gemetar, keringat dingin mulai bercucuran. Tangannya meremas perut kanan, lalu kiri. Sakit yang kerap berpindah-pindah itu membuat wanita yang bernama Laksmi ikut meringis. Seminggu lamanya Laksmi terus meminta jawaban pada sang anak, tapi Kana sendiri bukan mahasiswa kedokteran atau anggota PMR yang bisa mendiagnosis sebuah penyakit. Mereka sudah mencoba mencari obat.

“Mbah, anak saya harus diperiksa!”

Belum sampai di ruang periksa yang berbau menyan itu, mereka sudah diminta pulang. Laksmi terus berteriak di depan pintu kayu yang sudah lapuk dimakan rayap. Angin dingin berembus membawa bau dupa yang menyengat. Kaki Kana melemas. Dia tak punya tenaga untuk menopang badannya meski beratnya sudah menurun 5 kg dalam dua hari. Ibunya menggenggam erat tangannya, merasakan telapak Kana makin dingin. Jantungnya terus berdegup kencang. Dia meminta pulang.

Malam berikutnya, sang ibu memapah gadis yang sudah kehilangan pipi cempluknya. Dia membawa sang anak pada tempat lain. Kali ini di tengah hutan, tanpa penghalang pintu tua. Langkah mereka makin berat di atas tanah lembap. Meski cahaya bulan meninggikan bulu kuduk, keduanya terus berjalan. Bayangan aneh melesat ke sana ke mari di antara pepohonan karet. Kana terlalu lemah, tubuhnya makin berat dibawa, dan remasan tangan pada perutnya mengerat.

“Bu, sakit…”

“Mbah, tolong anak saya!”

Ngadiman menatap mereka dari ujung ke ujung. Dia tersenyum pahit saat melihat tangan kosong di hadapannya. Ngadiman meludah ke tanah yang sudah basah. Kakek tua itu mengusir mereka. Laksmi memohon sampai berlutut, membiarkan anaknya terjatuh. Tak ada yang berubah, kecuali bau melati bercampur bunga sedap malam yang muncul di bawah hidung. Kana menundukkan kepalanya, menahan rasa sakit yang makin tak karuan. Benaknya meminta pertolongan, tapi lidahnya tak berenergi untuk bergerak. Tubuhnya gemetar memompa semua cairan di dalam.

Mulutnya diam, tapi kepalanya berisik. Dia takut mati, tapi hidup melemahkan dirinya sendiri. Tak ada yang sudi melihatnya karena baju robek, sandal aus, dompet kosong, dan pemikiran kolot ibu tiri. Setiap pagi, ibunya berjalan menyusuri jalanan aspal yang panas sambil membawa cucian dari rumah ke rumah. Terkadang sapu ijuk dan sapu lidi yang dipikul. Makan dua kali sehari saja sudah jadi kabar melegakan. Tak jarang tatapan orang-orang seperti bertemu anjing yang kedinginan di luar rumah.

Pandangan Kana mulai kabur, bayangan yang tadinya mondar-mandir telah lenyap. Bau kopi hitam, ayam mentah, darah, lemper, dan rokok ikut berlari bersama angin. Gelap. Kesadaran Kana juga hilang. Ibunya panik. Ngadiman lebih memilih berbicara pada para penunggu hutan. Mereka kembali ke rumah tanpa jawaban lagi.

Dada Laksmi sakit menyaksikan lengan putih anaknya membiru. Dia marah pada jarum dan cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh Kana. Barang itu gratis, tapi tak becus. ‘Antibiotik’ telah menyesakkan napasnya. Tubuh kurus sang anak terbaring di atas kasur tipis. Napasnya berat. Wanita itu menggenggam dengan kulit tangannya yang mulai keriput. Orang berjas putih di puskesmas membuatnya lebih percaya pada dupa daripada jarum dan ampul.

“Pak, anak saya sakit apa?” kini dia mencoba membawa Kana pada seorang kiai terkenal di wilayahnya. Tak perlu bawa sajen atau lembaran uang.

Keduanya duduk di atas tikar pandan lusuh di sepetak ruangan yang dipenuhi oleh mantra kaligrafi. Udaranya lebih hangat dibandingkan dengan hutan Mbah Ngadiman. Pria bergamis putih membacakan jampi-jampi pada segelas air. Kopiahnya menutupi uban yang sudah mendominasi kepala. Kana tak minat melihat cipratan air liur kiai pondok pesantren itu. Mulut keringnya dicekoki satu gelas sekaligus, tanpa jeda. Tak lupa rambut hitam patah-patah miliknya disembur sebuntal air dari mulut kiai.

Selembar kertas berisi ayat-ayat diserahkan pada Laksmi. Orang pintar minta kertas itu disimpan di perut Kana. Kertasnya ditelan cepat oleh gadis penyuka animasi, entah jadi ayat penawar atau racun. Kiai dan ibu terkejut menyaksikan kejadian itu. Dia terdiam, sudah enggan menjawab semua pertanyaan yang dilayangkan oleh mereka.

“Kenapa kau menelannya?” tanya sang kiai.

Pengobatan gratis ini sungguh membuat Kana sendiri muak. Setiap niat baik justru makin membebani hatinya. Dia benar-benar kacau.
***

“Bu, sakit… Perutku sakit,” Kana mengeluh kembali. Tak ada perubahan sejak dirinya menelan kertas mantra dua hari lalu.

Laksmi terus memandang anaknya yang terus berteriak sakit. Tak ada diagnosis jelas. Semua ‘dokter’ yang dipanggil Mbah tak ingin menyentuh Kana. Tak ada sajen apalagi uang, kata para orang tua itu. Makhluk halus juga butuh makan, katanya lagi. Penyuntik gratisan sebelumnya tak menggunakan stetoskop untuk menulis diagnosis. Pernah wanita itu melayangkan petisi marah.

“Kenapa asal suntik? Bukankah seharusnya diperiksa dulu?”

“Tidak gratis,” jawab mereka ketus. “Lagian dilihat dari keluhannya, sudah pasti ini obatnya.”

Bohong. Kana merasa ampul itu berisi racun. Perutnya makin dililit. Dia rasa, isinya sudah bukan lagi usus dan lambung, tapi nasi yang sudah dibuat MPASI bayi. Gadis usia 20 tahun itu merengek pada sang ibu, meminta pertolongan, tanpa uang, suntikan, menyan, atau pun mantra ayat.

“Sakit, Bu… Perutku hancur…”

“Mana yang sakit, Kan?”

“Kotak ijo, Bu!”

Tak lama, Kana tertidur. Energinya sudah terkuras untuk rengekan yang sama selama berhari-hari. Istri baru ayahnya itu tak bisa ikut pergi ke alam mimpi. Dia berpikir tentang kotak yang dimaksud. Semua tas Kana digeledah, namun dia tak menemukan barang berwarna hijau. Dalam tidur, sang anak mengoceh, berteriak pasal kotak ijo, bunga, ampul, bahkan nisan.

“Tolong!” orang tuanya terbangun dari kamar seberang. “Sakit…,” kali ini bukan perut, tapi kepala.

“Apa yang sakit, Kan?”

Dia menunjuk kepalanya. Pipi tirus dibanjiri oleh tangisan. Tangan yang tak berlemak menjambak rambut. Kamar itu mendadak panas. Ada bunga di pojok dan tiga ampul kosong di tumpukan yang sama. Keringatnya sudah mengucur membasahi bantal. Gemetar tubuhnya mengguncangkan dinding. Mata kosongnya menatap ubin yang terlihat memerah.

“Seperti dipukul palu, Bu…”

“Palu apa?”

Kana tak menjawab dan kembali tertidur. Ayahnya cepat menggendong. Dia dibawa ke tempat orang berjas putih lagi. Ampul dengan isi yang sama kembali disuntikkan pada tubuh lemah itu, tanpa mendengar detak jantung apalagi tensi. Kana disuntik di tempat yang sama juga dengan permukaan yang hampir ungu. Bukan ketenangan, melainkan amarah.

“Ampul!” dia teriak kembali.

“Ada apa dengan ampul, Kan?” tanya ayahnya.

“Bunga!”

“Bunga apa?”

Tak ada jawaban, tak ada keributan. Bukan karena Kana sudah tenang, tapi mereka diusir. Di luar, mereka bertemu dengan sederet pasien. Keluhannya sama, perut, dada, dan kepala. Suntikan pun sama persis. Ampul murahan yang diberikan cuma-cuma pada tubuh orang miskin. Wajah-wajah putus asa memenuhi lorong ruang tunggu yang pengap, hanya ada satu kipas di atap.

“Orang miskin kalau sakit pilihannya hanya dua, mati sekarang atau mati nanti,” ucap salah satunya.

“Ke Mbah Ngadiman saja,” Laksmi masih percaya pada dukun itu. Kana menggeleng cepat, tak mau. Dia sudah kebal dengan bau-bauan sajen. Mungkin tubuhnya tak akan bereaksi. Ditambah, mereka tak mampu membeli pangan dedemit peliharaannya.
***

Tiga hari dari sana, Kana mulai membaik. Udara rumahnya kembali sejuk dengan angin yang berbisik di antara kayu-kayu. Bunga dan ampul telah hilang. Kamar yang berukuran satu kali tiga meter ini terasa lebih dingin dari biasanya. Dinding kuning terlihat lebih terang. Tirai tipis berterbangan mengikuti angin. Aroma hujan menyambut senang.

“Yah, ngaji. Ayah yang pimpin, ya…,” bibir keringnya meminta pada sang ayah. Pria berkulit sawo matang itu berkaca-kaca, tapi ia tetap menuruti putri kesayangannya.

Suara keduanya lirih memenuhi kamar. Lantunan ayat suci mengalir lembut, menyatu dengan desau angin. Kana memejamkan mata, seolah menikmati bacaannya. Tirai kamar masih menari-nari dan cahaya putih mulai menembus retina. Suaranya mengecil, sedangkan ayahnya terus membaca sambil gemetar. Kana terbaring diam, napasnya kian tenang, layaknya sedang menikmati ketenangan tanpa rasa sakit. Deru napas sudah tak terdengar berganti dengan deruan tangis dari seisi rumah. Senyum damai pun telah terukir cantik di wajahnya.

Tumpukan bunga datang tanpa ampul, namun nisan dengan namanya. Kana.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 22 Juni 2025.

Tentang Cerpenis
Auranita Gibrani Darmawan
Berkuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM). Bisa dipanggil Aura. Lahir di Malang, tetapi tumbuh dan besar di Indragiri Hulu, Riau. Tertarik dengan sastra sejak kecil. IG: @auragib atau LinkedIn: Auranita Darmawan.

Testimoni Auranita Gibrani Darmawan

Cerpen “Kana” saya tulis ketika tepat satu tahun sahabat saya pergi ke hadapan Tuhan. Rindu sekaligus marah masih ada setiap kali mengingat cerita dia saat sebelum kabar duka itu terdengar. Seperti Seno Gumira Ajidarma, cerpenis yang paling saya kagumi, saya ingin menulis atas kegundahan hati. Dengan begitu, menulis cerpen ini menjadi jalan untuk saya berteriak dengan imajinasi yang liar, tapi tak memisahkan diri dari kenyataan yang ada. Menurut saya, sastrawan beraksi dengan caranya sendiri.

Saya pun sangat mengapresiasi Cerpen Sastra karena telah menjadi wadah untuk penulis-penulis, tanpa memandang “ketenaran”. Di sini, para penulis bisa saling belajar dan berkembang bersama. Saya harap, Cerpen Sastra akan terus jadi rumah untuk penulis Indonesia. Semoga makin banyak penulis yang lebih dihargai daripada sekadar upah mengetik.

Exit mobile version