Cerpen Sastra

Darahmu, Dagingmu adalah Milikku* (Cerpen Taufan Al-Biruni)

Senyum mirisnya tersungging, dia tidak iri dengan pemandangan hangat di sana, jika ada yang membuatnya iri, itu hanya jika seorang Ayah yang bicara dengan penuh kasih pada anaknya tanpa ada intrik di baliknya.
***

“Kau iri pada mereka, kan? Mereka kaya, hangat juga,” tanya orang asing yang tiba-tiba duduk menemani seorang remaja yang tampak sedang duduk di atas trotoar dengan bersandar di tembok restoran. Kasihan sekali, dia benar-benar tampak seperti anak yang dibuang.

Anak itu terus memandangi ke arah dalam restoran itu, tepatnya pada sebuah keluarga yang tampak hangat di penglihatan itu. Dia berdecak, air matanya tidak berhenti terjun sama sekali sejak insiden pertempurannya dengan ayahnya itu.

“Hm, yang tampak hangat itu bukan berarti harmonis, kan?” Setidaknya, dia menyadari satu hal ini. Dunianya sudah hancur lebur tanpa jejak, persis seperti yang ayahnya inginkan, dia sudah mati; mati dalam perasaannya sendiri.
***
Kali ini dia tidak mampu lagi, dia harus berusaha menyingkir dari sana.

“Besar sekali nyalimu menentangku,” katanya dengan angkuh. Ayahnya berjalan mendekatinya, bersiap dengan kepalan di tangan kirinya, matanya memicing tajam, napasnya memburu tanda emosinya kian memuncak.

Di bawah patahan batu itu, dia berdiri, mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah sehabis bertarung, Alin namanya. Matanya menatap tajam ke depan, menyapu seluruh arena pertempurannya yang berantakan, penuh retakan di mana-mana, daun-daun juga berguguran karena tak tahan lagi menahan gejolak hawa panas di sekitarnya. Seberapa mengerikannya hari itu, tapi kilat di matanya masih belum redup juga. Batu-batu besar terbelah menjadi dua atau bahkan hancur berkeping-keping, tubuhnya juga jauh dari kata baik-baik saja. Bibirnya robek, jalannya pincang, tangannya terus berdenyut ngilu, begitu pula punggungnya yang juga tidak bisa berdiri tegak sebab terkena hantaman dari lawannya.

Sejak awal pertarungan ini tidak seimbang, dia kalah sejak awal karena terlalu lemah untuk melawan
manusia sekuat ayahnya. Jika ada yang berani melihat keadaannya saat ini, mereka semua akan yakin jika sosok manusia yang sedang melawan ayahnya saat ini adalah sosok pemberontak yang bodoh, tapi tidak mengenal kata menyerah.

Ayah terlalu kuat untuk dilawan, siapa pun yang berani menyenggol atau menghancurkan miliknya, orang itu bisa mati tanpa diketahui jejaknya. Siapa pun yang bertemu dengannya enggan berbuat macam-macam, mereka tidak ingin membangunkan sisi pembunuh berdarah dingin di diri pria baya itu.

Semua orang mengenal Ayah sebagai manusia berhati malaikat; karena setiap kebaikannya tidak menuntut balasan. Setiap langkah, setiap tindakan serta setiap ucapannya tertata rapi hanya untuk menjaga citranya yang besar. Meskipun begitu bukan berarti dia tidak memiliki pembenci, hanya saja setiap pembenci yang berani menunjukkan kebenciannya pada pria itu selalu tidak pernah bernasib baik. Sayangnya, di balik segala kehebatan serta kemampuannya yang tidak tertandingi itu, musuh terbesarnya adalah satu, anaknya sendiri.

Adalah salah satu keberuntungan terbesar bagi Alin jika dirinya masih hidup sampai saat ini, meskipun tubuhnya sekarat bukan main, tidak peduli sudah seberapa banyak fakta yang dia dapati dari ayahnya, dia sudah muak menatap manusia keji satu itu.

“Aku sudah membesarkanmu, memberikan kebutuhan, pangan, pakaian, kalau tidak ada aku, siapa yang akan membesarkanmu? Dan sekarang kau berkelakuan lebih hina dari seekor anjing yang najis itu.“

Kilat di mata Alin masih terasa, tidak, tidak ada memar yang berarti di tubuhnya, ataupun bekas kekerasan di sana, tapi semuanya hancur seakan tidak disakiti oleh ayahnya, melainkan kecelakaan yang disengaja. Adalah hanya satu memar, itu di betisnya, tapi yakinlah, dia bahkan tidak merasakan rasa sakitnya kecuali hatinya yang hancur di setiap perlawanannya.

“Jika aku tidak membesarkanmu, akankah kau tetap hidup sampai sekarang? Sampai sebesar ini?” Mata anaknya basah, dia mengerti, tidak ada yang salah dari apa yang ayahnya katakan.

Tidak ada yang salah dari segala yang dia berikan, hidupnya terpenuhi (mungkin), dia bisa makan bersama dengan keluarganya, mendapatkan pendidikan yang layak dibandingkan beberapa anak di bawahnya, tapi itu tidak menutupi kejahatan Ayah di matanya. Tidak akan ada orang yang bisa mengerti jika tidak merasakannya sendiri rasanya seperti Alin.

“Aku tidak mengharapkan hidup, tapi, apakah seorang ayah akan membunuh anaknya sendiri?”

“Heh, tubuhmu adalah tubuhku, kulitmu, dagingmu, bahkan organmu pun adalah milikku, termasuk segala yang kau punya. Tidak ada yang salah jika aku menuntutnya kembali.”

“Hatimu mati, Yah.”

Setiap satu bogeman pamungkas yang akan dilayangkan ayahnya, dia berhasil menghindar. Dia tau ayahnya bisa membunuhnya tanpa celah, itu semua karena segala cerita ayahnya tentang kekejamannya pada orang-orang di luar sana. Mungkin bagi saudaranya yang lain, cerita itu adalah dongeng yang keren untuk didengarkan, tapi baginya, itu adalah bukti dari seberapa jahat ayahnya sendiri.

“Mati bukan pilihanku,” ucapnya dengan bibirnya yang gemetar, dia berhenti sejenak, berusaha menahan sesak, sayangnya ayahnya sudah siap di hadapannya untuk menyerangnya lagi. Tubuhnya beradaptasi dengan bentakan, pukulan, caci maki dan perlakuan tidak adilnya, tapi ada yang harus dibayar untuk bisa mendapatkan kelebihan itu, yaitu akal sehatnya sendiri.

Dia berlari, berlari sejauh mungkin untuk sekarang, tubuhnya sekarat, gerakannya minus, jika dia melanjutkan perlawanan, maka akan sia-sia segala rasa sakitnya.

Sejak kecil dia tidak pernah memimpikan akan melawan ayahnya sendiri. Alin tau, dia sadar dengan sangat jelas jika ayahnya adalah orang yang membesarkannya, bersama ibunya, dia juga sadar jika tidak karena segala yang ia dapatkan dari ayahnya, dia belum tentu masih bisa berdiri kokoh di sana saat ancaman besar sudah berbunyi di sinyal tubuhnya, tapi itu bukan berarti dia pantas dijadikan sebagai samsak atas segala masalah ayahnya. Punya mimpi yang selaras dengan harapan ayahnya padanya hanyalah salah satu keberuntungan bagaimana dia masih bisa waras menghadapi dunia.

Alin sayang dengan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya, dia juga punya mimpi yang tidak kalah mulia untuk mereka, sayangnya berbeda dengan kakak berbeda ibunya itu yang bisa mengatakannya dengan gamblang, dia tidak bisa.

Salah bicara adalah detik-detik Kematian dari hidupnya. Mungkin semua orang yang tahu ini akan berpikir jika itu adalah salahnya karena tidak mau menampakkan kebaikannya kepada keluarganya, sayangnya tidak semudah itu.

Mungkin dia memang hidup nyaman, kenyang dan tenang daripada anak-anak lain, tapi jika dibandingkan dengan saudaranya yang lain, yang katanya lebih dikasihani karena ditinggalkan ibunya, dia harus kehilangan semuanya sekarang. Kehilangan harga diri, jati dirinya dan segala yang pernah dia punya dulu. Bukan hanya kehilangan, dia juga diminta untuk mengganti jasa Ayah yang sudah membesarkannya, semua itu terjadi karena dia gagal, berbeda dengan kakaknya. Dan jika dia melawan,
maka hidupnya akan jauh lebih mengenaskan dari itu. Dia tidak bisa kabur, setiap kehadirannya selalu bisa terendus oleh hidung ayahnya. Setiap cerita yang dia utarakan pada orang di sekitarnya tiada guna.

Segala solusi menemui jalan buntu, karena setiap langkah kaburnya hanya akan berpusat pada kematian. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menunjukkan jika dirinya lebih baik dari kakaknya, tapi itu sangat mustahil untuk sekarang.

Alin tidak mengerti kenapa serangan ayahnya meleset sedari tadi, padahal dia bisa langsung mencincang tubuh Alin begitu dia melihatnya, tapi pergerakannya terus meleset. Yah, ayahnya tidak mungkin membuang-buang kesempatan lagi setelah ini.

“HEI! JANGAN LARI! KALAU AKU BERHASIL MENEMUIMU, JANGAN HARAP KAU BISA NAPAS LAGI!” seru Ayah, dia terus berlari, mengejar si anak biadab katanya.
***
Di perbatasan kota besar, dia terduduk lemas di pinggir restoran, kehilangan seluruh tenaganya yang tersisa. Untuk melakukan perjalanan lebih jauh lagi dia sudah kehilangan banyak, dan juga dia tidak mampu lagi untuk terus berjalan. Bersandar di balik tembok besar restoran itu, dia melihat sebuah keluarga, tampak hangat, tapi entah apa yang disembunyikan di balik kehangatan itu, dia tidak mau tahu lagi.

Memandangi sebuah keluarga di sana, dia pun tersenyum miris, dirinya pernah duduk dengan suasana hangat itu, tapi itu hanya tampak luar, bukan dalam, keluarganya jauh dari kata hangat, bahkan hancur pun masih belum layak untuk disematkan.

Anak itu namanya Alin, dia meremat dadanya sendiri, menangis pilu di sana, tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah ini. Mau seberapa jauh pun dia berlari, dia hanya menemui jalan buntu. Yang dia bisa hanya bersembunyi secerdik mungkin. Alin tahu jika dirinya tidak akan bisa menghindari ayahnya, tapi setidaknya untuk kali ini, biarkan dia meraup napas untuk menenangkan diri sejenak. Karena lelah ini tidak boleh menjadi penghalang untuk dirinya melanjutkan hidupnya, jadi biarkan dia beristirahat sejenak.(*)

*Cerpen ini bisa dibaca dari belakang maupun depan.

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 29 Maret 2026.

Tentang Cerpenis
Taufan Al-Biruni

Hanya seorang penulis amatir. Berusaha untuk menggapai mimpi yang masih berada di ambang imaji. IG: @bedismylive_

Testimoni Taufan Al-Biruni

Jujur, ini saya tidak nyangka kalau cerpen saya bakal menang, karena sejak awal buat cerpen ini, saya cuma iseng-iseng aja, saya juga sudah berpikir untuk membuat cerpen ini untuk diri saya sendiri dengan menantang diri untuk membuat cerpen yang bisa dibaca dari depan maupun dibaca dari belakang. Meskipun begitu, saya masih merasa amatir dalam dunia kepenulisan.

Bagi saya, berkarya adalah cara untuk mengekspresikan diri dan melepas banyak beban di kepala, jadi sesuai dengan judulnya, “Darahmu, Dagingmu adalah Milikku“, saya buat untuk melepas penat dari kehidupan pribadi saya, jadi karena itu saya tidak berpikir jika karya ini akan memenangkan sayembara cerpen minggu. Saya benar-benar terkesan dengan Cerpen Sastra karena sudah memilih cerita saya sebagai pemenang, terima kasih banyak atas penghargaannya. Saya sangat bahagia sekali karena penat saya berbuah manis.😁👍🏻

Related Posts

Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya (Cerpen Ael)

Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun…

Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)

Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang…

Sangkakala dalam Kepala (Cerpen Rizka Junanda R.H.)

“Suara itu terus menggema dalam kepala, seakan tiada memberi jeda bagi kewarasan untuk tinggal dalam jiwa.”***Awalnya tidak pernah ada suara tangisan tengah malam di belakang rumahku. Tapi, sejak…

Jalan-Jalan di Atas Awan, Jangan Lupa Mencari Pijakan (Cerpen Fathiya Haya)

Warga Kampung Kasih Sayang terkenal sangat baik. Mereka semua akrab satu sama lain. Kompak. Semua dekat dan saling mengenal dari ujung satu ke ujung lainnya. Mereka selalu siap…

Penawar (Cerpen Elvira Turnip)

Harga barang bekas ditentukan oleh seberapa cepat orang ingin melupakannya, bukan oleh seberapa mahal barang itu dulu dibeli. Itu prinsip pertama yang kupelajari dalam sepuluh tahun bekerja membeli…

Sisa Ketikan –Fragmen (Cerpen Indri Pangastuti)

Aroma kertas memiliki cara tersendiri untuk memanggil ingatan yang sudah berdebu. Di sudut ruangan penuh rak berdebu pada ruang bawah tanah, seorang gadis duduk. Bangku kayu dengan ornamen…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *