Jum sebenarnya sangat tak setuju tunangannya, Bari, bekerja di kapal pelayaran. Jum teringat banyak tetangganya yang bekerja di pelayaran dan sulit untuk pulang. Syukur bisa pulang setahun sekali. Matanya tertuju rumah Ipung. Entah ke mana ia sekarang. Setahun pertama kerja di pelayaran sangat memuaskan: bisa melunasi utang modal keberangkatan dan bisa merenovasi rumahnya lengkap dengan keramiknya. Di desanya, rumah yang berkeramik hanya milik keluarga Ipung. Sisanya? Hanya rumah dengan alas baluran semen kasar.
…
Jum memelototi rumah Ipung. Masuk tahun kedua bekerja di pelayaran, ia tak pernah pulang. Rumahnya yang mewah mentereng itu hanya dihuni dua orang tuanya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Ya, bangunan mewah itu tak lebih hanya seperti penampungan 2 orang sekarat.
Jum mendengar dari sepupu Ipung ketika ia pulang bulan kemarin, bahwa Ipung tak akan pernah pulang. Ia lebih asyik menghabiskan waktu liburnya untuk bekerja sampingan di restoran. Katanya, ia ingin membeli tanah di samping rumahnya yang persis ada di pinggir jalan perempatan. Justru ini malah menambah ledekan dari tetangga.
“Setelah rumah mewahnya hanya diisi orang sekarat, kini mau membuat Taman Makam mandiri,” kelakar seseorang di pasar.
Jum akhirnya mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dengan Ipung yang tak kunjung pulang meski kedua orang tuanya hampir ditemui Munkar dan Nakir. Sepupunya akhirnya mengaku, bahwa Ipung sering bermain perempuan di klub malam di Eropa. Barangkali mendengar kabar inilah kedua orang tuanya semakin sekarat. Mau batuk pun tak kuat – napasnya tersendak-sendak.
Tentang perilaku Ipung inilah yang membuat Jum takut melepas tunangannya untuk bekerja di pelayaran. Setelah serangkaian acara hantaran lamaran kemarin, Jum meminta Bari untuk bekerja di desanya saja. Buat apa kerja jauh jika sulit untuk pulang dan sangat mungkin tak akan pernah pulang seperti tetangganya itu. Namun, Bari menolaknya dan bersikukuh untuk tetap berangkat ke pelayaran di Eropa.
Rencananya, Bari akan berangkat ke Eropa lusa pagi sesuai dengan saran kiai Sidal — orang alim yang petuahnya selalu diikuti masyarakat desa. Katanya, Jumat legi adalah hari baik, semua arwah tetua kampung mendoakan agar selamat. Ipung yang malang nasibnya itu arogan tak pamit dan minta doa kepada kiai Sidal. Makanya, sial benar luntang-lantung orangnya ‘ditolak’ untuk pulang oleh arwah tetua kampung.
Pagi ini, Jum meminta bertemu dengan Bari untuk membuat janji, agar ia tak sembarangan membatalkan pernikahan ketika ia sudah mapan nanti.
***
Bari mendatangi rumah Jum sesuai permintaannya. Jum sedari tadi bermuka masam. Tak ada minuman dan makanan pengiring diskusi mereka. Jum tak mau obrolannya diganggu oleh makanan dan minuman itu.
“Kamu tak perlu khawatir akan nasibku di kapal pelayaran nanti. Percayalah, 8 bulan lagi saya akan pulang dan akan langsung menikahimu.”
Bari membuka obrolan. Ia tahu semua isi kepala Jum perihal keberatannya mengizinkannya pergi ke Eropa.
“Saya belum menemukan alasan untuk mengizinkanmu pergi.”
“Apa yang membuatmu begitu berat?”
“Saya selalu terngiang Ipung,” matanya melihat rumah Ipung yang persis di sebelah rumahnya, “ia sudah sangat kaya sekarang, tapi, ia tak pernah pulang.”
“Kamu masih ragu bahwa aku bisa tidak pulang?”
Jum mengangguk.
Bari memperbaiki posisi duduknya. Ini permasalahan pelik. Ia sama sekali tak punya niatan meninggalkan tunangannya ini. Kalau tidak berangkat ke pelayaran, sungguh masa depannya akan lebih banyak masalah. Apa pasal? Ia punya 5 saudara, sedangkan orang tuanya hanya punya 3 petak sawah. Kalau dibagi, maka sawah tersebut masih kurang 2.
Bari harus berangkat bekerja ke pelayaran agar bisa punya uang untuk beli tanah sendiri, sehingga nantinya tak perlu rebutan warisan dengan saudaranya. Tak laik jika bertengkar dengan saudara sendiri memperebutkan warisan. Yang harus diperebutkan itu ridanya.
“Aku lebih baik kehilanganmu daripada bertengkar dengan saudaraku sendiri,” ucap Bari seketika.
Mata Jum terbelalak tak menyangka. Bagaimana mungkin laki-laki di depannya ini mengucapkan sesuatu yang membuatnya terkejut luar biasa.
“Apa maksudmu?”
“Jum, saya punya banyak sekali saudara. Dan kondisi keluarga yang miskin, dan hanya memiliki tanah warisan yang sedikit, aku takut nantinya memperebutkan warisan tanah jika saya tak bekerja di pelayaran. Saya harus kaya. Dan satu-satunya pekerjaan yang masuk akal, cepat kaya, dan halal, adalah pelayaran.”
“Saya takut kamu dicuri laut,” kini Jum menangis.
Giliran Bari yang terbelalak mendengar ucapan Jum. Ia tak mengerti perkataan Jum.
“Apa yang dicuri oleh laut?”
“Kamu! Aku takut kamu dicuri laut: jika tidak mati disapu badai besar, bisa jadi kamu bertemu dengan pelacur di kapal pelayaran yang bisa membuatmu tak mau pulang dan melupakanku.”
Bari menyunggingkan senyuman, “Kamu tak perlu khawatir. Laut akan selalu bersahabat dengan siapa saja yang punya niat baik. Air laut tak pernah berkhianat. Ia selalu terasa asin meskipun dihujani air oleh langit berkali-kali. Begitu pun dengan hatiku, Jum. Jalan pulang hatiku hanyalah dirimu, meski nanti di kapal pelayaran banyak pelacur.”
Jum menatap wajah teduh Bari. Ia mulai terbuka hatinya untuk merelakan Bari pergi bekerja di kapal pelayaran.
“Biarlah laut yang menjadi saksi. Ia melihat semuanya tentangku di kapal pelayaran.”
***
Bari bekerja di agensi kapal yang berbeda dengan yang pertama kali ia datang setahun yang lalu. Katanya, kapal pelayaran yang sekarang lebih besar, penumpangnya lebih elit, tentu pekerjaannya lebih ketat dan sibuk. Namun, ia tak perlu khawatir perihal bayaran. Tentu gajinya jauh lebih besar dari pada agensi kapal sebelumnya.
Meski akan mendapat gaji yang lebih besar, Bari jelas salah perhitungan. Agensi kapal pelayarannya saat ini menuntut karyawannya untuk produktif. Sebenarnya ini tak masalah bagi Bari. Bari dikenal sebagai pekerja yang giat dan tak pernah melanggar aturan. Namun, agensinya saat ini punya aturan yang tak masuk akal.
Bari menepis semua prasangka buruk yang akan menimpanya di kapal pelayaran ini ke depannya. Namun, nasib tak bisa ditampik. Persis masuk hari ketiga bekerja di agensi pelayarannya itu, ia bersama dengan puluhan karyawan lain diminta memasuki sebuah ruangan khusus.
Pertemuan seperti itu sudah biasa terjadi di agensi kapal pelayaran sebelumnya. Namun, ini tampak beda. Di ruangan mewah yang kira-kira berukuran 20X30 meter itu, berjejer banyak vodka (jenis minuman keras). Pimpinan karyawan memasuki ruangan dan lantas meraih pengeras suara yang ada di meja. Ia tampil gagah dengan balutan minyak rambut yang klimis.
Dia berbicara dengan Bahasa Inggris, “Tak perlu banyak buang waktu, karena habis ini akan banyak penumpang baru kapal ini yang perlu pelayanan terbaik kalian.”
Seketika perempuan-perempuan penghibur masuk ke ruangan. Mereka menggunakan pakaian seksi. Prasangka buruk Bari seketika muncul kembali. Ia merapalkan doa apa saja yang dihafalnya, termasuk macam-macam selawat. Semoga aku selamat dari godaan-godaan ini, gumam Bari.
“Produktivitas kerja harus dijaga dan ditingkatkan,” kata pimpinan karyawan itu melanjutkan, “dan kami pimpinan akan meminta kalian untuk bersenang-senang malam ini bersama dengan vodka dan perempuan-perempuan ini. Kegiatan semata-mata hanya untuk menyenangkan pikiran kalian, juga meningkatkan produktivitas kerja kalian.”
Banyak karyawan lain bersorak gembira. Kapan lagi mendapat service gratis perempuan Eropa.
“Nunggu apa lagi? Silakan bermain-main dengan vodka dan perempuan-perempuan ini. Ingat! Satu orang satu perempuan,” seru pimpinan karyawan itu.
Hampir seluruh karyawan langsung mendatangi perempuan penghibur itu. Tidak dengan Bari. Ia termenung di pojok ruangan ini. Pikirannya teringat pada Jum, tunangannya. Selain ia takut akan dosa, ia tak mau mengkhianati Jum sebagaimana ia janjikan padanya untuk tidak bermain-main dengan perempuan.
“Hei sialan! Mengapa kamu masih duduk sopan di situ?” Pimpinan karyawan itu murka pada Bari yang enggan bermain-main dengan perempuan itu.
Bari hanya menggeleng, tanda ia menolak halus. Pimpinan karyawan itu marah besar. Diambilnya satu botol vodka di meja, lantas menghampiri Bari. Ia membuka paksa mulut Bari. Percuma Bari melawan, beberapa karyawan lain membantu pimpinan itu menumpahkan seteguk vodka ke mulut Bari.
Bari yang selama hidupnya tak pernah minum minuman keras, lantas tersungkur. Pikirannya masih teringat pada Jum. Mulutnya bergumam disertai bau busuk vodka itu,
“Jum… laut benar-benar mencuriku.” (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 14 Mei 2023
Cerpenis
Negara Rofiq
Aktif bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur. Menerbitkan buku Novel “Siapa Suruh Jadi Aktivis” (YMU, 2021). IG: @negararofiq
Testimoni Negara Rofiq
Selasa, 16 Mei 2023
Saya mengapresiasi publikasi karya melalui halaman Instagram yang dilakukan oleh @cerpen_sastra dengan tajuk Sayembara. Inovasi ini suatu hal yang penting untuk mengenalkan sastra pada khalayak dengan cara yang baru.
Saya bangga bisa menjadi kontributor terpilih dalam sayembara ini. Saya rasa persaingan menjadi pemenang tidaklah mudah. Nominator-nominator dalam sayembara ini bukanlah sembarangan. Saya lihat, banyak sekali cerpenis nasional yang karyanya sering menghiasi koran nasional.
Saya percaya, inovasi publikasi karya yang dilakukan oleh @cerpen_sastra akan berkembang pesat. Akan banyak penulis senior dan junior yang akan berlomba menjadi penulis terpilih di sayembara ini. Semoga ke depannya, @cerpen_sastra bisa mencakup lebih banyak rubrik sastra, seperti puisi, cerita anak, dan karya sastra lainnya agar bisa mengakomodasi minat sastra yang semakin besar.
