Cerpen Sastra

Bekas Lipstik di Kemeja Suamiku (Cerpen Nadhifa Qurotal Aini)

Sontak, di saat aku menemukan kemeja suamiku yang tercetak jelas bekas ciuman. Awalnya ingin membersihkan pakaian suamiku, tetapi aku terlanjur kecewa! Ini hal yang tidak dapat diremehkan, lalu aku segera menghampiri suamiku sambil membawa kemejanya yang ternoda itu.
…

“Mas, apa maksud bekas bibir ini di kemejamu, hah?!”
Aku menunjukkan bekas cumbuan mesra tepat di kemeja bagian dada. Tatapanku saat ini sungguh tidak bersahabat kepada Mas Restu. Dia yang sedang santai di ruang tamu. Alih-alih mengindahkan ucapanku, Mas Restu berlalu begitu saja tanpa memberi ucapan sepatah kata pun.

Aku semakin dibuat kesal saja. Tidak ingin diperlakukan begitu saja, aku mengejarnya. Dari kejauhan, aku melihat Mas Restu sedang duduk di ranjang sambil mengacak rambut secara asal. Aku menatapnya. Namun, tatapanku bukan rasa iba kepadanya, melainkan rasa benci. Aku yakin, bekerjanya dia di kantor sebagai staf biasa, pasti memiliki wanita simpanan yang cantik. Lihat saja, kemeja yang aku pegang ini bekas ciuman dengan lipstik merah. Terlihat pula, cetakan bibir seksinya. Aku yakin, bibirnya saja dapat menggoda, apalagi wajahnya.

Kendati Mas Restu hanya staf biasa di kantor tempat dia bekerja, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau dia banyak digemari oleh staf wanita. Mas Restu laki-laki tampan, gagah, memiliki rahang tegas nan kokoh, bahu dan punggung terlihat tegap. Jujur saja, aku rela dinikahi pria kurang mapan ini di sela keadaan keluargaku tidak setara dengan Mas Restu. Aku rela dimusuhi Mama dan Papa karena memilih Mas Restu yang tidak kaya. Argh! Aku kesal kepadamu Mas. Mengapa kamu menodai cinta kita dengan menghadiri dia … pelakor terkutuk. Aku tidak kuasa menghampiri suamiku di kamar meski pintunya terbuka. Aku terduduk lemah sambil menangis tanpa suara.

“Nara ….”

Suara lembut dan tercium aroma maskulin itu tengah mendekapku dari belakang. Aku hafal suara itu, tetapi aku terlanjur kecewa.

“Apa, Mas … ingin pergi dari hidupku? Silakan, aku tidak akan melarang. Terima kasih atas cintamu yang telah kamu beri selama dua tahun rumah tangga. Saat ini, jika cintamu sirna untukku, aku akan mengalah dari hidupmu.”

Aku perlahan melepas lingkaran tangan kokoh di pinggangku. Kemudian, menatap wajah tampan itu yang terlihat gundah. Seketika manikku berembun, air bening kepedihan berdesakan ingin meluncur begitu saja di pipi lesungku. Aku tidak dapat menahannya. Aku terisak dengan satu tangan yang menutup mulutku. Mas Restu mengusap air mataku, lalu meraih daguku dan akhirnya kening kami sama-sama menyatu.

“Nara, aku mencintaimu. Jangan pergi hanya dengan bekas lipstik di kemejaku. Cepat atau lambat kamu pasti tahu apa yang telah terjadi,” ucap Mas Restu sambil menatap penuh. Di jarak yang dekat ini, aku semakin terpesona dengan ketampanannya. Argh, Annara! Inilah kelemahanmu. Kamu terlalu dibutakan cinta, sehingga ketampanan suamimu dapat menjadi petaka rumah tangga. Sejurus kemudian, aku mendorong tubuh gagah itu.

“Ya, cepat atau lambat aku pasti akan mengetahuinya. Kamu telah menodai cinta suci kita!” ucapku nada tinggi.

“Kamu berargumen itu hanya mengandalkan bekas ciuman di kemejaku?” tanya Mas Restu, penuh selidik.
“Ya, kamu selingkuh!” Aku segera berlari menuju kamar, lalu memasukkan pakaian ke dalam koper hitamku.

“Annara … jangan pergi!” Terdengar suara Mas Restu sedikit bergetar. Aku enggan menghiraukan ucapannya. Kenapa tidak dari tadi dia menjelaskan noda merah di kemejanya? Mengapa dia malah pergi di saat aku membutuhkan penjelasan saat itu juga? Sungguh menyebalkan kamu Mas!

Setelah usai membereskan pakaian, aku berlalu dari hadapannya. Aku pikir dia akan mengejarku dan … memelukku. Namun, dugaanku salah. Sampai di luar sambil menunggu taksi, Mas Restu sama sekali tidak menghalau kepergianku. Miris.
…

Perjalanan padat Kota Jakarta, menjadi saksi bisu kepergianku yang memilih menyerah dari rumah tanggaku. Aku berusaha menahan air mata agar tidak luruh begitu saja. Aku harus kuat di hadapan orang tuaku nanti. Mereka pasti menertawakan atas pilihanku memilih laki-laki tampan yang telah berkhianat. Tidak masalah! Saat ini yang penting aku pergi dari laki-laki itu. Sesampainya di rumah orang tua, aku segera turun dari taksi, lalu perlahan melangkah menuju rumah besar ini yang telah lama aku tinggalkan.

“Assalamu’alaikum,” salamku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab seseorang. Kemudian, kenop pintu berputar dan pintu pun terbuka.
“Annara,” ucap Mama, lirih.

Aku segera memeluk Mama sambil menangis terisak. Kemudian, Papa datang dan mempersilakan aku duduk di ruang tamu. Dari sini, aku mulai mengungkapkan keluh kesah tentang rumah tanggaku bersama Mas Restu. Anehnya, Mama dan Papa terlihat tidak kecewa atas aduanku. Mereka tersenyum, lalu mengusap bahuku.

Sudah beberapa hari aku tinggal di rumah Mama. Namun, seseorang yang aku nantikan untuk memberi seribu penjelasan tidak kunjung jua. Ah, sudahlah, untuk apa menanti laki-laki tidak tahu diri itu. Di malam sepi, aku duduk di balkon sambil menatap rembulan purnama yang dikelilingi pasukan bintang. Sesaat, aku terjerat lamunan ketika kebersamaan dengan Mas Restu. Aku baru menyadari selama ini tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari Mas Restu.

Dia harmonis sebelum aku menemukan bekas ciuman di kemejanya saat itu. Bahkan, sama sekali tidak terlihat gelagat perselingkuhannya. Handphone? Sama sekali tidak menggunakan password. Chatingan? Tidak ada kontak wanita yang lajang. Bahkan, teman sesama kerjanya jika ingin menyampaikan tentang pekerjaan pasti lewat Topan, sahabat Mas Restu. Ah, mungkin saja dia terlalu cerdik menyembunyikan perselingkuhannya.

Minggu demi minggu begitu cepat merangkak ke bulan. Satu bulan sudah aku berpisah rumah dengan Mas Restu tanpa status jelas. Aku selalu meminta dia untuk menyelesaikan urusan di pengadilan agama lewat pesan, tetapi tak kunjung ada jawaban. Bertandang ke rumahnya, acapkali dia sedang tidak ada di rumah. Dia terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan pacar barunya.

“Kak, kita jalan-jalan ke taman, yuk,” ajak adik perempuanku.
“Boleh,” sahutku.

Kami segera berlalu menuju taman menggunakan mobil. Sesampainya di taman, aku melihat Mas Restu dengan wanita berpakaian mini. Jadi gara-gara wanita itu dia melupakan urusan pengadilan agama.

Huh, menyebalkan!
Ketika akan melangkah, adikku mencegahku.

“Sebaiknya kita cari tempat yang aman, Kak. Kita dengarkan dulu apa yang mereka bicarakan. Lihat saja, dari gelagatnya bukan sepasang kekasih, tetapi melainkan musuh,” ucap adikku.

Memang benar, dari gelagat mereka bukan sedang bermesraan melainkan sedang berbicara serius. Kami mengendap-endap mencari tempat bersembunyi untuk mencuri obrolan mereka.

“Jahat kamu, Restu! Jadi, itu cara kamu mendekatiku, hah?!” Wanita itu membulatkan bola mata sempurna bak siap menerkam mangsanya.

“Apa bedanya dengan kamu, Mona? Kamu mencintaiku dengan cara curang. Bukankah kamu memaksaku untuk menjalin hubungan agar reputasi istriku tetap terjaga? Ya, demi reputasinya aku menjalani hubungan tanpa cinta bersamamu.” Suara bariton Mas Restu semakin naik oktaf.

“Tapi tidak juga kamu menghapus foto-foto biadabnya itu.“
Wanita bernama Mona itu terus menentang.

“Itu masa lalunya, Mona. Sudahlah, untuk apa kamu publikasikan aib istriku? Apa untungnya denganmu?” kata Mas Restu.

“Agar mendapat cinta kamulah.”
Terdengar acuh dari wanita itu.

Dari pembicaraan Mas Restu dan Mona, aku mengerti apa maksud dari aibku. Aku dulu seorang model yang terobsesi dengan karier. Sehingga pada suatu saat, manajerku meminta foto tidak senonoh, seluruh badan tanpa sehelai benang. Aku yang terobsesi mengabulkan keinginan manajer dengan iming-iming kenaikan karier. Namun nyatanya, pada waktu itu aibku tersebar sesaat, tetapi Mas Restu membereskan masalah ini. Melihat laki-laki yang tulus mencintaiku, aku ikhlas dinikahi Mas Restu di saat karierku anjlok karena kasus itu. Bahkan saat ini, masih ada wanita yang memiliki foto biadabku guna untuk mempublikasikan lagi. Namun, suamiku lagi yah menyelamatkan kehormatanku.

Ya Allah, betapa bodohnya aku yang telah mengklaim suamiku selingkuh. Namun nyatanya, dia berusaha keras menghapus jejak masa laluku agar tangan orang jahat tidak memanipulasinya. Aku terisak, lalu menghampiri Mas Restu dan memeluknya.

“Annara,” serunya.
“Maafkan aku, Mas. Aku telah salah paham.” Tangisku pecah dalam dekapan suamiku.
“Tidak apa-apa. Syukurlah jika kamu tahu alasannya.”
Mas Restu mengusap lembut rambutku.

Aku paham sekarang, ternyata cinta sejati tidak dapat diragukan. Jangan mengklaim pasangan kita dengan bukti lemah sehingga kita pergi memutuskan tali suci. Aku bersyukur kepada Tuhan dengan begitu cepat memperlihatkan kebenaran, sehingga aku bersatu lagi dengan Mas Restu, laki-laki tampan, idaman dan tentunya … laki-laki setia. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 3 September 2023

Cerpenis

Nadhifa Qurotal Aini
Mengasah bakat sejak satu SMP bermodal buku dan pena. Kelahiran Tasikmalaya. Mulai aktif di dunia platform sejak Desember 2022. Karyanya dapat dilihat di fizzo. IG: @milik.kita.7127

Testimoni Nadhifa Qurotal Aini
Selasa, 5 September 2023

Saya pemenang sayembara @cerpen_sastra di periode 3 September 2023. Atas nikmat-Nya, saya berhasil memenangkan sayembara dengan judul “Bekas Lipstik di Kemeja Suamiku”.

Akun IG @cerpen_sastra bukan sembarang akun. Akun IG ini menjadi wadah para penulis famous bahkan sastrawan tenar. Jika kita memimpikan menjadi penulis terbaik, maka harus berkumpul pula dengan orang-orang satu frekuensi.

Orang-orang hebat hanya ada di @cerpen_sastra. Follow akun IG @cerpen_sastra, lalu tuangkan ide terbaikmu. Di sini, dunia akan tahu apa kelebihanmu.

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *