Kata orang, dunia ini panggung sandiwara. Namun bagi gadis kecil itu dunia ini adalah neraka. Seorang pemuka agama pernah berkata padanya bahwa akhir dari kehidupan manusia akan bermuara di dua tujuan, neraka atau surga. Tetapi tanpa harus menunggu mati, gadis kecil itu sudah mengetahui bahwa hanya ada satu tempat untuknya yaitu neraka.
…
“Lihatlah, gadis kecil itu memegangi perutnya. Sepertinya ia lapar.”
Penguasa jalan raya yang biasa bertengger di tempat paling atas itu bersuara. Suara yang sangat pelan dan tidak akan terdengar oleh pengguna jalan lainnya, kecuali kedua rekannya.
“Dalam keadaan kenyang pun ia akan terus memegangi perutnya jika sedang berada di sini. Bukankah itu cara baginya untuk meminta belas kasih?” Rekannya, yang menempati posisi di tengah berkomentar.
“Aku tidak habis pikir melihat manusia-manusia itu. Kenapa mereka memaksakan diri untuk beranak pinak sementara untuk bertanggung jawab atasnya mereka tidak mampu?” Kali ini rekannya yang selalu berada di bawah ikut menimpali.
“Atau mungkin mereka hanya ingin menikmati sensasi saat membuatnya?”
Ketiganya tergelak.
Sementara itu gadis kecil yang menjadi topik obrolan mereka terlihat belum lelah menghampiri satu kendaraan ke kendaraan lainnya, meski tubuhnya telah bersimbah peluh. Sebelah tangannya ia tadahkan, sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegang perutnya. Kulitnya semakin gelap karena terpapar cahaya matahari setiap harinya. Namun itu bukan perkara penting. Ada hal lebih penting yang selalu ingin ia hindari jika nanti ia pulang dengan tangan kosong.
“Boleh minta sedekahnya gak Bu, Pak. Saya belum makan.”
Untuk kesekian kalinya, pemilik kendaraan yang dihampiri oleh gadis kecil itu menangkupkan tangan. Pertanda bahwa mereka enggan berbagi. Luka memar di sudut bibirnya sepertinya sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi jika hari ini pun ia tidak membawa pulang kertas atau logam dengan logo rupiah itu.
Diam-diam gadis kecil itu suka mencuri-curi pandang pada anak-anak yang mungkin seusianya, yang duduk di boncengan sepeda motor atau bangku penumpang mobil yang kebetulan kacanya dibuka. Apakah mereka merasakan hal yang sama dengan gadis kecil itu saat pulang ke rumah? Namun melihat raut bahagia di wajah mereka, sepertinya jawabannya sudah jelas. Tidak sama.
“Giliranmu! Jangan biarkan pengendara-pengendara itu menunggu terlalu lama.”
Si tengah memperingati si bawah. Sepertinya sosok yang berada di bawah itu lupa akan tugasnya karena terlalu sibuk mengamati gadis kecil itu.
“Astaga, maaf-maaf!” Sosok yang berada di bawah menyesali kelalaiannya.
“Apa kamu tidak dengar manusia-manusia itu mencaci makimu sejak tadi? Mereka itu makhluk-makhluk yang tidak sabar. Gendang telingaku sampai ingin pecah mendengar cacian mereka setiap kali aku harus menambah durasi kerjaku untuk mengatur lalu lintas di tempat ini,” timpal rekan kedua sosok tadi yang berada di posisi paling atas.
“Lagipula tidak biasanya kita bersimpati dengan perasaan manusia bukan?”
Sosok yang di tengah melirik rekannya yang di bawah.
“Itu bukan urusan kita.”
“Memang benar. Tapi, entahlah. Tiba-tiba aku kasihan melihat wajah murung gadis itu saat mengamati wajah-wajah bahagia anak seusianya. Padahal jika ia tahu akan diberi kehidupan seperti ini saat dilahirkan, pasti ia akan memohon pada tuhan untuk tidak dilahirkan,” ucap sosok yang ada di bawah.
Tiba-tiba mega mendung memayungi langit. Tak lama dari itu laskar hujan turun dengan deras. Gadis itu mendongak sejenak sebelum lari kucar-kacir mencari tempat perlindungan. Ia memilih berteduh di halte usang yang tak jauh dari sana. Hujan tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera reda. Namun kantung celana yang sudah terdapat banyak sobekan yang dikenakan gadis kecil itu masih kosong. Ia bingung, haruskah ia kembali ke bangunan itu dan menerima luka baru di tubuhnya lagi?
Hingga terang di atas langit sana dibungkus gelap, laskar hujan masih asyik menari. Tubuh gadis kecil itu mulai menggigil. Dengan langkah berat, ia memutuskan untuk kembali ke bangunan yang enggan disebutnya sebagai rumah itu.
“Ayo bertaruh! Kira-kira bagaimana keadaan gadis kecil itu saat kembali esok?”
Sosok tengah melayangkan pertanyaan pada kedua rekannya.
“Tanpa harus mengikutinya pulang pun kita sudah tahu, besok ia akan kembali dengan bekas luka dan memar yang lebih banyak,” sahut sosok yang di bawah.
“Astaga aku tidak tahan jika harus melihatnya setiap hari dengan kondisi yang semakin mengenaskan!” cerca sosok yang di atas.
“Lalu kau mau apa? Menolongnya? Memangnya kita bisa apa?” tandas sosok yang di bawah.
Tidak ada jawaban. Ketiga sosok itu bungkam.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, gadis kecil itu kembali ke persimpangan jalan itu. Ia seperti sosok murid teladan yang tidak pernah terlambat datang ke sekolah. Bedanya tempat yang didatanginya tidak membuatnya pintar dengan ilmu. Melainkan dapat membuatnya terbebas dari siksaan fisik yang nyaris didapatkannya setiap hari.
Tetapi ada yang berbeda hari itu. Biasanya sebanyak apapun memar di tubuhnya, gadis kecil itu tetap gesit menghampiri kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah sedang menyala. Kali ini ia hanya duduk termenung di bibir jalan sembari memegangi perutnya. Perlahan cairan bening itu menetes dari matanya dan menganak sungai di pipinya, lalu jatuh dan berbaur bersama genangan hujan sisa semalam.
Isi kepalanya penuh dengan putaran ulang hal yang terjadi padanya kemarin malam saat ia tiba di bangunan yang, sekali lagi ditegaskan, enggan ia sebut rumah itu. Tanpa sambutan hangat dan senyum manis dari orang tua? Gadis kecil itu sudah terlalu kenyang dengan keadaan tersebut. Pukulan dan cacian? Ia sudah terbiasa. Satu hal yang membuat hatinya remuk tanpa sisa adalah perkataan dari wanita yang seharusnya ia panggil ibu, namun tidak pernah memperlakukannya seperti seorang anak.
“Kalau tahu kehadiranmu sangat tidak berguna begini, lebih baik dulu aku tidak pernah mempertahankanmu!” ucap wanita itu dengan nafas tersengal-sengal, dalam ingatan gadis kecil tersebut.
“Kamu pikir siapa yang menginginkan kamu lahir? Gak ada! Orang-orang bilang kamu pembawa rezeki. Nyatanya? Kamu pembawa sial! Kalau kamu tidak pernah lahir aku gak akan pernah mendapatkan hidup yang penuh kutukan seperti ini!” Dan pada akhirnya, sama seperti hari-hari biasa, wanita itu memukuli gadis kecil tersebut tanpa kenal ampun.
Genangan air di pelupuk mata gadis kecil itu semakin deras. Ia benar-benar kesakitan. Bukan, yang sakit bukan tubuhnya yang penuh luka, melainkan hatinya. Kenapa anak-anak seusianya yang melintas di persimpangan jalan itu selalu mendapat senyuman hangat dari orang tuanya, sementara dirinya tidak? Mengapa mereka setiap hari pergi ke sekolah dengan mengenakan seragam sementara dirinya tidak? Benarkah pernyataan bahwa tuhan itu adil? Benarkah pernyataan bahwa tuhan mencintai semua hambanya? Jika iya, mengapa ia diberikan takdir seperti ini?
Tiba-tiba saja di hadapan gadis kecil itu terpampang pemandangan seorang anak perempuan seusianya yang sedang makan ice cream di dalam mobil. Ia baru saja mendapat kecupan dari ibunya yang duduk bersebelahan dengannya. Sementara ayahnya yang memegang kemudi di depan memanjangkan tangannya agar dapat mengusap puncak kepalanya.
Gadis kecil itu menginginkannya. Benar-benar menginginkan posisi anak perempuan di dalam mobil tadi. Maka tanpa pikir panjang ia berlari menuju mobil berwarna merah tersebut tanpa memperhatikan sekitar bahwa lampu lalu lintas berwarna hijau sedang menyala. Dari kejauhan suara klakson yang begitu nyaring terdengar. Tidak lama dari itu, suara benturan yang terdengar sangat keras beserta darah yang mengalir di tubuh jalan raya menciptakan kerumunan massa.
“Kenapa kau tidak berusaha untuk menyabotase pekerjaan dia yang di bawah, agar kejadian itu tidak terjadinya?”
Sosok tengah berujar pada rekannya yang di atas dengan suara lemah. Kejadian barusan mengiris hatinya.
“Memangnya aku bisa apa?” sahut sosok paling atas.
Ketiga sosok itu bungkam. Benar, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah peristiwa naas barusan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menyalakan cahaya berwarna merah, kuning, hijau dari tubuh masing-masing untuk mengatur lalu lintas di tempat tersebut. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 6 Agustus 2023
Cerpenis
Feby Farayola
Beberapa karyanya dimuat di media cetak: Pikiran Rakyat, Waspada, Analisa, dsb. Sejak kecil lebih menyukai cerita-cerita fiksi ketimbang rumus matematika. IG: @feby_yooo
Testimoni Feby Farayola
Selasa, 8 Agustus 2023
Saya bukan termasuk pegiat literasi yang “sangat aktif”. Namun, saya turut merasakan kesedihan ketika “wadah” untuk para pegiat literasi baik media luring maupun daring semakin minim, entah karena tergerus zaman atau alasan lainnya.
Jika pun masih ada media-media yang bertahan, beberapa di antara media tersebut hanya merupakan wadah yang menampung tulisan-tulisan tanpa apresiasi berupa honor. Satu hal yang menyenangkan bagi saya karena dapat mengetahui dan mengenal akun @cerpen_sastra yang dapat membangkitkan jiwa-jiwa produktif para penulis yang sempat tertidur, seperti saya sendiri.
Media @cerpen_sastra juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi penulis pemula, sehingga dapat melebarkan sayapnya di dunia kepenulisan. Sebab cerpen yang tayang akan diposting di akun tersebut, sehingga dapat diakses dan dibaca dengan mudah oleh netizen. Semoga akun @cerpen_sastra akan selalu berjaya agar dahaga para penulis yang karyanya bingung harus dibawa ke mana dapat terlepaskan.
