Cerpen Sastra

Indriani (Cerpen Elis Metty Rosmiati)

Jika kamu pernah mendengar istilah Minggu kelabu, maka kali ini ada Rabu kelabu. Waktu di mana hal menakutkan terjadi kepada Indriani. Ketika fajar sudah menenggelamkan dirinya dan membiarkan langit menjadi sangat pekat. Saat itu, dia berjalan sendiri tanpa arah. Tak ada cahaya bulan atau kerlap-kerlip bintang menghiasi malam. Hanya lampu-lampu jalanan berwarna kuning yang menambah suasana semakin mencekam.
…

“Ibu … Indri takut,” gumamnya sambil terus berjalan.
Oh, siapa sangka. Langit hitam pekat itu lalu menitikkan setetes demi setetes air. Gerimis erat kemudian mulai membasahi Indriani. Dia berlari mencari tempat untuk berteduh. Namun, tak ada satu pun yang bisa dia temui. Hingga pada akhirnya dia sampai di sebuah jembatan. Kondisi air sungai di bawahnya terlihat sedikit kering. Dia memutuskan untuk berteduh di bawah kolong jembatan saja.

“Ibu …. Maafin Indri,” katanya menyesali keputusan yang sudah dibuat beberapa waktu lalu. Dia mulai menitikkan air mata lalu dengan erat tangannya memeluk kedua kaki dan membiarkan kepala bertumpu pada lutut.
***

Sekitar dua jam yang lalu, pertengkaran di kediaman rumah Sanjaya terdengar. Lelaki itu beradu argumen dengan Widia, istrinya, seperti biasa. Semua orang di lingkungan rumah tersebut sudah biasa mendengar pertengkaran mereka. Tak terkecuali pula satu-satunya putri mereka, yakni Indriani. Dia menyimpan banyak benang kusut di dalam kepala.

“Bajingan! Kamu main perempuan lagi rupanya?” teriak Widia sampai pada puncak pertengkaran mereka.
“Emangnya kenapa? Lu kalo mau main sama cowok lain juga gak apa-apa, kok, silakan!”

Widia telah kehabisan kata-kata. Dia hanya mampu mendorong tubuh suaminya dengan kesal. Lalu kalimat terakhir dari pertengkaran mereka yang selalu terucap dengan sama pun keluar juga.

Dia berkata, “Kalau bukan karena Indriani, aku gak akan pernah mau mempertahankan pernikahan kita.“
“Oh ya? Kalo lu sayang anak itu, lu ambil aja. Gua masih bisa punya anak dari cewek lain.”

“Bener-bener bajingan! Kalau tahu kamu gak akan berubah, aku gak akan pertahanin anak itu!”

Seharusnya sudah cukup ketika kalimat kalau bukan karena Indriani telah terucap. Namun, kali ini pertengkaran mereka bukan hanya memperpanjang benang kusut dalam kepala Indriani. Satu kalimat dari Ayah dan Ibunya telah membuatnya patah hati. Gadis empat belas tahun itu berpikir berulang kali. Mungkin jika dia tidak ada, maka pertengkaran di rumah ini tidak akan terjadi lagi.

Indriani menunggu waktu berlalu sampai suasana terasa hening. Dia mulai membereskan beberapa baju dan perlengkapan lain ke dalam ransel. Dia juga menulis sepucuk surat permohonan maaf. Dia akan pergi agar kedua orang tuanya bisa menemukan kebahagiaan mereka kembali.

Untuk Ayah dan Ibu.
Ayah dan Ibu mungkin tidak akan percaya ini. Tapi, aku rasa ada yang berbeda dengan perasaanku. Seorang cowok di sekolahan sering membuatku merasa berdebar. Aku rasa ini yang dinamakan jatuh cinta. Ya, cinta. Sesuatu yang bisa menyatukan dua insan di dunia ini. Apa Ayah dan Ibu dulu menikah karena cinta? Aku sering dengar kalau cinta itu buta. Bisa menutup semua hal buruk dari pasangannya. Tapi, kenapa Ayah dan Ibu selalu saja bertengkar? Apa kalian lupa pernah saling mencintai?

Ayah, Ibu.
Aku menyesal baru menyadari pudarnya cinta kalian karena diriku. Jika memang Ayah tidak menginginkanku dan Ibu juga tidak ingin aku ada, aku akan pergi. Aku harap setelah kepergianku, kalian akan berhenti bertengkar dan bisa kembali menemukan kebahagiaan kalian berdua.

Salam sayang:
Indriani.

Malam itu pukul sebelas malam lebih tiga belas menit. Indriani mengendap-endap keluar kamar. Dia memastikan kalau kedua orang tuanya telah tertidur. Sang Ayah terbaring di kursi dengan terus mengigau. Hal tersebut efek dari minuman keras yang ditenggaknya. Sementara Ibu terlelap di kamar dalam keadaan mata sembab karena menangis.

Indriani menarik napas setelah melihat kondisi kedua orang tuanya. Dia semakin yakin untuk pergi dari rumah. Dia bahkan tidak berpikir panjang apa yang akan ditemui di luar sana. Apalagi tengah malam begini.
***

Suasana pagi yang sama bagi Sanjaya dan Widia. Mereka tengah sibuk bersiap-siap untuk bekerja. Mereka tak biasa sarapan di rumah. Sementara untuk sarapan Indriani, ada seorang asisten rumah tangga yang datang setiap pagi dan bekerja sampai sore tanpa menginap di kediaman rumah Sanjaya, Bu Mirnah namanya.

Pagi itu, Bu Mirnah merasa aneh. Sosok dari Indriani belum juga kelihatan batang hidungnya. Dia bertanya-tanya, apa mungkin Indriani belum bangun? Dia pun berinisiatif mengetuk pintu kamar, tapi tak ada jawaban. Dengan perasaan tidak enak, dia mulai menggerakkan gagang pintu kamar tersebut.

“Non?” panggil Mirnah. Dia melangkahkan kaki perlahan memasuki kamar Indriani. Dia pula orang pertama yang membaca surat kepergian gadis itu.

“Bu … Pak …,” teriak Mirnah ke luar sambil menggenggam surat dari Indriani. Beruntung kedua majikannya itu belum berangkat bekerja. Mereka masih memanaskan kendaraannya masing-masing.

“Ada apa, Bu Mirnah?” tanya Widia. Sementara Sanjaya acuh tak acuh. 
“Bu, Non Indriani kabur!” Bu Mirnah menyodorkan suratnya.

“Hah?” Widia mengernyitkan dahi. Dia mengambil sepucuk surat itu dan membacanya.
Sanjaya pun tetiba meninggalkan kendaraan yang sedang dipanaskan. Dia menghampiri Widia dan merebut surat tersebut.

“AKU BELUM SELESAI MEMBACANYA!” teriak Widia naik pitam. Hal tersebut jelas memancing amarah Sanjaya. Sehingga keduanya sama-sama tidak membaca surat kepergian itu dengan seksama. Mereka melewatkan inti dari makna yang terkandung di dalamnya.

“Ini semua gara-gara kamu!” ungkap Sanjaya menyalahkan.
“Aku?” Widia kemudian tak kalah menyahuti perkataan Sanjaya. Lagi-lagi mereka berdua terlibat adu mulut. Bu Mirnah sampai menggeleng kepala melihat mereka. Bahkan, sampai mereka mengakhiri pertengkaran karena hampir terlambat bekerja, tak satu pun yang berinisiatif untuk melaporkan kehilangan pada pihak yang berwajib.

“Nasibmu memang lebih menyedihkan dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki orang tua,” gumam Mirnah. Dia segera bergegas ketika kedua majikannya telah pergi. Tak lupa mengambil sepucuk surat yang sudah tergeletak di jalanan. Usai mengerjakan pekerjaan rumah, dia akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan orang.
***

Waktu demi waktu berlalu. Sudah empat hari sejak kepergian Indriani. Widia mencium aroma parfum perempuan seperti biasa dari tubuh Sanjaya. Pada awalnya, pertengkaran biasa terjadi. Bahkan Widia berulang kali menyalahkan Sanjaya. Namun, melihat tabiat dari suaminya yang tak berubah, dia menyadari kalau Sanjaya memang tidak peduli kepada pernikahan ini. Dia berjuang sendiri mempertahankan sesuatu yang seharusnya sudah dia lepas dari dulu.

Di hari kelima kepergian Indriani, Widia kemudian mendatangi kantor polisi untuk mengetahui perkembangan dari laporan Bu Mirnah. Namun, polisi belum juga menemukan petunjuk apa pun dari keberadaan putrinya. Hatinya merasa sakit, tapi lebih sakit ketika dia terlambat menyadari betapa berharga keberadaan putrinya. Dia terlalu sibuk dengan pertengkaran bersama Sanjaya yang tiada akhir.

Widia tak henti menitikkan air mata. Dia berulang kali memohon kepada Yang Kuasa agar putrinya segera ditemukan. Bersamaan dengan itu, dia bergegas mengumpulkan berkas-berkas untuk pengajuan perceraian. Dia telah berdamai dengan kenyataan bahwa selama ini telah memilih orang yang salah. Aroma parfum perempuan yang dicium saat kepulangan Sanjaya malam ini pun tak lagi memicu pertengkaran.

Sekarang, kediaman rumah Sanjaya tentram.

“Ibu ….”
Widia terperanjat. Apakah yang didengarnya nyata atau sekadar bentuk dari kerinduan?
“Ibu ….” Sekali lagi suara Indriani terdengar. Kali ini bersamaan dengan ketukan di pintu.

“Indri!” teriak Widia segera menuju ke pintu dan membukanya. Dia mendapati bahwa putrinya memang ada di sana. Gadis itu pulang.

“Indri, akhirnya kamu pulang, sayang. Maafin semua kesalahan Ibu selama ini.” Widia memeluk Indriani begitu erat. Kemudian pelukan itu terbalaskan.

Indriani berkata, “Ibu, aku dingin. Aku ingin dipeluk seperti ini dan tidur bersama Ibu untuk semalam ini saja.”

“Jangankan malam ini. Mulai sekarang, kamu boleh tidur bersama Ibu setiap hari. Sekarang ayo masuk, kamu pasti belum makan. Ibu ….”

“Aku ingin tidur, Bu.” Indriani memotong perkataan Widia.
“Benar juga. Kamu pasti lelah. Ayo!”
Malam ini mereka tidur bersama. Namun, Widia tidak dapat menemukan Indriani saat pagi sudah tiba. Apa gadis itu kabur lagi?

“Indriani …,” panggilnya tiada henti. Tak lama, pihak kepolisian datang menyambangi kediaman Sanjaya. Mereka mengabarkan bahwa Indriani sudah ditemukan. Namun, keadaannya sudah tak bernyawa. Gadis itu ditemukan di sebuah sungai. Diduga bahwa gadis itu terseret arus sungai bandang. (*)

Ciamis, 25 Mei 2023.

Tanggal tayang:
Minggu, 28 Mei 2023

Cerpenis

Elis Metty Rosmiati
Mulai suka menulis sejak duduk di bangku sekolah. Menjajal dunia kepenulisan sejak tahun 2018 akhir. Ia mencoba memublikasikan beberapa karya di platform media online. IG: @elmero_id

Testimoni Elis Metty Rosmiati
Selasa, 30 Mei 2023

Event menulis @cerpen_sastra pertama kali saya ketahui dari seorang teman. Dia salah satu pemenang pada sayembara cerpen 19 Maret 2023. Ketika mendapat info menulis ini, saya begitu tertarik.

Di kesempatan pertama mengirim naskah, saya berhasil masuk nominasi. Namun, saat itu naskah belum berkesempatan untuk tayang. Tak berhenti sampai di situ, saya mencoba mengirimkannya lagi. Alhamdulillah, ketika saya mendapatkan pesan bahwa naskah tayang tanggal 28 Mei 2023, saya tak berhenti bersyukur.

Ini memberikan kebahagiaan dan semangat yang membuat saya semangat menulis. Bagi saya, @cerpen_sastra memiliki konsep baru dan segar daripada yang lainnya. Semoga ke depan @cerpen_sastra semakin berkembang menjadi komunitas yang lebih besar. Di mana para penulis terbaik ada di dalamnya. Saya juga akan terus berusaha menulis naskah terbaik untuk selanjutnya dikirimkan kembali ke @cerpen_sastra. Semoga ada kesempatan lagi di waktu mendatang untuk berkolaborasi.


Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *