Tidak aku sadari, belakangan ini aku lebih sensitif. Aku perempuan yang telah menikah. Seorang pria yang mampu meluruhkan hatiku dan sanggup meyakinkan aku untuk memulai satu hidup baru bernama Pernikahan. Sudah lanjut pernikahan itu, menjelang dua puluh tahun, kau bayangkan rasanya hidup bersama satu orang selama itu dan kami hanya dan tinggal berdua saja pada sebuah rumah yang berhasil dibangun pria yang mengajakku menikah. Aku tak akan terkejut bila kau bergumam, woww!
***
Ada yang tidak biasa beberapa pekan belakangan, aku sering uring-uringan. Sesuatu yang tidak pernah bahkan terlintas dalam pikiran untuk aku melakukan tindakan itu. Aku gampang tersulut emosi. Bertahun-tahun hidup bersama, aku sangat mengenal sifat dan kebiasaan suamiku. Gampang terenyuh pada orang lain. Tanpa tebang pilih. Mau kenal, baru kenal, atau bahkan orang yang benar-benar baru yang sebelumnya tidak pernah bertemu. Dulu-dulu saat baru serumah dengan dirinya, aku tentu heran. Bukan apa-apa, aku takut saja orang lain akan memanfaatkan kemurahan hati suamiku.
“Tidak baik berpikiran seperti itu. Bukankah lebih baik memperlakukan siapa saja layaknya saudara. Kita tidak tahu suatu hari nanti dalam hidup ini kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan kita.” Terang suamiku berfilosofi.
“Ya tetap saja tidak kepada semua orang. Saudara kita banyak. Famili tak kurang. Apa tidak cukup, semua yang masih berhubungan kerabat dengan kita, itu saja yang kita perhatikan?” Tangkisku.
“Kalau kerabat, bukankah setiap saat mereka selalu ada di kehidupan kita. Termasuk kerabat yang tinggal berjauhan, kita selalu terhubung melalui berita dari orang dan kalau sekarang melalui alat komunikasi. Kita sudah menjalin kekerabatan itu dengan baik. Apa salahnya menganggap semua orang itu saudara.” Sabar suamiku memberi pemahaman.
“Uhh!” Lenguh aku pasti ia dengar. Sebaliknya suamiku justru memasang wajah sumringah. Itu salah satu alasan mengapa aku mau diajaknya menikah.
Namun, tunggu dulu! Kegalauanku tidak selalu salah. Terkadang tidak kita sadari, alam ikut membantu mengingatkan.
Bermusim-musim lalu, ada seseorang tiba-tiba muncul di depan rumah. Seperti biasa, suami menyambut dengan sangat baik. Dari dalam rumah, aku memperhatikan orang itu dipersilakan duduk di teras. Aku merapat di balik pintu yang kebetulan sedikit terbuka. Setengah wajah orang itu terlihat dari celah jendela. Hatiku seperti melarang agar suamiku tidak melayani orang itu. Tapi tak kuasa aku hanya mampu mengintip dari dalam rumah.
“Maka itu Mas, menurut saya, kita harus berani bermain resiko. Kita tidak akan dewasa kalau tidak berani mencoba tantangan. Aku melihat Mas ini sangat percaya diri menghadapi tantangan. Saya sudah mencoba dan itu membuat saya lebih dewasa.” Orang itu terkekeh. Aku cemberut. Persis penjual obat di pinggir pasar, dumalku.
“Benar juga ya. Resiko seperti apa, Mas?” Aku menggigit bibir. Aku kesal, harusnya suamiku mengakhiri saja obrolan itu dan mengusirnya. Untuk apa membuang-buang waktu.
“Investasi Mas. Sekarang ini tidak perlu berpeluh-peluh mencari keuntungan. Cukup investasi setelah itu keuntungan kelak menghampiri kita. Bagaimana, Mas?” Orang itu mengeluarkan bisanya.
“Aman, ya?” Aku bertambah dongkol.
“Seratus persen aman, Mas.” Orang itu tersenyum palsu.
Waktu-waktu bergulung orang asing itu menghilang seperti cahaya. Tidak pernah lagi ada dalam hari-hari suamiku. Waktu suamiku memutuskan untuk ikut saran orang asing itu, terlebih dulu ia meminta izin. Satu hal yang aku suka dari suami, ia tak pernah mengambil keputusan sendiri. Setiap apa pun ia selalu meminta izin. Lalu, rasa penasaranku tak terhindari lagi.
“Tamu yang pernah datang beberapa kali dulu sekarang tidak pernah muncul. Mas masih berhubung kabar dengan dia, kan?” Aku tak mampu menahan diri lagi.
“Mengilang, Dek. Mas coba kirim kabar lewat pesan tidak pernah lagi dibalas. Semoga orang itu baik-baik saja,” jawab suamiku santai.
“Hah! Terus urusan dengan Mas?” Aku tak mampu menahan emosi.
“Sudah biar saja, Dek,” ujar suamiku tak terbeban.
“Uang Mas, bagaimana?” Aku bertanya pada intinya.
“Biar saja. Waktu itu orang itu sangat membutuhkan uang. Caranya dia berputar-putar untuk mendapatkan uang itu. Andai saja orang itu langsung pada tujuan, tidak perlu capek mengarang cerita. Sudahlah.”
Paru-paruku terasa penuh air. Berarti suamiku tahu kalau orang itu berniat tidak baik.
Waktu kembali merambat jauh. Tidak aku temukan penyesalan di wajah suamiku. Hidup kami tetap berjalan seperti biasa. Suami menjalankan usaha seperti biasa. Tidak ada keruwetan. Usaha suami baik-baik saja. Sampai aku mendengar cerita dari karyawan suami kalau suami cukup sering diperlakukan orang asing seperti itu.
“Betul Bu. Waktu itu saya sendiri melihat. Bapak didatangi dua orang asing. Selama saya bekerja dengan bapak belum pernah saya melihat kedua orang itu. Saya yakin bapak juga belum pernah mengenal dua orang asing itu. Anehnya, kedua orang asing itu seakan-akan sudah mengenal bapak bertahun-tahun. Hati saya benar-benar curiga.” Cerita Boni berapi-api.
“Terus?” kejar ku penasaran.
“Terus, ya gitu Bu. Bapak menurut saja dimintai kedua orang itu sejumlah uang,” jawab Boni.
“Astaga!” Darahku tiba-tiba bergelombang.
“Ratri juga pernah memergoki Bapak seperti itu. Modusnya hampir sama Bu. Orang asing tiba-tiba sangat akrab dengan Bapak. Ujung-ujungnya kejadian sama lagi terjadi. Betul kan, Rat?” Boni menoleh pada Ratri.
Getir aku mengikuti anggukan kepala Ratri. Aku tak kuasa menahan diri, telah bersiap-siap ingin menghakimi suami sendiri.
“Sudah berapa banyak, Mas? Terutama yang tidak aku ketahui?” Cecarku.
“Kebetulan kejadiannya di tempat usaha. Aku benar-benar lupa untuk bercerita sama kamu. Sudahlah.” Suamiku berusaha menenangkan.
“Sudah bagaimana, Mas? Telah sering kali Mas mengalami hal seperti ini. Sudah rugi berapa banyak kita, Mas. Kerja capek-capek hanya untuk dikibulin orang. Mas harus belajar untuk tidak gampang-gampang percaya dengan orang asing. Sudah ya Mas. Stop!”
Suamiku mengangguk. Satu kebiasaan kami apabila telah memutuskan sesuatu maka tidak akan pernah lagi membahas permasalahan yang sama kembali. Aku sendiri melupakan serta mengubur semua kejadian dan peristiwa itu.
Walau di luar kendali kami, kejadian sama kerap menghampiri. Kali ini suami selalu cerita begitu sampai di rumah.
Dan kali ini, dua orang asing datang kembali ke rumah kami. Aku benar-benar jengkel. Waktu telah merampas banyak hal dari kehidupan. Kemudaan kami. Usia kami. Masa-masa kuat dulu. Kini kami berada di waktu-waktu pertengahan. Secara materi kami memang tidak berkurang. Kami bahkan banyak membantu saudara yang membutuhkan bantuan. Tidak terhitung keponakan datang meminta bantuan untuk pendidikan. Tidak jarang Om dan Bibi bercerita permasalahan mereka. Suami dengan besar hati memberi bantuan tanpa banyak dalih. Dan kami tetap ditakdirkan berdua hampir menjelang senja.
“Kami ingin makan. Boleh?” Aku mungkin sama terkejutnya dengan suami yang duduk di hadapan kedua orang asing itu.
“Boleh, boleh, Tentu. Sebentar ya?” Aku mundur beberapa langkah begitu mendengar suara langkah suami.
Walaupun aku tengah dirundung sensitif, perintah suami tetap juga aku jalankan. Suami meminta aku untuk menyiapkan makanan. Tanpa membuang waktu suami beranjak ke belakang mencari Pak Tarno yang tinggal bersama kami. Tak lama uang membumbung dari dapur belakang. Aroma masakan tercium hingga rumah tetangga. Aku tidak banyak tindakan. Semua hal dikerjakan Pak Tarno bersama istri serta dua orang anaknya. Aku hanya menyiapkan dapur untuk menjamu dua orang asing itu.
Dalam waktu singkat telah terhidang semuanya. Semangkuk ayam gulai. Uangnya terlihat masih mengepul. Sebakul nasi putih berkilau seperti berlian. Tempe, tahu, terong, lalapan, dan sambal tertata rapi di permukaan meja. Aku mengamati semua itu tak berkedip. Aku memberi tahu suami bahwa semua sudah terhidang.
Suami mengajak dua orang asing itu menempati meja di ruang tengah. Aku memilih tetap mengintip dari ruang dapur. Tak kuasa aku menuduh segala yang buruk terhadap dua orang asing itu dalam hati. Aku teramat sensitif hari ini. Penipuan gaya baru lagi, batinku.
“Wahh! Semua hidangan ini sangat lezat. Kami benar-benar tersanjung atas perlakuan Bapak. Kami sangat menikmati semua hidangan ini. Terima kasih atas semua hidangannya.” Bual kedua orang asing itu.
“Sama-sama,” suamiku tersenyum tulus.
“Tahun depan kami akan mengunjungi Bapak kembali. Kiranya saat kunjungan itu kami akan menemui sesuatu yang baru di rumah ini. Kami berharap.” Dua orang asing itu terkekeh.
Aku tergelak di dapur. Berbagai cara orang ingin mengelabui. Aku tak kuasa menahan tawa.
“Kami dengar istri Bapak tertawa,” sela dua orang itu tiba-tiba.
Saat itu selain terkejut aku merasakan lingkar perutku seketika bergelombang.
“Mohon maafkan istri saya. Bukan begitu maksudnya,” ujar suamiku.
“Kami akan berkunjung lagi tahun depan.”
Kali ini aku merasakan sekujur tubuhku berkeringat serta rasa mual yang luar biasa. Teramat.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 1 Maret 2026.
Tentang Cerpenis
Ricardo Marbun

Suka membaca apa saja. Masih proses belajar menulis secara autodidak. Seseorang yang bersahaja. Berharap proses menulis semakin baik. Tinggal di Surabaya. IG: @ricardo_mrb
Testimoni Ricardo Marbun
Menurut saya, berhasil dimuat Cerpen Sastra itu memiliki dampak yang banyak. Dengan followers mencapai 14 ribu lebih, karya kita akan dibaca banyak orang. Selain itu, tim Cerpen Sastra membagikan karya kita ke beberapa akun sastra mereka, dampak ini sangat besar untuk penulis yg bersangkutan. Menambah teman, menambah lingkaran kerja kreatif.
Tentu tidak gampang untuk lolos dimuat. Sama seperti media fiksi lainnya, harus rajin membaca karya-karya yang sudah dimuat. Mematuhi aturan penulisan, ini yang sering diabaikan. Lalu, tulislah yang kamu ketahui dan dekat dengan hatimu, percaya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Terima kasih Cerpen Sastra, bertumbuh terus dan semangat.
